Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Mulai Perhatian


__ADS_3

Doni merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Badannya terasa lelah sekali. Otaknya terasa penat, pusing dengan segudang pelajaran yang harus dipahaminya seharian ini.


Topik pelajaran yang dipelajarinya bersama Professor Gilbert tadi siang seolah telah menguras habis seluruh energi yang dimilikinya.


Bursa saham online mengalami fluktuasi dalam beberapa hari ini. Perkembangannya sangat dinamis.


Doni sejatinya belum terlalu memahami mengenai hal itu. Dia masih pemula. Teori-teori yang diberikan oleh Professor Gilbert dipelajari Doni dengan serius.


Doni tahu hal itu sangat penting untuk pekerjaannya nanti. Selain itu, dia juga harus bersiap-siap menghadapi ujian. Dua ujian pastinya.


Satu ujian bersama Professor Gilbert, dan satunya lagi adalah ujian bersama CEO perusahaan Tanaka Mining Co. Ltd. yang tak lain tak bukan adalah papanya sendiri.


Doni menghela nafas dengan berat. Membayangkan itu semua, membuat kepalanya terasa mau pecah.


Belum lagi segudang pelajaran yang akan diujiankan di sekolah. Doni meringis sendiri.


Sebenarnya sejak awal Doni berniat memilih bidang minat ilmu sosial di SMA Adhyaksa. Namun menurut pendapat papanya, Doni lebih baik memilih bidang minat sains.


Hal tersebut dilakukan oleh Tuan Wishnu dengan pertimbangan agar Doni memiliki pengetahuan yang lebih luas. Selain itu, Tuan Wishnu juga berharap agar Doni dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis (critical thinking) di kelas sains.


Tentu saja mau tidak mau Doni harus mengoptimalkan kemampuan otak kiri dan otak kanannya sekaligus. Sungguh berat sekali persiapan yang harus dilaksanakan oleh Doni untuk menjadi pewaris tunggal keluarga Rafsanjani.


Doni bangun dan duduk termenung di atas tempat tidurnya beberapa saat. Dia harus segera mandi dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah mandi, dia pasti akan merasa lebih segar.


"Hemmm... Berendam aja lah..." Gumam Doni ketika melihat bathtub-nya yang mewah.


Tiba-tiba nada dering di smartphone Doni membuatnya terperanjat sendiri. Doni keluar dari kamar mandi dan mendekati meja di dekat tempat tidurnya, menatap layar smartphone-nya. Sebuah nomor yang tidak dikenal, menghubunginya beberapa kali.


Doni berfikir sejenak, apakah dia perlu menerima panggilan tersebut atau mengabaikannya saja.


Setelah tiga kali berdering, akhirnya Doni memutuskan menerima panggilan tersebut. Mungkin saja ada seseorang yang ingin menyampaikan hal penting.


"Halo, kak Doni..." Sebuah suara perempuan yang ringan terdengar di seberang sana.


Doni tidak mengenali suara itu. Tapi sepertinya gadis itu mengenali Doni.


Doni mencoba membalas sapaan gadis itu dengan nada yang sopan.


"Iya... Halo..." Jawab Doni singkat.


"Kak Doni, ini aku loh... Windy..." Ujar gadis di seberang sana.


"Windy?" Tanya Doni.


"Iya kak... Anaknya Om Robby." Seru Windy penuh semangat.


"Oh... Iya... Ada apa?" Doni mulai teringat sosok gadis itu.


"Kak Doni lagi apa nih?" Windy mulai berbasa-basi.


"Hemmm... Aku mau mandi." Tukas Doni cepat.

__ADS_1


"Oh... Windy jadi ngeganggu kak Doni dong yahhh..." Ujar Windy dengan nada manja.


"Apakah ada hal penting?" Tanya Doni lagi.


"Ga ada sih kak... Windy cuma mau ngobrol aja ama kak Doni..." Ucap Windy.


"Oh... OK, lain kali ya." Ujar Doni datar.


"Hemmm... Baiklah kalau kak Doni masih sibuk. Lain kali Windy telpon lagi yahhh..." Desah Windy manja.


Windy sebenarnya merasa kecewa. Dia berharap malam ini bisa ngobrol lebih lama dengan Doni. Namun sepertinya Doni sedang sibuk sekali saat ini.


"OK. Selamat malam." Ucap Doni.


"Selamat malam kak Doni..." Windy berkata dengan suara lembut nan manja yang dibuat-buat.


Meskipun sedikit kecewa karena misinya malam ini gagal, dia berniat akan menghubungi lagi Doni di lain waktu.


Yang penting sekarang bagi Windy adalah dia sudah berhasil mendapatkan nomor telpon Doni. Jadi dia bisa menghubungi Doni kapan saja. Windy tersenyum tipis.


"Kak Doni memang bener-bener cool..." Gumam Windy terpesona.


Dia menatap kagum foto-foto Doni di i-phone yang dijepretnya secara diam-diam pada pesta makan malam kemarin.


