
"Perhatian semuanya!!!" Agung berseru di depan kelas dengan suaranya yang lantang. Semua siswa kelas I-2 mulai diam dan memperhatikan Agung.
"Ibu guru hari ini berhalangan masuk. Kita diberikan tugas untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 1 di halaman 53." Ujar Agung sambil menunjukkan buku Sosiologi yang dipegangnya.
"Yessss!!!" Sontak semua siswa berteriak senang. Beberapa siswa berjoged-joged heboh tak karuan.
Semua siswa sangat senang jika ada guru yang berhalangan hadir. Kebahagiaan yang haqiqi.
Amanda dan Helena terkekeh-kekeh sendiri melihat beberapa aksi teman-teman mereka yang kocak.
"Dikumpul kapan nih!?" Seorang siswa laki-laki yang duduk di bangku deretan tengah melempar pertanyaan pada Agung.
"Hari ini juga, sampai habis jam ya!" Agung mengingatkan batas waktu pengerjaan latihan tersebut sesuai amanah dari ibu guru.
"Oh iya... Sesuai pesan beliau, teman-teman diizinkan mengerjakan tugas ini di kelas, di perpustakaan, atau di ruang multimedia." Ujar Agung menutup pengumuman tersebut.
Semua siswa terlihat makin bersemangat. Beberapa dari mereka mulai berdiskusi menentukan dimana mereka akan duduk bersama untuk mengerjakan tugasnya.
Kelas I-2 menjadi sangat riuh. Agung melirik Vino, berharap sang ketua kelas akan memberikan sepatah dua patah kata untuk menenangkan suasana kelas yang mulai ribut sekali karena semua siswa berbicara dan tertawa. Namun ternyata Vino menggunakan handsfree di kupingnya. Jelas dia tidak peduli dengan kebisingan di dalam kelas.
Agung berdecak kesal. Akhirnya dia berusaha menenangkan teman-temannya.
"Woyyy... Jangan bising! Nanti kelas-kelas lain jadi terganggu!" Teriak Agung. Dia mengingatkan teman-temannya untuk tetap tenang di dalam kelas, khawatir kalau-kalau ada guru yang lewat dan mendengar kebisingan di kelas itu.
Beberapa siswa mengecilkan volume suara mereka, sebagian keluar dari kelas, mereka menuju ke ruang multimedia. Ada juga yang memilih mengerjakan tugasnya di perpustakaan.
Seorang cewek yang duduk di depan Helena mengajak Amanda dan Helena ke perpustakaan.
"Ah... Ga deh! Kalian aja ke sana." Tukas Helena. Dia benar-benar sedang mager. Dia tidak ingin berkeliaran di luar kelas. Sepertinya dia masih berusaha menghindari bertemu kak Edo.
Amanda bisa memahami situasi hati Helena karena sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Namun dia juga suka suasana tenang dan nyaman di perpustakaan.
Amanda baru sekali mengunjungi perpustakaan SMA Adhyaksa, sewaktu acara orientasi sekolah kemarin dulu. Ia langsung jatuh cinta dengan ruangan perpustakaan itu.
Akhirnya Amanda dan beberapa siswa lain sepakat untuk pergi ke perpustakaan. Amanda membawa beberapa buku dan pensil case yang berisi alat-alat tulis yang akan dibutuhkannya nanti. Ia juga tidak lupa mengantongi smartphone-nya.
Separuh dari jumlah siswa di kelas I-2 telah meninggalkan kelas. Suasana kelas sudah cukup kondusif kembali. Agung, sang wakil ketua kelas, melanjutkan mengerjakan soal-soal latihan tersebut. Vino, sang ketua kelas, nyaris tertidur pulas di bangku belakang.
__ADS_1
Ahmad menepuk bahu Vino dengan kuat, membuatnya murka. "Pake otak dong! Ngagetin aja!" Hardik Vino.
"Noh, kerjain tugas! Atau elo mau nginap di sini, ga pulang-pulang!?" Tukas Ahmad sambil tertawa terbahak-bahak.
