Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Malu-malu


__ADS_3

Semua siswa berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi siang itu. Helena juga bergegas keluar dari kelas seperti biasa.


Amanda masih duduk tegak dan kaku di bangkunya. Ia menatap bimbang pintu kelasnya. Seolah pintu kelasnya itu adalah pintu yang akan membawa dirinya ke dunia lain. Jantungnya kini berdegup kencang.


Amanda tidak mampu mengendalikan pikirannya yang sejak tadi menerawang tak menentu, berlompatan antara bayangan adegan di dalam mimpinya, kejadian beberapa hari belakangan, dan tentu saja kehadiran sosok cowok tampan dan misterius itu dalam hidupnya!


Doni. Ya, dia seperti hantu. Meskipun dia terlalu tampan untuk disebut hantu.


Tiba-tiba saja Doni sudah berdiri dengan tenang di depan pintu kelas Amanda, membuat jantung Amanda serasa akan melompat keluar dari tubuhnya.


"Ya Tuhan... Gimana ini..?" Amanda mendesah lirih.


Amanda merasa tubuhnya seperti mengalami serangan meriang mendadak. Sendi-sendi di tubuhnya seakan ngilu semuanya. Dia tidak mampu bergerak. Masih terduduk kaku di bangkunya, seperti patung yang bernyawa.


Pelan-pelan Amanda menyeka keringat dingin di dahinya. Suhu ruangan kelas terasa dingin di kulit Amanda, padahal Vino sudah mematikan pendingin ruangan di kelas sejak belasan menit yang lalu.


Di kelas hanya ada Amanda dan seorang siswa perempuan yang duduk di bangku belakang. Gadis itu sedang merapikan buku-bukunya, memasukkan ke dalam sebuah tote bag berwarna pink yang manis.


"Amanda ga pulang?" Gadis itu bertanya ketika melihat Amanda masih terduduk kaku di bangkunya.


Amanda terlonjak kaget. Dia tidak menyadari bahwa masih ada siswa lainnya di kelas.


Amanda menoleh ke belakang dan berkata, "Hemmm... Iya, aku juga mau pulang."


Gadis itu melempar senyum manis. "Yuk barengan!" Ajak gadis itu.


"Errrr... Terima kasih, duluan aja ya..." Ucap Amanda sambil tersenyum tipis.


"OK dehhh... Bye, Amanda..." Ujar gadis itu sambil berlalu keluar dari kelas. Dia sempat melirik Doni sekilas yang berdiri di depan pintu kelas.


Doni menatap tajam ke arah Amanda. Dia mulai melangkah masuk ke dalam kelas. Amanda rasa-rasanya ingin menjerit.


"Ya ampun... Kenapa aku jadi panik gini sih!?" Batin Amanda.


Dia berusaha keras mengatur detak jantungnya agar berpacu dalam kecepatan yang normal seperti biasa.


Doni semakin dekat. Amanda menatap Doni sambil menyeka keringat di dahinya. Dia kini benar-benar bingung harus bersikap bagaimana. Dia mulai mengatur nafasnya yang tiba-tiba saja mulai terasa sesak. Padahal seumur hidupnya dia tidak pernah menderita penyakit asma atau gangguan pernafasan lainnya!


Apakah kadar oksigen mendadak berkurang sejak Doni masuk ke kelas? Amanda mulai ngelantur sendiri.


"Bisa penyakitan beneran nih aku lama-lama!" Amanda merutuk dalam hati.


"Ayo pulang!" Ujar Doni ketika jarak mereka hanya terpaut satu meter saja.


"Errrr... Iya. Kamu ngapain ke sini?!" Tanya Amanda. Dia tidak bisa menyembunyikan nada panik di dalam suaranya.


"Hemmm..." Doni hanya menggumam pelan sambil tetap menatap tajam wajah Amanda.


Amanda menjadi kikuk sendiri. Dia berusaha mengalihkan tatapannya dari wajah Doni. Dia tidak ingin menatap Doni hari ini, tidak! Bahkan dia sudah berdo'a agar tidak bertemu Doni hari ini di sekolah. Tetapi sepertinya Tuhan tidak berpihak kepadanya saat ini.


