Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Ketahuan Mencontek


__ADS_3

Hampir semua siswa kelas 1-2 berwajah muram pagi ini. Hanya sang ketua kelas yang wajahnya terlihat santuy dan ngeselin seperti biasa.


Bagaimana tidak? Pak Cahyono, guru matematika yang sudah beberapa kali didemo oleh siswa, masih saja mengajar di kelas seperti biasa. Hal itu sontak membuat semua siswa merasa hareudang lagi.


Meski berbagai kata-kata umpatan dan sumpah serapah bermunculan di dalam hati semua siswa, tetap saja tidak seorang siswa pun yang berani buka suara. Kelas hening seperti biasa. Semua siswa berusaha menyelesaikan soal ulangan yang diberikan oleh Pak Cahyono, baik dengan hati rela maupun tidak rela.


Amanda berusaha keras menyelesaikan hitungan matematika yang rumit itu. Helena juga berusaha keras mencuri-curi pandang ke arah kertas ulangan Amanda. Berharap dapat mencontek jawaban dari teman sebangkunya itu.


Amanda sebenarnya merasa sangat risih dengan sikap Helena. Dia mencoba membolak-balikkan kertas jawabannya agar Helena kesulitan untuk mencontek. Namun bukan Helena dong namanya jika ia menyerah begitu saja.


Tanpa disadari Helena, sepasang mata Pak Cahyono telah mengintai dirinya sejak tadi. Guru matematika itu kemudian menatap Helena dengan tatapan yang sangat tajam.


Sepertinya bom waktu akan segera meledak!


"Hei... Kamu! Yang pakai pita pink!" Terdengar suara Pak Cahyono yang berat memecah keheningan kelas. Beberapa siswa mencoba melirik siapa yang dimaksud oleh guru killer tersebut.


Helena mendadak terlonjak kaget. Dia menyadari dengan cepat, yang dimaksud Pak Cahyono pastilah dirinya.


"Dari tadi bapak perhatikan kamu sibuk mencari contekan. Sekarang... KELUAR!" Bentak Pak Cahyono.


Helena terkejut bukan main. Dia melihat tatapan kemarahan Pak Cahyono terhadap dirinya. Kini semua mata tertuju pada Helena.


"Kamu membantah? Bapak perintahkan sekarang kamu keluar! Kamu tidak perlu ikut ulangan lagi. Nilai kamu nol!" Ujar Pak Cahyono dengan intonasi suara yang mengerikan.


"Errrrr... Maafkan saya, pak..." Ucap Helena putus asa.


Pak Cahyono terlihat tidak mau menggubris kata-kata Helena. Guru killer itu tetap menyuruh Helena keluar kelas dan menunggunya di ruang BK.


Kacau sudah bagi Helena!


Sudahlah tidak bisa mengikuti ulangan, kini dia juga harus berurusan dengan dua orang guru paling mengerikan di sekolah elite itu.


Apes!


"Helen..." Desis Amanda tertahan.


"Aku keluar dulu ya..." Bisik Helena pada Amanda.


Amanda merasa tidak tega melihat Helena ketakutan dan kini sedang menghadapi masalah. Namun Amanda menyadari bahwa Helena memang harus mendapatkan efek jera atas kebiasaan buruknya itu.


Semua siswa di dalam kelas menatap Helena dengan tatapan yang berbeda-beda. Helena berpamitan pada Pak Cahyono. Dia tidak berani bernegosiasi dengan guru killer tersebut. Mengikuti perintahnya adalah lebih baik daripada memperpanjang urusan.

__ADS_1


"Tunggu bapak di ruang BK!" Perintah Pak Cahyono.


"Ba... Ba... Baik, pak." Sahut Helena terbata-bata.


Helena keluar dari kelas dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju ruang BK, sesuai perintah Pak Cahyono.


Sambil berjalan, Helena mulai membayangkan isu yang selama ini sering beredar. Guru BK yang bernama Pak Suwanto itu katanya terkenal sangar dan mengerikan.


"Ya Tuhan... Mampus lah aku!" Ratap Helena.


Sebentar saja Helena sudah tiba di depan kandang singa. Ehh maksudnya, di depan ruang BK. Dia mengetuk pintu ruang BK dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Seorang wanita muda yang cantik membuka pintu ruang BK.


"Oh... Hai dik, selamat pagi!" Wanita muda yang cantik itu menyapa Helena dengan ramah sekali.


"Errrrr... Ummmm... Selamat pagi, bu!" Sahut Helena.


Helena bertanya-tanya dalam hati, siapakah wanita muda yang sedang berdiri di hadapannya ini. Mengapa gendruwo yang tadi dibayangkannya malah tidak terlihat di sini. Malah dirinya disapa dengan ramah oleh wanita tersebut.


