Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Harus Selalu Berdua


__ADS_3

“Program ekstra kurikuler kelas jurnalistik akan dimulai hari ini pada pukul 3 sore. Bertempat di kelas II-4 di lantai 2. Semua siswa diharapkan hadir tepat waktu.” Sebuah pesan dari kakak kelas pengurus OSIS tampil di WA Amanda.


Amanda sudah bergabung dengan grup kelas jurnalistik kemarin pagi. Ada Sembilan orang anggota grup. Satu orang kakak kelas pengurus OSIS bernama Tama, satu orang guru pembimbing yang dipanggil coach Miranda, sisanya adalah para siswa baru termasuk Amanda.


“Hemmm… Cuma tujuh orang…” Gumam Amanda. Dia berharap pertemuan pertamanya di kelas ekskul ini akan berjalan lancar.


“Kamu lanjut ekskul ya?” Tanya Helena. Amanda mengangguk pelan.


“OK. Aku duluan ya…” Ujar Helena ketika melihat guru mata pelajaran terakhir hari ini sudah beranjak keluar dari kelas mereka.


“Kamu beneran ga mau ikut ekskul?” Tanya Amanda.


“Entahlah… Nanti aku pikir-pikir dulu.” Jawab Helena sekenanya. Dia mengambil tasnya dan bergegas keluar dari kelas.


Amanda tetap duduk santai di bangkunya. Dia sudah memutuskan untuk tidak pulang ke rumah siang ini.


Perjalanan yang ditempuhnya untuk pulang ke rumah dan balik lagi ke sekolah dengan menggunakan angkot akan membutuhkan waktu yang panjang. Tentunya juga menguras tenaga dan biaya yang lebih banyak. Sehingga Amanda memilih tetap tinggal di kelas sambil menunggu jam masuk kelas ekskul.


Amanda juga sudah membawa bekal yang disiapkan oleh ibunya untuk makan siangnya hari ini. Dia harus pintar-pintar berhemat. Biaya sekolahnya sudah sangat tinggi, jadi dia harus pintar menghemat biaya pengeluarannya yang lain agar tidak memberatkan kedua orang tuanya.


Smartphone Amanda bergetar di dalam tasnya. Seperti biasa, Doni menghubunginya karena belum melihat batang hidung Amanda muncul di hadapannya siang ini.


“Ya Tuhan… Anak ini lagi. Jangan bilang dia menungguku lagi…” Desis Amanda.


“Kamu dimana?” Doni langsung melontarkan pertanyaan tanpa basa-basi ketika Amanda menerima panggilan darinya.


“Di kelas…” Desah Amanda.


“Ngapain di kelas?” Tanya Doni.


Amanda mulai mendengus. “Suka-suka aku dong mau dimana. Masalah buat lo?!” Amanda menjawab asal.


“OK. Aku ke situ.” Ujar Doni. Dia memutuskan panggilannya.


“Hahhh… Apa!? Kenapa dia mau ke sini? Ya ampun…” Amanda menjadi panik sendiri.


Doni melihat ke sekeliling penjuru ruang kelas Amanda. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja dia sudah di situ. Di depan pintu kelas Amanda.


“Dari mana sih dia? Kok tiba-tiba udah nongol aja!” Amanda bertanya-tanya dalam hati.


Beberapa siswa yang sedang keluar dari kelas I-2 melirik Doni sekilas. Doni berpapasan dengan mereka di pintu kelas. Dia kemudian masuk ke dalam kelas dengan santai.


Amanda menjadi gelagapan sendiri di bangkunya. “Aduh… Mau apa dia ke sini? Mampus aku…” Desis Amanda.


Doni langsung menghampiri Amanda yang terlihat panik di bangkunya.

__ADS_1


“Kamu ga pulang?” Tanya Doni. Matanya menatap Amanda lekat-lekat. Amanda merasa deg-degan.


“Aduh… Bisa ga sih, jangan menatapku begitu…” Amanda membatin sendiri di dalam hati.


Tiba-tiba Doni sudah duduk di bangku Helena, di sebelah Amanda. Amanda tersentak kaget.


“Ehh… Ehh… Jangan duduk di sini!” Amanda berseru dengan panik. Tanpa sadar dia menolak tubuh Doni menjauh darinya.


Doni tersenyum simpul. “Emangnya ada peraturan yang melarang aku duduk di sini?” Tanya Doni.


“Ya ga ada sih! Tapi kamu kan bisa duduk di situ!” Tukas Amanda sambil menunjuk bangku di depannya.


“Kalau aku maunya duduk di sini… Masalah buat lo?” Doni bertanya dengan nada usil. Dia mengulang kata-kata Amanda tadi.


Amanda menghela nafasnya. “Dasar! Terserah kamu deh!” Ujar Amanda.


Dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Doni. Ujung-ujungnya juga nanti dirinya yang akan mati kamus.


Amanda melirik Doni yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sepertinya memang tidak berniat bangun dari tempat duduknya saat ini. Dia malah duduk dengan posisi lebih santai.


“Aku ikut ekskul nanti jam tiga. Jadi aku pulangnya nanti sore setelah ekskul.” Ucap Amanda.


