Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Laki-laki Sejati


__ADS_3

"Amanda!!!" Seru Helena.


Amanda menoleh dan melihat Helena berjalan cepat ke arahnya dengan wajah sumringah. Amanda menghentikan langkahnya dan tersenyum kepada Helena. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar gossip terbaru tentang idolanya, kak Edo. Helena terlihat sangat bersemangat.


"Hahaha... Ya ampun! Aku udah ga sabar banget mau cerita!" Helena berkata dengan penuh semangat.


Helena memperhatikan suasana di sekeliling mereka. Dia sepertinya sedang mencari-cari tempat yang cocok untuk memulai ghibahan pertamanya. Namun sepertinya tidak ada tempat yang sesuai.


"Ayo kita ke kelas!" Helena akhirnya memutuskan mengajak Amanda ke kelas mereka.


Amanda mengangguk cepat. Dia mengikuti Helena berjalan ke kelas.


Kelas sudah dipenuhi siswa. Beberapa siswa terlihat berdiskusi mengenai topik presentasi yang akan mereka sampaikan pagi ini.


Sebagian siswa lainnya sibuk dengan hafalan mereka masing-masing. Sebagian lagi duduk santai karena mereka lebih beruntung, kebagian jadwal presentasi minggu depan.


"Tau ga sih... Emang ga salah dugaan aku! Itu cewek emang ga bener!" Helena mulai nyerocos.


Amanda meletakkan tasnya di atas meja dan duduk manis menyimak kata-kata serta sumpah serapah yang keluar dengan lancar dari mulut Helena.


"Dasar cewek genit! Tuhhh akhirnya diputusin juga! Mampusss!!" Helena berkata dengan emosi yang meluap-luap.


Amanda mendengarkan dengan khidmat sambil sesekali mencuri-curi pandang ke sekeliling mereka. Berharap tidak ada siswa lain yang mendengar atau memperhatikan kata-kata Helena.


Ia ingin mengatakan pada Helena untuk mengecilkan volume suaranya, namun sepertinya sulit memberi masukan jika Helena sedang dalam keadaan full spirit begini. Akhirnya Amanda memilih pasrah saja menyimak cerita dari Helena.


"Jadi yang mutusin hubungan itu kak Edo?" Amanda bertanya untuk menananggapi kata-kata Helena.


Helena mengangguk mantap sambil tersenyum licik.


"Hemmm... Kamu tahu dari mana?" Amanda bertanya lagi.


Sejujurnya ia merasa penasaran bagaimana Helena bisa mengetahui itu semua secepat ini. Dalam hal gossip dan meng-ghibah, Amanda mengakui Helena adalah juaranya. Dia selalu terdepan dalam hal begituan.


"Kak Kristin yang cerita." Bisik Helena.


"Apa!?" Amanda terlihat kaget.

__ADS_1


"Iya. Kak Edo yang cerita langsung ke kak Kristin sih... Jadi informasinya pasti akurat dong! Hahaha..." Tukas Helena sambil tertawa pelan.


Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia seolah tidak percaya bahwa hubungan kak Edo dan pacarnya putus begitu saja.


Mereka baru saja jadian. Masih hitungan hari. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. Sepertinya mereka berdua memang saling mencintai, terlihat sangat romantis.


Romantis?! Ya, bukankah mereka memang sangat mesra? Ingatan Amanda melayang kembali pada adegan mesra yang pernah secara tidak sengaja dilihatnya beberapa hari yang lalu. Adegan kak Edo dan pacarnya yang berciuman dengan begitu mesranya di dalam mobil.


Amanda tentu saja tidak sengaja melihat adegan itu. Namun adegan itu terus menghantui fikirannya, membuat perasaannya untuk kak Edo berubah secara perlahan.


Ciuman. Amanda mendadak merasa wajahnya panas. Ia mendadak teringat akan mimpinya tadi malam. Mimpinya bersama Doni, di dalam sebuah mobil. Mobil yang cukup mewah dan nyaman. Mereka hanya berdua di dalam mobil mewah itu, Doni mendekatinya dengan agresif dan...


Amanda merasa perutnya mual. Ia merinding sendiri. Semua yang dialaminya dalam mimpinya tadi malam terasa begitu nyata. Meskipun dia tidak begitu ingat bagaimana rasanya. Tapi itu terasa real sekali.


Dia tidak ingin bertemu Doni hari ini. Tidak. Dia tidak tahu harus memasang wajah seperti apa nanti jika bertemu cowok aneh itu.