Doni melangkah mendekat dan dengan sigap menggenggam tangan Amanda.


"AWWWW!! LEPASKAN!!" Amanda menjerit sekuat tenaga dan menghentakkan tangannya dengan panik.

__ADS_1


Doni terperanjat kaget. Dia benar-benar shock. Amanda mengatupkan kedua tangannya ke mulutnya.


"Ya Tuhan... Kenapa aku jadi norak begini!?" Amanda merutuk lagi di dalam hati.


Doni menatap Amanda dengan serius. Dia mendadak bingung melihat ekspresi Amanda yang agak aneh siang ini. Tadi pada saat jam istirahat, dia memang tidak menemui Amanda sehingga dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada gadis kesayangannya itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Doni cemas.


"Aku gapapa. Tapi jangan main pegang-pegang gitu dong! Kaget tahu!" Tukas Amanda.


Dia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan debaran hatinya. Wajahnya masih saja merona.


Doni tertawa terbahak-bahak. Amanda menatap Doni dengan tatapan tidak senang.


"Minggir!" Sergah Amanda ketika melewati Doni yang sedang berusaha menahan tawanya.


Doni memberi ruang agar Amanda bisa melewatinya. Dia sesungguhnya merasa sangat gemas melihat ekspresi Amanda. Dia bisa membayangkan jika menyentuh Amanda lagi, mungkin Amanda akan menjerit lebih keras atau lari terbirit-birit karena kaget.


Amanda berjalan dengan sikap waspada. Sesekali dia melirik Doni yang berjalan santai di belakangnya. Doni terlihat menahan tawanya dengan susah payah. Amanda mendengus pelan.


"Hiiiiiyyyy... Psikopat juga ini orang! Kok sepertinya dia malah senang aku ketakutan..." Amanda mulai berprasangka buruk.


"Kenapa sih kamu harus nunggu aku pulang!?" Tanya Amanda dengan nada ketus.


"Kamu kan bisa jalan sendirian ke halte!" Tukas Amanda lagi.


Doni mulai berjalan sejajar di samping Amanda. Amanda menoleh ke arah Doni.


Amanda hanya bisa mendengus.


"Huffffttt... Ini anak emang udah ga waras!" Sepanjang jalan menuju ke gerbang sekolah, Amanda mengomel tanpa henti di dalam hatinya.


Amanda menatap lurus ke depan, ke arah gerbang sekolah. Hanya tinggal beberapa meter saja jarak mereka dari gerbang tersebut.


Beberapa mobil mewah terlihat mulai menepi dan berhenti di dekat gerbang sekolah. Ada juga beberapa mobil mewah lainnya yang berhenti di sisi trotoar.


"Hai Amanda..." Sebuah suara memanggilnya dengan riang.


Amanda dan Doni menoleh serempak, mencari-cari asal suara tersebut.


Ryan.


Ternyata pemilik suara itu adalah Ryan. Ryan menghampiri Amanda dengan wajah ceria.


"Eh... Hai..." Ryan menyapa Doni sambil menyunggingkan sebuah senyuman bersahabat.


"Hemmm..." Doni hanya menggumam seperti biasa. Dia berusaha tersenyum tipis.


"Gimana kemarin tanggapan wali kelas kalian?" Tanya Ryan.


"Hemmm... Maksudnya?" Amanda balik bertanya. Ia belum memahami arah pertanyaan Ryan.


"Itu... Tentang guru matematika itu loh..." Ujar Ryan setengah berbisik. Dia sudah berdiri cukup dekat dengan Amanda.

__ADS_1


"Oh... Itu... Hemmm... Ibu Suhartini akan mencari solusi terbaik untuk kami." Jawab Amanda cepat.


Kini Amanda sudah mulai nyambung dengan topik pembicaraan Ryan. Sejenak tadi Amanda memang sulit fokus dikarenakan pikirannya sendiri sedang tidak tenang, ditambah lagi Doni yang terus berada di sampingnya membuat dirinya semakin salah tingkah dan deg-degan.


Doni melirik Ryan dengan tatapan sinis. Dia sangat tidak suka melihat Ryan yang tidak segan-segan mendekati Amanda yang berada di sampingnya.


