Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Jepang (5)


__ADS_3

Sore yang indah di Tokyo. Udara yang dingin menusuk tulang membuat Tuan Muda Anthony merasa sungkan untuk keluar dari kamar presidential suite yang saat ini sedang ditempatinya. Namun Tuan Alfred sudah menunggu dirinya di bawah.


Doni berpapasan dengan papanya di lobby utama hotel. Tuan Alfred segera menghampiri mereka berdua.


"Selamat sore, Tuan. Driver utusan Mr. Tatsuki sudah menunggu kita di depan." Sapa Tuan Alfred.


"OK." Ujar Tuan Wishnu.


Driver membungkukkan badannya dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Tuan Wishnu. Tuan Alfred membukakan pintu belakang untuk Tuan Muda Anthony.


Setelah ketiga pria tampan itu masuk dan duduk dengan nyaman, mobil bergerak dengan elegant menuju kediaman Mr. Kimigawa.


Sebuah villa dengan arsitektur bergaya khas Jepang, seperti sebuah Ryoukan, terlihat begitu aesthetic dengan dekorasi taman yang sangat sedap dipandang mata.


Terlihat Mr. Tatsuki berjalan cepat dan membukakan pintu mobil untuk Tuan Wishnu. Driver kemudian dengan sigap membuka pintu mobil untuk Tuan Muda Anthony dan Tuan Alfred.


Tuan Wishnu membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Mr. Tatsuki membawa ketiga orang penting perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd tersebut masuk ke dalam villa.


Tuan Muda Anthony mengamati secara sekilas suasana villa itu. Sebagian besar struktur bangunan pada villa terbuat dari kayu yang sangat kokoh. Rasanya seperti sedang berkunjung ke penginapan tradisional di Jepang.


Tuan Muda Anthony mengingat-ingat ia dan kedua orang tuanya pernah menginap di salah satu Ryoukan yang ada di Hokkaido. Nuansa tradisional berbalut kemewahan memberi cita rasa tersendiri bagi para tamu yang menginap di sana.


Pelayanan yang ramah dan berkelas akan mudah ditemukan jika menginap di Ryoukan. Begitu pula di villa ini, setiap orang yang ditemui selalu membungkukkan badan dan tersenyum ramah kepada Tuan Wishnu.


Jendela kertas dan pintu geser menjadi pemandangan yang menarik sekali bagi Tuan Muda Anthony.


"Hemmm... Ini villa atau Ryoukan sih?" Doni bertanya-tanya dalam hati.


Dia masih saja terkagum-kagum dengan suasana di sana.


"Ini seperti Ryoukan bergaya tradisional modern." Batin Doni.


Mereka sepertinya telah tiba di sebuah ruangan penting. Mr. Tatsuki memberi aba-aba pada beberapa Nakai-San yang ada di sana.


Nakai-San ini adalah wanita muda yang bertugas melayani para tamu yang sedang berkunjung. Para Nakai-San itu menggunakan kimono yang unik namun seragam.


Doni melepas sepatunya mengikuti gerakan Mr. Tatsuki. Seorang Nakai-San menggeser pintu di hadapan mereka dan mempersilahkan tamu-tamu penting itu masuk ke dalam ruangan.


Setelah pintu geser itu ditutup kembali, Doni bisa merasakan kehangatan yang berbeda di dalam ruangan.


Mr. Kimigawa memasuki ruangan bersama seorang wanita muda berwajah oriental. Wanita muda itu terlihat cantik sekali. Warna kulitnya yang putih bersih terlihat serasi sekali dengan kimono pink muda yang dikenakannya.


"Selamat sore, Tuan dan Nyonya Kimigawa." Sapa Mr. Tatsuki.


"Selamat sore, Mr. Tatsuki. Terima kasih sudah membawa tamu istimewa kita ke sini." Mr. Kimigawa berkata sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Siap, Tuan." Sahut Mr. Tatsuki.


"Wahhh... Senang sekali bertemu anda kembali, Tuan Wishnu. Terima kasih sudah memenuhi undangan kami." Mr. Kimigawa berkata dengan sopan.


"Sebuah kehormatan bagi kami bisa berada di sini." Ujar Tuan Wishnu.


"Rasanya seperti sedang menginap di Ryoukan. So amazing!" Puji Tuan Wishnu.


Mr. Kimigawa tergelak sejenak. Wanita muda di sebelahnya tersenyum dengan anggun.


Dua orang Nakai-San masuk ke dalam ruangan sambil membawa nampan berisi teko dan gelas-gelas mungil yang terbuat dari keramik bercorak khas Jepang.


Teko dan gelas-gelas keramik mungil itu diletakkan di atas meja. Kedua Nakai-San itu lalu menuangkan sencha ke dalam gelas-gelas keramik mungil yang aesthetic tersebut dengan gerakan yang memukau.


"Kita bisa lebih santai sembari menikmati sencha ini." Ujar Mr. Kimigawa.


