
Amanda menyalami tangan ayahnya sebelum turun dari mobil. Dia melihat di luar hujan sudah mulai berubah menjadi gerimis-gerimis halus. Amanda bersyukur di dalam hati.
"Pakai payungnya, Amanda. Tidak baik juga kamu kena hujan pagi-pagi." Ayah Amanda mengingatkan Amanda lagi.
"Ummm... Iya, ayah." Sahut Amanda sambil menggenggam payung di tangan kanannya.
Amanda bergegas keluar dari mobil tua ayahnya dan membuka payung lipat yang sudah dipersiapkannya tadi dari rumah.
Benar kata ayah Amanda, udara di luar cukup dingin. Jika Amanda terkena hujan gerimis pagi ini, dia bisa saja menggigil kedinginan nanti di dalam kelas.
Amanda melangkah dengan cepat agar bisa segera sampai di gerbang SMA Adhyaksa. Ayah Amanda tadi tidak bisa berhenti di dekat gerbang sekolah karena sejumlah mobil-mobil lainnya sudah lebih dahulu berada di sana.
Oleh sebab itu, Amanda terpaksa berjalan kaki agak jauh untuk mencapai gerbang sekolahnya.
DEG!!!
Jantung Amanda seakan berhenti berdetak ketika tanpa sengaja dia menoleh ke seberang jalan dan melihat sosok seorang cowok yang sangat dikenalinya ada di sana.
Doni berjalan dengan tenang. Seolah gerimis bukan suatu masalah baginya. Dia menyeberang jalan dengan cepat ketika kendaraan yang lalu lalang terlihat agak sepi di jalan itu.
Amanda semakin deg-degan ketika Doni menatapnya dari kejauhan. Seakan-akan ada telepati khusus di antara mereka berdua.
Doni terlihat begitu tampan dengan latar gerimis halus di sekitarnya. Amanda tidak sadar dirinya begitu terpesona pagi itu, sampai-sampai dia menghentikan langkahnya dan menatap lurus-lurus ke arah Doni.
Suasana di depan gerbang SMA Adhyaksa sesungguhnya tidaklah sepi. Banyak siswa yang hilir mudik di sana. Ada yang menggunakan payung, ada juga yang tidak. Ada yang berjalan santai ada juga yang berlari-lari kecil di tengah gerimis halus yang masih saja turun.
Meskipun suasana seramai itu, tetapi sepertinya Amanda tidak menyadari hal itu. Ia seolah sudah terhipnotis dengan kehadiran Doni pagi ini.
Entah mungkin efek rasa rindu yang mulai hadir di hatinya sejak kemarin siang, atau efek sempurnanya tampilan Doni saat ini. Padahal Doni hanya menggunakan seragam sekolah, putih abu-abu. Tetapi dia betul-betul bersinar kali ini di mata Amanda.
Amanda betul-betul terhipnotis hingga ia tidak menyadari Doni sudah berdiri di depannya.
Doni tersenyum tipis dan menatap Amanda dalam-dalam. Dia sungguh sangat memendam rindu terhadap gadis sederhana yang berdiri mematung di bawah payung.
Doni mengambil payung yang digenggam Amanda. Dia memayungi Amanda dan dirinya. Berdua mereka kini berdiri begitu dekat di bawah payung dengan latar siluet gerimis halus. Angin dingin semilir bertiup, menambah romantis suasana.
__ADS_1
Amanda merasa dirinya seperti kesetrum arus listrik kecil ketika jari-jemari Doni yang panjang itu menyentuh jemarinya dengan lembut. Dia membiarkan Doni menggenggam payungnya.
Rona merah kini terlihat jelas di wajah Amanda. Amanda menundukkan pandangannya. Dia tidak mampu lagi menatap Doni yang sejak tadi tidak juga mengalihkan tatapannya dari matanya.
Beradu pandang dengan Doni saat ini adalah hal yang berat bagi Amanda. Dia tidak kuat. Tatapan Doni sungguh semakin mendebarkan hatinya.
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Amanda. Begitu juga dengan Doni. Gerimis halus turun semakin deras. Namun sepertinya kedua siswa SMA Adhyaksa yang sedang dimabuk rindu itu tidak menyadari suasana di sekitar mereka.
Doni semakin gemas melihat Amanda yang menunduk malu-malu dengan wajah merona. Ia menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Amanda.
