
"Lagi apa, baby?" Tanya Ryan dengan gaya bicaranya yang khas.
Amanda langsung merasa perutnya mulas mendengar kata-kata yang meluncur bebas dari mulut Ryan.
"Dasar cowok mulut lemas!" Amanda membatin kesal sendiri.
Ingin sekali sebenarnya dia mengucapkan kata-kata itu langsung kepada Ryan tetapi dia juga tidak mau dianggap cewek bermulut tajam. Maka dia memilih untuk merutuk kesal di dalam hati saja.
"Ada apa?" Tanya Amanda, suaranya terdengar cukup ketus.
"Ketus amat, sayang. Kamu kenapa sih? Hehehe..." Ryan semakin menjadi-jadi.
"Udah ah! Ga usah banyak basa-basi. Ada apa kamu nelpon malam-malam?" Suara Amanda kali ini mulai terdengar berang.
Ryan terkekeh sendiri. Sepertinya Amanda sedang dalam keadaan bad mood.
Sesungguhnya Ryan tahu kalau sudah begini, akan sulit untuk berdiskusi dengan Amanda. Tetapi Ryan tetap ingin mencoba terlebih dahulu.
"OK. Aku to the point aja ya! Selamat, Amanda! Kamu menang di perlombaan itu!" Ucap Ryan.
Amanda mendengus. Ternyata itu yang ingin diucapkan oleh Ryan. Entah mengapa kali ini dia tidak merasa tersanjung dengan ucapan Ryan. Tidak sama sekali!
Lagipula Ryan adalah juara pertama, mengapa dia malah begitu simpati pada Amanda. Amanda mulai berprasangka.
"Jangan-jangan dia pingin dipuji nih!" Batin Amanda.
"Ya, terima kasih. Selamat juga buat kamu, kamu kan juara pertama!" Ujar Amanda.
"Hehehe... Iya, sama-sama." Sahut Ryan.
"Coach Winnie pasti akan sangat senang mengetahui kita berdua memenangkan perlombaan menulis essay itu!" Sambung Ryan penuh semangat.
"Oh iya! Coach Winnie..." Amanda baru ingat akan pelatih mereka itu.
Coach Winnie sangat berjasa dalam hal ini. Setidaknya begitu menurut Amanda. Pelatih mereka yang ramah itu telah berjuang maksimal untuk mengajarkan mereka ilmu-ilmu dasar tentang struktur penulisan essay, tips dan trik dalam menulis essay bagi pemula.
Amanda tersadar bahwa dia melupakan sesuatu. Dia lupa memberi kabar pada Coach Winnie tentang pengumuman hasil seleksi yang telah diumumkan oleh panitia perlombaan. Lebih parah lagi, dia bahkan lupa mengucapkan terima kasih.
"Ya ampun... Aku baru ingat!" Seru Amanda.
"Hemmm... What's that, baby?" Ryan bertanya lagi dengan nada gombalnya yang biasa.
"Aku lupa ngabarin Coach Winnie tentang pengumuman ini..." Tutur Amanda lesu.
"Ohhh... Ya, no problem..." Sahut Ryan.
"Kamu udah ngabarin?" Tanya Amanda.
"Hemmm... Belum juga..." Ucap Ryan.
"Kamu tahu sendiri kan kita baru saja selesai dengan kesibukan di acara pensi. Jadi aku juga lupa ngabarin Coach Winnie. Hehehe..." Jelas Ryan panjang lebar.
__ADS_1
"Iya sih... Kamu pasti sibuk banget kemarin-kemarin..." Amanda setuju dengan kata-kata Ryan.
"Yahhh... Begitulah..." Kata Ryan.
Energi Ryan nyaris terkuras habis karena kesibukannya mengkoordinir kegiatan-kegiatan pensi yang diikuti oleh teman-teman sekelasnya.
Untung saja persiapan lomba menulis essay yang dia ikuti tidak berbarengan dengan pelaksanaan kegiatan pensi. Kalau tidak, mungkin Ryan tidak akan bisa mengikuti perlombaan dengan tenang dan fokus.
"Jadi gini... Aku mau ngajak kamu barengan lagi ke SMA Negeri 10." Ujar Ryan.
"Ngapain?" Tanya Amanda.
"Buat ngambil hadiah dong! Emang kamu belum baca pengumuman terbaru dari mereka?"
"Hemmm... Aneh kamu, Amanda. Sekarang jadi banyak lupa ya!"
Nada suara Ryan terdengar agak menyindir. Amanda terdengar menghela nafasnya.
"Iya, Ryan... Aku lagi ribet sendiri nih sama ulangan bulanan yang ga ada habisnya..."
"Hahaha... Santai saja, sayang. Semua akan berlalu. Tidak perlu difikirkan. Tapi perlu dipelajari dengan serius. Hahaha..."
"Huhhh... Dasar! Sama aja itu!"
Amanda dan Ryan terus saja saling berceloteh. Tanpa sadar, mereka sudah ngobrol di telpon selama satu jam lebih.
