
Ryan tiba-tiba masuk ke kelas Amanda pada saat jam istirahat berlangsung.
Beberapa siswa perempuan memperhatikan Ryan yang sedang berjalan cepat ke arah bangku Amanda dan Helena.
"Hai..." Sapa Ryan ramah seperti biasa.
"Hai Ryan." Amanda balas menyapa.
"Hemmm... Ketua kelas kalian lagi dimana?" Tanya Ryan sambil menarik sebuah bangku mendekat ke arah Amanda.
"Errrrr..." Amanda menjadi salah tingkah ketika beberapa cewek melihat ke arahnya karena didekati oleh Ryan.
Helena melihat Ryan dengan tatapan menilai. Dia sedang memikirkan kata-kata yang dilontarkan teman-temannya tentang Ryan. Ryan dan Doni sudah mulai viral di antara teman-teman Helena.
Ryan melihat berkeliling, ia mencari-cari wajah sang ketua kelas I-2, Vino Handoko.
"Dia lagi di luar ya?" Tanya Ryan dengan nada tidak sabar.
"Eummm... Iya, mungkin dia di kantin." Ujar Amanda setelah memastikan Vino memang sedang tidak ada di kelas.
"Aku serius nih! Soal Pak Cahyono..." Ryan berkata setengah berbisik.
Amanda dan Helena saling pandang. Mereka berdua bersiap-siap menyimak kata-kata Ryan selanjutnya.
"Apa betul kalian semua satu kelas ini pada ga lulus ulangan matematika?" Tanya Ryan.
Lagi-lagi Amanda dan Helena saling pandang. Helena mengerjapkan matanya. Amanda terlihat berfikir sejenak.
"Eummm... Ya, begitulah... Soal ulangannya terlalu sulit sih..." Amanda mencoba mencari alasan agar tidak terkesan menyalahkan Pak Cahyono.
"Ohhh... Same case!" Seru Ryan.
"Aku dan teman-temanku mulai curiga dengan bapak itu." Ryan berkata dengan suara pelan.
"Kita sepertinya memang dipersulit. Pasti karena kami sekelas juga protes kemarin. Jadi apa yang dialami kelas ini, juga kami alami." Imbuh Ryan.
"Begitukah?" Tanya Amanda dengan wajah melongo.
"Separah itukah guru killer itu?" Helena mulai buka suara.
Helena tidak menyangka bahwa kelas yang lain juga mengalami hal yang sama. Walaupun dia juga sebelumnya sudah mendengar dari teman-temannya bahwa kelas I-3 juga ikut protes dengan pola pengajaran Pak Cahyono. Namun dia tidak menyangka akan diperlakukan sama seperti ini.
"Bagaimana dengan kelas-kelas yang lain?" Helena jadi penasaran.
"Iya, betul. Bukankah ada empat kelas yang sama guru matematikanya?" Ujar Amanda.
Ryan mengangguk dan berkata, "Benar. Ada empat kelas. Tapi aku belum nanya sih sama dua kelas lagi."
"Jangan-jangan mereka aman. Kan mereka ga ngadu ke wali kelas. Ga protes kayak kita!" Celoteh Helena.
Amanda tercenung. Benar juga apa yang dikatakan Helena. Seingat Amanda, hanya ada dua kelas yang melaporkan ke wali kelas masing-masing perkara Pak Cahyono yang kejam itu.
__ADS_1
Agung masuk ke kelas bersama sekelompok siswa laki-laki.
"Itu si Agung. Dia wakil ketua kelas." Terang Amanda.
"Hemmm... Gapapa, aku tunggu Vino aja." Ucap Ryan.
"Ohh... Ya sudah..." Desis Amanda.
"Heiii... Jangan lupa ya, batas waktu terakhir pengumpulan essay kita tinggal tiga hari lagi." Ryan mendadak teringat batas waktu lomba essay dan langsung mengingatkan Amanda.
"Sippp..." Tukas Amanda.
"Aku yakin kamu bisa jadi juara!" Seru Amanda.
"Hahaha... Bagaimana kamu bisa berkata begitu, Amanda?" Ryan tersenyum simpul.
"Ya bisa dong! Selama coaching, essay kamu selalu yang paling bagus di antara kita." Ujar Amanda apa adanya.
Ryan tertawa pelan. Dia mulai memperhatikan sosok Vino yang tiba-tiba muncul di depan kelas.
"Tuh... Si ketua kelas udah masuk!" Helena berkata pada Ryan.
"Hemmm... OK. One minute, aku mau bicara sebentar sama dia." Ryan melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.
Ryan bangun dan berjalan ke arah bangku Vino. Helena berbisik pada Amanda, "Kita lihat reaksi si songong itu gimana..."
