Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Sampai Terbawa Mimpi


__ADS_3

"Doni... Jangannnn..." Amanda mendesah pelan.


Magdalena melirik kakaknya dengan tatapan penasaran. Dia menduga kakaknya pasti sedang memimpikan seseorang.


Doni. Dia telah mengunci rapat-rapat nama itu dalam ingatannya.


"Hemmm... Doni ya... Hihihih..." Magdalena menggumam sambil terkikik sendiri.


Amanda menggeliat di tempat tidurnya, terbangun dan terperanjat kaget melihat kedua adiknya tidak ada lagi di tempat tidur. Dia terduduk dengan wajah bengong, sepertinya rohnya belum seutuhnya kembali dalam tubuhnya.


Amanda menyeka butiran-butiran halus keringat yang bertebaran di dahinya. Wajahnya sedikit pias. Apa yang baru dialaminya di dalam mimpi terasa begitu nyata. Mengerikan. Lebih tepatnya, memalukan. Tapi di satu sisi, dia merasa lega bahwa semua yang baru saja dialaminya itu adalah mimpi. Setidaknya hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu apa yang terjadi di dalam mimpinya tadi.


"Huhhh... Kenapa malah jadi mimpiin dia sih..." Amanda mengeluh di dalam hati.


Dia bangkit dari duduknya, meraih handuk dan sekilas memperhatikan Magadalena yang sedang mematut diri di depan cermin.


Magdalena sedang merapikan seragamnya. Dia berdiri dan beberapa kali berputar-putar di depan cermin. Wajahnya menyunggingkan senyuman yang aneh ketika Amanda menatapnya. Amanda merasa curiga, namun ia tidak sempat menginterogasi adiknya karena menyadari ia harus bersiap-siap dengan cepat agar tidak terlambat ke sekolah.


Amanda berpapasan dengan Mutiara ketika ia berjalan ke arah kamar mandi.


"Kak, pinjem bandana kakak yaaa..." Rengek Mutiara.


"Bandana?" Tanya Amanda.


"Iya... Yang kemarin baru kakak beli itu lohhh... Yang warna biru muda." Mutiara menjelaskan bandana yang dia maksud.


"Ohh... Iya, pake aja." Tukas Amanda cepat sebelum menghilang ke kamar mandi.


Mutiara tersenyum girang. Dia bergegas ke kamar dan memakai seragam sekolahnya dengan cepat. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, dia menyisir rambut hitamnya yang lurus dan panjang dengan hati senang. Tidak lupa dia menyematkan bandana biru muda milik Amanda di kepalanya. Bandana itu terlihat begitu manis, sangat sesuai dengan rambut Mutiara yang indah.


Amanda kembali ke kamar dan segera mengenakan seragam sekolahnya. Kedua adiknya sudah merapat ke meja makan untuk menikmati sarapan mereka yang sederhana.


"Kakak mana?" Ibu bertanya dengan suaranya yang lembut.


"Masih di kamar, bu. Lagi pake baju." Ujar Magdalena.


"Oh... Baiklah, ayo makan..." Ibu berkata sambil tersenyum.


Pagi ini ibu memasak nasi goreng yang sangat lezat. Hanya ada nasi goreng dan telur dadar di atas meja. Aroma nasi goreng yang lezat tersebut sudah menggoda lidah kedua gadis kecil itu. Mereka menyantap sarapan pagi ini dengan penuh semangat.


Ibu melanjutkan menyiapkan dua gelas susu rasa vanilla untuk Magdalena dan Mutiara. Sedangkan untuk Amanda dan ayahnya, ibu telah menyiapkan teh hijau hangat di atas meja makan.


Amanda tidak suka minum susu, berbeda selera dengan kedua adiknya. Mencium bau susu saja dia bisa mual, apalagi kalau harus meminumnya. Amanda benar-benar tidak menyukai susu. Apapun varian rasa susunya, dia tetap tidak suka.


Amanda tergopoh-gopoh menuju meja makan. Wajahnya masih terlihat linglung. Ayah juga sudah duduk di depan meja makan, menyeruput secangkir teh hijau hangat.


Amanda merasa sangat lapar tatkala melihat nasi goreng favoritnya. Dia menyantap sarapannya dengan cepat. Ibu tersenyum simpul.


