Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Menjelang Pensi


__ADS_3

Ketua OSIS SMA Adhyaksa, Irgi, mondar-mandir di depan ruang pengurus OSIS.


Cowok keren dan berwibawa itu kelihatannya sedang sibuk sekali. Wajar saja, karena kegiatan pentas seni akan berlangsung minggu depan.


Irgi sedikit panik karena dia merasa persiapan mereka belum matang sementara waktu terus berjalan.


"Irgi, pihak event organizer menawarkan sebuah penawaran yang cukup menarik." Andrew berkata pada Irgi ketika melihat Irgi membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan pengurus OSIS.


"Oh ya?! Penawaran seperti apa itu?" Tanya Irgi pada Andrew.


Andrew dengan ketampanannya yang nyaris sempurna tersenyum anggun laksana pangeran muda yang sangat mempesona.


"Ini..." Andrew menyodorkan laptop ke hadapan Irgi yang baru saja duduk di atas kursi.


Irgi menerima laptop itu dan meletakkannya di atas meja. Dia mulai membaca tulisan-tulisan yang tertera di layar laptop tersebut.


"Menurutku konsep acara yang ditawarkan cukup unik." Ujar Andrew.


"Hemmm..." Irgi menggumam.


"Bukankah akan lebih baik jika kita bisa membuat konsep acara yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya?" Tanya Andrew.


"Ya, benar!" Sahut Irgi.


"Tapi, kamu bisa pastikan kan bahwa sekolah lain belum ada yang membuat acara dengan konsep seperti ini?" Irgi terlihat ragu.


"Sepengetahuanku sih belum ada sekolah yang menyelenggarakan pensi dengan konsep seperti itu." Andrew mencoba mengingat-ingat beberapa konsep acara yang diketahuinya.


Sebagai seorang sekretaris, Andrew selalu mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan pensi di berbagai SMA lainnya di kota itu.


Andrew masih cukup ingat beberapa konsep acara pentas seni yang baru saja diikutinya. Dia yakin konsep acara yang ditawarkan oleh event organizer yang telah mereka kontrak kali ini akan berbeda dan cukup menarik.


"Hemmm... Ini memang lumayan bagus." Ujar Irgi setengah menggumam.


"Yup!" Imbuh Andrew.


"Tapi kita perlu mendiskusikan lagi konsep acara yang ditawarkan ini dengan teman-teman yang lain." Kata Irgi.


"OK." Sahut Andrew.


"Ya, karena jika kita mengikuti konsep acara ini... Itu artinya akan ada beberapa perubahan dan penyesuaian." Sambung Irgi.


"Hemmm... Ya, benar!" Andrew setuju dengan kata-kata Irgi.


Irgi sebenarnya menyukai konsep acara yang baru ditawarkan tersebut, tetapi dia sedikit pesimis mengingat waktu pelaksanaan kegiatan yang semakin dekat.


"Andrew, apakah menurutmu kita masih punya cukup waktu?" Tanya Irgi ragu.

__ADS_1


Irgi menatap Andrew serius sekali. Andrew mulai menghitung hari.


"Kita masih punya waktu seminggu." Jawab Andrew.


"Ya." Irgi mengelus dagunya yang mulus seolah ada jenggot di sana padahal tidak ada sama sekali.


"Kumpulkan anak-anak siang ini. Kita harus rapat lagi." Irgi memberi perintah pada Andrew.


"OK." Sahut Andrew sigap.


Andrew mengetikkan sesuatu di smartphone-nya. Dia mulai menyusun kata-kata untuk disampaikan di grup pengurus OSIS.


Pintu ruangan kembali terbuka. Satria tiba-tiba muncul dari balik pintu. Wajahnya terlihat sedikit kesal.


Irgi dan Andrew serempak menoleh ke arah Satria. Kedua cowok penting di pengurus OSIS SMA Adhiyaksa itu menduga ada sesuatu yang terjadi pada Satria.


"Ada apa, Sat? Kamu terlihat kacau." Tanya Irgi tanpa basa-basi.


Satria menarik sebuah kursi dan mendudukinya dengan sedikit emosi. Andrew tersenyum tipis melihat sikap Satria.


"Sepertinya kamu bermasalah dengan fans?" Sindir Andrew sekenanya.


Satria mendengus. Dia melirik Andrew dengan tatapan sinis.


"Fans... Fans... Fans apaan!" Jawab Satria emosi.


"Yah... Kamu tahu lah! Senior-senior kita yang sok OK itu!" Sungut Satria.


Irgi menoleh dan menatap Satria serius. Instingnya mengatakan bahwa Satria sedang bersinggungan dengan kakak-kakak kelas mereka lagi.