Amanda dan Helena terkikik pelan di bangku mereka.
"Hahaha... Iya ya... Pasti lucu." Amanda terkekeh sendiri.
"Bakalan digubris ga itu ya si Ryan sama si songong?" Helena menggumam.
"Ya, pasti digubris lah. Mereka kan udah saling kenal." Jawab Amanda.
"Oh ya!? Kata siapa? Kamu tahu dari mana?" Tanya Helena.
"Iya, mereka kan teman sekelas waktu SMP dulu." Ujar Amanda.
"Hahh... Benarkah?!" Helena seolah ragu dengan perkataan Amanda.
"Iya... Kan teman kamu yang ngomong gitu. Mereka yang sekelas sama Ryan itu loh..." Terang Amanda.
"Ohhh... Iya iya..." Helena langsung teringat teman-temannya yang sekelas dengan Ryan, yaitu Rosalia dan Eva.
Helena menyikut lengan Amanda ketika melihat Ryan sudah berdiri di depan Vino yang sedang duduk santai di bangkunya.
"Hihihihhh... Lihat tuh! Muka si Vino lucu banget!" Amanda cekikikan sendiri.
Helena dan Amanda diam-diam mempertajam pendengaran mereka dan sesekali melirik ke arah Ryan dan Vino. Terlihat Ahmad juga berdiri di samping Vino.
"Vino, gimana kalau kita menghadap wakil kurikulum aja langsung?" Ryan mencoba memberi saran.
__ADS_1
Vino terdiam di bangkunya. Dia sedang mempertimbangkan saran yang disampaikan oleh Ryan. Dalam hatinya, Vino bersungut-sungut sendiri. Ia sangat tidak suka direpotkan untuk hal-hal begini.
"Gua setuju!" Seru Ahmad yang sejak tadi diam memperhatikan obrolan antara Ryan dan Vino.
"Karena yang beginian ga bisa dibiarkan! Gila aja, dia maen nilai, boss!" Suara Ahmad terdengar begitu kesal.
Sekelompok siswa laki-laki di sekeliling mereka menoleh. Seorang siswa bahkan ikut menimpali, "Ga sportif banget! Guru macam apa itu? Ga suka dikritik! Huhhh..."
Siswa-siswa lain bersorak. Mereka semua setuju jika Pak Cahyono disingkirkan saja dari kelas mereka.
Vino memperhatikan ekspresi teman-teman sekelasnya yang terlihat sebal. Dia mendengus dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Trus... Gua harus gimana, Mad?" Vino meminta pendapat Ahmad.
"Ya, udah bener kata dia. Kita lapor langsung ke wakil kurikulum." Ujar Ahmad mengiyakan saran dari Ryan tadi.
"Hemmm..." Vino menggumam.
"Siapa sih wakil kurikulum di sini?" Tanya Vino.
"Itu mah gampang! Aku bisa cari tahu." Sahut Ryan.
"Yang penting, persetujuan dulu dari kita semua. Kapan kita menghadap barengan?" Sambung Ryan.
Ahmad manggut-manggut. Dia lalu memanggil Agung yang terlihat sedang asyik ngobrol di depan kelas.
"Agung! Sini lo!" Panggil Ahmad.
Agung menoleh ke arah Ahmad dan dia menganggukkan kepalanya.
"Saran dari gue nih ya... Elo berdua ama Agung. Elo, Ryan... Ajak wakil ketua kelas lo juga. Jadi kalian berempat ke sana." Ahmad menjelaskan strateginya ketika Agung sudah berkumpul bersama mereka.
"Hemmm... Good idea!" Ujar Ryan.
"Ahhh... Repot bener! Kenapa ga lo aja Mad yang pegi sama Ryan!" Tukas Vino sekonyong-konyong.
"Yaelahh... Bangsat! Pan elo yang jadi ketua kelas!" Sungut Ahmad.
"Gua gebukin juga elo baru nyahok!" Ahmad terlihat geram.
Vino mendengus kesal. Ahmad terlihat lebih kesal lagi. Berdiskusi dengan Vino benar-benar menguras emosinya.
"Ya sudah... Kapan kita ke sana?" Tanya Agung, berusaha menengahi perseturuan antara Ahmad dan Vino.
"Hemmm... Aku coba cari info dulu siapa wakil kurikulum sekarang. Kalau beliau ada di tempat, besok pagi kita bisa menghadap." Tutur Ryan.
"OK... OK..." Ucap Agung.
Bel tanda waktu istirahat usai telah terdengar di seantero SMA Adhiyaksa. Ryan buru-buru keluar meninggalkan kelas I-2.
Helena geleng-geleng kepala melihat perdebatan di antara Vino dan teman-temannya.
__ADS_1
"Memang gada otak dia!" Umpat Helena kesal.