Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Lulus Ujian


__ADS_3

Rintik hujan di luar membuat suasana sore itu begitu syahdu. Doni masih duduk di meja kerjanya, seperti bengong sendiri bagaimana harus memulai menulis essay itu.


Hari ini adalah hari terakhir batas pengiriman essay. Website membuka link untuk submit karya tulis sampai pukul 23.00 malam nanti. Saat ini jam telah menunjukkan pukul tiga sore dan Doni masih belum menulis sebaris pun.


Doni sulit berkonsentrasi sebenarnya bukan atanpa alasan. Dia sedang khawatir akan hasil ujiannya dengan Professor Gilbert. Hari ini Professor Gilbert akan menghubungi dan mengirimkan hasil ujiannya.


Hal itu membuat Tuan Muda menanti dengan cemas sehingga sulit baginya berkonsentrasi untuk membuat sebuah karangan.


"Hemmm..." Doni menggumam sambil berusaha fokus dan membuka buku catatannya selama coaching dengan Coach Winnie.


Setelah hampir lima belas menit, Doni akhirnya mendapatkan ide. Dia mulai menulis kerangka karangan. Setelah merasa kerangka karangan rampung, Doni mulai menuliskan bagian pembukaan.


Semuanya mengalir begitu saja. Doni memang tidak mampu merangkai kata-kata yang indah, namun dengan pilihan topik ilmiah seperti yang dipilihnya itu tentu tidak membutuhkan banyak diksi dan rangkaian kata yang mendayu-dayu.


Setelah hampir lebih dari satu jam akhirnya Doni berhasil menyelesaikan karangannya. Dia membaca ulang dengan teliti dan hati-hati. Banyak kesalahan yang ditemukan. Ia memperbaiki sebisanya untuk membuat essay itu lebih enak untuk dibaca.


"Huhhh... Ini sudah lebih baik..." Doni mendesis setelah sekian lama berdiam diri dan larut dalam keseriusannya menulis essay.


"Doni, sudah submit essay?" Amanda mengirimkan sebuah pesan di WA Doni.


Doni meraih ponselnya dan tersenyum tipis. Dia merasa bahagia. Amanda mulai memperhatikannya.


"Iya, sebentar lagi aku submit." Balas Doni.


"OK. Semangat, Doni." Amanda kembali mengetikkan pesan balasan untuk Doni.


Doni senang sekali membaca pesan itu. Amanda menyemangatinya. Sepertinya Amanda semakin peduli dengan dirinya sekarang.


Dia membuka website lomba menulis essay dari link yang diberikan oleh panitia lomba di SMA Negeri 10. Dia langsung berhasil submit tanpa kendala.


Dalam hatinya, Doni mulai mempersiapkan diri menerima apapun keputusan dewan juri nantinya. Jujur dia tidak yakin karya tulisnya itu bisa lebih baik dari karya tulis Ryan.


Sebuah pemberitahuan e-mail masuk di inbox Doni. Doni memeriksa dengan hati berdebar.


"Professor..." Desis Doni.


Doni berusaha tetap optimis. Dia sudah menjawab dengan semaksimal mungkin. Sebelah hatinya mengatakan dia tidak mungkin gagal dalam ujian tersebut. Meskipun dia tidak juga berani meyakini hasilnya akan sempurna.


"Congratulations, Your Majesty! You have passed the examination well."


Sebuah pesan muncul di inbox e-mail Doni. Doni bersorak girang.

__ADS_1


"Yes!" Doni mengepalkan tangannya sebagai tanda kemenangannya sore itu.


Kini dia bisa bernafas lega. Papanya tidak akan memberi hukuman.


"Papa pasti bangga..." Ucap Doni sambil meneruskan e-mail dari Professor Gilbert ke e-mail papanya.


Smartphone Doni bergetar, sebuah panggilan masuk dari Tuan Alfred.


"Tuan Muda. Mobil sudah siap." Lapor Tuan Alfred.


"OK." Sahut Doni singkat.


Doni mematikan laptop dan PC di atas meja kerjanya. Dia bergegas turun dan menemui Tuan Alfred yang sudah menunggunya di lobby.


"Silahkan, Tuan Muda." Tuan Alfred mempersilahkan Doni masuk ke dalam mobil. Sejenak kemudian mobil BMW hitam itu telah meninggalkan komplek perusahaan PT Tanaka Mining, Co. Ltd.


"Tuan Wishnu akan berangkat ke Amerika besok pagi." Ujar Tuan Alfred pada Doni.


"Oh ya?! Berapa hari papa di sana?" Tanya Doni.


