Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Curhatan yang Menyebalkan


__ADS_3

Pagi ini Amanda berangkat ke sekolah lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Magdalena terlihat paling bersemangat diantara mereka.


"Dek, cepat dikit! Aku bisa telat nih kalau kamu lelet gitu!" Ujar Magdalena setengah berteriak ketika melihat Mutiara masih berjalan santai keluar dari rumah.


Amanda tertawa pelan melihat ekspresi adiknya yang sedang sewot. Dia sejak tadi sudah duduk di bangku depan, di sebelah ayah yang sedang memanaskan mesin mobil tua mereka.


"Ayah, tolong bunyikan klakson! Tiara lelet amat! Aku ga mau telat lagi pagi ini." Magdalena semakin gusar.


Amanda akhirnya ikut buka suara. "Mutiara! Buruan gih. Kak Lena piket loh hari ini." Seru Amanda dari dalam mobil.


"Iya kak." Sahut Mutiara. Dia akhirnya berlari-lari kecil menuju mobil.


Mutiara langsung disambut omelan panjang Magdalena ketika dia baru saja menghentakkan punggungnya di jok belakang.


"Kak Amanda, nanti sore kita ke pasar malam yuk!" Ajak Mutiara.


Mutiara berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Hahhh... Pasar malam? Kok sore-sore ke pasar malam? Emangnya buka jam berapa?" Tanya Amanda.


"Dari sore kan udah dibuka, kak." Jawab Mutiara enteng.


Magdalena menatap sinis adiknya. Itu menandakan bahwa dia tidak ingin menemani Mutiara nanti sore. Mutiara sepertinya memahami kode dari kakaknya itu. Makanya dia kekeh mengajak Amanda, kakak tertuanya, untuk menemani dirinya nanti sore.


"Hemmm... Tapi kayaknya sore ini ga bisa deh..." Ucap Amanda.


"Yahhhh... Kenapa kak?" Tanya Mutiara kecewa.


"Sore ini kakak ikut ekskul di sekolah." Jawab Amanda.


"Ohh... Ya udah, kalau gitu besok sore aja ya kak!" Pinta Mutiara.


"Hemmm... OK. Kita lihat besok." Ujar Amanda.


"Kamu bawa bekal kan, Amanda?" Tiba-tiba ayah ikut nimbrung.


"Iya, ayah. Tadi sudah disiapkan ibu bekalnya." Amanda berkata sambil menepuk-nepuk pelan tas ranselnya.


Ayah mengangguk. Amanda tidak pulang siang ini. Itu artinya dia harus bawa bekal untuk makan siangnya nanti di sekolah.


Magdalena dan Mutiara masih saja saling ngoceh di belakang. Entah apa yang mereka ributkan. Yang jelas tidak ada yang mau mengalah untuk diam.


Drama pagi ini akhirnya usai ketika Magdalena dan Mutiara turun di sekolah mereka. Amanda hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Bising amat sih dua bocah ini!" Sungut Amanda.


Ayah melanjutkan perjalanan mengantar Amanda menuju SMA Adhyaksa. Setibanya di depan gerbang sekolah, Amanda menyalami ayahnya dan bergegas turun dari mobil.


Amanda menatap sejenak gerbang sekolahnya yang mewah. Dia seakan terkenang kembali dengan hari-hari pertamanya di sekolah ini.


Amanda tersenyum sendiri. Dia sangat bersyukur sejauh ini dia merasa betah bersekolah di sini. Apalagi dia sudah mulai memiliki banyak teman yang baik. Ada yang baik, ada yang lucu, aneh, dan berbagai jenis manusia lainnya.


Tiba-tiba dia teringat akan Doni. Mendadak rasa kesal hadir lagi di hatinya.


"Huhhh... Kau! Lihat saja nanti. Kalau bertingkah aneh-aneh, aku akan minta pertanggung jawabanmu karena sudah merusak hp ku!" Amanda membatin dengan geram.


Dia merogoh ponselnya yang ada di saku roknya. Melihat retakan di layar ponselnya itu membuat dirinya semakin merasa geram.


"Hei darling!" Seru Ryan yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

__ADS_1


"Eh... Ryan!" Sahut Amanda.


"Yuk barengan ke kelas!" Ajak Ryan.


Amanda mengangguk dan mengikuti langkah Ryan memasuki gerbang sekolah. Mereka berjalan beriringan sambil berbincang-bincang santai.


"Jadi kapan nih kita mulai belajarnya?" Tanya Ryan.


"Belajar? Belajar apa?" Amanda balik bertanya.


"Belajar bercinta, sayang!" Bisik Ryan dengan wajah menggoda.


"Idihhh!! Apaan sih kamu!" Amanda bergidik melihat ekspresi Ryan.


"Hahaha... Yaelah, belajar nulis essay dong! Gimana sih kamu!" Tukas Ryan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Oh iya ya... Kamu bisanya kapan?" Tanya Amanda.


"Kapan aja OK!" Ujar Ryan.


"Hemmm... Ntar deh aku tanya ke Doni dulu dia bisanya kapan." Ucap Amanda.


"Oh... OK. Kabari saja. Sebaiknya kita mulai secepatnya. Waktu perlombaan udah makin dekat nih." Ujar Ryan.