Remaja itu terlihat sempurna sekali di mata Windy. Windy telah bertekad dia harus bisa mendapatkan perhatian Doni secepatnya.


Sementara itu Doni menikmati waktu berendamnya di dalam bathtub dengan santai. Aroma mawar yang harum dan lembut menembus syaraf-syaraf penciumannya, membuatnya merasa lebih rileks.


Setelah puas berendam, Doni merasa tubuhnya lebih segar. Dia bergegas keluar dari kamar mandi, berpakaian, dan meraih smartphone-nya.


"Hai Doni..." Amanda menyapa Doni. Wajahnya terlihat menyunggingkan senyum manis.


Doni merasa hatinya begitu sejuk ketika melihat senyuman Amanda.


"Kamu lagi apa?" Tanya Doni.


"Hemmm... Lagi istirahat aja..." Ujar Amanda.


"Ga ngerjain tugas?" Tanya Doni. Dia mulai hafal kegiatan dan kebiasaan Amanda di malam hari.


"Ga... Malam ini rasanya capek banget..." Keluh Amanda.


Doni tersenyum simpul melihat wajah Amanda yang sangat dirindukannya malam ini.


Segala sisa-sisa lelahnya tadi menguap entah kemana. Doni merasa saat ini Amanda adalah semangat barunya. Dia selalu merasa bersemangat dan bahagia jika sudah melihat wajah Amanda.


"Hei... Kamu melamun?" Tanya Amanda.


Doni sedikit kaget, wajahnya terasa panas. Amanda tertawa terbahak-bahak.


"Gimana tadi ekskulnya?" Doni mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Hemmm... Lancar sih... Cuma..." Amanda menghentikan ucapannya.


Dia hampir saja keceplosan mengeluh tentang suasana kelas jurnalistik tadi sore. Teman-temannya sangat kaku. Sepertinya mereka juga agak sombong, tidak seramah siswa-siswa SMA Adhyaksa lainnya yang selama ini ditemui Amanda.


Amanda mencoba berprasangka baik. Mungkin saja karena mereka belum kenal dekat.


"Kenapa? Ada yang mengganggumu?" Doni bertanya lagi dengan ekspresi wajah yang lebih serius.


"Oh... Enggak kok. Bukan... Hehehe..." Tukas Amanda cepat.


Amanda tidak ingin kekhawatiran Doni yang super lebay nanti muncul lagi. Cowok itu kadang-kadang bisa jadi aneh sekali.


"Hemmm... Katakan padaku kalau ada yang mengganggu kamu." Ujar Doni.


Dia menatap Amanda dengan tatapan serius. Amanda lagi-lagi merasa salah tingkah jika ditatap begitu. Meskipun secara virtual, tetap saja Amanda merasa nervous.


"Hahaha... OK... OK... Terima kasih, kamu perhatian sekali." Ucap Amanda riang sambil berusaha menutupi rasa groginya.


Doni tersenyum simpul. Dia merebahkan kepalanya di atas bantal yang empuk. Matanya masih menatap wajah Amanda dengan teduh.


"Kamu kayaknya lelah ya..." Sambung Amanda.


"Hemmm..." Doni menggumam pelan.


Amanda menjadi prihatin. Wajah Doni yang tampan dan sedang tersenyum tipis itu tidak dapat menyembunyikan tanda-tanda lelahnya.


"Istirahat lah kalau kamu lelah..." Amanda berkata dengan suara lembut.


Doni terperangah. Amanda kini sudah mulai perhatian dengan dirinya. Dia merasa terbang melayang.


"Kalau lihat kamu, lelahku hilang..." Ucap Doni tulus.


"Idiiihhh... Apaan sih!? Lebay banget kamu!" Seru Amanda. Wajahnya memerah.


Doni tersenyum lagi. Dia sangat suka melihat Amanda dengan ekspresi malu-malunya yang sangat natural itu.


"Tuan Besar, sebaiknya anda beristirahat. Jangan buang-buang waktu untuk gombal-gembel begitu!" Celoteh Amanda sekenanya.


Meskipun kaget disebut sebagai Tuan Besar oleh Amanda, Doni tidak bisa menahan diri untuk tidak tergelak sendiri. Amanda menjulurkan lidahnya, membuat Doni merasa semakin gemas.


"Ya sudah. Selamat beristirahat, Nyonya Besar!" Ujar Doni sambil tersenyum.


Amanda tertawa. Dalam hatinya dia bertanya-tanya mengapa Doni semakin tampan saja dari hari ke hari.


Doni mengakhiri video call dengan Amanda. Kini dia merasa lebih tenang. Melihat wajah kekasihnya sejenak saja sudah membuatnya bersemangat lagi.


Oopppsss!


"Kekasih?" Gumam Doni.


"Apakah aku harus menjadikan dia kekasihku?" Doni melenguh.

__ADS_1


Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja di dalam fikirannya. Dia belum pernah berfikir untuk punya pasangan. Tapi sepertinya sekarang dia sangat ingin menjadikan Amanda sebagai kekasihnya.


__ADS_2