Magdalena sudah menyelesaikan sarapannya dan kembali masuk ke kamar untuk mengambil tasnya. Tiba-tiba ia melihat smartphone Amanda bergetar di atas meja. Ia melirik layar ponsel kakaknya dengan penuh minat. Ada sebuah panggilan telpon.


Doni. Nama yang tertera di layar ponsel itu. Sebuah wajah yang tampan terlihat dengan jelas di mata Magdalena.

__ADS_1


"Wowww... Inikah orangnya?" Gumam Magdalena. Dia tersenyum dan memanggil kakaknya.


"Kak, ada telpon nih!" Seru Magdalena.


Amanda yang mendengar suara Magdalena, menghentikan makannya sejenak.


"Apa? Siapa?" Tanya Amanda ketika melihat Magdalena nongol di dapur.


"Doni." Jawab Magdalena singkat.


Amanda terkesiap. Untung saja dia sudah menelan habis semua makanannya, kalau tidak dia pasti akan tersedak. Mutiara melirik kakaknya. Dia merasa aneh dengan ekspresi wajah kakak sulungnya itu.


"Apaan lagi itu anak! Ngapain juga dia nelpon pagi-pagi..." Amanda merutuk di dalam hati.


Amanda mendadak merasa perutnya mual, bayangan wajah Doni muncul di benaknya. Dia menyeruput teh hijau pelan-pelan, berusaha menetralisir perasaannya yang tidak karuan.


"Ya Tuhan... Semoga aku ga ketemu dia hari ini..." Amanda berdo'a dengan lirih di dalam hatinya.


"Ayo kak!" Seru Mutiara sambil beranjak meninggalkan meja makan. Ayah dan ibu juga terlihat sudah selesai sarapan.


Amanda mengangguk pelan. Dia mengikuti Mutiara ke kamar, mengambil tas dan segera duduk di teras untuk mengenakan sepatunya. Ayah Amanda sedang menghidupkan mobil tua mereka. Ibu membereskan piring-piring kotor dan mulai merapikan dapur dengan cekatan seperti biasa.


Tidak berselang lama, mobil tua ayah Amanda melaju dengan santai di jalan raya yang mulai ramai. Amanda duduk di depan, di samping ayahnya. Dia menghafal beberapa poin penting yang akan disampaikannya nanti di depan kelas. Pagi ini adalah jadwal presentasi tugas kelompoknya. Sejenak dia terlupa dengan Doni dan mimpinya.


Sementara itu, Tuan Muda Anthony menatap ponselnya dengan sedikit kesal.


"Lagi apa sih dia?" Doni mendengus pelan.


"Tuan Muda, Tuan Alfred sudah menunggu anda di bawah." Seru Pak Wicaksono dari depan kamar.


"Baik, Pak. Saya akan segera turun." Ujar Doni.


Dia meraih ranselnya dan membuka pintu kamarnya. Pak Wicaksono membungkuk dengan penuh hormat ketika Doni melewatinya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu. Doni menuruni satu per satu anak tangga dengan anggun. Nyonya Wishnu menatap puteranya dengan takjub.


"Sayang, kamu tadi lupa minum jusnya loh..." Ujar Nyonya Wishnu ketika Doni sudah duduk di sebelahnya.


"Ohh... Iya..." Desah Doni.


"Mau diambilkan, sayang?" Tanya Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Gapapa, ma. Nanti aja pulang sekolah Doni minum jusnya ya." Doni berkata dengan suara pelan sambil mengikat tali sepatunya.


"Baiklah, sayang..." Ucap Nyonya Wishnu.


Tuan Wishnu juga sudah turun dari kamar. Pria tampan itu terlihat sempurna pagi ini. Nyonya Wishnu memeluk suaminya dengan penuh rasa sayang.


"Bagaimana hari pertamamu dengan Tuan Alfred?" Tuan Wishnu bertanya pada Doni.


"Baik, pa..." Ucap Doni singkat.


"Hemmm... Bagus! Papa yakin Tuan Alfred adalah pasangan terbaik untukmu!" Ujar Tuan Wishnu mantap. Pria itu melirik istrinya dengan tatapan usil. Nyonya Wishnu tidak mampu menahan gelak tawanya.

__ADS_1


Doni memilih diam. Ia menyalami kedua orang tuanya dan segera mengikuti Pak Wicaksono yang sudah berdiri di teras dan sedang berbincang ringan dengan Alfred.


