Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Pertemuan Tiga Pria Tampan


__ADS_3

Doni baru saja tiba di rumah. Dia telah selesai mengikuti latihan menembak hari ini. Sore ini adalah hari ketiga. Doni mengikuti latihan menembak seminggu sekali selama 2 jam penuh.


Hampir saja Doni melupakan agendanya hari ini karena kelamaan di rumah sakit menemani Amanda. Lebih tepatnya membuntuti Amanda.


Tuan Muda Anthony memang sepertinya bisa lupa waktu jika sedang bersama Amanda.


Alfred mulai bisa membaca sifat dan kebiasaan baru Tuan Mudanya. Namun pergerakan Alfred yang harus dilakukan secara rahasia, membuat dirinya tidak bisa bertindak secara langsung. Sehingga dia hanya bisa melaporkan apa yang diketahuinya secara terperinci pada Nyonya Martha dan Nyonya Wishnu.


Untung saja Nyonya Martha bergerak sigap setelah mendapat laporan dari Alfred. Nyonya Martha segera menghubungi Doni di rumah sakit untuk mengingatkannya lagi tentang jadwal latihan menembak yang harus diikutinya.


“Sayang, jangan lupa. Nanti malam kita ada acara penting. Nyonya Martha dan Tuan Alfred akan ikut hadir. Persiapkan dirimu.” Ujar Nyonya Wishnu ketika berpapasan dengan Doni di ruang keluarga mereka yang mewah.


“Baik, ma.” Ucap Doni pelan.


“Gimana latihan hari ini?” Tanya Nyonya Wishnu sambil memberi tanda agar Doni duduk di sampingnya.


“Iya, lancar ma…” Ujar Doni.


Doni mengikuti perintah Nyonya Wishnu. Dia duduk di sebelah Nyonya Wishnu sambil tersenyum manis.


“Mama yakin kamu pasti bakal jago nembak…” Ujar Nyonya Wishnu menyemangati Doni.


“Hemmm…” Doni hanya menggumam sambil menenggak sebotol air mineral dingin yang tadi digenggamnya.


“Tapi apakah anak mama yang tampan ini juga jago nembak cewek ya?” Tanya Nyonya Wishnu dengan nada menyindir.


Doni terkejut setengah mati. Dia tersedak dan menyemburkan air mineral yang masih penuh di dalam mulutnya. Untung saja tidak mengenai Nyonya Wishnu yang duduk di sampingnya.


Nyonya Wishnu tertawa terpingkal-pingkal melihat Doni yang bereaksi begitu aneh.


Wanita cantik itu menepuk-nepuk lembut punggung Doni untuk meredakan batuknya akibat tersedak tadi.


Wajah Doni yang tampan memerah. Entah karena tersedak, entah karena malu-malu.


“Hahaha… Mengapa kamu kaget begitu, sayang?” Tanya Nyonya Wishnu sambil menahan tawanya.


“Uhukkk… Uhukkk… Ga kok, ma… Uhukkk…” Tukas Doni masih terbatuk-batuk. Dia merasa tenggorokannya sangat sakit.


“Pelan-pelan minumnya…” Ucap Nyonya Wishnu tersenyum jahil.


Doni hanya melengos. Batuknya sudah mulai reda. Dia merasa heran mengapa mamanya tiba-tiba berkata seperti itu.


“Hemmm… Mama kepo nih sayang… Pasti banyak gadis yang naksir kamu di sekolah.” Tebak Nyonya Wishnu.


“Doni ga tahu, ma…” Ujar Doni.


Dia menenggak lagi minumannya untuk mengurangi rasa perih di tenggorokannya.


“Hahaha… Jangan terlalu cuek, sayang. Mama juga ga mau kamu jadi anak yang ansos loh yaa...” Ucap Nyonya Wishnu.


“Ga kok, ma… Doni udah punya banyak teman di sekolah.” Ujar Doni membela diri.


“Good. Anak mama memang yang terbaik!” Puji Nyonya Wishnu.


“Tetap berhati-hati dalam bergaul ya sayang… Apalagi jika ada yang tahu posisi kamu yang sebenarnya, mama khawatir dengan keselamatan kamu…” Ucap Nyonya Wishnu lagi.


