Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Kelaparan


__ADS_3

“Aduh… Laper banget…” Amanda mengelus perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.


Ketika bel tanda pulang berbunyi, Amanda merasa sangat lega. Helena seperti biasa segera menghilang dari kelas secepat kilat.


Setelah semua siswa kelas I-2 keluar dari kelas, Amanda melangkah mantap menuju ke kantin. Ia berharap masih ada jajanan yang bisa dibeli untuk mengganjal perutnya yang kosong.


Amanda mulai menyesali tidak memanfaatkan waktu istirahatnya tadi dengan baik. Ia seharusnya membeli sedikit makanan di kantin agar tidak selapar ini. Namun karena mengikuti Helena ke kelas sebelah, dia jadi lupa ke kantin.


Smartphone Amanda bergetar. Doni menelpon. Jantung Amanda mendadak berdetak lebih cepat. Ia berhenti sejenak di depan pintu masuk kantin dan menerima telpon dari Doni dengan perasaan deg-degan. Entah mengapa, kini Amanda merasa nervous jika berhadapan atau berbicara dengan Doni.


“Kamu dimana?” Tanya Doni. Dia berdiri tidak jauh dari kelasnya sambil memantau siswa-siswa yang lalu lalang di depannya. Dia yakin sekali belum melihat Amanda sejak tadi.


“Errrr… Aku di kantin.” Ujar Amanda grogi. Dia melirik ke dalam kantin. Kantin terlihat sepi. Hanya ada beberapa penjual yang sedang membereskan dagangan mereka.


Amanda memutuskan masuk ke kantin untuk melihat jajanan apa yang masih tersisa.


“OK. Aku ke sana.” Ucap Doni dan kemudian mengakhiri panggilan. Ia berjalan cepat menuju ke kantin. Tanpa sengaja ia bersinggungan dengan seorang cowok yang tiba-tiba melintas di hadapannya dengan membawa setumpuk buku tulis. Beberapa buku tulis jatuh berserakan di lantai koridor.


“Sorry…” Ujar Doni. Dia membantu mengambil beberapa buku yang berserakan tersebut dan menyerahkan kembali pada siswa laki-laki itu.


“Wahhh… Terima kasih, kawan!” Seru siswa itu dengan senyumnya yang ramah. Doni membalas dengan senyuman tipis.


Cowok bertubuh tinggi dan berwajah ramah tersebut kemudian berjalan cepat sekali menuju ruang guru.


Sedangkan Doni mempercepat langkahnya menuju ke kantin. Dia sudah tidak sabar, ingin cepat-cepat bertemu Amanda.


“Mie pangsit, dik?!” Amanda merasa sangat bahagia melihat penjual mie pangsit menawarkan dagangannya.


Dia mengangguk cepat. “Satu porsi ya mas…” Ujar Amanda penuh semangat.


Dia segera menarik sebuah bangku dan mendudukinya. Dia menanti dengan sabar penjual mie pangsit tersebut menyiapkan pesanannya.


Ada beberapa siswa yang melihat-lihat makanan apa yang bisa mereka pesan siang ini. Mungkin mereka juga kelaparan seperti Amanda.


Amanda melirik cemas, dia khawatir jika kantin ini ramai kembali maka dia tidak akan bisa makan dengan tenang.


Untungnya saat ini suasana di kantin cukup bersahabat bagi seorang Amanda yang minderan.


“Syukurlah… Masih ada makanan yang bisa dimakan. Bisa mati kelaparan aku di halte kalau ga makan sekarang.” Gumam Amanda.


“Ngapain kamu di sini?” Sebuah suara mengagetkan Amanda. Dia menoleh cepat dan baru menyadari bahwa Doni sudah berdiri di sampingnya.


“Eh… Iya, aku lapar.” Ujar Amanda kaget. Dia berusaha menenangkan detak jantungnya.

__ADS_1


Doni menarik sebuah bangku dan duduk tepat di depan Amanda. Amanda jadi makin salah tingkah. Untung saja di kantin sedang tidak ramai. Jadi tidak ada yang benar-benar memperhatikan mereka.


Mas penjual mie pangsit meletakkan pesanan Amanda di meja. Amanda menatap semangkuk mie pangsit di hadapannya dengan mata berbinar-binar. Aroma mie pangsit itu sangat menggoda.


“Satu porsi lagi, mas!” Ucap Doni. “OK. Ditunggu ya!” Ujar mas penjual mie pangsit.


“Kamu laper juga?” Tanya Amanda. Dia menambahkan kecap dan saos ke dalam mangkuk mie pangsit.


“Kamu suka mie pangsit ya?” Doni bertanya. Amanda melengos.


Bukannya menjawab pertanyaannya, seperti biasa Doni malah bertanya balik.


Kali ini Amanda bertekad akan balas dendam. Dia juga tidak akan menjawab setiap pertanyaan Doni tetapi akan melempar pertanyaan lain lagi seperti kebiasaan si boss besar itu.


“Kamu ga telat nih? Kan kamu harus kerja…” Amanda tiba-tiba teringat kegiatan sehari-hari Doni sepulang sekolah.


