Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Diantar Pulang oleh Ryan


__ADS_3

Amanda tertawa bahagia ketika ia dan Ryan keluar dari sebuah gedung aula di SMA Negeri 10.


Ia membawa piala dengan bangga dan sibuk sendiri dengan ponselnya.


Cekrek! Cekrek! Cekrek!


Sesekali dia ngoceh sendiri. Entah apa yang dikatakannya, Ryan tidak begitu jelas mendengarnya.


"Hemmm... Amanda!" Panggil Ryan.


Amanda hanya menoleh sejenak kemudian ia sibuk lagi dengan ponselnya.


Ryan geleng-geleng kepala melihat tindak-tanduk Amanda.


"Dasar cewek! Kalau udah selfie, ga bakalan kelar-kelar!" Gerutu Ryan.


"Hey, Amanda! My baby!" Teriak Ryan.


Trik Ryan berhasil. Amanda langsung melihat ke arah Ryan dengan wajah tidak senang.


"Apaan sih?!" Amanda mulai ngedumel lagi.


"Kamu selfie terus, ga ngajak-ngajak aku!" Sahut Ryan sekenanya.


"Ya, namanya juga selfie. Selfie artinya berfoto sendirian! Kalau berdua sama kamu, bukan selfie lagi dong namanya!" Kilah Amanda.


"Emang apa namanya kalau kita berfoto berdua?" Tanya Ryan, berpura-pura tidak tahu.


"Wefie!" Jawab Amanda singkat. Ia tersenyum simpul ke arah Ryan.


"Ya! Ya! Ya! Terserah kamu saja, yang penting kamu bahagia lahir batin!" Ujar Ryan asal. Amanda menjulurkan lidahnya untuk meledek Ryan.


Ryan mendekati Amanda. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Ayo, kita selfie!" Ajak Ryan.


Amanda berusaha mengelak tetapi kalah sigap dari Ryan.


"Ah... Yang bagus dong, Amanda!" Protes Ryan.


"Kamu ga pake kode sih!" Amanda ngeles.


Akhirnya Amanda dan Ryan berhasil mendapatkan pose terbaik mereka setelah melalui beberapa kali jepretan.


Ponsel Ryan tiba-tiba berdering nyaring. Nama Pak Samsul tertera di layar ponsel tersebut.


"Iya, Pak Sam. OK. Terima kasih." Ucap Ryan sebelum mengakhiri panggilan.


"Amanda, ayo aku antar kamu pulang!" Ryan berkata pada Amanda yang masih sibuk memilih foto terbaik yang akan dipasangnya di story WA dan IG.


Amanda mendongak. Matanya dan mata Ryan tanpa sengaja saling beradu pandang.


"Hahhh... Apa?!" Tanya Amanda yang sedikit terlihat kaget.

__ADS_1


"Hemmm... Aku bisa pulang sendiri, Ryan! Terima kasih, kamu tidak perlu repot-repot." Ujar Amanda.


"Hey... Siapa yang repot?!"


"Ayo! Pak Sam sudah menunggu kita di depan gerbang." Tukas Ryan tidak sabar.


Amanda terpaksa mengikuti langkah kaki Ryan lagi. Dia juga merasa tidak enak jika menolak ajakan Ryan.


Sebentar saja keduanya sudah masuk ke dalam mobil sedan Ryan yang mewah.


"Kita nganterin Amanda dulu ya, Pak Sam!" Ryan berkata pada Pak Sam yang sedang mengemudi di sampingnya.


Amanda hanya duduk manis di jok belakang. Dia diam saja sampai Ryan menanyakan arah jalan menuju ke rumahnya. Amanda menjelaskan rute menuju ke rumahnya. Ia menjelaskan panjang lebar membuat Ryan bosan mendengarnya.


"OK! OK! Tenang saja, Amanda. Kamu akan tiba dengan selamat sampai ke rumah."


"Pak Sam is the best driver!" Seru Ryan dengan senyum jahilnya.


Pak Samsul tertawa sambil geleng-geleng kepala.


Hari sudah beranjak sore. Tetapi situasi di jalan cukup kondusif sore ini. Jalan tidak macet sama sekali sehingga tidak sampai dua puluh menit, Amanda sudah tiba di rumahnya.


"Kamu ga singgah dulu, Ryan?" Amanda berbasa-basi.


"Hemmm... Terima kasih atas tawarannya. Lain kali ya, Amanda. Udah sore nih, aku ada kegiatan lain sore ini." Ujar Ryan.


"Baiklah. Terima kasih, Ryan. Terima kasih, Pak Sam!" Amanda berkata sambil tersenyum ramah sebelum dia menutup pintu mobil Ryan.


