
Doni dan kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam mereka dengan tenang.
"Doni, papa akan berangkat ke Amerika besok pagi." Suara Tuan Wishnu memecah keheningan di meja makan.
"Iya, pa." Sahut Doni.
"Berapa lama di sana?" Tanya Nyonya Wishnu.
"Hemmm... Mungkin kali ini bakal agak lama..." Tuan Wishnu terlihat berfikir sejenak.
"Bisa jadi lebih dari tiga hari, sayang..." Lanjut Tuan Wishnu.
"Ohh..." Nyonya Wishnu mendesis pelan nyaris tidak terdengar.
"Semua agenda penting akan diatur oleh Nyonya Martha dan Tuan Alfred." Tuan Wishnu menatap lurus ke arah Doni yang duduk tepat di hadapannya.
"Baik, pa..." Ucap Doni singkat.
"Karena agak lama di sana, papa akan membawa mama ikut ke Amerika." Tuan Wishnu berkata pada Doni namun menoleh ke arah Nyonya Wishnu yang duduk di sisi kanannya.
Nyonya Wishnu menghentikan makannya dan menoleh juga ke arah suaminya. Ia terkejut mendengar keputusan Tuan Wishnu malam itu.
"Bisa kan, sayang?" Tuan Wishnu menoleh lagi ke arah Nyonya Wishnu, menunggu kata 'iya' dari istri yang sangat dicintainya itu.
"Doni tinggal sendiri dong..." Nyonya Wishnu menatap Doni dengan tatapan khawatir.
"Tenang saja, sayang... Dia tidak akan sendirian. Alfred akan selalu menemaninya. Pak Wicaksono juga akan selalu standby di sini." Terang Tuan Wishnu.
"Hemmm... Baiklah kalau begitu..." Sahut Nyonya Wishnu.
"Dengar-dengar... Tuan Kimigawa berencana mengunjungi perusahaan kita dalam minggu ini..." Ujar Tuan Wishnu.
Doni terhenyak mendengar nama yang disebutkan oleh papanya.
"Tapi ini masih dalam pengaturan rencana mereka. Semoga saja mereka berkunjung ke sini ketika kita sudah kembali dari Amerika." Tuan Wishnu menatap serius ke arah istrinya sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.
"Seandainya papa belum kembali, adalah tugasmu untuk mengatur semua agenda pertemuan dengan mereka." Ucap Tuan Wishnu tegas pada Doni.
__ADS_1
"Baik, pa." Sahut Doni patuh.
"Tuan Alfred akan mengatur semuanya untukmu." Ujar Tuan Wishnu lagi.
"Hemmm... OK, pa..." Ucap Doni.
Doni tidak banyak membantah. Dia sudah biasa menjadi anak yang penurut kepada kedua orang tuanya.
Doni memang sudah dipersiapkan sebagai pengganti Tuan Wishnu. Jadi tidak mengherankan bagi Doni jika papanya tiba-tiba meminta dia untuk menggantikan kehadiran papanya ketika papanya berhalangan hadir di perusahaan.
Beberapa tugas penting papanya sudah mulai dipelajari oleh Doni. Doni memang dituntut untuk belajar cepat. Untung saja Doni memiliki kemampuan di atas rata-rata. Hal itu membantunya lebih mudah belajar dibandingkan remaja-remaja lain seusianya.
"Doni, kamu boleh istirahat di kamar. Malam ini tidurlah lebih cepat ya. Karena besok pekerjaanmu akan sangat banyak." Nyonya Wishnu berkata dengan lembut pada putra semata wayangnya itu.
"Iya, ma." Sahut Doni singkat seperti biasa.
Doni meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya. Sesuai rencana sebelumnya, ia akan mempelajari buku yang dikirimkan oleh Professor Gilbert.
Buku itu berbentuk e-book. Ada banyak materi penting mengenai bisnis dan dasar-dasar teori manajemen perusahaan di dalamnya. Doni sangat tertarik dengan isi e-book tersebut.
Mulai minggu depan, materi pada e-book tersebut akan dibahas bab demi bab oleh Professor Gilbert. Doni tidak sabar rasanya menunggu hari itu tiba.