Amanda melirik ke arah kelas Doni. Dia belum melihat batang hidung Doni pagi ini.


"Sampai jumpa nanti di ekskul, Amanda!" Ucap Ryan ketika mereka telah tiba di depan kelas masing-masing.


Amanda membalas dengan senyuman sumringah. Dia masuk ke dalam kelas dengan penuh semangat. Ponselnya bergetar. Sepertinya ada pesan masuk.


Amanda meletakkan tas ranselnya di atas meja. Bangku Helena masih kosong. Ternyata gadis super aktif itu belum tiba di sekolah.


Entah mengapa Amanda tiba-tiba mendadak jantungan ketika melihat notifikasi pesan masuk itu.


"Bisa aku telpon sekarang?" Sebuah pertanyaan muncul di layar chat Doni.


Amanda berfikir sejenak dan memperhatikan jam yang tertera di ponselnya.


"Hemmm... Sepertinya bisa nih sebentar." Gumam Amanda.


"OK." Balas Amanda di kolom chat tersebut.


Beberapa detik kemudian, smartphone Amanda kembali bergetar. Amanda buru-buru menerima panggilan dari Doni.


"Halo..." Sapa Amanda.


"Hemmm... Kamu lagi dimana?" Tanya Doni.


"Di sekolah. Mau dimana lagi?" Tukas Amanda.


"Oh... OK..." Balas Doni singkat.


"Kamu di kelas?" Tanya Amanda.


"Hemmm..." Terdengar gumaman khas Doni.


"Aku ga masuk hari ini." Ujar Doni.


"Hahhh... Apa?" Amanda terlihat shock.

__ADS_1


"Kenapa ga masuk? Kamu sakit?" Terdengar nada kekhawatiran pada suara Amanda yang ringan.


"Hemmm... Ga, aku temenin papa ke luar kota." Ucap Doni.


"Ke luar kota?" Ulang Amanda. "Ngapain?" Amanda menyambung pertanyaannya.


"Aku temenin papa." Ujar Doni singkat.


"Oh... Kamu bantuin kerjaannya papa kamu ya?" Tanya Amanda penasaran.


"Hemmm..." Doni hanya menggumam.


"Semoga semuanya lancar ya." Ucap Amanda dengan suara yang lembut.


Doni terhenyak. Dia terdiam beberapa detik.


"Amanda, lagi apa?" Sebuah suara yang nyaring terdengar di samping Amanda.


Amanda menoleh. Helena sudah masuk ke kelas dan duduk di bangkunya dengan penuh semangat.


Helena melihat Amanda yang sedang berbicara di telpon. Ia menunda mengeluarkan beberapa kalimat berikutnya.


"Kamu juga. Semangat ya!" Terdengar ucapan terakhir Amanda sebelum ia mengakhiri panggilan.


Amanda tersenyum dan menoleh lagi ke arah Helena. Helena sudah tidak sabar ingin mengatakan sesuatu. Amanda bisa merasakan hal itu.


"Tadi aku pergi bareng kak Edo loh..." Ujar Helena girang.


"GUBRAKKKK!!!"


Amanda tidak dapat menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya.


"Hahaha... Kaget? Kamu mau bilang ga percaya?" Helena berkata sambil cekikikan sendiri.


"Masa sih?" Amanda berusaha meyakinkan dirinya tidak salah mendengar ucapan Helena.


Helena mengangguk cepat. "Iya dong. Bahkan kami sudah janjian pulang bareng nanti siang." Wajah Helena terlihat sangat bahagia.


"Oh... Pantesan kamu ceria sekali!" Amanda berusaha setengah mati agar nada suaranya terdengar normal.


"Tentu saja! Aku senang banget dia udah putus sama cewek brengsek itu." Ucap Helena sinis.


"Dan sepertinya sekarang kami jadi lebih dekat." Sambung Helena.


Amanda mencelos mendengar kata-kata Helena. Tapi dia bisa apa? Tentu saja dia hanya bisa pasrah menyimak cerita Helena.


Amanda benar-benar bisa menjadi pendengar budiman. Dia dengan sabar mendengarkan curhatan hati Helena tentang perasaan yang dipendamnya untuk kak Edo.


Amanda meringis dalam hati. Entah mengapa lama-lama Amanda merasa bosan dan tidak suka mendengarkan omong kosong Helena tentang perasaannya terhadap kak Edo.


Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Semua siswa masuk ke kelas dan duduk dengan tertib di tempat duduk mereka masing-masing.


"Huhuhu... Seneng banget aku tuuu..." Ucap Helena menutup seluruh luahan perasaannya pagi ini.


Sedangkan Amanda sangat lega karena pada akhirnya Helena menyudahi segala ceritanya yang menyebalkan itu.


"Jadi kau lagi dekat dengan dia. Huhhh... Ya sudah, dia cocok untukmu!" Amanda merutuk di dalam hati.


Sebenarnya Amanda memang sudah ilfil sejak tragedi ciuman yang dilihatnya. Rasa kagumnya pada kak Edo berangsur-angsur memudar sejak saat itu.

__ADS_1


Apalagi kini, fakta bahwa teman sebangkunya ini sangat menyukai kak Edo, membuat dia semakin ilfil dan kesal sekaligus. Perasaan yang bercampur aduk.


__ADS_2