Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Sahabat Lama


__ADS_3

Seorang pria berjas hitam menatap kagum Gedung Tanaka Mining, Co. Ltd. yang berdiri dengan megah, mewah, dan modern.


“Kita langsung menuju pintu masuk lobby utama ya pak?” Sang driver bertanya pada tuannya yang masih terkagum-kagum dengan gedung perusahaan tersebut.


“OK. Langsung ke lobby utama.” Perintah sang tuan.


Sebuah mobil Alphard berwarna hitam melewati gerbang masuk Gedung Tanaka Mining, Co. Ltd. dan menjalani pemeriksaan ketat dari para security yang sedang bertugas.


Setelah semua terlihat aman, mobil diizinkan masuk ke dalam area perusahaan melalui jalur khusus yang telah disediakan.


Driver mengemudi dengan sigap. Mobil berhenti tepat di depan lobby utama.


Seorang bodyguard terlihat menghampiri dan membuka pintu mobil untuk mempersilahkan tamu khusus itu masuk ke lobby utama.


“Selamat datang, Tuan Robby. Tuan Wishnu sudah menunggu anda di ruangan.” Nyonya Martha yang telah menunggu di lobby utama, menyambut dan menyapa sang tamu VIP tersebut dengan ramah dan elegant.


“Owww… Terima kasih Nyonya Martha. Senang bertemu anda lagi.” Tuan Robby berkata dengan wajah ceria.


Nyonya Martha menuntun Tuan Robby menuju ke ruang kerja Tuan Wishnu melalui jalur khusus.


Jalur khusus ini hanya digunakan oleh petinggi-petinggi di perusahaan dan karyawan-karyawan internal pada grade tertentu.


Setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka, membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan bagi Nyonya Martha dan tamu spesial perusahaan.


Tidak berselang lama, Nyonya Martha dan Tuan Robby tiba di ruang CEO Tanaka Mining, Co. Ltd.


Tuan Wishnu menyambut kedatangan sahabat lamanya itu dengan wajah ceria.


“Apa kabar, Robby? Lama sekali kita tidak berjumpa.” Tuan Wishnu memeluk sahabatnya dengan hangat.


“Very well, of course! Kau semakin tampan saja!” Gurau Tuan Robby.


Laki-laki itu menepuk pundak Tuan Wishnu dengan penuh semangat.


“Hahaha… Kau tidak berubah. Masih saja raja gombal ya!” Tuan Wishnu membalas gurauan Tuan Robby sambil tertawa lebar.


Tuan Wishnu dan Tuan Robby adalah sahabat lama. Mereka berkenalan di bangku kuliah. Diterima di fakultas dan program studi yang sama, membuat mereka menjadi akrab dari hari ke hari.


Berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda tidak menyurutkan ikatan persahabatan mereka.


Tuan Robby berasal dari keluarga terpandang di kota mereka. Sedangkan Tuan Wishnu berasal dari keluarga petani yang sederhana di desa.


Sehari-hari Tuan Wishnu muda harus bekerja paruh waktu untuk mebiayai segala kebutuhan hidupnya dan biaya kuliah yang tidak murah. Sehingga Tuan Wishnu hampir tidak memiliki waktu untuk nongkrong dengan teman-temannya dan Tuan Robby adalah salah satu teman yang paling bisa memahami dan memaklumi hal itu.


Kedekatan mereka semakin kuat ketika mereka mendapat supervisor tugas akhir yang sama.


Lika-liku perjuangan mahasiswa semester akhir yang penuh perjuangan pada akhirnya mampu mereka lewati bersama.

__ADS_1


Tuan Wishnu berjuang keras untuk menyelesaikan perkuliahannya secepat mungkin disebabkan oleh faktor biaya. Meskipun Tuan Wishnu berhasil menyelesaikan tugas akhirnya lebih awal, Tuan Wishnu tidak melupakan sahabat terbaiknya. Tuan Wishnu selalu membantu Tuan Robby hingga selang beberapa bulan kemudian, Tuan Robby berhasil menyelesaikan sidang skripsi tepat waktu.


Tuan Wishnu ingin tetap wisuda sarjana bersama sahabat terbaiknya, Tuan Robby. Mereka kemudian mendaftar diri untuk wisuda pada periode yang sama.


Hal inilah yang meninggalkan kesan mendalam di benak Tuan Robby. Kesetiaan Tuan Wishnu tidak akan pernah terlupakan oleh Tuan Robby.


Tiba-tiba Tuan Wishnu berbicara dengan Nyonya Martha, membuat Tuan Robby tersentak dari lamunannya yang membawa kenangan indah perjuangan mereka dulu di bangku kuliah.


“Terima kasih, Nyonya Martha. Sudah menyambut sahabat lama kita ini dengan baik sekali.” Ujar Tuan Wishnu.


“Baik, Tuan. Saya mohon izin pamit kembali ke ruangan. Semoga hari anda berdua menyenangkan.” Ucap Nyonya Martha.


“Terima kasih, Nyonya Martha!” Seru Tuan Robby. Laki-laki itu tersenyum pada Nyonya Martha.


Nyonya Martha membungkukkan badan dan meninggalkan ruang CEO tersebut.


Seorang karyawan masuk dan menghidangkan coffee latte dan sepiring penuh muffin di atas meja di depan sofa.


“Permisi, Tuan.” Ujar karyawan tersebut sebelum meninggalkan ruangan. Tuan Wishnu membalas dengan senyuman ramah.


“Wowww… Terima kasih untuk jamuannya.” Ucap Tuan Robby.


“Silahkan, jangan sungkan! Kita sudah lama ga ngopi bareng.” Ujar Tuan wishnu santai.