Memang hanya mimpi. Tapi Amanda belum pernah bermimpi seperti itu sebelumnya. Mengapa sekarang mimpi mesum seperti itu bisa hadir dalam tidurnya, itu benar-benar meresahkan.


"Mungkin efek puber kali ya..." Amanda membatin sendiri dalam hatinya.


"Heiii... Amanda..." Helena menepuk lembut bahu Amanda.


Amanda melengos. Dia berusaha terlihat santuy lagi. Dia benar-benar bingung bagaimana Doni bisa hadir dalam mimpinya dan melakukan hal yang memalukan seperti itu. Seperti yang dilakukan kak Edo dan pacarnya itu.


"Ya Tuhan... Memalukan sekali..." Amanda berkata lirih di dalam hati.


Amanda menduga mimpi itu pastilah terjadi karena rasa penasarannya tentang keputusan kak Edo terhadap pacarnya. Ditambah lagi Doni yang bicaranya semakin ngawur dari hari ke hari. Semuanya jadi campur aduk dan masuk ke alam mimpi.


Tapi tetap saja mengapa harus mimpi mesum seperti itu!? Amanda bergidik sendiri.


Doni. Mengapa dia yang hadir dalam mimpi? Tapi dia tampan sekali. Rasanya dia semakin tampan hari demi hari.


Amanda mulai merutuki dirinya yang sepertinya mulai terobsesi dengan ketampanan wajah cowok yang aneh itu.


Wajahnya, tatapan matanya, hidungnya yang sempurna, bibirnya... Amanda mulai merasa ngilu di hatinya.


"Hahaha... Sekarang kak Edo jomblo kan ya!" Ujar Helena girang, membuyarkan lamunan Amanda.

__ADS_1


"Errrr... Iya, Helen!" Ujar Amanda.


Helena tertawa kecil. Dia kelihatan bersemangat sekali. Berbeda dengan Amanda.


Amanda sendiri sebenarnya merasa heran, mengapa dia merasa biasa saja mendengar kabar ini. Bukankah seharusnya dia merasa senang juga? Idolanya kini single lagi. Tapi mengapa dia tidak merasa itu berita yang spesial. Aneh...


Mungkin karena terlalu kecewa dan patah hati, menyebabkan rasa cintanya terhadap kak Edo yang selama ini telah dipendam begitu lama oleh Amanda mulai tergerus, terkikis oleh waktu.


"Senior kamu itu memang terbaikkkk! Dia laki-laki sejati... Gentleman..." Helena mulai mengecilkan volume suaranya.


"Hemmm..." Gumam Amanda pelan.


"Iya loh... Bayangkan, mana ada cowok zaman now yang menolak cewek cantik." Ujar Helena.


"Apa!? Maksud kamu gimana?" Tanya Amanda. Dia mulai merasa ada yang aneh. Sepertinya kisah tentang kak Edo belum usai.


Helena mendekati Amanda dan membisikkan sesuatu yang membuat Amanda terlonjak kaget lagi.


"Apa!? Free ***!?" Amanda buru-buru mengatupkan mulutnya yang menganga begitu saja.


Amanda sungguh tidak menyangka tentang apa yang baru saja didengarnya dari Helena. Namun Helena menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Tapi ini cukup kamu aja yang tahu ya! Jangan cerita ke siapa-siapa!" Ujar Helena dengan wajah serius.


"Hemmm... Iya, Helen." Ucap Amanda pelan.


Amanda tahu, kak Edo adalah sosok cowok yang baik. Terbukti dari cerita Helena pagi ini. Rasa kaget dan kagum hadir secara bersamaan dalam hati Amanda.


"Nanti sore kak Edo latihan basket. Kita nonton yukkk!" Ajak Helena.


"Hemmm..." Amanda menggumam pelan tepat ketika bel masuk berbunyi.


"Mungkin lain kali ya Helen. Siang ini aku harus cepat pulang." Amanda mulai mencari-cari alasan.


"Oh... OK!" Ujar Helena sambil tersenyum lebar.


Guru mata pelajaran kimia telah memasuki ruangan. Amanda membuka buku catatannya dan berusaha fokus kembali dengan materi hafalannya tentang struktur atom.

__ADS_1


Helena juga mulai mengulang-ngulang bacaannya tentang teori atom Dalton. Ia juga kebagian jadwal presentasi pagi ini. Kelompoknya mendapat giliran tampil setelah kelompok Amanda.


__ADS_2