“Hemmm… Hari ini aku boleh libur.” Ujar Doni. Matanya terus menatap Amanda yang sangat fokus menyantap mie pangsitnya.


“Oh… Enak dong! Hari ini kamu jadi bisa istirahat.” Ucap Amanda sambil tersenyum manis. Doni terpana sejenak.


Mie pangsit pesanan Doni sudah tiba. Terhidang sempurna di atas meja.


"Terima kasih, mas." Ucap Doni dengan sopan dan lembut.


Amanda melirik Doni. "Dasar aneh! Kenapa dia sok manis begitu?" Batin Amanda.


“Kenapa menatapku begitu?” Tanya Doni risih.


“Kamu pinter ya makan pake sumpit!” Amanda berkata sambil tertawa lebar.


“Hemmm… Emangnya kamu ga bisa?” Tanya Doni. Amanda menggeleng dan tertawa lagi.


“Sumpah aku ga bisa!” Ujar Amanda sambil mengacungkan dua jarinya.


“Gampang. Tinggal pegang begini…” Doni mempraktekkan cara memegang sumpit dengan benar.


Amanda mengambil sumpit yang sejak tadi ada di hadapannya. Ia tidak menyentuh sama sekali sumpit itu sebelumnya. Ia membuka plastik pembungkus sumpit perlahan-lahan dan memegang sumpit seperti yang dicontohkan Doni.


“Hemmm… Bukan gitu. Gini…” Ujar Doni sabar. Amanda memperhatikan dengan serius. Dia berusaha maksimal.


“Terus ambil mie-nya begini…” Lanjut Doni, masih dengan nada suaranya yang lembut.


“Oh Tuhan… Sumpah, ini bagian tersulit!” Amanda mulai mengeluh.

__ADS_1


Berkali-kali dia gagal mengambil mie-nya, membuatnya kesal sendiri. Doni tersenyum geli melihat gerak-gerik Amanda.


“Hei… Jangan senyum-senyum aja! Ga bisa nih…” Ucap Amanda frustrasi.


“Coba ambil pangsit-nya dulu…” Doni mencoba memberi saran. Sambil mendengus Amanda mengikuti saran Doni.


Dengan susah payah Amanda berhasil mengangkat pangsitnya pelan-pelan. Tetapi sial bagi Amanda, belum sampai di mulutnya, pangsit tersebut terbelah dua dan jatuh kembali ke mangkuk.


Doni tertawa lebar sampai hampir tersedak dengan kuah mie pangsit yang sedang disantapnya. Amanda merasa kesal. Dia menatap Doni dengan galak.


“Huhhh… Aku emang payah soal sumpit-menyumpit ini!” Ujar Amanda geram.


“Hahahaaa…” Doni tertawa terbahak-bahak. Sekian lama Doni belum bisa menghentikan tawanya, membuat Amanda semakin dongkol.


“Heiiii… Kamu mau mati tersedak? Dari tadi ketawa mulukkkk!” Amanda mulai berang.


Dia mendengus dan berniat melanjutkan menyantap mie pangsit itu menggunakan sendok seperti sebelumnya.


“Gini loh caranya…” Doni mengambil sumpit tadi dan menggenggam tangan Amanda, mengarahkan jari-jari Amanda untuk memegang sumpit dengan benar.


Amanda merasakan sentuhan tangan Doni begitu lembut dan hangat. Hatinya merasakan desiran yang aneh.


“Hemmm… Kalau sering-sering, kamu pasti bisa…” Ucap Doni mencoba menyemangati Amanda.


“Aku udah berkali-kali coba, tetap aja ga bisa. Memang ga bakat.” Ucap Amanda pasrah.


Dia mencoba menarik tangannya dari genggaman Doni. Degup jantung Amanda masih berdetak tidak beraturan.


Doni melepaskan genggamannya dan melanjutkan menyantap mie pangsit dengan cepat. Dia tidak menyadari wajah Amanda sudah mulai merona.


Amanda menyudahi makannya. Dia baru sadar bahwa sejak tadi dia hanya berduaan dengan Doni di meja yang sama.


Jika ada yang memperhatikan mereka, bisa saja mereka berdua dianggap pasangan kekasih. Pasangan kekasih yang aneh tentunya.


Amanda menyeka keringat yang bermunculan di dahinya. Antara kepanasan, kepedasan, dan grogi jadi sulit dibedakan.


Setelah selesai dengan santapan mereka, Amanda dan Doni berjalan ke meja kasir dan bergegas meninggalkan kantin sekolah.


Sekolah sudah mulai agak sepi. Doni dan Amanda berjalan santai keluar dari area pekarangan sekolah.


Seorang pemuda tampan yang diam-diam memperhatikan mereka, sudah resah dari tadi. Tuan Mudanya tidak nongol-nongol sementara sekolah sudah mulai sepi.


"Ya ampun! Aku kira Tuan Muda kemana!" Gumam Alfred sambil menghela nafasnya dengan lega.

__ADS_1


"Apakah Tuan Muda sudah pacaran dengan gadis itu?" Alfred bertanya-tanya dalam hati.


Dia mulai berfikir serius sambil terus mengamati gerak-gerik Doni dan Amanda dari kejauhan.


__ADS_2