"Ayo, silahkan masuk." Wanita muda itu mempersilahkan Helena masuk dan menunjukkan sebuah kursi agar Helena bisa duduk.


"Ummmm... Terima kasih, bu..." Ucap Helena.


"Perkenalkan, saya Miss Donna. Psikolog yang bertugas di sekolah ini. Ada yang bisa saya bantu, Helena?" Tanya Miss Dona dengan suaranya yang lemah lembut.


"Oh... Iya, miss... Saya disuruh oleh Pak Cahyono untuk menunggu beliau di ruangan ini." Ujar Helena jujur.


"Hemmm... Pak Cahyono... Benarkah begitu?" Tanya Miss Donna.


"Iya, miss..." Helena berkata sambil mengangguk pelan.


"Hemmm... OK... Tapi bukankah saat ini sedang berlangsung jam pelajaran?" Miss Donna bertanya lagi.


"Iya, miss. Kami sedang ulangan matematika." Jawab Helena dengan suara sendu.


"Oh... I see... Baiklah, silahkan duduk dan menunggu dengan nyaman." Ujar Miss Donna.


Psikolog cantik itu sepertinya mulai mengerti situasi yang sedang dihadapi oleh Helena.


"Pak Suwanto juga sedang meeting dengan wakil kepala sekolah." Sambung Miss Donna ketika melihat Helena melirik ke arah meja guru BK tersebut.


"Baik, miss." Ucap Helena patuh.

__ADS_1


Miss Donna kembali fokus ke pekerjaannya. Sesekali psikolog muda yang cantik itu terlihat mengetikkan sesuatu di sebuah PC besar di hadapannya. Sesekali ia juga terlihat sibuk menuliskan catatan di sebuah buku agenda yang terletak di samping sebuah printer.


Helena memperhatikan ruang BK tersebut. Ruangannya cukup nyaman, tertata rapi, aesthetic dan wangi. Aroma wangi bunga yang manis sesekali menyentuh penciuman Helena.


"Ini ruang BK bukan sih? Apa aku tadi salah masuk?" Helena bertanya dalam hati.


Setelah memperhatikan beberapa pigura besar di dinding yang mencantumkan poin-poin peraturan sekolah, barulah Helena yakin dirinya benar sedang berada di ruang BK.


Ternyata ruang BK di SMA Adhyaksa tidak semengerikan yang dia bayangkan sebelumnya. Ruangan ini cukup nyaman dan psikolog yang cantik itu sangat serasi dengan suasana di ruangan.


"Helena, dari kelas mana ya dik?" Tanya Miss Donna tiba-tiba.


"Errrrr... Kelas 1-2." Jawab Helena singkat.


"Hemmm... OK..." Gumam Miss Donna.


"Kelas itu lagi... Mengapa siswa kelas tersebut berurusan lagi dengan BK? Apa mungkin itu adalah kelas paling bermasalah di semester ini?" Miss Donna bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah tiga puluh menit menunggu, Helena mulai merasa bosan. Dia memperhatikan iWatch yang melingkari pergelangan tangannya dan melihat beberapa chat muncul dari grup WA.


Karena merasa penasaran, Helena memutuskan ikut menyimak isi perbincangan di dalam grup WA tersebut. Ternyata teman-teman Helena sedang membahas tentang cowok-cowok keren dari SMA Adhyaksa.


"Cakep banget ga sih cowok-cowok ini?" Sebuah caption diketik oleh salah seorang teman Helena yang mengirimkan foto tersebut ke obrolan mereka.


"Damage!" Balas teman Helena yang lain.


Helena memperhatikan foto tersebut. Terlihat tiga orang siswa SMA Adhiyaksa yang dia kenal ada di dalam foto itu.


"Loh... Ini kan Amanda!" Helena berseru dalam hati.


"Yang cewek itu teman sebangku gue." Helena mulai nimbrung dalam obrolan.


"Yang cowoknya, Helen... Kamu kenal?" Balas seorang teman Helena.


"Lumayan." Ketik Helena.


"Wowww... Kenalin dong, Helen! Masih pada jomblo ga sih?" Teman-teman Helena mulai agresif.


Helena ingin mengetikkan sesuatu namun mengurungkan rencananya ketika pintu ruang BK kembali terbuka.


Seorang pria dengan sosok tinggi besar dan perut buncit memasuki ruang BK dengan langkahnya yang terasa menyeramkan. Bulu kuduk Helena mulai meremang.

__ADS_1


"Aiiihhh... Kaget aku, kukira gendruwo datang!" Helena mengumpat dalam hati.


__ADS_2