Selain Ravel, Satria adalah pengurus OSIS yang paling sering tidak bisa sabar menghadapi kakak kelas mereka yang acap kali bertingkah arrogant dan semena-mena.


Kedua cowok ganteng itu acap kali harus bersusah payah menahan emosi agar tidak terjadi bentrokan dengan kakak kelas.


"Ada apa?!" Irgi bertanya dengan nada suara yang penuh wibawa.


"Huhhh... Ya, itu. Apa lagi! Kakak kelas yang sotoy!" Tukas Satria gusar.


Irgi mengernyitkan dahinya. Dia melirik Andrew. Berusaha memberikan kode khusus kepada sekretarisnya. Andrew terlihat santuy seperti biasa, tidak begitu peduli dengan kode khusus dari Irgi.


"Berani-beraninya dia ngancam aku. Sok hebat bener! Aku bisa saja membuat dia cacat seumur hidup kalau aku mau!" Satria berkata dengan nada suara yang memperlihatkan amarahnya.


Irgi memperhatikan Satria dengan tatapan yang lebih serius. Ia sudah sejak tadi mengalihkan fokusnya dari laptop dan kini ia meletakkan laptop di atas meja.


Irgi bangun dari kursi dan berjalan mendekati Satria yang masih sangat emosi. Irgi tahu ada kejadian yang sangat mengusik ketenangan Satria hingga wakil ketua OSIS itu menjadi berang.


"Siapa itu? Apa yang dikatakannya?" Tanya Irgi serius.

__ADS_1


"Huhhh... Ya, you know lah! Aku gebukin juga baru mingkem tuh orang!" Ujar Satria penuh emosi.


"Ayo kita buktikan kalau kita bisa buat pensi yang lebih keren dari mereka! Sepele amat sama kepengurusan kita!" Sambung Satria masih dengan emosi yang berapi-api.


"Hemmm..." Andrew menggumam.


"Ya, aku mau acara pensi kali ini lebih sukses dari pensi tahun lalu!" Seru Irgi.


Irgi kemudian teringat sesuatu. Ia mengambil laptop dan memperlihatkan sebuah dokumen yang tadi sedang dipelajarinya.


"Gimana menurut kamu?" Tanya Irgi pada Satria.


Satria membaca setiap tulisan yang tertera di laptop tersebut dengan penuh konsentrasi.


"Bagus! Konsepnya bagus, menurutku!" Sahut Satria.


"OK. Kalau banyak yang setuju, penawaran ini akan kita terima!" Ujar Irgi tegas.


"Tapi kita tetap perlu menyesuaikan dengan konsep acara yang sudah kita susun sebelumnya. Hanya butuh sedikit penyesuaian..." Ucap Satria.


"Hemmm... Aku rasa tidak sedikit, Satria." Ujar Andrew setengah menggumam.


"Tetapi dengan sedikit sentuhan kreativitas, kita bisa menggabungkan semuanya!" Imbuh Andrew.


"OK! OK! Kita diskusikan lagi nanti di saat meeting." Tutur Irgi.


"Siap!" Sahut Satria mantap.


Andrew melirik jam di dinding. Ia berfikir harus segera kembali ke kelas karena jam pelajaran berikutnya akan segera dimulai.


"Baiklah, mari kita kembali ke kelas!" Ajak Andrew.


Irgi dan Satria mengikuti ajakan Andrew. Ketiga cowok tampan itu keluar dari ruang pengurus OSIS diikuti oleh tatapan kagum dari para siswa perempuan yang berpapasan dengan mereka.


Ternyata Amanda adalah salah satu di antara siswa-siswa perempuan yang terpesona dengan ketiga kakak kelas mereka sekaligus pengurus OSIS itu.


Ia menatap ketiga kakak kelasnya itu dengan tatapan takjub. Dia juga memuji dalam hati atas ketampanan mereka yang tak terbantahkan.


Namun di antara ketiga kakak kelas pengurus OSIS tersebut, Andrew adalah yang paling tampan. Dia betul-betul memiliki wajah yang begitu rupawan laksana pangeran yang turun dari kahyangan.


"Hemmm... SMA Adhyaksa ini emang gudangnya cowok keren!" Amanda berseru di dalam hati.


Sampai detik itu, Amanda yang masih polos dan lugu tidak juga menyadari bahwa ada cowok tampan lainnya yang sungguh-sungguh mengidolakan dirinya.


Dia masih saja belum bisa memahami arti perhatian dan sikap Doni yang berbeda untuknya.


***

__ADS_1


__ADS_2