Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Adegan dalam Mobil


__ADS_3

Jalanan masih sangat padat, dipenuhi berbagai jenis kendaraan yang lalu lalang. Antrian mobil-mobil mewah di depan gerbang sekolah mulai beranjak satu per satu meninggalkan SMA Adhyaksa. Masing-masing siswa terlihat masuk ke mobil pribadi mereka yang sudah stand by sejak tadi.


Suara kendaraan dan canda tawa para siswa di sekitar Amanda berdiri terdengar sangat bising.


Namun Amanda sepertinya tidak mendengar kebisingan tersebut. Ia terpaku, termangu, seperti sedang terhipnotis oleh sesuatu. Ia sepertinya larut dalam fikirannya sendiri.


Otaknya berusaha keras mencerna apa yang baru saja dilihat oleh mata kepalanya. Tetapi otak dan hati Amanda sepertinya saat ini sedang tidak sinkron.


Matanya masih sangat sehat, mampu melihat dengan normal. Tapi apa yang baru saja dilihatnya bukanlah sesuatu yang normal bagi Amanda. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa penglihatannya salah. Ia benar-benar berharap salah melihat.


Seseorang... Seseorang saja... Katakan, katakanlah bahwa apa yang dilihat Amanda adalah salah. Katakanlah bahwa dirinya hanya berhalusinasi. Agar hatinya tidak terlalu sakit, sesakit ini. Sakit tapi tidak berdarah.


Amanda merasa begitu sesak di dada. Shock dan kecewa adalah dua hal yang kini datang beriringan, menyerang dirinya secara bersamaan. Ia harus pergi, melangkah lagi. Ada yang menunggunya tadi. Dia tadi tidak sendirian.


Oh... Siapa dia? Tadi dirinya tidak sendiri. Siapa tadi yang bersamanya? Mengapa ia meninggalkan dirinya begitu saja? Kemana dia? Kemarilah... Tolonglah dirinya yang sepertinya merasa tidak mampu melangkah. Ia ingin menangis, betul-betul ingin menangis.


Ia menyeret langkah kakinya yang terasa begitu berat. Dilihatnya Doni berdiri tak jauh dari tempatnya berjalan saat ini. Cowok itu menatapnya dengan tajam. Tatapan itu perlahan mengembalikan kesadaran Amanda.


"Oh... Iya. Dia pasti nunggu aku." Amanda mendesah pilu. Dia melangkah lagi menuju tempat Doni berdiri. Semakin dekat, dia merasa harus semakin kuat. Doni tidak boleh melihatnya dalam keadaan ekspresi wajah yang begitu nelangsa.


"Kamu kenapa?" Tanya Doni sambil mengernyitkan dahinya. Ia menatap wajah Amanda dengan serius. Ia merasa ada perubahan rona di wajah Amanda. Wajahnya terlihat muram. Tadi tidak begitu.


"Gapapa. Ayo ke halte!" Amanda menjawab cepat. Ia tidak ingin membuat Doni semakin curiga. Sambil menghela nafasnya ia melangkah dengan gontai.


"Kamu sakit?" Tanya Doni lagi. Ia kini mulai khawatir melihat Amanda yang langsung duduk di bangku halte sesampainya mereka di sana.


Amanda menggeleng lemah. Dia berusaha tersenyum agar wajahnya tidak terlihat terlalu muram.


Doni menarik nafasnya dalam-dalam, ia sedang berfikir. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Tapi apa? Mengapa Amanda terlihat begitu sedih?


Amanda masih tertegun. Gambaran kemesraan kak Edo bersama kekasihnya di dalam mobil tadi masih berseliweran di benaknya. Gambaran yang sangat menyakitkan. Ia tidak pernah melihat hal-hal seperti itu secara langsung, kecuali di televisi atau di drama-drama Korea yang pernah ditontonnya.

__ADS_1


Dia tidak habis fikir bagaimana bisa seorang kak Edo yang sangat dikaguminya melakukan hal seperti itu di tempat umum. Meskipun di dalam mobilnya, tetapi pasti banyak pasang mata yang bisa melihat mereka. Rasa-rasanya itu tidak layak, tidak sopan.


"Kenapa aku harus sedih? Aku kan bukan siapa-siapa..." Amanda membatin sendu.


"Mereka pacaran, mungkin wajar mereka melakukan itu..." Batin Amanda masih terus berkecamuk.


"Tapi kenapa aku harus melihatnya? Ini menyakitkan sekali..." Desis Amanda. Dia tertunduk lesu. Rasanya air matanya akan tumpah. Sudah tidak terbendung lagi.


Akan tetapi Amanda sadar, saat ini dia sedang berada di keramaian. Terlebih lagi ada Doni di situ. Dia tidak boleh menangis. Amanda paling gengsi mengeluarkan air matanya di depan orang lain.


Amanda mengedip-mengedipkan matanya dan dengan cepat menyeka sedikit air matanya yang menetes. Dia khawatir jika Doni nanti menyadari dia sedang menangis.