"Ckckckck... Ternyata udah lama juga kita ngobrol ya!" Tukas Ryan ketika melirik jam besar yang menempel di dinding.
"OK! Pokoknya ntar kita barengan ngambil hadiahnya." Ryan mengingatkan lagi tujuan dirinya menelpon Amanda.
"OK. OK." Sahut Amanda cepat.
"Ya sudah, kamu pasti mau istirahat nih. Besok-besok kita sambung lagi ya!" Ujar Ryan sebelum memutuskan panggilan.
"Yup..." Sahut Amanda.
Tuuuttt...
Setelah Ryan memutuskan panggilan, Amanda menghembuskan nafas dengan lega.
"Hemmm... Ga terasa udah lama juga kami ngobrol di telpon..." Amanda membatin.
Amanda mengakui bahwa Ryan memang asyik dijadikan sebagai teman ngobrol. Dia selalu punya bahan pembicaraan yang seru dan menarik untuk dijadikan perbincangan.
Menurut Amanda, Ryan termasuk cowok yang pintar dan rajin belajar. Itu adalah hal yang paling disukai oleh Amanda dari sosok Ryan. Hanya saja ada beberapa sifat Ryan yang tidak disukainya.
"Mulutnya yang lemas itu aja sih yang suka buat emosi..." Amanda bersungut-sungut sendiri.
Amanda menghela nafas dan beranjak dari tempat duduknya. Dia merebahkan lagi tubuhnya di atas kasur.
"Hemmm... Mumpung besok libur, kayaknya cocok nih kalau aku main-main ke toko buku!"
__ADS_1
Amanda sudah lama tidak bertandang ke toko buku favoritnya itu. Dia berencana membeli beberapa buku yang dibutuhkannya.
"Mudah-mudahan ada diskon..." Harap Amanda.
"Tapi aku juga udah lama ga jenguk Tiwi. Hemmm..."
Amanda mulai galau apakah sebaiknya dia ke toko buku atau datang ke rumah Tiwi terlebih dahulu.
"Hemmm... Kalau aku ke rumah Tiwi duluan, pasti nanti bakalan nyangkut lama di sana! Sedangkan aku ga bisa lama-lama di luar..."
Amanda sadar dia masih punya banyak PR dari sekolah. Jadi dia tidak bisa kelamaan keluyuran besok pagi.
"Ahh... Sebaiknya aku coba telpon Nunik dulu. Kira-kira besok Nunik dan Vera jadi ga ya ke rumah Tiwi..." Amanda mulai mencari kontak nama Nunik di ponselnya.
Amanda tidak menghubungi Nunik melalui WA karena dia melihat last seen Nunik adalah tadi sore pukul lima. Dia menduga Nunik mungkin sedang kehabisan paket internet.
Oleh karena itu, dia memilih menghubungi Nunik melalui panggilan seluler biasa. Kebetulan Amanda masih memiliki bonus kuota nelpon pada kartu SIM yang digunakannya.
"Hemmm... Halo..." Sapa Nunik ketika menerima panggilan telpon dari Amanda.
"Halo, Nik! Kamu lagi apa?" Amanda membalas sapaan Nunik.
"Biasa... Lagi nonton..." Sahut Nunik datar.
"Kamu di rumah?" Tanya Amanda.
"Iya. Aku lagi nonton Disney Hotstar." Jelas Nunik.
"Ohhh... Hehehe... Iya, aku kira kamu di luar. Ya, siapa tahu kamu lagi nonton di luar." Celoteh Amanda.
"Ya ga lah, non! Kalau lagi di bioskop mana mungkin kita bisa telponan gini. Aku ga bakal bisa dengerin suara kamu!" Sahut Nunik mulai sewot.
"Hahaha... Iya ya! Eh, besok kan libur. Ada rencana jenguk Tiwi ga?" Amanda langsung menuju pokok pembahasan.
"Kayaknya ga nih... Aku ga ikutan ya, lagi kurang sehat nih!" Ujar Nunik.
"Ohhh... Kamu lagi sakit ya?" Tanya Amanda.
"Iya, sejak kemarin siang aku udah mulai ga enak badan. Agak demam juga. Jadi besok aku mau istirahat aja di rumah." Terang Nunik.
"Hemmm... Iya, Nik. Kalau begitu, nanti aja waktu kamu udah sembuh kita ke sana." Kata Amanda.
"Iya, boleh. Ga enak juga kan, lagi sakit gini malah bawa virus lagi ke rumah Tiwi." Ujar Nunik.
"Hahaha... Iya, bener. Orang sakit kok malah jenguk orang sakit!"
"Ya sudah, kamu istirahat aja. Moga lekas sembuh, Nik!'
Amanda lalu menutup pembicaraan mereka di telpon. Dia melihat jam di layar ponselnya.
"Hemmm... Lebih baik aku tidur cepat, biar besok bangun pagi jadi lebih segar!"
__ADS_1
***