Nyonya Wishnu terdiam sejenak. Wajahnya terlihat sedih.


Doni dengan sigap memeluk mamanya dengan penuh rasa sayang.


“Iya, ma… Doni bisa jaga diri. Mama jangan khawatir ya…” Ucap Doni berusaha meyakinkan Nyonya Wishnu.


Nyonya Wishnu tersenyum tipis. Doni menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Wishnu. Dalam hatinya dia berjanji akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Dia juga akan menjaga kedua orang tuanya dengan seluruh jiwa raganya.


“Sudah waktunya, Doni. Sudah waktunya kamu bertemu dengan Tuan Alfred.” Ujar Nyonya Wishnu sambil membelai lembut rambut Doni.


“Tuan Alfred? Siapa dia, ma?” Tanya Doni penasaran.


“Kamu akan bertemu dengan Tuan Alfred. Dan mungkin beberapa hal penting akan disampaikan oleh papa nanti malam...” Nyonya Wishnu menjelaskan gambaran acara yang akan berlangsung nanti malam di rumah mereka.


“Oh gitu… Baik, ma. Apakah komisaris dan dewan direksi juga hadir?” Tanya Doni lagi.


“Hemmm… Sepertinya tidak. Ini akan jadi pertemuan internal yang bersifat rahasia.” Jawab Nyonya Wishnu.


“Hanya kita, Nyonya Martha, dan Tuan Alfred tentunya.” Sambung Nyonya Wishnu.


“Hemmm… Iya, ma…” Desah Doni.


Doni mulai memahami maksud penjelasan mamanya. Instingnya mengatakan sepertinya malam ini akan menjadi malam yang penting bagi dirinya dan posisinya di perusahaan.

__ADS_1


“Ehemmm…” Tuan Wishnu berdehem dengan suaranya yang berat dan dalam.


Nyonya Wishnu menoleh ke arah suaminya. Tuan Wishnu menatap tajam Doni yang ada di pelukan istrinya.


Doni segera melepaskan diri dari pelukan mamanya ketika melihat papanya menatap seperti itu.


“Hemmm… Doni, malam ini kamu akan bertemu Tuan Alfred. Nyonya Martha juga akan membawa surat-surat penting untuk kamu tanda tangani.” Ujar Tuan Wishnu.


Pria tampan itu duduk dengan elegant di sofa, berhadapan dengan Nyonya Wishnu dan putera mereka yang sedang menatapnya dengan serius.


“Nyonya Martha akan menjelaskan semuanya nanti malam…” Sambung Tuan Wishnu sambil melirik istrinya.


Nyonya Wishnu mengedipkan matanya dan tersenyum lebar.


Doni bertahan dengan ekspresi wajahnya yang tenang dan datar. Dia sudah terbiasa pasrah, apapun yang diperintahkan oleh papanya akan dipatuhinya.


Jadi malam ini, dia hanya perlu menyimak penjelasan Nyonya Martha dan menanda tangani semua surat penting yang perlu ditanda tangani. Tidak ada masalah… Doni sudah terbiasa mengikuti perintah Tuan Wishnu.


“Baiklah sayang… Kamu sudah bisa bersiap-siap… Ya, masih ada sedikit waktu untuk istirahat.” Nyonya Wishnu berkata pada Doni.


“Hemmm… Iya… Pa, ma… Doni izin balik ke kamar…” Ucap Doni sopan.


Tuan Wshnu mengangguk dengan elegant. Nyonya Wishnu tersenyum penuh sayang.


Doni meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berdiskusi serius di ruang keluarga.


Doni masuk ke kamar dan melepaskan pakaiannya. Kali ini ia ingin segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar lebih segar.


Doni menatap dirinya di depan cermin. Kata-kata mamanya terngiang-ngiang lagi di dalam benaknya.


“Nembak cewek?” Doni mendesis.


Di satu sisi Doni mengakui bahwa belajar menembak jauh lebih mudah daripada mengungkapkan perasaan pada seorang gadis yang disukainya.


Entah mengapa dia menjadi gugup ketika tadi siang berhadapan dengan Amanda.


Tetapi Doni senang karena kini teman-teman Amanda sudah menganggap dirinya adalah kekasih Amanda.


