Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Windy Kecewa


__ADS_3

Windy bersemangat sekali. Dia melangkah dengan ceria di bandara.


"Yessss! Sebentar lagi aku bakalan ketemu si ganteng itu!" Windy bersorak gembira di dalam hati.


Nyonya Robby memandang suaminya dengan tatapan penuh makna. Tuan Robby hanya tersenyum simpul.


"Ma, kapan kita ke rumah teman papa?" Celoteh Windy ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Hemmm... Kita tunggu aja dulu papa selesai tugasnya ya!" Sahut Nyonya Robby.


"Emang papa ada kegiatan apa hari ini?" Tanya Windy lagi.


"Windy, papa pagi ini harus ke kantor cabang yang baru. Papa bereskan pekerjaan dulu ya." Jawab Tuan Robby.


"Ummmm... Kantor cabang baru?" Windy masih kurang paham dengan penjelasan papanya.


"Iya, papa ke sini kan karena harus meresmikan kantor cabang yang baru, sayang..." Jelas Nyonya Robby.


"Oh gitu..." Desis Windy.


Sebenarnya Windy belum paham juga. Tapi dia tahu, jika dia bertanya lagi maka papa dan mamanya bisa saja emosi. Makanya dia memilih untuk tidak berceloteh lagi.


Keluarga Tuan Robby tiba di sebuah hotel yang telah di-booking sebelumnya. Dua kamar yang dipesan sudah dipersiapkan. Seorang bell boy membawakan barang-barang mereka menggunakan sebuah troli barang yang cukup besar.


Windy tidur di kamar yang terpisah dari kedua orang tuanya. Kamar Windy berada di depan kamar Tuan dan Nyonya Robby.


"Ma, Windy istirahat sebentar ya. Nanti Windy ke kamar mama." Ujar Windy.


"Iya..." Nyonya Robby mengangguk pelan.


Windy langsung masuk ke kamarnya dan berbaring di sebuah sofa empuk yang ada di kamar.


"Hehehe... Lagi apa dia? Hemmm... Mungkin masih di sekolah ya..." Windy senyum-senyum sendiri di kamarnya.


Windy tidak merasa khawatir sama sekali sudah meliburkan diri hari ini. Dia tidak masuk sekolah dan tidak takut ketinggalan pelajaran di sekolahnya.


Dia lebih takut kehilangan kesempatan bertemu Tuan Muda Anthony daripada ketinggalan pelajaran.


Tuan Muda Anthony Rafsanjani adalah masa depan yang sudah pasti! Sedangkan sekolahnya adalah masa depan yang masih butuh banyak perjuangan.


Ya, dua-duanya adalah masa depan. Namun untuk saat ini, Tuan Muda lebih penting di hatinya.


"Ummmm... Coba WA dulu ahhh..." Windy berkata pada dirinya sendiri.


Selamat pagi, kak Doni.


Lagi pain niy?


Windy mulai mengetikkan kata-kata pembukaan. Dia senang sekali ketika peaannya terkirim dan centang dua.

__ADS_1


"Ummm... Ayo, baca dong kakak ganteng! Aku nunggu balesan nih..." Harap Windy.


Nyonya Robby tiba-tiba menelpon Windy.


"Windy, kemari ke kamar mama." Pinta Nyonya Robby.


"Ummmm... Iya, ma. Sebentar lagi Windy ke situ. Papa udah pergi ya, ma?" Tanya Windy.


"Iya, baru aja papa pergi." Jawab Nyonya Robby.


"Iya, ma. Sebentar ya... Windy mau ke toilet dulu." Sahut Windy.


Setelah ke toilet, Windy bergegas ke kamar mamanya. Dia mengetuk pintu kamar mamanya.


"Masuk!" Seru Nyonya Robby dari dalam kamar.


Windy masuk dan melihat mamanya sedang menonton TV sambil duduk santai di sofa.


"Sudah dikunci kamarnya?" Nyonya Robby mengingatkan Windy.


Windy mengangguk cepat. Dia lalu ikut duduk santai di samping mamanya.


"Hemmm... Mama tahu nih, kamu bela-belain ke sini karena mau ketemu Tuan Muda Anthony, bukan?!" Tembak Nyonya Robby tanpa basa-basi.


Windy auto kaget. Dia berfikir jawaban apa yang harus dia utarakan. Mau ngeles, sepertinya tidak ada gunanya. Sudah kepalang tanggung. Windy berfikir, mamanya pasti tahu apa tujuan dia yang sesungguhnya.


"Ummmm... Ya, mumpung ke sini kan, ma..." Windy mencoba berkilah.


