
Helena menatap sedih Amanda. Matanya masih sembap. Amanda bingung harus bersikap bagaimana. Ia merasa patah hati, berduka. Tapi mengapa Helena kelihatannya lebih terluka? "Hufffttt... Ada-ada saja." Amanda menggerutu dalam hati.
Sejak tadi malam Helena menelpon dirinya dan menangis parah, Amanda jadi kepikiran sendiri. Mengapa Helena bisa segalau itu? Ternyata selama ini Helena sangat mengidolakan kak Edo.
"Aku ga nyangka... Huhuhu..." Helena tersedu-sedu. Amanda menarik nafas panjang. Dia sedang berfikir apa yang sebaiknya dia ucapkan untuk menguatkan Helena, sekaligus dirinya sendiri.
"Ini memang di luar dugaan ya... Aku juga ga nyangka, Helen." Ujar Amanda pilu. Helena semakin sesenggukan. Amanda memperhatikan sekeliling mereka. Ia khawatir kalau-kalau ada yang memperhatikan mereka berdua.
Amanda dan Helena duduk di taman. Helena sengaja mengajak Amanda ke sana karena merasa tempat itu lebih aman baginya. Dia ingin curhat tentang hatinya yang sedang hancur karena kak Edo.
Taman ini lumayan sepi. Tidak banyak siswa yang lalu lalang di sekitar tempat mereka duduk. Helena kembali menyeka air matanya.
"Kenapa dia jadi lebih sedih dari aku? Apa cintanya untuk kak Edo lebih besar lagi?" Amanda bertanya-tanya dalam hati. Dia sendiri merasa heran mengapa Helena terlihat lebih terpuruk. Dunia ini memang aneh...
"Sudahlah Helen... Kamu sabar ya! Aku ngerti kamu lagi sedih. Aku juga ikut merasakannya..." Amanda mulai mencoba berempati dengan kesedihan teman sebangkunya itu. Dia menepuk-nepuk lembut bahu Helena.
Sebungkus tissue sudah dihabiskan oleh Helena untuk menyeka air matanya. Amanda melengos... "Terus kesedihan aku gimana? Kok malah jadi aneh gini..." Gumam Amanda dalam hati.
"Pasti banyak cowok lain yang tertarik sama kamu. Kamu kan cantik, Helen... Jangan sedih lagi ya." Amanda mencoba menyemangati Helena.
Helena terdiam sejenak. Ia sepertinya mulai terpengaruh dengan kata-kata Amanda. "Senyum dong! Ayo senyum!" Ujar Amanda berpura-pura terlihat ceria.
Helena berusaha tersenyum. "Mungkin saja Vino adalah jodoh kamu." Ujar Amanda sekenanya. Dia mencoba menahan tawanya.
"Apa!? Si gila itu! Ogah ah! Sampe kiamat juga aku ga bakalan suka sama dia ya, ingat itu!" Helena mulai mengamuk. Amanda refleks tertawa.
__ADS_1
Sebenarnya hatinya sedang sedih. Namun melihat ekspresi kesal Helena membangkitkan semangatnya untuk tertawa. Wajah Helena terlihat lucu sekali kalau sudah manyun begitu.
"Kamu tuh yang cocok sama dia! Kali aja si gendeng itu emang jodoh kamu!" Tukas Helena.
"Hah!? Kok aku sih?" Amanda tertawa terbahak-bahak. Kenapa mereka malah jadi meng-ghibah tentang Vino.
Helena mencibir. "Huhhh... Lihat aja, aku pasti bisa dapetin cowok yang lebih keren dari kak Edo!" Ucap Helena.
"Iya, aku yakin itu!" Ujar Amanda sambil tersenyum. Helena kelihatan sudah lebih ceria walaupun matanya masih terlihat sembap dan kemerahan.
Di balik senyuman Amanda, ada luka yang lebih dalam. "Kamu pasti bisa dapat cowok yang lebih keren. Ga kayak aku... Aku mah bisa apa..." Amanda menggumam pilu di dalam hati.
Perbedaan kasta di antara mereka yang mencolok tentu saja membuat Amanda semakin insecure. Amanda menyadari posisinya. Kejadian ini membuat dirinya semakin merasa minder berada di sekolah elite itu. Amanda menghela nafas panjang. Mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar paru-parunya lebih rileks.
"Gimana? Kita balik ke kelas?" Tanya Amanda. Ia melirik jam tangannya. Lima menit lagi bel tanda masuk kelas akan berbunyi.