Doni tersenyum sendiri di depan cermin. Ia tahu betapa teman-teman Amanda sangat terpesona melihat dirinya.


“Tapi kenapa dia sepertinya tidak terpesona denganku?” Doni bertanya-tanya sendiri.


“Apakah wajahku masih kurang tampan?” Desis Doni.


“Atau aku bukan tipenya?” Doni mulai berprasangka.


Tiba-tiba wajah Ryan terlintas di benaknya. Doni mendengus kesal.


“Huhhh… Apa dia lebih menyukai bocah cengengesan itu?” Gumam Doni kesal.


“Tuan Muda… Anda sudah ditunggu oleh Tuan dan Nyonya.” Suara Pak Wicaksono membuyarkan konsentrasi Doni di depan cermin.


Doni bergegas berkemas. Dia segera turun bersama Pak Wicaksono. Pak Wicaksono menuntun Doni menuju ruang tamu.


Nyonya Wishnu menatap Doni dengan serius. Wajah wanita cantik itu terlihat sedikit tegang. Tuan Wishnu terlihat tampan sekali, walaupun hanya menggunakan setelan kemeja casual yang biasa.


Pak Wicaksono mempersilahkan Nyonya Martha yang baru saja tiba untuk segera menemui Tuan dan Nyonya Wishnu di ruang tamu.


Seorang pria muda yang sangat tampan berjalan dengan langkah tegap di belakang Nyonya Martha.


“Selamat datang, Nyonya Martha dan Tuan Alfred. Tuan dan Nyonya ada di dalam…” Ujar Pak Wicaksono sambil tersenyum ramah.


“Terima kasih, Pak Wicaksono.” Ucap Nyonya Martha.


Doni terbelalak ketika melihat seorang laki-laki muda yang berjalan di belakang Nyonya Martha.


“Apakah itu Tuan Alfred?” Doni bertanya dalam hati.


Doni sebelumnya menyangka Tuan Alfred pastilah laki-laki yang sudah berumur. Mungkin seumuran Nyonya Martha. Namun apa yang dilihat olehnya kini benar-benar mengagetkan dirinya. Seorang pria muda yang tampan dan bertubuh tinggi tegap.


“Selamat malam Tuan, Nyonya, dan Tuan Muda…” Sapa Alfred sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.


“Selamat malam, Alfred! Terima kasih sudah hadir malam ini.” Tuan Wishnu berkata dengan suaranya yang penuh wibawa.


“Silahkan duduk…” Nyonya wishnu berkata sambil tersenyum.


Wanita itu mempersilahkan para tamu penting tersebut duduk di sofa dan memberi tanda pada Pak Wicaksono untuk mempersiapkan jamuan.


“Tuan Muda, perkenalkan Tuan Alfred sebagai sekretaris pribadi anda.” Ujar Nyonya Martha sambil tersenyum bijak.

__ADS_1


Doni tersentak kaget. Dia menatap Nyonya Martha dan Tuan Alfred bergantian.


“Sekretaris pribadi?” Doni membatin dalam hati.


“Terima kasih, Nyonya Martha. Saya fikir segala surat menyurat sudah beres…” Ujar Tuan Wishnu.


“Siap, Tuan. Berikut beberapa surat yang perlu ditanda tangani oleh Tuan Muda Anthony dan Tuan Alfred, tentunya.” Ujar Nyonya Martha menyerahkan sebuah file map pada Tuan Wishnu.


Tuan Wishnu menoleh pada Doni yang duduk tegak di sampingnya.


Doni menatap papanya dengan wajah penuh tanda tanya.


Tuan Wishnu kemudian menjelaskan semuanya pada Doni. Sesekali Nyonya Martha juga menjawab pertanyaan Doni.


Doni kemudian membaca beberapa surat yang harus ditanda tangani. Dia menanda tangani semua surat tersebut diikuti oleh Alfred.


“Nyonya Martha, persiapkan beberapa saham perusahaan atas nama Tuan Muda. Kita harus bergerak lebih cepat.” Perintah Tuan Wishnu.


“Baik, Tuan.” Ucap Nyonya Martha.


Nyonya Wishnu memandangi Doni dan berkata, “Sayang, mulai sekarang Tuan Alfred akan selalu mendampingi kamu.”


