
Suasana di kelas 1-2 pagi ini lumayan hiruk pikuk. Hampir semua siswa membicarakan tentang Pak Cahyono.
Mayoritas siswa yakin kalau Pak Cahyono akan tetap masuk di kelas mereka pagi ini. Ahmad dan seorang siswa laki-laki yang duduk di depannya sampai saling bertaruh untuk keberadaan posisi Pak Cahyono di kelas mereka.
Vino, sang ketua kelas, baru saja tiba. Dia langsung memasang wajah jutek ketika memasuki kelas.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya, wajah jutek Vino mampu dikalahkan oleh siswa-siswa lain.
Banyak siswa yang menatap Vino dengan tatapan sinis. Siswa-siswa perempuan menoleh ke arah Vino dengan wajah kesal, termasuk Helena.
Helena sudah tidak sabar ingin mengumpat tentang Vino. Tetapi Amanda belum kelihatan batang hidungnya sama sekali. Dia jadi tidak punya teman meng-ghibah.
Ahmad auto sinis ketika melirik Vino yang duduk di sebelahnya. Ahmad sebenarnya bukan kesal dengan Vino karena tidak berhasil menghilangkan nama Pak Cahyono dari daftar guru bidang studi di kelas mereka. Namun Ahmad kesal karena kemarin siang mereka beradu mulut cukup lama perihal guru matematika yang killer itu.
Seperti biasa, Vino tidak pernah mau kalah dan tidak mau disalahkan. Ia selalu cuek dan tidak pernah mau berusaha maksimal.
Hal itulah yang membuat seorang Ahmad menjadi berang. Padahal sebenarnya, sosok Ahmad adalah sosok seorang cowok yang cukup sabar dan bijaksana. Namun pada akhirnya Ahmad dibuat khilaf juga oleh sifat sotoy Vino yang sungguh menakjubkan itu.
Amanda masuk ke kelas dengan tergopoh-gopoh dan sedikit keringatan. Helena langsung menyapa Amanda begitu melihat teman sebangkunya itu nongol di depan kelas.
"Amanda!" Helena berteriak memanggil Amanda.
Amanda tidak membalas teriakan Helena. Dia berjalan cepat ke bangkunya dan duduk dengan irama nafas yang tidak beraturan.
"Hoshhh... Hoshhh... Hoshhh..." Amanda bernafas seperti baru selesai mengikuti lomba lari maraton.
"Kamu kenapa?" Tanya Helena bingung.
Amanda berusaha menenangkan dirinya. Dia mengeluarkan sebungkus tissue dan mengambil selembar untuk melap keringat di dahinya.
"Iiihhh... Serem banget, Helen! Tadi ada orang gila di depan gerbang!" Ujar Amanda panik.
"Hahhh... Orang gila!? Serius kamu!?" Helena ikutan panik.
"Iya, aku ketakutan setengah mati! Dia ngelihatin aku terus. Kebetulan kan tadi udah agak sepi di depan." Terang Amanda.
"Waduhhh... Serem amat! Kamu diganggu?" Tanya Helena.
"Ga, sih... Tapi karena lagi agak sepi, aku agak takut aja. Mana gerbang security masih agak jauh." Ucap Amanda.
"Huhhh... Syukurlahhh... Yang penting kamu ga kenapa-kenapa..." Ujar Helena lega.
__ADS_1
"Iya, Helen..." Amanda berbicara dengan suara nyaris seperti mendesis.
"Semoga aja orang gila itu nanti udah pergi jauh-jauh dari sini...." Ujar Amanda penuh harap.
"Hemmm... Iya ya... Aduhhh... Aku juga jadi takut!" Ucap Helena.
"Ehhh... Ada apa sih? Kok anak-anak pada jutek?" Tanya Amanda ketika melihat beberapa teman sekelasnya berwajah kaku dan sinis.
"Ya iyalah! Baru juga aku mau bahas itu!" Seru Helena.
"Tuh lihat! Si norak itu, semua teman-teman sekelas pada kesel sama dia!" Helena melirik ke arah Vino dengan ekor matanya.
"Hahhh... Sama ketua kelas? Kenapa?" Tanya Amanda kaget.
"Ya gitu... Dia kayaknya ga berhasil membujuk wali kelas..." Bisik Helena.
"Soal apa? Soal Pak Cahyono ya?" Tebak Amanda.
Helena mengangguk cepat. Amanda menoleh ke arah Vino. Dia bisa mengerti ekspresi wajah Vino. Amanda merasa Vino pasti sedang kesal juga.
"Kayaknya dia juga lagi kesal tuh!" Ujar Amanda.
"Wahhh... Masa iya sih? Kamu tahu dari mana, Helen?" Amanda shock mendengar penjelasan Helena.
