Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Menemani Amanda


__ADS_3

Helena berpamitan pada Amanda dengan beberapa kata-kata yang penuh basa-basi. Ia kemudian menyelinap cepat di antara kerumunan siswa kelas I-2 yang berhamburan keluar dari kelas.


Helena benar-benar sigap dalam perihal menyelinap dan menghilang di tengah keramaian. Sepertinya dia berbakat menjadi agen intelijen.


Amanda hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kesigapan Helena dalam hal ini.


Antara rasa kagum dan bingung berseliweran di dalam benak Amanda.


"Huhhh... Bener-bener mah ini anak..." Gumam Amanda.


"Coba aja dalam bidang pelajaran dia segercep itu... Ckckckck..." Amanda berdecak sendiri.


Amanda berjalan santai keluar dari kelasnya. Dia tidak suka berdesakan dengan siswa-siswa lain di pintu kelas, jadi dia selalu menunggu situasi kelas agak lengang.


Namun siang ini Amanda merasa sedikit aneh, Doni belum terlihat batang hidungnya sama sekali.


Biasanya beberapa hari belakangan, cowok aneh itu selalu stand by menunggu dirinya di depan kelas.


Amanda merasa dirinya kini seolah memiliki bodyguard khusus yang selalu kepo dan mengikutinya kemana saja.


Entah harus merasa senang atau kesal, namun mau tidak mau Amanda mencoba santuy menghadapi situasi ini.


Amanda tidak ingin hal remeh temeh ini menghantui fikirannya dan mengganggu konsentrasi belajarnya.


Prinsip Amanda sudah sangat teguh. Dia hanya ingin belajar semaksimal mungkin di sekolah elite ini agar cita-citanya tuk masa depan tercapai dengan sempurna.


"Hemmm... Tapi baguslah dia ga nongol. Aku bisa langsung ngacir nih. Hehehe..." Amanda berkata dengan gembira pada dirinya sendiri.


Amanda mempercepat langkahnya dengan harapan Doni tidak bisa menemukannya atau menyusulnya menuju halte.


Ketika menyeberang jalan, Amanda mencoba melihat situasi di sekelilingnya. Sekonyong-konyong wajah tampan Doni terlihat begitu bercahaya di bawah terik cahaya matahari siang ini.


"Ya Tuhan... Ternyata dia di situ!" Gumam Amanda panik.


Lalu lintas terlihat cukup padat. Amanda menyeberang jalan dengan hati-hati. Doni menyusulnya dengan mudah.


Doni sejak tadi terus berjalan di belakang Amanda. Dia dengan tenang membiarkan Amanda berjalan sendirian siang ini.


Doni seolah tahu bahwa Amanda ingin menghindari dirinya siang ini. Jadi dia mencoba menjaga jarak sebentar. Tetapi tentu saja seorang Doni tetap tidak akan membiarkan Amanda berlama-lama sendirian di jalan.


Tuan Muda Anthony sepertinya lebih tega membiarkan Tuan Alfred, sekretaris pribadinya, berlama-lama menunggu dirinya di tepi jalan daripada meninggalkan Amanda sendirian di halte.


Ya, Tuan Alfred dengan sabar menanti Tuan Muda Anthony menyelesaikan urusannya dengan gadis sederhana yang kelihatannya sangat dikaguminya itu.

__ADS_1


Tuan Alfred tidak ingin berspekulasi dan berfikir panjang mengenai alasan mengapa Tuan Muda Anthony begitu tertarik dengan gadis teraebut.


Sesuai dengan perintah Nyonya Wishnu, Tuan Alfred hanya memperhatikan saja gerak-gerik Tuan Muda dan gadis itu. Selama tidak ada hal yang mencurigakan atau membahayakan keselamatan Tuan Muda, maka Tuan Alfred tidak perlu mengambil tindakan khusus.


Setelah memastikan suasana di sekitar halte cukup aman untuk Tuan Muda, Tuan Alfred kini menunggu dengan santai perintah Tuan Muda Anthony selanjutnya.


Sementara itu, penampakan di halte sungguh terlihat menggelikan. Amanda terlihat mulai meradang. Sedangkan Doni terlihat begitu tenang. Ekspresi wajah mereka sangat berkebalikan.


"Hei...!!! Kuping kamu sehat ga sih!?" Amanda mulai meninggikan volume suaranya satu oktaf.


"Hemmm..." Doni melirik Amanda sekilas sambil menggumam pelan.


