
Doni duduk dengan kaku dan terlihat tegang di jok depan. Wajahnya sangat serius. Tuan Alfred beberapa kali melirik melalui spion depan. Sekretaris pribadi Doni itu mulai berhalusinasi sendiri.
"Apa yang sedang difikirkan Tuan Muda?" Tuan Alfred bertanya-tanya dalam hati.
Sejak kembali dari kunjungan kerja mereka ke Jepang, Tuan Alfred memperhatikan ada beberapa perubahan pada diri Tuan Muda Anthony.
Tuan Muda Anthony terlihat lebih serius, seolah lebih banyak berfikir. Namun Tuan Alfred masih belum bisa menebak dengan pasti apa yang sedang difikirkan oleh Tuan Muda Anthony.
Apakah hubungan kerja sama perusahaan telah menjadi beban besar bagi dirinya? Atau mungkin ada hal lain yang sedang memenuhi fikiran tuannya itu.
Yang jelas, sejak pulang sekolah tadi siang, Tuan Muda Anthony terus saja memasang wajah serius dan tegang.
"Apa mungkin tentang gadis itu?" Batin Tuan Alfred.
Tuan Alfred lalu berbelok menuju ke arah sebuah villa yang estetik dan nyaman. Tumbuh-tumbuhan di sekitar pekarangan villa terlihat sangat terawat. Asri sekali.
"Kita sampai, Tuan Muda." Ujar Tuan Alfred sopan.
Doni tersentak kaget. Sepertinya sejak tadi dia tenggelam dalam fikirannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa dirinya kini telah tiba di kediaman Ryan.
"Oh... OK. Terima kasih, Tuan Alfred." Ujar Doni singkat dan melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya.
"Saya akan menghubungi anda kembali setelah kegiatan kami selesai." Ucap Doni.
"Siap, Tuan Muda." Sahut Tuan Alfred.
Tuan Alfred bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil agar Tuan Muda Anthony bisa keluar.
Doni keluar dari mobil Oddysey berwarna Platinum White Pearl dengan anggun. Seperti biasa, ia melangkah dengan gagah menuju pintu masuk villa.
Amanda terkesima melihat mobil mewah yang baru saja melewatinya.
"Wowww... Kerennn... Ckckckck..." Amanda berdecak kagum.
Amanda telah tiba di pos satpam. Driver ojek online yang membawa Amanda diperiksa sesaat di pos security sebelum diizinkan masuk ke dalam pekarangan villa.
Amanda bergegas turun dari motor dan berlari cepat ketika melihat sosok Doni berdiri di depan villa.
"Doni! Tunggu aku!" Seru Amanda.
Doni berbalik badan dan melihat Amanda menghampirinya dengan terengah-engah.
"Ehhh... Aku kira kamu ga bakalan datang." Ujar Amanda sambil mengatur deru nafasnya.
"Hemmm..." Doni menggumam.
"Hehehe... Tapi aku senang kok, kamu akhirnya datang juga... Hehehe..." Amanda terkekeh sendiri melihat reaksi Doni yang kaku dan sedikit menyeramkan.
__ADS_1
Sesungguhnya Doni sangat tidak suka berada di villa itu. Dia telah menunda segudang pekerjaannya yang sangat penting demi mengikuti kegiatan ini bersama Amanda.
Tentu saja Doni tidak rela jika Amanda menghabiskan waktu sore ini berduaan dengan Ryan di sini. Meskipun sebenarnya mereka tidak benar-benar berdua. Penghuni villa ini tentu bukan hanya Ryan seorang diri.
Lagipula ada coach Winnie yang akan menemani dan membimbing mereka belajar menulis essay. Tapi tetap saja Doni tidak suka Amanda ada di villa itu bersama Ryan.
"Huhhh... Ini anak, mau belajar nulis essay apa belajar tinju ya? Tegang banget itu muka, kayak tali jemuran." Amanda menggerutu dalam hati.
Seorang wanita tergopoh-gopoh menghampiri mereka di teras depan.
"Oh... Tamunya nak Ryan sudah tiba ya. Mari nak... Silahkan masuk..." Bu Surti mempersilahkan Doni dan Amanda masuk ke dalam.
Amanda dan Doni mengikuti Bu Surti menuju ke sebuah ruangan yang luas dan mewah. Semua perabotan tertata rapi. Amanda suka sekali suasana di ruangan tersebut.
Bu Surti lalu mempersilahkan mereka berdua duduk di sebuah sofa besar di tengah ruangan. Minuman dan cemilan sore sudah disiapkan oleh Bu Surti di atas meja.
"Nak Ryan sepertinya sedang mandi, silahkan dicicipi dulu teh dan cemilannya. Sebentar lagi nak Ryan akan turun." Jelas Bu Surti sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih, bu... Atas jamuan sorenya..." Ucap Amanda sopan.
Bu Surti mengangguk dan berpamitan pada Doni dan Amanda untuk kembali ke dapur. Masih banyak pekerjaan di belakang yang menanti Bu Surti.
