Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
E-mail yang Mengejutkan


__ADS_3

Seorang pemuda tampan dengan tuxedo yang melekat elegant di tubuhnya menambah kesempurnaan penampilannya pagi ini.


Dia merapikan rambutnya yang hitam legam dan tersenyum puas ketika melihat penampilannya yang paripurna di depan sebuah cermin besar nan estetik di ruang kerjanya yang mewah.


Andaikan sang cermin bisa berbicara, mungkin cermin tersebut juga tidak akan kuasa membantah atau meragukan ketampanan laki-laki muda yang berdiri gagah di hadapannya saat ini.


Smartphone Alfred bergetar di atas meja, membuat fokus Alfred terhadap penampilannya buyar seketika. Ia dengan sigap meraih ponselnya.


"Tuan Alfred, Mr. Tatsuki sudah tiba. Kita sudah bisa stand by di main meeting room." Suara Nyonya Martha terdengar begitu tegas.


"Siap, Nyonya Martha. Saya segera ke sana." Ujar Alfred.


Alfred melangkah dengan cepat. Dalam hitungan detik dia sudah berada di dalam sebuah elevator yang berada tidak jauh dari ruang kerjanya.


Nyonya Martha sudah lebih dahulu memasuki main meeting room. Perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd. memiliki beberapa ruang rapat. Pertemuan penting kali ini dilaksanakan di ruang rapat utama. Nyonya Martha telah mengatur segalanya agar pertemuan hari ini berjalan lancar.


Beberapa karyawan terlihat bergerak cepat mengikuti perintah Nyonya Martha. Mereka menunduk penuh hormat ketika Alfred memasuki ruangan. Alfred membalas dengan senyuman penuh pesona dari wajahnya.


Dua orang karyawan wanita yang ada di ruangan tersebut sepertinya benar-benar terpesona melihat senyuman Alfred. Seiring berjalannya waktu, Alfred sudah mulai memiliki banyak penggemar di perusahaan elite tersebut.


"Selamat pagi, Nyonya Martha." Sapa Alfred.


Nyonya Martha membalikkan badannya, melihat ke arah Alfred berdiri dan berkata sambil tersenyum penuh wibawa, "Selamat pagi, Tuan Alfred."


Nyonya Martha merasa tugas yang dilakukan oleh para karyawan tersebut sudah sesuai dengan pengaturannya. Wanita tersebut kemudian mengucapkan terima kasih dan memerintahkan mereka kembali ke ruangan masing-masing.


Para karyawan berpamitan pada Nyonya Martha dan Alfred sebelum meninggalkan main meeting room. Kini hanya tinggal Nyonya Martha dan Alfred saja di sana.


"Mr. Tatsuki saat ini sedang menikmati jamuan di ruangan Tuan Wishnu. Sesuai jadwal, sepuluh menit lagi mereka akan menuju ke sini." Nyonya Martha berkata sambil memperhatikan schedule yang sudah terketik dengan rapi pada sebuah tablet yang sedang digenggamnya.


Alfred memperhatikan sekeliling ruangan rapat tersebut. Dia telah mengetahui posisi tempat duduk yang harus ia tempati.

__ADS_1


"Apakah semua dewan direksi hadir?" Tanya Alfred sambil meletakkan sebuah macbook di depan sebuah kursi yang terletak di sisi sebelah kiri kursi terbesar di ruangan itu, kursi CEO perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd.


"Tidak, Tuan Alfred. Hanya beberapa jajaran direksi saja yang akan hadir." Jawab Nyonya Martha.


"Rapat kali ini akan berlangsung selama tiga jam. Jika kesepakatan antara kedua pihak tercapai, ini akan sangat menguntungkan kedua perusahaan." Ujar Nyonya Martha dengan nada penuh harap.


"I hope so. Jepang adalah negara yang tepat untuk berkolaborasi, Nyonya Martha." Alfred menimpali sambil tersenyum.


Nyonya Martha mengangguk setuju dengan pendapat Alfred. Wanita itu kemudian teringat akan tugas Alfred sebagai sekretaris pribadi Tuan Muda Anthony.


"Bagaimana keadaan Tuan Muda kita, Tuan Alfred?" Tanya Nyonya Martha.


"Tuan Muda baik-baik saja, Nyonya Martha. Semua kegiatan yang dilakukan Tuan Muda berjalan lancar seperti biasa." Alfred menjelaskan secara singkat kegiatan Tuan Muda Anthony selama beberapa hari belakangan.


