Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Penasaran


__ADS_3

Sebuah mobil sedan mewah berwarna silver yang membawa Ryan bergerak perlahan di tengah keramaian pusat kota. Suara klakson sesekali terdengar di sana sini, memaksa Ryan untuk melirik keadaan di sekitar jalan yang sedang mereka lalui. Suasana mulai remang-remang. Senja akan segera berakhir.


Ryan membiarkan pikirannya menerawang tak menentu. Ia menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di jok belakang. Ia merasa agak kelelahan setelah mengikuti latihan karate sore ini. Rasa lelah menghadirkan rasa kantuk. Ryan kemudian tertidur pulas di jok belakang.


Pak Samsul, driver pribadi Ryan sekaligus pengurus villa, melirik melalui spion depan. Terlihat Ryan terkulai di tempat duduknya dengan desah nafas beraturan.


Pak Samsul mengendarai mobil dengan kecepatan sedang melewati beberapa komplek perumahan elite di pinggiran kota. Mobil kemudian berbelok memasuki sebuah area yang luas dan tertata rapi. Suasana yang sejuk dan asri langsung terasa ketika menyusuri jalan yang menuju kediaman Ryan.


Sebuah villa mewah dengan nuansa minimalis modern terlihat di ujung jalan. Lampu-lampu aesthetic yang tertata rapi di sepanjang jalan menambah indah pemandangan di sekitar villa tersebut. Cahaya matahari senja yang hangat mulai berganti dengan gelapnya malam yang sejuk dan tenang.


Para petugas keamanan yang berjaga di pos security membukakan pintu gerbang dan membungkuk hormat ketika mobil yang dikemudikan Pak Samsul memasuki pekarangan villa. Mereka menutup kembali pintu gerbang dan berjaga pada posisi masing-masing dengan siaga.


Pak Samsul menaikkan kembali kaca pintu mobil dan melirik Ryan sekali lagi. Lelaki paruh baya itu sepertinya sedang memikirkan bagaimana cara membangunkan putera majikannya tersebut.


Pak Samsul menghentikan mobil di depan villa dan menoleh ke belakang. Bu Surti, istri Pak Samsul membukakan pintu dan menunggu di teras depan sambil tersenyum ramah dan keibuan seperti biasa.


"Nak Ryan..." Pak Samsul memanggil nama Ryan, berharap segera mendapat respon.


Ryan tak bergeming. Masih tertidur pulas. Pak Samsul menghela nafas, merasa segan untuk mengganggu istirahat Ryan. Namun pria itu juga tidak tega membiarkan Ryan tertidur semalaman di dalam mobil.


Pak Samsul akhirnya memutuskan membangunkan Ryan. Pria itu menepuk lembut paha Ryan untuk membangunkannya dari tidurnya.


"Nak Ryan... Kita sudah sampai..." Ujar Pak Samsul sambil tersenyum ketika melihat Ryan menggeliat dan membuka matanya.


"Oh... Maaf, Pak Sam... Aku jadi ketiduran ya. Hehehe..." Ryan berkata sambil nyengir sendiri.


"Tidak apa-apa, nak Ryan... Mari kita masuk." Ajak Pak Samsul.


Pak Samsul keluar dari mobil dan dengan sigap membuka pintu mobil untuk Ryan. Ryan mengambil tas ransel dan baju latihannya dan keluar dari mobil dengan wajah mengantuk.


"Terima kasih, Pak Sam." Ucap Ryan sopan.


Pak Samsul mengikuti Ryan masuk ke dalam villa. Bu Surti menyambut Ryan dengan senyuman ramah.

__ADS_1


"Nak Ryan kelihatannya masih ngantuk ya..." Ujar Bu Surti sambil mengambil ransel dan baju latihan karate yang sudah kotor dari tangan Ryan.


"Wah... Terima kasih, bu Sur. Maaf ini bajunya jadi kotor banget. Hehehe..." Ucap Ryan dengan rasa bersalah.


"Berani kotor itu baik, nak Ryan! Hahaha..." Kelakar Pak Samsul yang langsung diiringi tawa renyah Ryan.


"Memang Bu Surti wanita terbaik! Mmuahhhh..." Ujar Ryan sekenanya sambil memonyongkan mulutnya dan memberi ciuman jarak jauh untuk Bu Surti.


Bu Surti dan Pak Samsul tergelak melihat sikap Ryan yang selalu saja suka bercanda.


Pasangan suami istri itu sudah bekerja puluhan tahun di keluarga Ryan, jauh sebelum Ryan dan saudara-saudarinya lahir. Sehingga mereka sudah mengenal dengan baik watak dan pembawaan Ryan yang ramah dan suka bercanda dengan siapa saja.


"Nak Ryan ini... Ayo, mandi dulu. Ibu siapkan air hangat ya..." Kata Bu Surti.


Ryan mengangguk cepat sambil melepaskan sepatunya dan menggunakan sandal rumahan yang tersedia di rak sepatu. Bu Surti bergegas memindahkan baju kotor Ryan dan mempersiapakan peralatan mandi di kamar mandi khusus. Kamar mandi itu hanya boleh digunakan oleh Ryan seorang, begitu pengaturan yang dibuatnya sendiri. Tentu saja Ryan adalah raja di villa itu.


Ryan tidak suka berbagi ruangan khususnya dengan siapapun, meskipun itu adalah adiknya sendiri. Ryan dan adik bungsunya yang bernama Rudy, sama-sama tinggal di villa tersebut. Rudy saat ini memasuki tahun ketiganya di SMP Adhyaksa.