"Mari, Tuan-tuan. Silahkan..." Nyonya Kimigawa berkata dengan lemah lembut.


"Terima kasih." Tuan Wishnu mulai menyeruput sencha yang disajikan hangat-hangat tersebut.


Doni dan Tuan Alfred melakukan hal yang sama mengikuti Tuan Wishnu.


Mereka masih berbincang-bincang santai ketika kedua Nakai-San tadi beranjak pamit dan undur diri.


"Oh... Himawari... Ada apa? Mengapa datang begitu tiba-tiba?" Tanya Nyonya Kimigawa pada puteri semata wayangnya.


"Maaf, ma... Papa, aku boleh pergi ke festival itu ya? Please..." Himawari meminta dengan nada merengek.


"Ehemmm... Himawari, kita sedang kedatangan tamu agung. Bukankah lebih baik kamu menyapa mereka terlebih dahulu dengan sopan?" Mr. Kimigawa berkata dengan suara pelan namun terdengar cukup tegas.


"Baik, papa." Himawari melirik sekilas ke arah para tamu.


"Selamat sore, tuan-tuan. Saya Himawari. Semoga anda semua nyaman berada di sini." Sapa Himawari.


Doni hampir saja tersedak dengan sencha yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Dia shock berat. Sejenak pupil matanya melebar ketika melihat wajah gadis itu.


"Tidak... Tidak mungkin!" Doni berteriak di dalam hati.


"Hemmm... Puteri anda cantik sekali, Mr. Kimigawa." Tuan Wishnu memuji sambil berbasa-basi.


Mr. Kimigawa tersenyum tipis dan melirik istrinya.


"Putera anda juga sangat tampan." Mr. Kimigawa membalas dengan pujian.


"Sepertinya Tuan Muda Anthony dan Nona Muda Himawari bisa menjadi pasangan serasi." Celutuk Mr. Tatsuki disusul tawa renyah Tuan Wishnu dan Mr. Kimigawa.

__ADS_1


Himawari mengernyitkan dahinya. Dia merasa harus segera meninggalkan ruangan itu sebelum menjadi topik bully-an keluarganya. Dia melirik dengan tatapan penuh arti ke arah ibunya.


"Hemmm... Himawari, kamu bisa ke festival itu lain kali." Ujar Nyonya Kimigawa.


"Ah... Mama..." Himawari mulai cemberut.


"Himawari, ayo temani Tuan Muda Anthony berkeliling villa." Perintah Nyonya Kimigawa pada puterinya.


Himawari terlihat seperti ingin membantah namun di sisi lain ia juga tidak ingin terlihat tidak sopan di depan tamu penting papanya.


Tuan Wishnu mempersilahkan Doni mengikuti Himawari. Doni berusaha keras menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya. Namun Tuan Alfred bisa membaca ekspresi itu di wajah Doni.


Tuan Alfred memperhatikan Tuan Muda Anthony dan Nona Muda Himawari yang mulai berjalan keluar ruangan.


Tuan Alfred juga sebenarnya sedikit terkejut ketika melihat puteri semata wayang Mr. Kimigawa.


"Mirip sekali..." Tuan Alfred membatin dalam hati.


Sekretaris pribadi Tuan Muda Anthony itu nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun ini semua nyata.


Bagaimana mungkin?


Gadis Jepang itu mirip sekali dengan pujaan hati Tuan Muda.


Bagaimana bisa?


Dia mirip... Sangat mirip...


Bahkan, dia lebih cantik!


Rasa penasaran memenuhi kepala Tuan Alfred. Pria muda itu nyaris gagal fokus dengan pembicaraan bisnis yang sedang dibahas oleh Mr. Tatsuki, Mr. Kimigawa, dan Tuan Wishnu.


"Saya yakin, melalui kerjasama ini, kedua belah pihak akan bisa meraih keuntungan yang besar." Mr. Tatsuki memberi opini sekaligus motivasi bagi kedua petinggi perusahaan tersebut.


Mr. Kimigawa mengangguk puas mendengar pemaparan Mr. Tatsuki.


"Mari kita bersulang untuk kesuksesan perusahaan kita!" Ujar Mr. Kimigawa sambil mengangkat gelas keramik kecil dengan kedua tangannya.


Nyonya Kimigawa terlihat memberi aba-aba khusus pada seorang Nakai-San yang baru saja masuk ruangan.


Nakai-San tersebut kemudian bergerak cepat dan memberi instruksi pada teman-temannya untuk mempersiapkan hidangan utama bagi para tamu penting Tuan mereka.


Tuan Alfred menghela nafas dalam-dalam. Setelah beberapa detik, ia telah dapat mengendalikan dan menghalau fikirannya tentang Amanda dan Himawari. Kini ia mulai mencatat poin-poin penting pembicaraan bisnis kedua CEO perusahaan itu di dalam benaknya.


__ADS_1


__ADS_2