
Informasi tentang pentas seni telah beredar di seantero SMA Adhyaksa. Semua siswa menjadi sangat bersemangat. Masing-masing kelas mulai sibuk memikirkan beberapa ide acara yang bisa mereka sumbangkan di pentas seni nanti.
Amanda menyimak penjelasan Vino yang sangat minimalis tidak modern itu dengan hati sabar dan lapang dada. Akan tetapi beberapa siswa lain di kelas I-2 tidak bisa sesabar Amanda.
Helena adalah salah satunya. Dia seolah-olah memang terlahir untuk menjadi rival Vino sepanjang hidupnya. Helena tidak pernah bisa respect pada Vino. First impression ternyata memang betul-betul berpengaruh dalam sebuah tahapan perkenalan.
Helena sudah tidak suka dengan Vino sejak pandangan pertama, sejak pertemuan pertama mereka di kelas. Seolah sudah menjadi dendam kesumat dirinya dengan sang ketua kelas yang cuek itu.
"Yaelah! Bisa ya dia seperti itu?!" Helena akhirnya buka suara lagi setelah guru mata pelajaran pertama keluar dari kelas.
"Hufffftttt...Ya, setidaknya dia sudah menyampaikan berita itu. Hehehe..." Ujar Amanda sambil terkekeh pelan.
Helena memicingkan matanya ke arah Amanda.
"Yuni udah bisa legowo tuh, nerima kenyataan. Kita harus sabar menghadapi ketua kelas kita." Ujar Amanda enteng.
Helena mendengus. Wajahnya masih terlihat kesal.
"Bisa ga ya, kita demo aja buat ganti ketua kelas?" Tanya Helena dengan suara jengah.
Amanda tertawa terbahak-bahak. Dia tidak mampu menahan tawanya. Amanda tertawa sampai perutnya terasa sakit.
"Hahaha... Ada-ada aja kamu, Helen! Hahaha..." Ujar Amanda di sela-sela tawanya.
Helena mendengus kesal. Ia kesal sendiri melihat Amanda menertawai dirinya. Namun sebenarnya dia juga merasa lucu dengan ide konyol yang tiba-tiba terlintas di benaknya itu. Dia pun akhirnya ikut tertawa bersama Amanda.
"Kalau gitu, sebenarnya dia yang lebih cocok didemo ya. Ketimbang Pak Cahyono. Hahaha..." Canda Amanda.
"Nah itu... Itu bener banget! Hahaha..." Seru Helena sambil tertawa nyaring.
Amanda dan Helena terus saja meng-ghibah tentang Vino, sang ketua kelas yang super cuek itu.
"Tapi kita bisa apa coba... Ingat kan, Helen. Vino itu ditunjuk langsung sama kak Ravel." Ujar Amanda.
"Hemmmm... Iya juga ya. Aku sampai lupa kalau dia itu kan dulunya dipilih sama kak Ravel..." Gumam Helena.
__ADS_1
"Jadinya aneh dong kalau kita tiba-tiba malah demo supaya dia ga jadi ketua kelas lagi." Ujar Amanda.
"Iiiiihhh... Bisa-bisa kita malah berurusan lagi sama kak Ravel... Idihhh... Ga banget deh!" Tukas Helena.
"Iya, kak Ravel itu horror banget!" Imbuh Amanda.
"Padahal dia tuh ganteng banget. Tapi ya gitu, ganteng-ganteng serigala. Aku takut diterkam! Hiiiiiyyy..." Helena auto bergidik membayangkan jika dirinya berurusan dengan kakak kelasnya yang berdarah dingin itu.
Amanda lagi-lagi tertawa ngakak mendengar kata-kata Helena yang lebay namun kocak itu.
"Ganteng-ganteng serigala... Hahaha..." Timpal Amanda.
"Lho... Benar kan kata-kata aku?" Ucap Helena tanpa rasa bersalah.
"Hahaha... Iya... Iya deh... Terserah kamu aja, Helena. Aku mah pasrah. Hahaha..." Amanda berkata sambil berusaha menahan tawanya.
Giliran Helena balik tertawa. Sepertinya guyonan mereka berdua hari ini mampu membuat keduanya menjadi lebih santai setelah tadi merasa pusing dengan materi pelajaran kimia yang cukup menguras energi.
"Tapi ga bisa dipungkiri, ketua kelas I-3 itu memang keren ya! Beda banget sama ketua kelas kita yang geblek ituhhh..." Ujar Helena dengan suara pelan.
