Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Mengharu-biru


__ADS_3

Sedikit gugup, bingung, dan linglung. Begitulah suasana hati Amanda ketika duduk di dalam mobil yang sangat mewah itu.


Amanda yakin sekali mobil ini bukanlah mobil biasa. Ia bahkan baru pertama kali seumur hidupnya berada di dalam mobil yang mewah dan nyaman seperti itu.


Bahkan jujur sebenarnya itu juga adalah kali pertama dia melihat mobil dengan jenis seperti itu.


"Hemmm... Gila! Ini pasti bukan mobil biasa..."


"Warnanya aja unik begitu... Ga pasaran! Hemmm..."


"Interior di dalamnya juga nyaman begini... Ini bahkan lebih nyaman dari kamar tidurku. Hikssss..."


Suara batin Amanda terus saja bergejolak sembari dia mencoba memperhatikan dengan teliti setiap benda yang ada di dalam mobil mewah yang sedang ditumpanginya itu.


Matanya lalu beralih lagi menatap sosok yang duduk di depan. Meskipun dilihat dari belakang, tidak bisa dipungkiri siluet Doni memang seolah begitu sempurna.


Amanda menelan ludahnya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah sang driver. Seorang laki-laki paruh baya yang cukup tenang dan berwibawa.


"Apakah kita berhenti lagi di toko ice cream tempat biasa, Nyonya?" Suara Pak Heru memecah keheningan di dalam mobil.


"Hemmm... Sepertinya tidak perlu, Pak Heru. Saya sudah memesan beberapa kotak dan mereka bersedia mengantarkan semua pesanan ke yayasan." Jelas Nyonya Wishnu.


"Baik, Nyonya." Sahut Pak Heru sopan.


Amanda tiba-tiba bergidik sendiri. Percakapan yang baru saja didengarnya terasa begitu aneh.


"Mengerikan... Siapa sebenarnya si Doni ini? Mengapa orang lain begitu menghormati ibunya?"


Amanda merasa penasaran setengah mati. Ia menebak pastilah Nyonya Wishnu yang sedang duduk di sebelahnya itu bukanlah wanita biasa.


Nyonya Wishnu begitu cantik, anggun, dan sangat berkelas. Begitu kesimpulan yang dibuat oleh Amanda dalam riset singkatnya selama perjalanan.


Amanda memang tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang kaya yang berkelas. Tetapi dia sudah sering melihat di televisi ataupun di sosial media, bagaimana sikap dan body language para bangsawan atau para sosialita.


Jadi dengan cepat Amanda bisa menilai sosok Nyonya Wishnu pasti bukan sosok wanita yang hidup sederhana atau hidup biasa-biasa saja seperti dirinya.


"Amanda, kamu suka ice cream rasa apa?" Nyonya Wishnu tiba-tiba nyelutuk dan menoleh ke arah Amanda.


Amanda nyaris gelagapan. Dia sempat bingung sesaat, bingung harus menjawab apa.


"Hemmm... Errrrrr..."


Nyonya Wishnu tersenyum tipis. Amanda berani bersumpah, Nyonya Wishnu terlihat dua kali lipat lebih cantik ketika tersenyum seperti itu.


"Doni sangat suka ice cream vanilla. Dia memang suka yang manis-manis. Hehehe..." Nyonya Wishnu terkekeh pelan.


"Ohhh..." Amanda menggumam pelan.


"Kamu juga suka ice cream vanilla?" Tanya Nyonya Wishnu lagi.


"Errrr... Iya, bu..." Jawab Amanda pelan.

__ADS_1


Amanda tidak mampu berkata-kata panjang lebar. Dia tidak mampu menjelaskan pada Nyonya Wishnu bahwa sesungguhnya dia menyukai semua varian rasa ice cream.


"Ah... Ga penting juga aku jelasin itu semua..."


"Iyain aja deh biar cepat."


Amanda membatin sendiri sambil melirik suasana jalan yang sedang mereka lewati.


Mobil mewah yang ditumpanginya berbelok pada sebuah tikungan tajam. Amanda merasa tubuhnya sedikit oleng. Tetapi dia berusaha tidak goyang. Seat belt yang digunakannya bekerja dengan baik.


"Busyettt... Kalau ini angkot, aku pasti sudah terlempar ke atas mamanya si Doni." Amanda berkata di dalam hati.


Lima menit kemudian mobil bergerak dengan pelan. Amanda melihat bangunan-bangunan yang tertata indah dan rapi di depan mereka.


Yayasan Tunas Kasih Bunda.


"Inikah yayasan yang tadi mereka bicarakan?" Amanda lagi-lagi bertanya di dalam hati.