Tuan Wishnu mempersilahkan Tuan Robby duduk bersantai di sofa.


“Dan ingatanmu baik sekali. Kau benar-benar awet muda!” Kelakar Tuan Robby.


“Ada hal penting apa yang membuat raja gombal repot-repot datang ke kota ini?” Tanya Tuan Wishnu.


“Aku tidak mencari suaka, tentu saja! Kau tidak perlu terlihat khawatir begitu! Hahaha…” Tuan Robby menjawab sambil tertawa terbahak-bahak.


“Owww… Kalau begitu ternyata kau sangat merindukanku! Itukah alasanmu?” Gurau Tuan Wishnu. Kedua petinggi perusahaan itu tergelak bersama.


“Bagaimana kalau aku mengatakan aku bukan merindukanmu… Tetapi merindukan Anne!” Tuan Robby berkata asal sambil menyeruput secangkir coffee latte.


“Hemmm… Kau tentu ingin kembali dengan selamat ke Semarang!” Tukas Tuan Wishnu.


Tuan Robby tergelak. Laki-laki itu paham sekali bahwa Nyonya Anne adalah segalanya bagi Tuan Wishnu.


Tuan Wishnu sangat pencemburu. Tuan Wishnu tetap khawatir jika ada pria lain yang tertarik pada istrinya, meskipun itu adalah sahabatnya sendiri yang hanya iseng bercanda. Semua hal menjadi serius jika berkaitan dengan istrinya.


“Hahaha… Aku hanya bercanda! Jangan serius begitu!” Ujar Tuan Robby.


“Bagaimana kabar Anne dan puteramu?” Tuan Robby mencoba menetralisir keadaan.


“Ya, baik. Mereka sehat.” Ucap Tuan wishnu.

__ADS_1


“Bagaimana kabar keluargamu? Mereka juga ikut ke sini?” Tanya Tuan Wishnu.


“Hemmm… Iya. Venna dan puteri bungsu kami. Puteri sulung kami tinggal di Batam. Dia dan suaminya bekerja di sana.” Ujar Tuan Robby.


“ Oh… Iya. Kalian punya dua orang puteri ya…” Tuan Wishnu menyeruput coffee latte di cangkirnya.


“Apakah kehadiranku mengganggu agenda penting mu?” Tanya Tuan Robby.


“Oh… Tidak. Kau lebih penting, tentu saja. Kehadiranmu di sini adalah sebuah kehormatan bagiku.” Ucap Tuan Wishnu tulus.


“Hahaha… Terima kasih, Wishnu. Aku sangat tersanjung.” Tuan Robby tersenyum lebar.


“Hemmm… Aku dengar sekarang sudah jadi GM ya? Congrats! Aku ikut berbahagia.” Tuan Wishnu berkata dengan nada santai.


“Terima kasih, Wishnu. Benar sekali, beberapa bulan yang lalu pengangkatan. Makanya aku ke sini. Kami akan membuka kantor cabang baru di kota ini.” Tuan Robby menjelaskan maksud kedatangannya ke kota itu.


Tuan Wishnu mendengarkan dengan seksama.


“Wah… Itu bagus! Semoga network semakin berkembang ya. Kau pasti bisa diandalkan!” Ujar Tuan Wishnu sambil tersenyum.


“Hahaha… Well, aku sangat kagum dengan kantor ini. Sudah hampir lima tahun aku tidak ke sini dan… Wowww… Ternyata berkembang pesat sekali.” Tuan Robby memuji dengan tulus.


“Tanpa bantuan mu, perusahaan ini tidak akan bisa berdiri semaju ini…” Ucap Tuan Wishnu.


Tuan Wishnu tidak akan pernah melupakan kebaikan Tuan Robby yang berupaya terus mendampinginya pasca kecelakaan maut terjadi beberapa tahun silam.


Bantuan dan penjagaan difasilitasi secara maksimal oleh Tuan Robby untuk mendukung sahabatnya.


“Sudah seharusnya begitu… Kita adalah sahabat, bukan!?” Tuan Robby berkata sambil menikmati muffin yang disuguhkan di atas sebuah piring yang aesthetic oleh karyawan tadi.


Tuan Wishnu menatap sahabatnya dan tersenyum.


“Bagaimana kalau nanti malam kami mengundang untuk makan malam di rumah?” Tuan Wishnu menawarkan undangan.


“Owww… Really? Itu sebuah kehormatan, Tuan Wishnu! Kami tentu sangat senang menerima undangan tersebut.” Ujar Tuan Robby sambil tertawa.


“Aku juga sudah lama tidak bertemu Anne.” Kelakar Tuan Robby.


Tuan Wishnu tersenyum sinis. “Jangan sampai isterimu salah paham.” Tuan Wishnu mengingatkan. Tuan Robby tertawa terbahak-bahak.


“Kalian berdua memang best couple ever!” Puji Tuan Robby.


Kedua petinggi perusahaan tersebut masih terus berbicara santai tentang kehidupan pribadi mereka dan perkembangan kemajuan karir masing-masing.


Mereka berdua sepakat bahwa berbagai program kerja sama akan dirancang kembali setelah proyek pembangunan kantor cabang dimulai.


Setelah hampir dua jam berlalu, Tuan Robby pamit undur diri. Tuan Robby dan Tuan Wishnu berpelukan erat.

__ADS_1


“Jangan lupa datang nanti malam.” Tuan Wishnu mengingatkan. Tuan Robby mengangguk dengan senang dan mengucapkan terima kasih.


Nyonya Martha kembali mengantar Tuan Robby turun ke lobby utama.


__ADS_2