"Hemmm... Maksud kamu, si Ryan ya?" Tanya Amanda.
"Ehhh... Dia masih jomblo ga ya?" Helena bertanya pada Amanda.
"Hemmm... Aku kurang tahu sih, Helen. Soalnya aku kan juga baru kenal sama dia." Tukas Amanda.
Tiba-tiba Amanda teringat pembicaraannya malam kemarin dengan Ryan. Ryan curhat padanya tentang seorang gadis yang ke-geer-an akan sikapnya yang ramah.
"Bukankah itu artinya Ryan sedang tidak punya pacar..." Batin Amanda.
"Amanda, kamu mau bantu aku ga? Coba cari tahu ya apakah dia sudah punya pacar atau belum..." Pinta Helena.
"Aku lihat selama ini kamu mulai sering ngobrol sama dia. Kamu pasti nanti bisa dapat info..." Imbuh Helena sambil mengedipkan matanya.
"Hemmm... OK... Ntar kalau aku dapat info tentang itu, bakalan aku kabarin kamu deh. Don't worry!" Janji Amanda.
__ADS_1
"Nah, gitu dong! Itu baru namanya teman!" Helena berkata sambil menepuk pundak Amanda.
"Kamu naksir sama Ryan ya?" Tebak Amanda.
"Idihhh... Ya ga lah. Dia bukan tipe aku!" Sahut Helena.
"Cintaku cuma buat kak Edo seorang. Dia tuh kakak kelas idola. Lihat aja, banyak banget cewek-cewek yang naksir sama dia!" Helena menjelaskan dengan semangat berapi-api.
Amanda mendadak down mendengar kata-kata Helena tentang perasaannya untuk kak Edo. Benar-benar menyakitkan untuk didengar. Apalagi oleh seorang pengagum rahasia seperti dirinya. Perasaan yang random kini mulai menghantui hati Amanda.
Amanda langsung merasa terpuruk jika Helena sudah mulai menceritakan perasaannya untuk kak Edo. Amanda merasa dirinya tidak bisa bersaing dengan Helena. Jadi tidak ada gunanya berharap jika memiliki saingan seberat itu.
Helena cukup cantik, tajir, dan famous di pergaulannya. Sangat bertolak belakang dengan Amanda. Amanda bukan siapa-siapa, bukan anak tajir, bukan siswa berprestasi, bukan anak gaul, ya... Amanda bukanlah siapa-siapa. Dia hanya gadis sederhana yang berusaha menjadi orang sukses di masa depan.
Amanda berusaha terlihat tenang di depan Helena. Ia melirik Helena yang mulai scrolling gallery foto di smartphone-nya.
"Nih lihat..." Helena menyodorkan smartphone-nya kepada Amanda dan menunjukkan beberapa foto dirinya bersama kak Edo.
Amanda menatap foto-foto itu dengan hati perih. Helena terlihat dekat sekali dengan kak Edo di semua foto-foto itu
"Ini nih foto yang di cafe kekinian dekat SMP kalian. SMP apa ya namanya? Aku agak-agak lupa..." Helena memamerkan sebuah foto selfie dengan kak Edo yang sedang duduk di sebuah cafe.
"Katanya sih cafe ini baru dibuka..." Helena melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat.
"Hemmmm..." Amanda hanya mampu menggumam.
"Kamu perlu cobain deh makanan-makanan yang ada di sana. Enak-enak lho!" Seru Helena.
"Tapi kalau ke sana ya bagusnya sih sama pacar atau gebetan. Soalnya suasana di situ tuh romantic gitu. Cucok banget deh buat yang lagi PDKT atau yang baru jadian. Hihihi..." Imbuh Helena panjang lebar.
Amanda memaksakan diri tersenyum untuk merespon rekomendasi cafe yang dijelaskan Helena.
"Yang pastinya ini tempatnya instagramable banget! Keren!" Seru Helena.
"Iya, Helena." Sahut Amanda akhirnya sambil berharap agar Helena menghentikan ceritanya.
__ADS_1
Amanda tidak ingin mendengar lebih jauh tentang kedekatannya dengan kak Edo. Ia merasa iri dengan Helena.
Akhirnya Amanda mengalihkan fokusnya ke teman-temannya yang duduk di bangku depan mereka. Para gadis itu sedang membicarakan tentang persiapan pentas seni. Amanda mencoba nimbrung dengan mereka agar Helena berhenti bicara tentang kak Edo.