“Hemmm… Baik, ma. Terima kasih, Tuan Alfred.” Ucap Doni sopan.


“Siap. Saya di bawah perintah anda, Tuan Muda.” Alfred membalas sambil tersenyum penuh wibawa.


Pak Wicaksono dan para pelayan dapur menghidangkan jamuan makan malam dengan rapi.


“Terima kasih untuk jamuannya, Pak Wicaksono.” Ujar Nyonya Martha.


“Ayo, silahkan Nyonya Martha. Santai saja. Tuan Alfred, semoga anda suka dengan jamuan malam ini…” Ujar Nyonya Wishnu ramah.


“Terima kasih, Nyonya.” Ucap Alfred.


Tuan Wishnu mendadak menatap Alfred dengan tajam. Alfred tidak menyadari itu, namun Nyonya Wishnu dengan sigap menyuguhkan minuman untuk suaminya.


“Minumnya sayang…” Ujar Nyonya Wishnu lembut.


“Hemmm…” Gumam Tuan Wishnu.


Pria tampan itu mengambil minuman yang disuguhkan oleh istrinya dan melirik Doni yang kelihatannya sedang serius memperhatikan Alfred.


Nyonya Wishnu kemudian menghampiri Doni dan berbisik, “Sayang, Tuan Alfred mulai besok akan menjadi driver pribadi kamu.”


“Apa?!” Doni terlihat kaget.


“Doni, untuk sementara ini keselamatan kamu sangat penting. Tuan Alfred akan mendampingi kamu kemanapun.” Ujar Tuan Wishnu dengan nada tegas.


“Mulai besok pagi Tuan Alfred akan mengantar dan menjemput kamu di sekolah.” Tuan Wishnu memberi perintah.


“Apa? Antar-jemput? Tapi pa…” Doni mencoba menyanggah perintah papanya.


Mengapa secepat ini papanya mengubah instruksi. Dulu papanya yang meminta Doni naik angkutan umum. Kini papanya juga yang memerintahkan Doni untuk pergi dengan driver sekaligus asisten pribadinya yang baru.


“Apa-apaan ini?” Gerutu Doni dalam hati.


Dia tidak akan bisa pulang dengan Amanda lagi. Yang benar saja! Ini tidak boleh terjadi.


“Tapi, pa… Doni mau tetap pulang naik angkot…” Gumam Doni. Ada nada sedih dalam suaranya yang datar.


Nyonya Wishnu melirik Alfred yang sedang menikmati hidangan yang disuguhkan oleh para pelayan. Alfred menoleh dan tersenyum tipis.


“Tenang saja, sayang. Tuan Alfred di bawah perintahmu. Dia akan melakukan apapun yang kamu perintahkan… Bukankah itu sudah tertera di surat yang tadi kamu tanda tangani?” Ujar Nyonya Wishnu sambil melirik Tuan wishnu.


“Ehemmm… Bertindaklah sebagai pemimpin yang baik, Doni! Papa sudah banyak memberi contoh!” Tuan Wishnu berkata sambil menatap Doni dengan tajam.


“Tuan Alfred… Mulai saat ini… Secara resmi, separuh nyawaku kuserahkan padamu!” Ucap Tuan Wishnu.


Ruangan mendadak tenang. Semua menghentikan kegiatannya. Nyonya Wishnu merasa merinding mendengar ucapan tegas Tuan Wishnu. Doni terhenyak di tempatnya berdiri. Ia menatap Alfred tanpa berkedip.


“Siap. Saya akan selalu mendampingi dan setia pada Tuan Muda. Nyawa saya sebagai taruhannya, Tuan!” Alfred mengucapkan kembali sumpahnya dengan mantap.


Ketiga pria tampan itu berdiri dengan aura mereka masing-masing. Aura mereka terpancar dengan begitu kuat. Semua yang ada di ruangan itu dapat merasakannya.


Nyonya Martha menghela nafasnya. Tuan Wishnu telah membuat perjanjian yang kuat di antara mereka.


“Saya siap melayani anda, Tuan Muda.” Ucap Alfred sambil membungkukkan badannya.


“Terima kasih, Tuan Alfred.” Ucap Doni singkat.

__ADS_1


__ADS_2