"Hehehe... Kak Doni itu baik dan pintar, ma. Windy mau belajar banyak dari dia." Lagi-lagi Windy mencoba mencari alasan.


Sontak Nyonya Robby tertawa keras. Windy merasa sebal. Dia tahu mamanya sedang menertawakan dirinya.


"Kapan kita ke rumah kak Doni, ma?" Windy mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Hemmm... Sayangnya sepertinya kali ini kita belum bisa ke sana, Windy." Jawab Nyonya Robby.


Windy seketika shock mendengar jawaban mamanya itu.


"Lho... Kenapa, ma? Papa sibuk banget ya?" Tanya Windy lagi.


Nyonya Robby menggeleng. "Bukan, bukan papa yang sibuk. Tapi Tuan Wishnu yang sibuk!"


"Tuan Wishnu dan istrinya sedang tidak ada di sini. Mereka lagi di luar negeri." Tutur Nyonya Robby.


"Apa?!" Windy terlonjak kaget.


Yang benar saja! Dia sudah jauh-jauh datang ke sini dan tidak bisa bertemu dengan Tuan Muda Anthony. Oh... Tidak! Itu sebuah kerugian besar bagi Windy.


"Ya, mama juga baru tahu nih. Tadi chat sama Nyonya Wishnu." Ujar Nyonya Robby.

__ADS_1


Gurat kecewa langsung terlihat di wajah cantik Windy.


"Kak Doni juga ikut?" Tanya Windy dengan nada suara putus asa.


"Ga, sih... Dia ada di sini." Nyonya Robby melirik puteri bungsunya.


"Tapi papa mungkin ga akan ke rumah Tuan Wishnu jika Tuan dan Nyonya Wishnu tidak ada di rumah." Jelas Nyonya Robby.


"Yahhh... Ga bisa ketemu kak Doni dong..." Ujar Windy penuh kecewa.


Windy langsung memasang wajah cemberut. Nyonya Robby tertawa terkekeh-kekeh. Windy semakin kesal.


"Jadi rugi dong ya kamu udah jauh-jauh ke sini?" Ledek Nyonya Robby.


"Idihh... Mama... Windy kesel nih jadinya..." Windy makin bersungut-sungut.


"Hahaha... Tenang, sayang. Semua akan baik-baik saja." Nyonya Robby mencoba menenangkan puterinya.


"Huffffttt.." Windy mencelos.


"Ya sudah, biar kamu ga kepikiran Tuan Muda terus, ayo kita keluar!" Seru Nyonya Robby.


Windy menanggapi seruan Nyonya Robby dengan wajah datar.


"Kemana, ma?" Tanya Windy.


"Hemmm... Enaknya kemana ya?" Nyonya Robby memancing dengan pertanyaan untuk mengalihkan perhatian Windy.


"Kita ke mall?" Tanya Nyonya Robby.


"Boleh, ma... Kita shopping yaa..." Windy tiba-tiba jadi bersemangat lagi.


"OK, sayang..." Ucap Nyonya Robby.


Nyonya Robby lalu mendiskusikan pilihan mall yang akan mereka tuju dengan Windy.


"Ma, kita ke XXI ya! Ada film bagus nih!" Seru Windy.


Windy tiba-tiba ingat ada film baru yang ingin ditontonnya. Nyonya Robby sebenarnya tidak begitu suka nonton bioskop. Namun demi membuat mood Windy menjadi bagus kembali, Nyonya Robby terpaksa mengikuti keinginan Windy.


Sambil mengantri di bagian tiket, Windy melirik smartphone-nya. Berharap ada chat balasan dari Tuan Muda Anthony. Namun lagi-lagi tidak ada satupun pesan balasan yang masuk dari cowok tampan dan tajir itu.


Jangankan sebuah pesan balasan, chat Windy bahkan belum juga dibaca oleh Tuan Muda Anthony.


Windy mendengus. Dia bertambah kesal ketika melihat posisi antriannya.


"Huhhh... Kenapa sih rame banget yang nonton hari ini? Padahal ini kan bukan waktunya weekend!" Windy menggerutu pada mamanya.


Nyonya Robby tersenyum tipis. Wanita itu juga merasa heran mengapa hari ini bisa seramai itu.

__ADS_1


"Hemmm... Mungkin gara-gara film-nya nih." Nyonya Robby mencoba menenangkan puterinya.


Windy merengut dan mendengus lagi. Dia jadi merasa bad mood lagi. Dia merasa hari ini bukan hari keberuntungannya.


__ADS_2