
"Hahhh... Apa?!" Seru Amanda. Terdengar nada kepanikan di dalam seruannya.
Helena hanya bisa melongo memperhatikan pembicaraan Doni dan Amanda. Dia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
Jika Helena melongo dengan ekspresi wajahnya yang jutek, maka lain lagi dengan ekspresi wajah Amanda.
Amanda terlihat lebih kaget dan sedikit panik. Dia sama sekali tidak menyangka Doni sekonyong-konyong akan mengucapkan kata-kata itu.
"Anak ini.. Suka nongol tiba-tiba. Ngomongnya juga aneh-aneh." Amanda ngedumel dalam hati.
Doni menatap Amanda dengan tatapan tidak sabar. Sedangkan Amanda masih memikirkan kata-kata apa yang harus dia ucapkan untuk menanggapi ucapan Doni.
Amanda mencuri-curi pandang ke arah jam dinding yang tergantung di depan kelas. Ia merasa sedikit bersyukur karena beberapa menit lagi mereka akan berkumpul di halaman depan sekolah untuk mengikuti upacara bendera.
"Aku juga ga ngerti tentang essay..." Ucap Amanda lesu.
Akhirnya bibirnya secara refleks melontarkan jawaban. Sejujurnya Amanda memang belum pernah punya pengalaman menulis essay apalagi mengikuti perlombaan essay.
Walaupun Amanda sangat suka menulis, pada dasarnya dia tidak begitu tertarik untuk menulis sebuah essay.
Namun, disebabkan oleh desakan dari Ryan, Amanda akhirnya menyetujui untuk mengikuti perlombaan menulis essay di SMA Negeri 10.
"Hemmm..." Doni menggumam pelan setelah terdiam cukup lama.
Sekelompok gadis yang duduk tidak jauh dari bangku Amanda mulai menoleh ke arah Doni. Mereka memperhatikan Doni dengan seksama. Ekspresi kekaguman terpancar jelas di wajah mereka.
Amanda melirik gadis-gadis itu. Yuni yang berada di antara mereka, melempar senyum ke arah Amanda. Amanda membalas dengan tersenyum tipis.
"Essay?" Tanya Helena penasaran.
Helena tidak dapat menahan rasa kepo dan akhirnya memilih untuk ikutan nimbrung dalam pembicaraan Amanda dan Doni.
Amanda mengangguk pelan sambil melirik Helena yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.
"Kami ikut lomba menulis essay..." Desah Amanda.
"Oh... Kalian berdua?" Tanya Helena lagi sambil melirik Doni sekilas.
"Iya..." Jawab Amanda singkat.
Helena menghela nafasnya. Kini dia sudah mulai memahami arah pembicaraan mereka. Tiba-tiba Helena melirik i-Watch di pergelangan tangannya dengan gelisah. Dia merasa harus bergegas ke toilet.
"Amanda, aku ke toilet sebentar ya." Ujar Helena sambil berjalan cepat melewati Doni yang berdiri di depan bangku mereka.
Doni melirik bangku kosong di sebelah Amanda, bangkunya Helena. Dia duduk dengan santai di bangku tersebut. Amanda menjadi panik lagi.
"Heiiii... Siapa yang suruh kamu duduk?" Tanya Amanda sebal.
__ADS_1
"Hemmm..." Gumam Doni sambil menggeser bangku mendekati bangku Amanda.
"Heiiii... Apaan sih!" Tukas Amanda panik.
Doni tersenyum sinis. Amanda memberi tanda agar Doni menjauh dan kembali ke posisi semula.
"Jangan aneh-aneh! Tuh kamu pada dilihatin sama teman-teman sekelasku." Desis Amanda.
Doni melirik ke arah yang dimaksud Amanda. Dia tidak peduli dengan tatapan kagum beberapa siswa perempuan yang duduk di pojok depan.
Doni memperhatikan sekeliling kelas tersebut dan tatapannya terhenti sejenak pada sosok cowok keren yang berjalan dengan cuek ke arah meja guru di depan kelas.
Vino.
Vino terlihat sedang merapikan alat tulis dan spidol yang berserakan di atas meja guru.
Doni tetap saja tidak menyukai Vino karena Vino sekelas dengan Amanda. Apalagi beberapa siswa perempuan di kelas Doni masih saja mengagumi dan suka membicarakan Vino.
Di dalam hati kecilnya, Doni khawatir kalau-kalau suatu saat nanti Amanda juga jatuh hati dengan Vino.
"Jadi gimana? Kapan kamu mulai ngajarin aku?" Tanya Doni.
"Loh... Apaan sih! Aku kan udah ngomong tadi, aku juga ga ngerti tentang essay!" Ujar Amanda berang.
"Hemmm..." Doni menggumam lagi.