Amanda tersenyum. Dalam hatinya ia ingin berteriak, "Lalu siapa yang mau mendengar curhatanku?!"
Tidak lucu kalau dia juga ikut-ikutan menceritakan perasaan patah hatinya terhadap kak Edo. Helena pasti shock. Lagipula Amanda tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Cukup dia dan Tuhan saja yang tahu betapa dia sangat kecewa karena sekian lama cintanya bertepuk sebelah tangan.
Amanda sadar sepenuhnya dia memang tidak layak disukai atau dicintai oleh cowok sekeren kak Edo. Dia tidak punya kelebihan apapun. Dunia hanya akan mencibir dirinya jika itu sampai terjadi.
Amanda dan Helena berjalan lesu menuju ke kelas mereka. Masing-masing merasa galau dengan perasaannya sendiri.
Dua orang gadis itu tengah berduka, mereka sedang kecewa, patah hati dengan cowok yang sama.
__ADS_1
Perbedaannya adalah, yang satu meluapkan emosinya dengan meledak-ledak. Yang satunya lagi, menahan sendiri rasa sedihnya.
Jika saat ini Helena sudah mulai merasa sedikit plong, tidak begitu halnya dengan Amanda. Dia masih merasa begitu nelangsa. Masih berusaha menguatkan diri menghadapi kenyataan bahwa mencintai tidak harus memiliki.
Sambil berjalan, Amanda terus saja menunduk lesu. Ia ingin sekali menangis. Namun ia tidak boleh terlihat lemah, tidak di sekolah ini. Amanda bukanlah seorang gadis yang cengeng. Dia tidak boleh terlihat menangis. Tidak boleh ada air mata yang jatuh. Tidak boleh...
Amanda menengadahkan kepalanya, berusaha menikmati sinar mentari yang menyentuh wajahnya dengan hangat. Matahari bersinar cerah pagi ini, namun masih terselubungi kabut tipis sisa-sisa hujan semalam. Helena yang berjalan di sampingnya terdiam membisu. Amanda tidak ingin mengganggunya. Ia membiarkan saja dulu Helena dengan fikirannya sendiri.
Sosok cowok yang sudah dikenali Amanda terlihat di sudut matanya. Cowok itu sedang berdiri dengan posisi setengah bersandar di dinding kelas I-6. Sinar matahari menyinarinya dengan sempurna. Amanda terkesima.
"Anak aneh itu selalu berkilau di bawah sinar matahari. Apa dia anaknya dewa matahari ya?" Amanda mulai halu. Dia teringat dongeng yang sering dibacanya tentang kisah-kisah para dewa yang luar biasa.
Melalui tatapannya yang tajam, Doni menyadari ada seseorang yang diam-diam sedang memperhatikannya. Dia tersenyum tipis, sinis. Dari kejauhan dia menatap Amanda yang terlihat sedikit salah tingkah.
"Dihhh... Tahu aja itu orang kalau dilihatin!" Gumam Amanda gusar. Amanda selalu merasa risih jika Doni menatapnya begitu. Bahkan dari jarak yang cukup jauh begini pun, Amanda tetap saja seolah merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Doni.
Bel tanda masuk berbunyi nyaring, mengagetkan Helena yang sedang melamun sambil berjalan. "Ehh... Ayo, buruan!" Helena mempercepat langkahnya. Amanda mengikutinya sambil sekali lagi melirik ke arah Doni yang sudah menghilang. Sepertinya dia sudah masuk ke kelasnya.
"Tuh! Noh, jodoh kamu!" Desis Helena. Dia menyikut lengan Amanda. "Apa?" Tanya Amanda. Dia tadi sedang memikirkan sesuatu sehingga tidak mengerti maksud perkataan Helena.
Helena menunjuk melalui lirikan matanya ke arah Vino. "Jodoh sejati kamu!" Bisik Helena. Amanda tertawa kecil. "Aku!? Kamu kelessss!" Balas Amanda usil. Mereka terkikik sendiri.
Amanda senang melihat raut wajah Helena yang sudah mulai ceria kembali. Mereka berdua duduk di bangku masing-masing.
"Terima kasih ya Amanda. Kamu baik banget udah mau dengerin curhatan aku..." Bisik Helena. Ia menggenggam tangan Amanda sambil tersenyum.
__ADS_1
"That's what friends are for..." Ucap Amanda sambil membalas senyum Helena.
"Artinya? Jangan sok English deh... Kamu kan tahu aku payah dalam bidang itu!" Komentar Helena sambil tertawa. Amanda pun terkekeh-kekeh melihat ekspresi Helena yang berpura-pura culun.