Bukan Doni namanya kalau tidak bisa bersikap tenang di hadapan Amanda yang sedang emosi jiwa.


Dan bukan Amanda namanya jika tidak bisa mendapatkan jawaban atas rasa penasaran di dalam hatinya.


"Yaelah! Doni, ngaku aja deh! Kamu yang bayarin uang pendaftaran lomba, bukan!?" Wajah Amanda terlihat dongkol.


"Apa itu penting?" Akhirnya Doni buka suara.


Amanda mendengus. Dia menghembuskan nafasnya dengan kesal.


"Ya, penting dong! Aku kan harus tahu siapa yang sudah membayarkan uang itu!" Tukas Amanda.


"Hemmm..." Doni menggumam lagi.


Amanda melirik Doni dengan tatapan tajam.


"Aku ga ngutangin kamu." Ujar Doni.


Amanda terbelalak. Sepertinya dugaannya benar. Doni yang telah melakukan pembayaran uang pendaftaran lomba menulis essay tersebut.


"Kamu juga bayarin punya Ryan kan?" Tuding Amanda.


"Apa itu salah?" Tanya Doni dengan wajah polos.


Amanda berdecak kesal.


"Ryan akan menjadi guru kita. Aku pikir tidak masalah jika kita berbuat baik padanya." Doni mencoba beralasan.


"Anda benar, Tuan Besar!" Ujar Amanda sambil tersenyum sinis.


Doni terlihat tidak senang dengan ekspresi aneh dari wajah Amanda. Sedangkan Amanda tidak peduli.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Tanya Doni.


"Ga ada sih. Heran aja! Kenapa kamu ribet banget. Apa sulitnya ngaku aja dari tadi." Gerutu Amanda.


Doni mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya, mencoba memperhatikan beberapa angkot yang lewat di hadapan mereka.


"Kalau kamu ga banyak cingcong, aku mau ngucapin terima kasih dari tadi." Amanda melanjutkan omelannya.


"Hemmm..." Gumam Doni.


"Kalau begitu, ucapkan saja! Aku menunggu ucapan terima kasih sejak tadi." Doni berkata sambil melirik Amanda dengan jahil.


"Ah... Malesssss!" Tukas Amanda.


Doni tersenyum simpul. Dia tertawa pelan beberapa detik sambil memperhatikan smartwatch di pergelangan tangannya. Ternyata mereka sudah cukup lama menunggu. Doni mulai terlihat agak gelisah.


"Lama amat angkotnya nongol." Ujar Amanda.


Amanda juga tidak kalah gelisah. Dia sudah merasa gerah dengan cuaca di sekitar mereka yang cukup panas. Ditambah lagi dengan sikap cuek Doni yang tidak ketulungan.


Sementara itu halte masih cukup ramai. Beberapa siswa SMP terlihat berebutan masuk ke dalam sebuah angkot berwarna merah tua.


Beberapa orang dewasa terlihat duduk santai dan menunggu angkot mereka dengan sabar.


Amanda mengeluarkan sebuah botol minuman dari dalam tasnya. Ia menenggak air minum di dalam botol tersebut sampai habis dan memasukkan kembali botol minuman tersebut ke dalam tasnya seperti keadaan semula.


Doni merasa lega ketika sebuah angkot yang telah lama ditunggu Amanda terlihat di ujung jalan.


Hampir saja dia meminta Tuan Alfred menjumpainya di halte dan menyamar sebagai driver ojek online agar Amanda tidak curiga.


Doni harus segera ke kantor papanya karena ada beberapa pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan.


"Kamu?" Tanya Amanda ketika menoleh ke arah Doni.


"Hemmm... Kamu duluan aja." Ujar Doni.


Amanda bergegas masuk ke dalam angkot tersebut disusul beberapa penumpang lain di belakangnya.


Doni memperhatikan Amanda dan angkot yang membawanya sampai hilang dari pandangan.


Beberapa detik kemudian mobil Tuan Alfred menghampiri Doni.


Tuan Alfred membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Tuan Muda Anthony masuk ke dalam mobil BMW hitam tersebut.

__ADS_1


Tuan Muda Anthony masuk ke dalam mobil mewah itu dengan elegant. Dua orang gadis yang ada di halte melihat ke arah Doni dengan tatapan terkesima. Mereka berfikir Doni pastilah bukan seorang pemuda biasa.


__ADS_2