Vino menguap lebar-lebar. Ia masih merasa mengantuk. Ia membuka bukunya dengan ogah-ogahan, matanya terasa masih berat sekali. Ia memutuskan ke kamar mandi untuk mencuci muka, mungkin nanti hal itu bisa sedikit mengurangi rasa kantuknya.
Amanda dan beberapa siswa yang berniat pergi ke perpustakaan harus menggunakan tangga untuk bisa sampai di perpustakaan. Sudah peraturan baku di SMA Adhyaksa, siswa baru dilarang menggunakan lift. Untung saja perpustakaan ada di lantai dua, jadi tidak terlalu menguras energi.
Perpustakaan terlihat sepi dan lengang. Ya, karena ini kan sedang waktunya pembelajaran di kelas. Hanya kelas Amanda yang kosong dan gurunya mengizinkan mereka mengerjakan tugas di perpustakaan atau di ruang multimedia.
Amanda dan teman-teman sekelasnya berbaris rapi dalam antrian mereka untuk masuk ke perpustakaan. Seorang petugas jaga memeriksa kartu anggota perpustakaan dari setiap siswa yang berkunjung ke sana.
Setiap siswa wajib menggunakan kartu anggota perpustakaan milik mereka sendiri. Dilarang menggunakan kartu milik teman. Petugas perpustakaan akan mengecek untuk memastikan tidak ada siswa yang bertindak curang.
Setelah diperiksa, siswa bisa langsung memindai kartu anggota mereka di bawah alat scanner khusus di pintu masuk perpustakaan. Ada dua buah alat scanner di sana, diletakkan di bagian kiri dan kanan jalur masuk perpustakaan.
Jika ada siswa-siswa yang lupa menggunakan alat scanner tersebut untuk memindai kartu mereka, maka alarm pada pintu masuk perpustakaan akan berbunyi secara otomatis.
Begitu pula jika ada siswa yang bermaksud menyelundupkan buku dari perpustakaan untuk digunakan di kelas, alarm pada pintu keluar perpustakaan juga akan otomatis berbunyi.
Amanda melangkah masuk ke dalam perpustakaan dengan penuh semangat. Ruang perpustakaan ini sangat luas, aesthetic, rapi, adem dan nyaman. Pengharum ruangan yang lembut dan segar menjadikan perpustakaan ini sempurna bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Sebuah siluet yang sepertinya dikenali Amanda hampir membuat jantungnya loncat keluar. Amanda refleks menjaga jarak, menyembunyikan dirinya di balik sebuah tiang besar di dalam gedung perpustakaan itu.
"Aduh... Mati aku! Kenapa dia ada di sini juga..." Ratap Amanda. Tiba-tiba saja dia merasa deg-degan.
Dia berusaha bersikap normal agar tidak terlihat mencolok di mata teman-temannya yang lain. Dia berakting seolah-olah sedang memperhatikan sekeliling perpustakaan dari balik tiang tersebut.
"Amanda, kami mau lihat-lihat rak buku yang di sana ya." Ujar salah seorang teman kelasnya.
"Oh... Iya... Iya... Nanti aku nyusul ya." Ucap Amanda pelan. Dia berusaha tersenyum agar tidak kelihatan aneh.
Setelah teman-temannya berlalu, Amanda mengintip lagi dari balik tiang ke arah bagian sirkulasi dengan jantung yang masih berdegup kencang.
Bagian sirkulasi perpustakaan adalah tempat peminjaman sekaligus pengembalian buku. Terdapat dua buah mesin peminjaman mandiri di dekat lobby sirkulasi. Sedangkan mesin khusus pemeriksa buku yang dikembalikan oleh para siswa terletak di atas meja khusus di sana.
Para siswa hanya perlu memindai buku pada masing-masing alat tersebut untuk meminjam atau mengembalikan buku yang telah mereka pinjam sebelumnya. Struk bukti peminjaman atau pengembalian buku akan otomatis keluar dari mesin-mesin tersebut.