Doni berdiri di samping bangku tempat Amanda duduk. Setelah menoleh kiri-kanan, dia memutuskan duduk di samping Amanda. Halte agak sepi siang ini.


"Kamu tinggal dimana?" Amanda bertanya dengan suara yang agak tercekat. Dia masih berusaha keras mengatur nada suaranya agar terdengar normal.


"Kenapa? Kamu mau main ke rumahku?" Doni bertanya balik, seperti biasa.


"Hehhh... Kamu tinggal jawab aja kok susah amat sih!" Tukas Amanda. Kini suaranya sudah kembali normal. Dia melirik Doni dengan sinis.


Doni tertawa kecil. Dia senang sekali melihat ekspresi Amanda yang sedang kesal begitu. Wajahnya terlihat lucu sekali di mata Doni.


"Kenapa kamu selalu turun di sana? Emang ada perumahan di sana?" Amanda bertanya lagi. Dia tidak ingin berdiam diri. Jika diam, ia akan teringat lagi adegan kemesraan kak Edo dan pacarnya di dalam mobil tadi. Itu akan membuatnya sedih, kecewa, kesal, muak. Nano-nano rasanya!


Hanya pertanyaan itu yang terlintas di fikiran Amanda. Dia memang sudah lama kepo mengapa Doni selalu turun angkot tepat di pusat kota. Jadi ini adalah momentum yang tepat untuk bertanya lagi tentang hal itu.


"Hemmm... Ga ada sih." Doni menjawab singkat. Matanya masih melirik angkot-angkot yang lewat di depan halte.


Kali ini Amanda sengaja mendengus dengan keras agar Doni mendengarnya. Doni tidak bergeming, duduk santai sambil menyentuh smartwatch di pergelangan tangan kirinya.


"Heiiii... Trus ngapain kamu turun di situ? Apa kamu tinggal di hotel!?" Tebak Amanda asal.

__ADS_1


"Siapa yang bilang aku tinggal di sana?" Doni lagi-lagi bertanya, membuat kekesalan Amanda naik level.


"Anak ini memang ga waras! Ah... Bodo amat!" Amanda mengumpat lagi dalam hati.


"Aku bantuin kerjaan papa..." Ucap Doni pelan.


"Hahhh!?" Amanda terbelalak. Ia menoleh ke arah Doni.


"Maksudnya, pulang sekolah kamu bantuin kerjaan orang tua?" Amanda mengklarifikasi informasi yang baru saja didengarnya dari Doni.


"Hemmm... Terus kamu pikir apa?" Ujar Doni. Dia menatap wajah Amanda yang sedang melongo, menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Tatapan mata mereka bertemu, desiran halus terasa menyentuh hati mereka.


Amanda mengalihkan pandangannya. Dia pasti selalu kalah kalau adu tatapan mata dengan Doni. Memang lebih baik mengalah. Mata Doni terlalu indah untuk dipandang lama-lama. Amanda akhir-akhir ini sering merasa berdebar jika Doni menatapnya seperti itu.


"Oh... Gitu..." Ucap Amanda. Dia kehabisan kata. Ia sama sekali tidak menduga cowok yang di sampingnya ini ternyata benar-benar berbeda dengan cowok-cowok lain di SMA Adhyaksa.


Doni bangkit dari duduknya. Dia melihat angkot yang mereka tunggu sudah mendekat ke halte. Angkot berhenti. Amanda dan Doni masuk ke dalam angkot.


Sepanjang perjalanan di dalam angkot, Amanda terus memperhatikan Doni dengan seksama. Dari ujung rambutnya sampai ke ujung sepatu.


"Tapi tampangnya ga kayak orang susah. Kenapa dia harus bekerja keras bantuin orang tuanya?" Amanda mulai menganalisa.


"Hemmm... Tapi biaya sekolah di SMA Adhyaksa memang besar! Belum lagi biaya sekolah adik-adiknya. Dia kan anak laki-laki, wajarlah bantu-bantu ortu." Amanda mengambil kesimpulan sendiri. Dia menghela nafas lagi.


Amanda berfikir, andaikan saja dirinya adalah anak laki-laki. Dia juga pasti akan bekerja seperti Doni untuk membantu meringankan biaya hidup keluarganya. Kasihan ayahnya harus bekerja keras sendirian menafkahi mereka sekeluarga.


Sementara itu sang Tuan Muda merasa dirinya sedang diperhatikan oleh Amanda. Dia menjadi sedikit risih. Dia melirik Amanda yang duduk di depannya. Ternyata Amanda memang sedang menatap wajahnya sambil tersenyum manis.


Doni tetap pasang ekspresi wajah datar. Dengan tenang dia melihat pemandangan di luar angkot yang sedang bergerak kencang.


"Tetaplah tersenyum begitu... Aku suka." Doni menggumam dalam hati.

__ADS_1


Andaikan saja dia bisa memiliki senyum itu. Bisa melihatnya setiap hari, sepertinya hari-harinya di sekolah akan lebih indah.


__ADS_2