Amanda, Doni, dan Ryan berjalan berbarengan.


Amanda berada di tengah-tengah kedua cowok tampan itu. Entah mengapa Amanda merasa risih sendiri. Sesekali dia mencoba melirik Doni yang hanya diam saja menyimak obrolannya dengan Ryan. Amanda seolah bisa merasakan ketidaksukaan Doni terhadap Ryan. Wajah Doni terlihat tegang.


"Ya, dia memang cuek. Tapi wajahnya ga tegang gitu juga kali... Hemmm..." Amanda menggumam dalam hati.


"OK, Amanda. Sampai ketemu besok." Ryan berkata sambil tersenyum ketika mereka telah keluar dari gerbang SMA Adhyaksa.


Ryan menoleh ke arah Doni, tersenyum dan tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang aneh, "Hemmm... Kamu selalu pulang bareng Amanda ya?"


Doni menoleh sejenak. Ia kemudian menjawab dengan suaranya yang dalam, "Iya."


"Hehehe... OK. Aku duluan, bro!" Ujar Ryan sambil menepuk bahu Doni dengan penuh semangat.


Dia segera masuk ke dalam sebuah mobil sedan mewah berwarna silver yang sejak tadi sudah menunggu di sisi trotoar.


Amanda terbelalak melihat Ryan yang masuk ke dalam mobil sedan mewah tersebut. Sedangkan Doni hanya menatap kepergian Ryan dengan tatapan dingin.


Yang terjadi selanjutnya hanya seperti potongan film horror yang sunyi dan mencekam. Padahal saat ini mereka berada di tengah keramaian dan hiruk pikuk suasana jalan raya yang padat. Amanda merasa bulu kuduknya mulai meremang.


Amanda dan Doni terus saja berjalan dalam diam. Mereka kelihatannya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Beberapa langkah lagi mereka akan tiba di halte.


"Kamu jangan dekat-dekat sama dia." Suara Doni memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Hah... Apa?" Amanda mendelik dan terlihat ingin protes. Dia menatap Doni dengan tajam.


Doni tidak peduli dengan tatapan tajam Amanda. Dia bertahan dengan ekspresi khasnya jika sedang dalam keadaan emosi, ekspresi datar dan dingin ala Tuan Muda Anthony.


"Apaan sih kamu!? Ryan itu baik..." Amanda akhirnya mulai protes.


Beberapa orang di halte melirik ke arah mereka. Amanda mulai mengecilkan volume suaranya agar tidak semakin menarik perhatian pengguna halte lainnya.


"Aku ga suka kamu dekat-dekat sama dia." Doni mengulang kata-katanya dengan suara yang lembut namun terdengar cukup tegas.


Amanda terperangah. Dia ingin melanjutkan kalimat-kalimat protes yang sudah bermunculan di dalam pikirannya. Namun tatapan mata Doni yang indah dan menghanyutkan membuat Amanda terdiam seribu bahasa.


Doni kini menatap wajah Amanda lekat-lekat. Ia menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Amanda. Ia sepertinya ingin mengucapkan sesuatu yang lebih serius.


Amanda merasa wajahnya panas lagi, meskipun detak jantungnya sudah kembali normal. Tanpa bisa ditolak, bayangan adegan dalam mimpinya tadi malam hadir kembali. Amanda refleks mundur beberapa langkah dengan wajah memerah.


Doni menegakkan kepalanya. Sebuah senyuman tersungging di sudut bibirnya. Dia membatalkan rencananya untuk mengucapkan sesuatu.


"Ryan itu baik. Dia bisa jadi teman yang baik." Ujar Amanda penuh keyakinan sambil berusaha menutupi rasa gugup dan deg-degan yang tak terelakkan.


Tuan Muda Anthony mendengus sendiri. Sifatnya yang tidak suka berdebat membuatnya memilih berdiam diri. Namun ia memastikan akan lebih memperhatikan gerak-gerik Ryan.


Firasatnya sebagai laki-laki mengatakan bahwa Ryan tidak akan menjadi "teman" yang baik untuk Amanda.

__ADS_1


__ADS_2