Tuan Kimigawa akan datang ke Indonesia. Doni bertanya-tanya dalam hati apakah Tuan Kimigawa datang bersama keluarganya atau hanya dengan Mr. Tatsuki saja.
Bayangan wajah Himawari muncul begitu saja di pelupuk mata Doni ketika ia memejamkan matanya.
"Apa dia nanti ikut ke sini?" Doni bertanya dalam hati.
Tapi Doni menepis sendiri dugaannya itu. Ia mencoba menggunakan logikanya untuk berfikir bahwa tidak mungkin Himawari akan datang ke Indonesia.
"Dia kan sekolah juga... Ini juga belum masa liburan." Gumam Doni.
Doni bangkit dan mengaktifkan laptop-nya. Dia mulai mengunduh file e-book yang dikirim oleh Professor Gilbert. Selesai mengunduh buku elektronik tersebut, Doni mencoba membaca dan mempelajari bab pertama.
Dia mengeluarkan buku catatannya dan mengambil pulpen untuk menuliskan dan merangkum bagian-bagian yang penting.
Bagian-bagian yang dirasanya sulit, dicatat di buku. Doni berencana mendiskusikan bagian-bagian yang sulit itu dengan Professor Gilbert di pertemuan mereka yang selanjutnya.
__ADS_1
"Tuan Muda, besok siang jadwal pertemuan dengan dinas pertambangan kota." Sebuah pesan dari Tuan Alfred muncul di smartphone Doni.
"OK." Balas Doni.
"Maaf, Tuan Muda. Sepertinya besok siang kita tidak bisa menunggu Nona Amanda. Waktunya singkat sekali." Balas Tuan Alfred lagi.
Doni terdiam sesaat. Seperti ada rasa berat di hatinya ketika membaca pesan dari Tuan Alfred.
"Hemmm..." Gumam Doni.
Selama ini dia selalu menyempatkan waktu untuk menemani Amanda menunggu angkot di halte.
Kadang-kadang Doni berbohong pada Amanda dengan cara pura-pura ikut naik angkot dan nantinya ia akan turun lebih dahulu dari angkot tersebut. Tuan Alfred kemudian menjemput dan membawa Tuan Muda Anthony langsung ke kantor atau pulang ke rumah.
"OK, Tuan Alfred. Silahkan diatur saja." Doni mengetik pesan tersebut dengan setengah hati.
"Siap, Tuan Muda." Balas Tuan Alfred.
Doni mulai kefikiran lagi tentang hal itu. Dia membayangkan betapa galau hatinya esok siang membiarkan Amanda pulang sendirian.
"Bagaimana jika nanti Amanda malah sakit lagi?" Doni membatin cemas.
Doni menghalau kekhawatirannya itu sekuat yang dia bisa. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa keadaan Amanda akan baik-baik saja.
Tetapi tetap saja rasa khawatirnya jauh lebih besar dari logikanya saat ini. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. Sebuah ide cemerlang.
Doni akan meminta tolong pada Tuan Alfred untuk memastikan Amanda pulang dengan selamat sampai ke rumahnya.
"Bukankah Tuan Alfred bisa diandalkan untuk segala urusan?" Doni berkata dalam hati.
Sambil tersenyum tipis, Doni melirik jam di smartphone-nya. Sudah hampir jam sebelas malam. Sudah waktunya Doni bersiap-siap untuk tidur.
Ia lalu mematikan laptop-nya dan menyimpan buku catatannya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan mencuci kaki.
Setelah itu Doni merebahkan lagi tubuhnya dan menyesuaikan suhu di kamar tidurnya. Ia menyetel suhu AC sampai di derajad yang membuatnya merasa nyaman. Tidak lama kemudian Doni pun tertidur pulas.
Di rumah yang berbeda, Amanda juga tiba-tiba teringat begitu saja dengan Doni. Entah kenapa malam ini fikirannya juga terus saja terfokus pada Doni, temannya yang baik hati.
__ADS_1
Ya, Amanda mulai merasa Doni adalah teman yang cukup baik hati. Pelan-pelan Amanda mulai merasa hatinya tersentuh dengan sikap-sikap Doni padanya. Dia seperti merasa dilindungi oleh Doni.
Malam itu Amanda semakin sadar bahwa Doni sepertinya memang punya perhatian khusus pada dirinya.