Amanda menatap berkeliling. Tatapan matanya terfokus pada sebuah pigura besar di dinding. Sebuah foto keluarga yang epik terpampang di sana.
"Wahhh... Ibunya Ryan cantik sekali ya..." Puji Amanda.
"Hemmm..." Gumam Doni sambil melirik ke arah pigura tersebut.
"Hi guys... Makasih udah datang. Sorry, udah buat kalian nunggu!" Ujar Ryan ramah.
"Ehh... Ryan... Gapapa kok... Santai aja..." Sambut Amanda ceria.
Sekilas raut wajah Doni berubah. Tatapannya tajam ke arah Amanda. Untung saja Ryan dan Amanda tidak menyadari hal itu.
"Hemmm... Kita tunggu coach Winnie datang ya. Udah otewe katanya." Kata Ryan santai.
Ryan kemudian terlihat sibuk mengetikkan beberapa kalimat di ponselnya. Amanda menatap Ryan dengan tatapan serius. Sedangkan Doni menatap Amanda tajam seperti biasanya.
"Anyway, kalian udah pada nentuin topiknya belum?" Tanya Ryan pada Doni dan Amanda.
Amanda menoleh ke arah Doni. Ia lalu menatap Ryan lagi. "Topik?" Amanda bertanya balik.
"Hemmm... Belum sih... Aku masih bingung." Sambung Amanda lesu.
"Oh... It's OK. Coach Winnie akan membimbing kita nanti. Semuanya akan lebih terarah setelah belajar." Ujar Ryan mencoba menyemangati Amanda.
Ryan melirik Doni. "Silent mode terus dia!" Ryan berkata dalam hati.
__ADS_1
"Ayo kita ke ruang baca!" Ajak Ryan.
Amanda mengangguk dan menyusul Ryan menuju ruang yang dimaksud. Doni mengikuti mereka dari belakang.
"Wahhh... Ternyata kamu langganan juara ya!" Amanda berseru penuh kekaguman ketika melihat pajangan aneka piala dan piagam penghargaan yang diterima oleh Ryan.
"Hahaha... Itu cuma kebetulan..." Ujar Ryan merendah.
"Ahhh... Mana mungkin kebetulan, kalau sebanyak ini!" Tukas Amanda.
"Kamu pasti bisa menang di lomba essay kali ini." Amanda berkata dengan nada optimis.
"Hahaha... Semoga saja bisa menang..." Ryan mengambil binder note dan beberapa alat tulis lalu meletakkannya di atas meja.
Doni duduk berhadapan dengan Ryan. Amanda memilih duduk di sebelah Doni.
"Topiknya menarik semua. Tapi sepertinya yang ini kelihatan lebih sulit dari yang lainnya." Ryan menyodorkan selembar brosur ke hadapan Amanda dan Doni, lalu menunjuk topik yang dimaksud.
"Trus kamu milih topik ini?" Tanya Amanda pada Ryan.
Ryan mengangguk cepat. "Aku mau coba yang ini." Ujar Ryan mantap.
"Oh... Ya, bagus. Kita pilih yang mana ya?" Amanda menoleh pada Doni.
Doni membaca beberapa pilihan topik yang tertera di brosur itu. Sejujurnya dia tidak tertarik dengan semua topik itu. Dia hanya berniat mengikuti pembelajaran ini agar bisa menjaga Amanda dari Ryan. Dia tidak suka Ryan mendekati Amanda. Meskipun itu adalah kegiatan belajar bersama, tetap saja dia tidak suka.
Doni mulai menimbang-nimbang apakah dia perlu berkonsultasi dengan Professor Gilbert, mentor bisnisnya, tentang hal ini. Sepertinya itu akan lucu sekali.
"Hemmm... Coach Winnie sudah datang. Sebentar ya, aku akan menyambutnya di bawah." Ujar Ryan.
Setelah Ryan turun, Amanda bergerak cepat mencubit lengan Doni.
"Ahh...!!" Doni berteriak pelan.
"Diem aja dari tadi! Kamu sariawan?!" Tanya Amanda asal.
"Hemmm... Kamu sepertinya senang sekali berada di sini." Tuduh Doni.
"Apaan sih? Ya senang dong, aku kan mau belajar!" Ucap Amanda bersemangat.
"Lihat! Pialanya banyak banget! Si Ryan ini pasti pintar!" Amanda lagi-lagi memuji Ryan.
Doni merasa hareudang mendengar kata-kata Amanda. Dalam hatinya Doni mengakui bahwa Ryan pastilah seorang siswa yang berprestasi jika melihat segudang penghargaan yang telah diperolehnya. Namun Doni tidak ingin mengakui hal itu di depan Amanda.
"Minggu depan kita belajar di rumahku." Ucap Doni.
"Hahhh... Apa?!" Amanda melongo.
__ADS_1
Amanda merasa bingung sendiri kenapa Doni tiba-tiba berkata begitu. Tapi dia tidak ingin repot-repot mencari tahu mengapa Doni ingin mereka belajar di rumahnya. Wolessss...
"Hemmm... Ya, terserah. Nti sampaikan aja ke Ryan." Ujar Amanda kalem.