“Ekskul?” Doni seperti bergumam sendiri.


“Hemmm… Aku belum daftar.” Ujar Doni. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Kenapa kamu ga pulang dulu? Nanti kan bisa balik lagi.” Doni bertanya lagi.


“Rumahku jauh. Kalau bolak-balik naik angkot, aku takut telat dan pasti capek banget.” Ujar Amanda.


“Lagipula lebih hemat ongkos kan?” Amanda berkata sambil nyengir.


“Oh gitu…” Gumam Doni. Dia mulai menghitung-hitung ongkos angkot yang menurutnya sangat murah.


“Ya udah. Kamu mau pulang kan? Duluan aja.” Amanda berkata sambil tersenyum.


Doni terdiam sejenak. Dia menatap Amanda lagi, membuat Amanda menjadi risih. Amanda merasa wajahnya panas.


“Aduh… Matanya itu… Ya Tuhan…” Amanda berteriak-teriak dalam hati. Dia mencoba menenangkan detak jantungnya.


“Hemmm… Kamu harus kerja siang ini kan? Kasihan papa kamu nanti ga ada yang bantuin loh…” Amanda mengingatkan Doni untuk mengalihkan perhatian Doni dari dirinya.


Doni melirik smartwach di pergelangan tangannya. Benar seperti dikatakan Amanda, siang ini dia harus pergi ke perusahaan papanya.


Amanda merasa sedikit lega ketika melihat Doni seperti sedang memikirkan sesuatu. Setidaknya saat ini Doni telah mengalihkan pandangannya dari dirinya.

__ADS_1


Tatapan Doni sulit dimengerti oleh Amanda. Yang jelas Amanda merasa risih dan jantungnya berdebar tidak menentu ketika ditatap seperti itu.


Amanda sebenarnya mulai menyadari dan mengakui betapa Doni memiliki sepasang mata yang indah. Matanya begitu teduh ketika menatapnya.


Namun Amanda tidak ingin terbawa suasana. Dia tidak ingin baper sendiri. Dia baru saja patah hati. Merasa begitu hancur hingga membuat dirinya tidak berani tertarik dengan siapapun saat ini.


Apalagi dia juga merasa bingung sendiri dan tidak mengerti mengapa Doni akhir-akhir ini seperti sedang mendekati dirinya.


“Ah… Mungkin cuma perasaanku saja…” Batin Amanda.


Amanda memperhatikan di sekeliling kelasnya. Hanya ada dua orang siswa laki-laki di kelas. Mereka berdua sedang asyik sendiri dengan game online di smartphone-nya sehingga tidak serius memperhatikan Doni dan Amanda yang sedang duduk semeja saat ini.


Doni merasa malas beranjak dari samping Amanda. Tetapi dia memang harus ke perusahaan. Ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh papanya di kantor hari ini. Jadi dia harus ke sana sekarang.


Sebuah suara berbisik halus di relung hati Doni. “Aku harus selalu bersama denganmu. Kita harus selalu berdua!” Suara itu seolah terus menghantui Doni.


“Hei… Kamu gapapa?” Amanda bertanya dengan nada khawatir. Dia memperhatikan sejak tadi wajah Doni terlihat agak tegang.


“Oh… Iya. Aku pulang duluan ya.” Ujar Doni. Dia bangkit dari duduknya dan melirik kedua siswa di bangku depan.


Kedua siswa laki-laki itu terlihat sedang duduk santai dengan posisi kaki selonjoran di atas meja.


“Kabari aku kalau ada masalah di sini!” Doni berkata setengah berbisik. Ada nada tegas dalam suaranya yang pelan itu.


“Hahhh… Apa? Di sini aman kok. Hehehe…” Amanda nyengir sendiri.


Dia heran mengapa kadang-kadang Doni terlihat lebay. Lagipula di setiap penjuru sekolah ada CCTV yang merekam segala kegiatan para siswa di sekolah. Para security juga ditugaskan berjaga 24 jam di lingkungan sekolah.


Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sistem keamanan sangat terjamin di lingkungan SMA Adhyaksa.


“OK.” Ucap Doni. Dia meninggalkan kelas Amanda dengan berat hati.


Dia mengambil smartphone-nya dan mulai memesan ojek online. Doni merasa malas menunggu angkot di halte, sendirian tanpa Amanda di sisinya.


Driver ojek online menelpon Doni tepat ketika Doni tiba di gerbang sekolah.


Para security memperhatikan Doni yang keluar dari gerbang sekolah dan masuk ke dalam mobil yang baru saja dia order.


“Lho!? Kenapa Tuan Muda tidak ke halte seperti biasanya?” Alfred bertanya-tanya penasaran.


Sambil mengemudikan mobilnya dan mengikuti mobil yang membawa Doni, Alfred mencoba menganalisa kegiatan Tuan Mudanya beberapa hari ini.


“Jangan bilang Tuan Muda hanya ke halte jika bersama gadis itu…” Gumam Alfred.


“Ya Tuhan… Apakah aku benar-benar harus membuntuti remaja yang sedang jatuh cinta? Apakah aku harus segitunya?” Alfred tergelak sendiri melihat tingkah laku Tuan Mudanya.

__ADS_1


__ADS_2