Setelah mobil Ryan berlalu, Amanda mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumahnya. Ayah Amanda yang sedang berada di ruang tamu menjawab salam dari Amanda.


"Siapa itu?" Tanya ayah Amanda.


"Oh... Itu tadi teman Amanda, Pak." Jawab Amanda.


"Teman satu sekolah?" Tanya Bapak lagi.


"Iya." Sahut Amanda.


"Hemmm..." Gumam Bapak.


Bapak memperhatikan piala yang dibawa oleh Amanda.


"Amanda menang lomba menulis essay di SMA Negeri 10, Pak." Ujar Amanda dengan wajah ceria.


"Alhamdulillah... Bagus! Bapak ikut senang."


"Iya, pak. Tadi Amanda dan teman Amanda yang barusan nganterin pulang itu ke sekolah buat ngambil piala dan hadiahnya." Terang Amanda.


"Amanda juga sudah minta izin ke Ibu tadi siang."


Setelah Bapak diam dan tidak melanjutkan lagi pertanyaan berikutnya, Amanda langsung masuk ke kamar.


Bapak terdiam. Pria paruh baya itu menyadari kini anak gadisnya telah mulai beranjak dewasa. Pria paruh baya itu sangat berharap anak gadisnya ini bisa menjadi orang yang sukses di masa depan dan tidak salah dalam pergaulan.

__ADS_1


Pergaulan muda-mudi saat ini sungguh sangat mengkhawatirkan. Banyak para orang tua gelisah membayangkan anak-anak mereka terjebak dalam pergaulan yang salah.


Narkoba, sebagai contoh. Tidak sedikit para remaja yang sudah menjadi korban penyalah gunaan narkotika dan barang-barang sejenisnya. Berawal dari iseng mencoba, ikut-ikutan teman, akhirnya berujung pada kecanduan.


Syaraf-syaraf di otak mereka menjadi rusak dan terganggu. Sehingga lama kelamaan, kesehatan fisik dan mental mereka juga ikut terganggu. Hal ini tentu saja sangat mengerikan dan merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya.


Ayah Amanda menghela nafasnya. Pria itu menyadari betapa penting untuk selalu menasehati anak-anak akan bahaya narkoba tersebut. Tentu saja memperhatikan pergaulan mereka menjadi hal utama yang tidak boleh diabaikan oleh para orang tua.


Kini puteri tertuanya telah beranjak remaja. Ayah Amanda menyadari dirinya harus lebih banyak memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya. Pria paruh baya tersebut tidak ingin hal-hal buruk terjadi pada semua anak-anaknya.


"Ibu..." Panggil ayah Amanda ketika Ibu lewat di hadapan Ayah Amanda.


"Iya, ada apa Pak?" Tanya ibu.


"Duduk dulu, Bu..." Perintah Ayah Amanda.


Ibu langsung menuruti perintah ayah Amanda.


"Ada yang ingin Bapak bicarakan, Bu..." Ucap Ayah Amanda.


"Oh ya... Apa itu, Pak?" Ibu terlihat bersiap-siap mendengarkan kata-kata ayah selanjutnya.


"Begini, Bu... Ini tentang anak-anak..." Ayah Amanda berkata dengan suara pelan.


"Magdalena dan Mutiara sedang main di rumah temannya... Amanda sepertinya di kamar, dia baru saja pulang dari sekolah." Terang Ibu.


"Ya... Bapak mau bicara tentang Amanda."


"Amanda? Ada apa, Pak?" Ibu mulai khawatir karena melihat raut wajah Ayah Amanda yang cukup serius.


Ibu bisa menebak pasti ada hal penting yang akan disampaikan oleh Ayah Amanda.


"Bapak perhatikan sepertinya selama ini Amanda sudah memiliki banyak teman laki-laki..." Ayah Amanda mulai berkata-kata.


"Hemmm..." Ibu menggumam dan mengangguk.


"Ini tidak terlalu baik, Bu."


"Apakah Amanda pernah bercerita tentang teman-temannya di sekolah? Atau mungkin tentang pergaulannya selama ini?" Tanya Ayah Amanda.


"Sepertinya tidak, Pak... Ibu juga tidak pernah bertanya jauh..." Sahut Ibu yang mulai merasa bersalah.


"Kalau begitu, Ibu perlu sering-sering bertanya... Kita tidak boleh lengah, Bu..." Ujar Ayah Amanda tegas.


"Baik, Pak... Nanti Ibu akan cari tahu lebih jauh."


"Maafkan Ibu yang mungkin telah lalai dalam hal ini..."


"Ya, kita harus saling menjaga... Demi masa depan anak-anak kita, Bu."


"Benar sekali, Pak... Ibu sependapat..." Sahut Ibu sambil tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2