Alfred melirik Tuan Mudanya dan bergerak sigap menuju mobilnya. Ia membungkuk hormat dan membukakan pintu mobilnya untuk Doni.


"Silahkan, Tuan Muda." Ucap Alfred sopan.


"Terima kasih, Tuan Alfred." Ujar Doni sambil tersenyum tipis.


Alfred masuk ke dalam mobil dan segera mengemudikan mobilnya menuju SMA Adhyaksa.


"Tuan Muda, apakah nanti siang anda akan menemani teman anda lagi di halte?" Tiba-tiba Alfred bertanya.


Doni menatap lurus ke depan dengan ekspresi wajah seperti merenung. "Hemmm... Iya..." Ujar Doni setengah menggumam.


"Baik, Tuan Muda. Saya akan menunggu seperti biasa." Alfred berkata sambil melirik Doni yang duduk di sebelahnya.


"Terima kasih." Ucap Doni.


"Hemmm... Tuan Muda, anda juga bisa mengajaknya pulang bersama jika anda mau." Alfred tiba-tiba memberikan saran yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh Doni.


Doni terlihat mempertimbangkan tawaran dari Alfred. Sepertinya itu ide yang bagus. Dalam hati dia mencela dirinya sendiri, mengapa hal itu tidak pernah terfikirkan olehnya sebelumnya.


Tetapi... Kalau Amanda naik mobil ini, dia pasti akan banyak bertanya. Doni sudah mulai hafal dengan sikap Amanda yang rewel dan banyak bertanya tentang dirinya.


Tidak. Sepertinya tidak untuk saat ini. Doni belum siap untuk membuka rahasia dirinya di depan Amanda. Firasatnya mengatakan lebih baik jika Amanda tidak tahu siapa sebenarnya dirinya. Dia tidak ingin Amanda nanti akan berubah jika mengetahui semua rahasia tentang dirinya dan kegiatannya sehari-hari yang sangat padat.


"Hemmm... Terima kasih. Tidak apa-apa, Tuan Alfred. Mungkin lain kali. Aku akan menemaninya di halte saja." Doni berkata dengan nada tegas.


"Baik, Tuan Muda." Ujar Alfred tenang. Dia tersenyum dalam hati.


Sambil menatap padatnya kendaraan yang lalu lalang di sekitar mereka, Doni melayangkan lagi pikirannya ke sosok gadis yang sederhana itu. Dia mulai membayangkan kekacauan akan timbul jika Amanda ada di dalam mobil ini. Bersama dirinya dan Tuan Alfred.


"Tuan Alfred?! Oh no! Big no!" Batin Doni mulai meronta-ronta.


Yang benar saja. Tidak, itu bukan ide yang bagus. Tuan Alfred ini sangat tampan. Bagaimana nanti jika Amanda malah jadi kagum dengan sekretaris pribadinya ini. Oh, tidak! Itu konyol sekali.


"Aku bahkan belum mendapatkan hatinya sepenuhnya, bagaimana mungkin aku membiarkan dia dengan mudahnya melirik laki-laki lain?" Doni mulai meradang sendiri.


"Tuan Muda, kita sudah sampai." Suara Alfred membuyarkan perang batin Doni.


Dia benar-benar tidak menyadari mereka sudah tiba di SMA Adhyaksa. Dia terlalu fokus dengan pikiran negatif yang sedang berkecamuk di dalam benaknya.


"Hemmm..." Doni menggumam pelan.


Dia melepaskan sabuk pengaman, meraih ransel di jok belakang dan bersiap-siap keluar dari mobil Alfred. Namun Doni menunda membuka pintu mobil ketika melihat sosok gadis yang memenuhi fikirannya itu tiba-tiba muncul di depan mobil mereka.


Amanda terlihat berjalan cepat melewati mobil mereka menuju gerbang sekolah. Doni menghela nafasnya dengan lega. Untung saja Amanda tidak melihatnya keluar dari mobil mewah ini.


Setelah Amanda berlalu, Doni kemudian berpamitan pada Tuan Alfred dan keluar dari mobil dengan gagah. Dia melangkah masuk ke dalam pekarangan SMA Adhyaksa. Dua orang siswa kelas I-6 memanggilnya.


Doni dan kedua teman sekelasnya berjalan bersama menuju kelas sambil berbicara santai tentang pertandingan sepak bola yang mereka tonton di TV tadi malam.

__ADS_1


__ADS_2