Mobil berhenti tepat di pekarangan sebuah bangunan berwarna dusty pink. Bentuk bangunan tersebut lebih cocok dianggap seperti sebuah kantor yang sederhana.


Doni yang sejak tadi diam seribu bahasa, kini bergerak melepaskan seat belt-nya dan keluar dari mobil.


Nyonya Wishnu juga melakukan hal yang sama. Pak Heru telah keluar dari mobil lebih dahulu dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Nyonya Wishnu.


"Ayo, Amanda." Ajak Nyonya Wishnu sambil tersenyum bahagia.


Amanda mengikuti langkah kaki Nyonya Wishnu dengan canggung. Ia melihat seorang wanita menyambut dengan ramah kedatangan Nyonya Wishnu dan Doni.


Wanita itu mengajak Nyonya Wishnu berkeliling. Doni mengikuti mamanya seperti seorang pengawal istana yang menemani sang ratu berkeliling.


"Senang sekali melihat kemajuan di yayasan ini..." Ucap Nyonya Wishnu.


"Kita akan mulai pembangunan gedung sekolah bulan depan." Nyonya Wishnu berbincang santai dengan wanita itu.


Diam-diam Doni melirik Amanda. Kebetulan Amanda juga sedang melirik dirinya.


"Doni..." Desis Amanda.


Doni menoleh sedikit namun tidak bersuara.


"Kak Doni!"


"Kak Doni!"


Terdengar suara riuh anak-anak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Amanda menoleh. Dia melihat beberapa orang anak kecil seumuran Mutiara melambai dan memanggil-manggil Doni.


"Hemmm... Doni, temui mereka. Ajak mereka makan ice cream." Perintah Nyonya Wishnu.


"Iya, ma." Sahut Doni patuh.

__ADS_1


"Hahhhh... What?!"


"Ternyata dia manut juga sama mamanya!" Amanda berseru dalam hati.


"Ayo, kita ke sana!" Doni mengajak Amanda.


Amanda tidak membantah. Dia berjalan mengikuti Doni.


Sambil berbicara dengan pengurus yayasan, Nyonya Wishnu sekali-sekali melirik ke arah Doni dan Amanda. Wanita cantik itu tersenyum dalam hatinya.


"Wahhh... Kak Doni hari ini bawa pacar!" Seru seorang gadis kecil di antara sekelompok anak-anak tersebut.


"Pacar?!" Amanda sedikit shock mendengar istilah itu.


Dua orang pemuda terlihat membagi-bagikan ice cream untuk anak-anak itu dengan cekatan.


"Hemmm..." Doni menggumam.


"Tempat apa ini? Mengapa kita ke sini?" Tanya Amanda polos.


"Ini panti asuhan. Mamaku suka ke sini." Sahut Doni cuek.


"Ohh..." Amanda memperhatikan sekeliling mereka.


Dia melihat anak-anak menikmati ice cream dengan bahagia.


"Pacar Kak Doni siapa namanya?" Celutuk seorang gadis kecil dengan rambut ikal pendek.


"Hemmm..." Doni menggumam pelan.


Meskipun dia tidak menjawab, tetapi dia memberi isyarat agar Amanda mendekati gadis kecil itu.


Amanda memahami isyarat Doni. Dia mendekati sekelompok anak-anak itu dan mencoba bercengkerama dengan mereka.


Sebentar saja Amanda sudah bisa akrab dengan anak-anak. Doni memperhatikan Amanda dengan seksama.


"Hahaha... Ayo, dihabiskan ice cream-nya!" Seru Amanda.


"Baik, Kak Amanda!" Sahut anak-anak riang.


Amanda menoleh ke arah Doni. Dia lalu mengambil sebuah ice cream vanilla dan menyerahkannya untuk Doni.


"Nih... Kesukaan kamu!" Ujar Amanda.


Doni menatap Amanda lagi. Dia lalu menerima ice cream itu dan ikut menikmatinya bersama Amanda.


"Anak-anak ini senang sekali ya... Padahal cuma makan ice cream aja..." Lirih suara Amanda.


Dia seolah tersadar, betapa sederhana arti kebahagiaan bagi anak-anak kecil itu. Sebertik rasa haru muncul di hati Amanda.


Amanda merasa terharu melihat reaksi anak-anak itu. Sedangkan Nyonya Wishnu diam-diam merasa begitu haru melihat Doni dan Amanda bersama anak-anak di yayasan. Suasana mendadak menjadi mengharu-biru.

__ADS_1


Sekonyong-konyong Amanda menatap Doni. Doni tersenyum tipis penuh makna. Amanda lagi-lagi merasa wajahnya panas.


***


__ADS_2