Meskipun terlihat santai, pada dasarnya Ryan adalah seorang pemikir yang serius. Sejak kecil, kepintarannya sudah menonjol. Ia selalu juara kelas dan pernah beberapa kali menyabet juara umum sejak masih duduk di bangku SD.


Oleh sebab itu, Ryan memilih bergabung di kelas olimpiade astronomi sebagai pilihan kegiatan ekstra kurikuler di SMA Adhyaksa. Ia sangat tertarik dengan ilmu astronomi dan ingin berkompetisi di bidang itu. Jiwa kompetisi Ryan memang sudah terasah tajam sejak kecil.


Sedangkan untuk latihan karate, Ryan memilih sebuah sanggar yang cukup terkenal di kota itu. Pencak silat dan karate adalah kegemarannya yang lain. Ryan merasa tubuhnya lebih bugar dan fikirannya lebih segar jika ia berolah raga secara teratur. Tentu saja hal itu secara otomatis membuat dirinya lebih fokus dalam belajar.


Setelah membersihkan diri, Ryan memakai piyamanya dan berjalan cepat menuju ruang makan. Ia sudah merasa sangat lapar. Bu Surti telah menghidangkan makan malam dengan rapi di atas meja makan untuk Ryan.


"Bu... Rudy belum pulang ya?" Tanya Ryan santai.


"Belum, nak Ryan. Tapi sebentar lagi bapak akan menjemput nak Rudy..." Jawab Bu Surti.


"Hemmm... Dasar. Dia selalu saja keluyuran." Tukas Ryan.


Bu Surti hanya membalas dengan senyuman. Ryan dan Rudy sesungguhnya agak berbeda dalam banyak hal. Tidak ada kemiripan paras wajah dan keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Namun mereka berdua sama dalam dua hal, sama-sama pintar dan sama-sama tampan. Selebihnya siapapun akan sangat sulit menemukan persamaan di antara mereka.

__ADS_1


Ryan buru-buru menghabiskan makanannya dan beranjak ke ruang baca sambil membawa segelas air hangat. Ia meletakkan segelas air hangat itu di atas sebuah meja bundar berukuran sedang yang terletak manis di sisi kiri ruangan. Tiga buah rak buku besar dan tinggi yang dipenuhi berbagai jenis buku terlihat mencolok mata. Ruangan tersebut seolah sebuah perpustakaan mini yang rapi, mewah dan nyaman.


Sebuah rak kayu besar dengan ornamen ukiran ala Eropa berdiri megah di sisi kiri ruangan. Berbagai jenis trophy dan medali emas terpajang indah di dalam rak tersebut. Pantulan cahaya lampu hias di dalam rak menambah indah kilauan semua benda-benda penting nan bersejarah di dalamnya.


Ryan menatap serius rak tersebut, sedang berfikir apakah dia perlu menambah sebuah rak baru untuk trophy, medali, dan piagam berikutnya yang akan dia dapatkan. Ia kemudian mendekati salah satu rak buku dan mengambil dua buah buku astronomi yang baru saja dibelinya minggu lalu.


Ryan duduk santai di sofa mungil yang empuk dan mulai membolak-balik buku astronomi yang dipegangnya. Ia mulai mengingat-ingat materi yang disampaikan oleh coach mereka di kelas astronomi.


"Ah... Buku tulis astronomiku di kamar..." Gumam Ryan menyesali mengapa tadi dirinya tidak membawa buku tulisnya ke ruang baca.


Ryan berjalan menuju meja bundar, ia menarik kursi di depan meja dan duduk lagi dengan posisi santai. Sambil menyeruput air hangat yang tadi dibawanya dari ruang makan, tiba-tiba wajah Amanda terlintas di fikirannya.


Gadis itu, teman sekelasnya Vino. Mereka juga mengikuti kegiatan ekstra kurikuler pada hari yang sama namun berbeda kelas.


"Hemmm... Dia kelihatannya pintar..." Ryan menggumam sambil mengingat-ingat sosok Amanda yang sudah beberapa kali ditemuinya.


Ryan sering berpapasan dengan Amanda tanpa sengaja. Tetapi ia juga sering melihat Amanda bersama cowok tinggi yang pendiam itu. Mereka sepertinya selalu barengan pulang sekolah.


Apakah mungkin rumah mereka berdekatan?


Apakah mereka bersahabat dekat?


Atau mereka berpacaran?


Ryan merasa sepertinya cowok aneh dan pendiam itu tidak menyukai dirinya. Sudah beberapa kali ia menyapa Amanda dan mendapat tatapan yang tajam menghujam dari cowok itu. Sebenarnya Ryan tidak suka diperlakukan seperti itu.


"Kayak ada aja dosa aku sama dia..." Desis Ryan sebal.


"Hemmm... Tapi Amanda kayaknya ga cocok sama dia." Ryan membatin dalam hati.


Diam-diam Ryan mulai merasa kepo sendiri. Ia berencana mencari tahu lebih jauh tentang hubungan Amanda dan cowok itu.


"Dani... Deni... Doni... Ahh... Bodo amat siapa namanya!" Tukas Ryan sewot sendiri.

__ADS_1


Rudy yang baru tiba melihat wajah manyun kakaknya, memilih berdiam diri dan bergegas menaiki tangga di depan ruang baca untuk menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Kamar tidur mereka tidak berada di lantai yang sama. Ryan menempati kamar tidur yang sangat luas di lantai satu, di samping ruang baca.


Ryan melirik adiknya sekilas lalu dan langsung menoleh melihat jam mungil di atas meja. Kali ini ia sedang tidak mood untuk membuang-buang waktu menasehati adiknya dan akhirnya memutuskan kembali fokus pada buku bacaannya.


__ADS_2