Dia tidak tahu kalau kemarin siang Ahmad dan Vino cekcok soal itu. Setahu Amanda, Vino dan Ahmad selalu berteman baik. Vino juga biasanya cukup patuh sama Ahmad.
"Aku lihat sendiri. Ada beberapa siswa lainnya juga yang lihat!" Tutur Helena.
"Oh ya!?" Amanda melongo.
Helena mengangguk cepat. "Aku malah mikir si Ahmad bakal ngasi bogem mentah ke si geblek itu. Tapi ternyata... Si Ahmad masih bisa sabar juga..." Tutur Helena yang melihat keributan antara Ahmad dan Vino kemarin siang.
"Ya ampun... Jadi mereka berantem mulut? Terus gimana?" Tanya Amanda tidak sabar.
"Ya gitu deh..." Helena menjawab asal.
"Tapi ga sampe pukul-pukulan, kan!?" Tanya Amanda lagi.
"Hemmm... Aku ga tahu, soalnya aku ga lihat mereka sampai selesai. Keburu dijemput. Tapi kayaknya ga sampai adu fisik sih..." Terang Helena.
"Oalahhh... Tapi aku yakin mereka ga sampe baku hantam deh... Kalau ga, mereka berdua kan langsung viral. Hehehe..." Amanda cekikikan sendiri.
__ADS_1
"Iya, aku juga mikir gitu sih... Mereka berdua pada ga bonyok juga kan..." Helena berkata dengan suara pelan. Ia juga terlihat berusaha menahan tawa.
Semua siswa kelas I-2 sebenarnya masih sangat bersemangat untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan Vino dan Pak Cahyono.
Akan tetapi, kehadiran Ibu Suhartini di depan kelas secara otomatis mampu membuat semua mulut siswa kelas I-2 itu terkunci.
Setelah memberikan afeksi di awal pertemuan, ibu Suhartini berdiri di depan kelas dan memperhatikan ekspresi para siswa dengan wajah serius.
"Anak-anak... Ibu tahu kalian sudah berupaya. Ketua kelas sudah bicara ke ibu." Ibu Suhartini berkata sambil menatap wajah para siswa satu per satu.
Semua siswa duduk dengan tenang dan fokus memperhatikan Ibu Suhartini.
"Ibu juga sudah bicara ke bagian kurikulum. Ibu sudah sampaikan uneg-unegnya kalian..." Ibu Suhartini terdiam sejenak.
Semua siswa semakin penasaran. Mereka menunggu kalimat Ibu Suhartini berikutnya.
Ibu Suhartini menghela nafas panjang, "Tapi sekolah kita ini punya peraturan. Tidak semudah itu menggantikan posisi seorang guru..."
Semua siswa terdiam. Meskipun sebenarnya mereka ingin membantah kata-kata Ibu Suhartini, tapi mereka memilih berdiam diri saja.
Ibu Suhartini melanjutkan kata-katanya, "Setiap guru memiliki cara atau gaya mengajar yang berbeda-beda. Sebagiannya kalian suka, sebagian lagi mungkin tidak."
"Tetapi, sejatinya semua guru ingin memberikan yang terbaik untuk semua murid-muridnya..." Imbuh Ibu Suhartini.
Kelas 1-2 hening. Tidak ada seorang murid pun yang berani buka suara. Ibu Suhartini tersenyum dan berusaha mencairkan suasana.
"Tapi, Pak Cahyono sudah diberi masukan. Semua aspirasi siswa telah kami sampaikan kepada beliau. Semoga kedepannya beliau bisa menjadi guru terbaik di hati kalian..." Ujar Ibu Suhartini.
Beberapa siswa saling pandang, saling lirik. Mereka berbicara melalui mata, tanpa suara.
"Izin, bu. Tapi kami semua sekelas dibuat tidak lulus ulangan oleh Pak Cahyono." Vino mengangkat tangan dan menyampaikan laporan yang dialami oleh teman-teman sekelasnya.
Beberapa siswa serempak ikut menimpali, "Iya, betul bu."
"Hemmm... Itu juga sudah kami bicarakan dengan Pak Cahyono. Ibu yakin Pak Cahyono akan memberi kebijakan terbaru nanti untuk kalian." Ujar Ibu Suhartini kalem.
Vino tidak menjawab ataupun membantah. Dia memilih diam dan melirik Ahmad yang duduk di sampingnya.
Lirikan mata Vino seolah mengatakan, "Tuhhh... Sudah kusampaikan ya!"
Ahmad juga tidak berkata apa-apa. Dia memilih melanjutkan mencatat pelajaran di buku catatan. Dia tidak mau berdebat dengan Vino.
__ADS_1