__ADS_1
Seorang siswa laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi berdiri di depan lobby sirkulasi perpustakaan. Dia terlihat sedang berbicara dengan seorang pustakawan.
Amanda kini memperhatikan dengan seksama. Jantungnya masih berdetak tidak beraturan. Namun ternyata siluet itu bukanlah sosok Doni. Dia bernafas lega.
"Oh... Syukurlah... Kukira si boss besar itu!" Gumam Amanda lega. Postur tubuhnya yang tinggi sekilas terlihat mirip seperti Doni. Amanda jadi salfok. Ia tidak menyangka bahwa cowok yang berdiri di sana ternyata bukanlah Doni.
Amanda keluar dari persembunyiannya. Dia kini mampu melangkah dengan tenang. Degup jantungnya perlahan sudah kembali normal. Sambil berjalan Amanda terus memandangi cowok yang berdiri santai itu. Dia melihat simbol di bajunya.
"Oh... Ternyata siswa baru juga..." Amanda menggumam dalam hati. Ia kemudian berjalan berkeliling melihat beberapa buku yang tersusun rapi di rak.
Setelah puas melihat-lihat, Amanda memutuskan duduk di salah satu meja yang kosong. Dia enggan duduk bersama teman-temannya. Dia bisa lebih fokus mengerjakan tugasnya jika sendirian di sini.
Dia mulai mengeluarkan alat-alat tulis dari kotak pensilnya, membuka buku dan mulai membaca soal-soal latihan yang tertera di sana. Amanda mulai larut dalam keseriusannya mengerjakan soal-soal tersebut.
Amanda tersentak kaget mendengar derit sebuah kursi yang ditarik tepat di depan mejanya. Konsentrasinya mendadak buyar. Amanda mendongak dan melihat siswa laki-laki yang tadi berdiri di depan lobby sirkulasi perpustakaan kini duduk di depannya. Cowok yang tadi disangkanya adalah Doni.
"Heiii... Sorry, aku sepertinya jadi mengganggu ya!" Seru cowok itu sambil tersenyum ramah.
"Oh... Eh... Ga kok..." Jawab Amanda terbata-bata. Dia masih shock melihat cowok itu tiba-tiba sudah di depan matanya.
Cowok itu masih berusaha tersenyum namun dia tidak lagi mengajak Amanda berbicara. Tak berselang lama, dia mulai serius membolak-balik ensiklopedia yang sedang dipegangnya.
Amanda kembali fokus pada tugasnya. Smartphone Amanda yang terletak di atas meja tiba-tiba bergetar, mengagetkan mereka berdua. Amanda dan cowok di hadapannya saling bertatapan dalam diam. Amanda tersenyum kikuk. "Sorry..." Ucap Amanda sambil cengengesan.
Ada sebuah notifikasi pesan masuk dari Doni. "Nanti aku tunggu di gerbang sekolah."
Amanda melengos. Lagi-lagi dia merasa deg-degan. "Ini maksudnya apa ya?!"
Ia bingung sendiri kenapa hari ini Doni menunggunya. Amanda merasa aneh, antara merasa risih dan sedikit ke-geer-an. Dia juga tidak setuju dengan hatinya yang terus berdebar.
"Aduh... Gimana ini balasnya?" Ucap Amanda khawatir. Dia bertanya pada dirinya sendiri. Namun suaranya terdengar jelas.
Cowok di depannya melirik lagi, membuat Amanda sedikit salah tingkah.
Amanda mengernyitkan dahinya, sedang berfikir bagaimana membalas pesan dari Doni. Dia menimbang-nimbang kalimat apa yang sebaiknya digunakan. Ternyata Doni benar-benar serius dengan kata-katanya selama ini.
"Kok jadi ribet akunya gara-gara dia..." Gerutu Amanda dalam hati. Dia melirik lagi cowok di hadapannya yang sudah kembali fokus dengan bacaannya.
__ADS_1