" Jika tidak ada perubahan jadwal, mungkin Tuan Wishnu akan menghabiskan dua hari di sana." Tuan Alfred menjelaskan informasi yang diperolehnya langsung dari Nyonya Martha.


"Ohh... OK." Ucap Doni.


"OK. Diatur saja jadwalnya, Tuan Alferd." Doni memberi perintah.


"Siap, Tuan Muda." Sahut Tuan Alfred.


Tidak berapa lama kemudian Doni sudah tiba di rumahnya. Mamanya menyambut kedatangan Doni dan Tuan Alfred dengan senyum sumringah.


Tuan Alfred berpamitan pada Nyonya Wishnu karena ia tidak bisa berlama-lama di rumah Doni. Ada banyak hal yang harus segera dia bereskan. Apalagi Tuan Wishnu akan meninggalkan beberapa agenda penting untuk Doni.


Oleh sebab itu, Tuan Alfred harus mengatur ulang dan menyesuaikan semua jadwal Tuan Muda Anthony. Dia akan segera kembali ke perusahaan dan berdiskusi dengan Nyonya Martha terkait hal itu.


"Tuan Alfred buru-buru sekali ya..." Ucap Nyonya Wishnu sambil mengelus rambut Doni yang acak-acakan.


"Hemmm... Iya, ma. Katanya ada meeting lagi sama Nyonya Martha. Besok pagi papa berangkat ke Amerika." Ujar Doni.


Nyonya Wishnu terlihat sedikit kaget mendengar kata-kata Doni. Tuan Wishnu belum memberitahukannya tentang hal itu.


"Oh ya!? Papa belum ngomong sama mama soal itu." Tutur Nyonya Wishnu.

__ADS_1


"Mungkin ini agenda papa yang mendadak, ma. Doni juga tadi baru tahu dari Tuan Alfred." Terang Doni.


"Oh... Iya ya..." Gumam Nyonya Wishnu pelan.


"Ya sudah. Nanti juga papa pasti cerita." Ujar Nyonya Wishnu lagi.


"Gimana tadi di sekolah?" Tanya Nyonya Wishnu sambil tersenyum simpul.


Doni sedikit curiga melihat senyuman mamanya. Aneh, menurut Doni.


"Aman, ma." Sahut Doni.


"Syukurlahhh... Mama jadi senang mendengarnya. Terus... Di kantor gimana? Oh ya... Sudah ada hasil ujiannya? Kamu lulus?" Nyonya Wishnu teringat Doni sudah mengikuti ujian bersama Professor Gilbert. Seharusnya sekarang sudah ada hasilnya.


"Lulus, ma. Tadi Professor sudah mengirimkan e-mail." Jawab Doni datar.


"Ahhh... Syukurlahhh... Mama tahu, anak mama memang hebat! Mama udah yakin dari awal, kamu pasti bisa lulus, sayang... Mama selalu mendo'akan..." Ucap Nyonya Wishnu lembut.


Doni tersenyum pada mamanya dan berkata, "Terima kasih, mama."


"Ya sudah... Kamu pasti lelah. Ayo mandi sana dan beristirahat ya." Perintah Nyonya Wishnu.


Doni mengangguk patuh.


"Pak Wicaksono masak hidangan spesial buat kita malam ini..." Bisik Nyonya Wishnu pada Doni.


"Iya, ma. Nanti kita makan malam bareng papa." Sahut Doni.


"OK, sayang." Kata Nyonya Wishnu.


Doni naik ke lantai atas, berjalan santai menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Doni langsung melepaskan seragamnya. Ia mengambil handuk dan mandi seperti biasa.


Setelah merasa segar dan bersih, Doni mengeringkan tubuhnya yang basah menggunakan handuk. Ia lalu mencari piyama yang nyaman digunakan. Nanti malam ia berencana bersantai saja di kamar. Ia ingin membaca dan mempelajari modul baru yang dikirimkan oleh Professor Gilbert tadi sore.


Doni semakin bersemangat mempelajari tentang dunia bisnis setelah keberhasilannya pada ujian pertama tadi.


Sambil menunggu papanya pulang dari kantor, ia menonton acara favoritnya dari laptop-nya. Ia menghidupkan laptop-nya dan meletakkan di atas tempat tidur. Sinar matahari sore menembus sela-sela gorden yang terbuka.


Pak Wicaksono datang dan mengetuk pintu kamar Doni. Segelas jus jeruk segar dibawa oleh Pak Wicaksono, sesuai dengan pesanan Doni sebelumnya.


"Terima kasih, pak." Ucap Doni sopan pada Pak Wicaksono.

__ADS_1



__ADS_2