"Wowww... That's good! Tuan Muda memang perlu mengasah jiwa kompetisinya. Menarik sekali." Ujar Nyonya Martha antusias.


"Hemmm... Benar sekali, Nyonya Martha. Saya sependapat dengan anda." Ucap Alfred.


"Mari kita bersiap-siap. Tuan Wishnu dan Mr. Tatsuki sedang menuju ke sini." Kembali terdengar nada suara penuh wibawa dari Nyonya Martha.


Beberapa dewan direksi juga sudah mulai berdatangan. Mereka semua duduk di kursi masing-masing yang telah ditetapkan berdasarkan pengaturan Nyonya Martha.


Selang beberapa menit kemudian, Tuan Wishnu dan seorang laki-laki paruh baya bermata sipit memasuki main meeting room.


Nyonya Martha menyapa kedua petinggi perusahaan tersebut dengan sopan dan mempersilahkan mereka duduk pada posisi masing-masing. Semua peserta berdiri dan membungkuk memberi hormat.


Rapat berlangsung dengan lancar. Semua peserta rapat terlihat fokus dan serius.


Mr. Tatsuki seolah memiliki aura pemimpin yang terpancar begitu kuat dalam setiap gerak-gerik dan tingkah lakunya. Lelaki paruh baya itu membaca dengan cermat sebuah file map yang berisi berkas-berkas penting. Diskusi pun mengalir dengan alot namun atmosfer di ruang rapat utama tersebut terlihat cukup santai.


Mr. Tatsuki memulai presentasi dengan menakjubkan. Tuan Wishnu terlihat paling serius memperhatikan presentasi tersebut, seolah tidak ingin melewatkan satupun kalimat yang diucapkan oleh Mr. Tatsuki.

__ADS_1


Di sela-sela rapat, mata Alfred menatap sekilas notifikasi yang muncul di layar macbook-nya. Panitia lomba menulis essay telah mengirimkan tiga buah file bukti pembayaran uang pendaftaran lomba atas nama Doni, Amanda, dan Ryan.


Doni memerintahkan Alfred membereskan semua hal terkait pembayaran uang pendaftaran lomba. Selain itu, Doni juga meminta Alfred memantau perkembangan setiap tahapan perlombaan yang akan diikutinya itu.


Doni tidak ingin berhubungan langsung dengan panitia lomba di SMA Negeri 10. Dia tidak menuliskan nomor WA dan alamat e-mail pribadinya, melainkan nomor khusus yang dipilihkan oleh sekretaris pribadinya, Tuan Alfred.


Alfred meneruskan ketiga file tersebut ke WA pribadi Doni.


"Terima kasih, Tuan Alfred." Pesan balasan dari Doni muncul kembali di layar macbook Alfred.


"My pleasure, sir." Alfred mengetikkan balasan pesan untuk Doni.


Tanpa terasa, rapat telah tiba di penghujung waktu. Tuan Wishnu dan Mr. Tatsuki menandatangani kesepakatan kerja baru antara kedua perusahaan mereka.


Suara tepuk tangan bergemuruh kuat. Semua peserta rapat terlihat sangat puas.


Setelah rapat ditutup secara formal, Nyonya Martha mempersilahkan Tuan Wishnu, Mr. Tatsuki, dan seluruh peserta rapat menuju ke ballroom yang berada di lantai dua puluh. Jamuan makan siang sudah menanti mereka di sana.


Sementara itu, di SMA Adhyaksa, Amanda melotot melihat notifikasi yang masuk di akun e-mail pribadinya.


Sebuah e-mail masuk dari panitia lomba menulis essay berisi lampiran file bukti pembayaran uang pendaftaran lomba.


"Hahhh... Siapa yang bayarin nih? Apakah Ryan?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.


Amanda berfikir keras. Ia sangat penasaran siapa yang telah membayarkan uang pendaftaran tersebut.


"Jangan-jangan si Doni yang bayarin... Hemmm... Pasti dia, siapa lagi!?" Tiba-tiba saja Amanda yakin Doni yang telah melakukan pembayaran itu.


"Huhhh... Si Tuan Besar itu harus ngaku! Lihat aja nanti. Dia ga bisa bohongin aku!" Batin Amanda geram.


Amanda sudah tidak sabar menunggu bel tanda pulang sekolah berbunyi. Namun ternyata ada siswa lain yang lebih tidak sabar lagi menunggu waktu pulang sekolah tiba.

__ADS_1


Ya, siswa itu adalah Helena. Gadis itu selalu berangkat ke sekolah dengan motivasi terkuatnya: cepat pulang.


__ADS_2