Sepertinya ini bisa jadi solusi yang tepat untuk sementara waktu. Bukankah Ryan juga sudah menawarkan diri untuk mengajari Amanda menuliss essay? Amanda yakin Ryan cukup mumpuni dalam hal itu.
Terlihat Doni terdiam dengan ekspresi serius. Dia kembali menatap Amanda sambil berkata, "OK. Itu ide yang bagus."
Bel berbunyi dengan nyaring sebagai tanda agar semua siswa segera berkumpul di halaman sekolah. Para siswa yang masih berada di dalam kelasnya masing-masing segera berhamburan keluar.
Amanda merasa lega. Bunyi bel tersebut berhasil membuat Amanda melepaskan diri dari tatapan tajam sepasang mata Doni yang indah.
Doni melirik smartwatch yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Waktunya upacara tuh!" Amanda mengusir Doni secara halus.
"Hemmm..." Doni menggumam pelan dengan wajah sedikit kesal.
Helena berlari-lari kecil memasuki kelas. Dia telah kembali dari toilet. Helena melihat Doni duduk di bangkunya, di sebelah Amanda. Wajah Amanda terlihat menahan sebal. Sungguh pemandangan yang menggelikan.
Kak Wulan terlihat keluar dari kelas I-2 diikuti tatapan terpesona dari sekelompok siswa laki-laki di dalam kelas tersebut.
Doni kemudian berbalik badan dan berjalan di belakang Wulan dengan langkahnya yang memukau, membuat beberapa siswa perempuan di kelas itu melirik dengan spontan. Clara adalah salah satu di antara gadis-gadis itu. Dia sekali lagi melirik Doni dengan antusias.
Doni dan Helena berpapasan di depan kelas. Dia tersenyum tipis pada Helena. Helena juga mencoba tersenyum.
__ADS_1
Entah mengapa Amanda merasa hatinya panas melihat cara Clara memperhatikan Doni. Sejenak terbersit tanda tanya dan rasa curiga di dalam hati Amanda.
"Mengapa Clara menatap Doni seperti itu? Aneh..." Amanda membatin di dalam hati.
Apakah si Clara tertarik dengan Doni?
Apakah gadis cantik itu menyukai Doni?
Bagaimana kalau nanti Doni juga menyukai Clara?
Pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu tiba-tiba bersileweran di dalam benak Amanda, membuat dirinya merasa gelisah tidak menentu.
"Ahhh... Bodo amat! Apa pentingnya buat aku!?" Rutuk Amanda dalam hati.
Amanda mengambil beberapa buku tulis di dalam tasnya. Dia berusaha keras menghilangkan fikiran-fikiran negatif yang membuat hatinya gundah.
"Tidak! Doni tidak boleh menyukai Clara! Itu tidak boleh terjadi..." Sesuatu berbisik tegas di dalam relung hati Amanda.
Amanda kini merasa semakin galau. Dia heran dengan dirinya sendiri yang mendadak sensitif begitu.
"Apa salahnya? Bukankah Clara dan Doni cocok? Pasangan yang serasi." Suara hati Amanda masih berjibaku sejak tadi.
"Heiii... Kamu masih mikirin cowok tadi ya?" Ujar Helena sambil mengagetkan Amanda yang terlihat masih merenung, larut dengan fikirannya sendiri.
"Hemmm... Ga kok..." Amanda mencoba ngeles.
Helena terkekeh sendiri di bangkunya. Dia tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan Amanda karena mereka harus segera keluar dari kelas.
Amanda merasakan getaran dari ponselnya ketika tanpa sengaja meraba ke dalam tasnya untuk mengambil kotak pensil.
"Hi dear... Thanks udah bayarin uang pendaftaran lombanya ya..." Sebuah pesan WA dari Ryan muncul di layar ponselnya.
Amanda melongo beberapa detik. Dia merasa tidak memahami maksud pesan yang dikirim oleh Ryan.
"Bayar? Bayar apa? Siapa yang bayar?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.
"Pasti salah ngirim ini anak..." Desis Amanda.
Helena menoleh dan bertanya, "Ada apa?"
"Hemmm... Ga ada apa-apa kok... Biasa, pesan salah kirim." Ujar Amanda sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Amanda memilih tidak membalas pesan dari Ryan. Dia sendiri merasa heran dengan isi pesan tersebut.
"Nanti aja deh aku tanyain langsung sama dia." Batin Amanda.
Amanda dan seluruh siswa SMA Adhyaksa mengikuti upacara bendera dengan khidmat. Semua siswa berusaha fokus menyimak amanat yang disampaikan oleh pembina upacara, kecuali Helena yang masih istiqomah dengan i-Watch di pergelangan tangannya. Helena sedang fokus dengan gossip terbaru yang sedang dibahas oleh teman-temannya di grup WA.
__ADS_1
----------