Amanda bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Doni di wajahnya. Amanda merasa wajahnya panas padahal tubuhnya mulai merasa kedinginan karena rintik hujan mulai sedikit membasahi bagian bahunya.
"Ayo..." Desis Doni dan menuntun Amanda berjalan menuju koridor sekolah karena hujan sudah mulai turun deras kembali.
Amanda mengikuti langkah Doni dengan hati berdebar-debar tidak karuan. Namun dia masih saja terdiam, tidak tahu apa yang harus diucapkan.
"Terima kasih." Ucap Doni dan mengibas-ngibas payung lipat Amanda agar sisa-sisa air hujan yang bertengger di sana berkurang.
"Ini, payung kamu." Ujar Doni lagi dan berjalan cepat menuju kelasnya.
Amanda terhenyak ketika menyadari Doni telah meninggalkan dirinya. Dia menatap punggung Doni. Dia sepertinya masih saja terpesona dalam diam.
Amanda menoleh ke arah payungnya. Dia melipat kembali payungnya yang basah. Sungguh bukan hanya payungnya saja yang basah, namun hatinya juga.
Amanda tidak menyadari sepasang mata sejak tadi memperhatikan dirinya. Seorang cowok bertubuh tinggi berjalan pelan-pelan mendekatinya.
"Ehemmm..." Ryan berdehem di belakang Amanda membuat Amanda terkejut dan hampir saja menjatuhkan payung yang sedang digenggamnya.
"Errrrr... Kamu..." Ujar Amanda.
"Hemmm... Kapan kita sepayung berdua?" Goda Ryan.
Wajah Amanda Kembali merona. Dia merasa kata-kata Ryan adalah sebuah sindiran bagi dirinya.
"Apa sejak tadi dia melihat aku dan Doni sepayung berdua?" Amanda bertanya dalam hati.
__ADS_1
Ryan tersenyum simpul. Dia semakin bersemangat untuk menggoda Amanda.
"Hujan-hujan gini... Bisa lebih hangat kalau berduaan sama kamu..." Ryan mengeluarkan kata-kata gombal yang terdengar menjijikkan bagi Amanda.
"Idih! Amit-amit... Apa-apaan sih kamu!" Amanda mulai sewot.
"Raja gombal satu ini... Ga hujan, ga panas... Ada aja gombalnya!" Amanda membatin kesal.
Amanda tidak ingin mendengar lebih banyak bualan lagi dari mulut Ryan. Dia berjalan cepat-cepat menuju kelasnya dan meninggalkan Ryan di belakang.
Ryan terkekeh-kekeh melihat Amanda mulai panik. Dia mengejar Amanda dan dengan mudah menyamai langkahnya.
"Awwww!!" Amanda berteriak refleks ketika tangan Ryan menyentuh bahunya.
Lebih tepatnya Ryan berusaha merangkulnya. Amanda kaget sekali. Dia menepis tangan Ryan dan menatap Ryan kesal.
"Yang sopan kamu!" Ujar Amanda ketus.
Ryan terhenyak sejenak. Dia menatap Amanda yang terlihat kesal sekali.
"Hei... Kenapa semarah itu?" Tanya Ryan.
"Ya, kamu yang sopan dong! Maen pegang-pegang aja!" Sahut Amanda masih dengan nada tidak senang.
"OK... OK... Aku salah! Aku minta maaf. Tapi aku cuma bercanda. Aku kan ga melakukan hal yang salah atau ga sopan sama kamu." Ryan mencoba mencari alasan agar Amanda bisa terlihat lebih santai.
"Ah... Terserah!" Tukas Amanda.
Amanda bergegas masuk ke kelas. Dia tidak mau menoleh ke arah Ryan. Dia betul-betul kesal dengan sikap Ryan pagi ini.
Ryan tersenyum sendiri. Dia juga masuk ke kelasnya dan bercanda lagi dengan teman-temannya di dalam kelas.
Ryan sama sekali tidak tahu bahwa Doni sudah memperhatikan gerak-geriknya sejak dia mendekati Amanda tadi.
Doni berfikir jika saja Ryan tidak berhenti mengganggu Amanda, dia akan menghardik Ryan.
__ADS_1
Doni tidak suka melihat Ryan mendekati Amanda dengan cara seperti itu. Dia merasa cemburu.
----------