
"Yun, ga ke kantin?" Helena bertanya ketika berjalan melewati deretan bangku Yuni dan melihat Yuni masih duduk santai berbicara dengan teman sebangkunya.
"Ehh... Iya ya. Ayuk!!!" Ujar Yuni sambil ikut mengajak teman sebangkunya yang bernama Tania. Amanda berdiri di belakang Helena. Ia menunggu pergerakan teman-temannya itu.
Helena, Yuni dan Tania, serta Amanda berjalan ke arah kantin yang terletak lebih dekat dengan kelas mereka.
Helena tentu saja merasa senang karena mereka tidak pergi ke kantin utama. Dia sedang tidak ingin ke sana. Dia tidak ingin bertemu kak Edo hari ini.
Mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam membuat perutnya semakin keroncongan.
Kencan yang berasa kecut. Sekecut iced lemon tea yang disuguhkan para waitress hotel tadi malam untuk mereka. Padahal sesungguhnya minuman itu berasa manis. Namun dikarenakan suasana hati Helena yang tidak baik, semua makanan dan minuman yang disajikan tadi malam terasa tidak nikmat baginya. Helena mendengus sendiri ketika mengingat kembali dinner mereka yang jauh dari ekspektasinya.
"Kamu kenapa, Helen?" Tanya Yuni yang sejak tadi mengamati wajah murung Helena.
"Oh... Biasa... Aku kelaparan nih." Ujar Helena mencari-cari alasan agar tidak mencurigakan. Yuni terkekeh sendiri. Amanda, seperti biasa, menatap sekelilingnya. Ia memastikan keadaan aman, tidak ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Ia merasa minder berada di keramaian kantin itu.
Amanda belum benar-benar berhasil beradaptasi dengan suasana di sekolahnya ini. Rasa percaya dirinya masih minim sekali.
"Eh... Melongo aja! Jangan menghayal di tengah jalan!" Ujar Helena sambil cepat-cepat menarik tangan Amanda agar dia bergeser dan pindah dari tempatnya berdiri.
Seorang siswa laki-laki yang cukup tinggi itu hampir saja menabrak Amanda dari belakang, andaikan Helena tidak menariknya agar berpindah posisi.
"Oh... Eh... Sorry..." Ucap Amanda terbata-bata. Ia buru-buru menoleh dan meminta maaf pada siswa tersebut karena tanpa sengaja telah menghalangi jalannya.
Amanda lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berada di belakangnya. "Eh... Kamu..." Ujar Amanda pelan. Siswa itu menatap tajam Amanda dengan sepasang matanya yang indah.
Amanda mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin tatapan mata mereka bertemu. Ia selalu merasa risih jika Doni menatapnya seperti itu.
Doni berlalu melewati Amanda begitu saja, tanpa berkata sepatah kata. Seolah tadi tidak mendengar kata maaf dari Amanda. Yuni menatap dengan tatapan sangat terpesona.
"Wowww... Siapa dia?" Yuni berkata dengan nada kagum yang sangat original. Wajahnya masih terlihat sangat tersepona... Ehh... Terpesona...
"Kamu kenal ya!?" Tanya Helena. Amanda mengangguk. "Temanmu itu keren juga ya!?" Ujar Helena lagi. Dia mulai memilih beberapa kue yang disukainya. "Keren!?" Gumam Amanda dalam hati. "Dimana kerennya ya anak aneh itu..?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.
Terlalu banyak cowok keren di sekolah ini, Amanda jadi bingung sendiri dengan definisi "cowok keren" yang sesungguhnya.
Ah... Sudahlah... Yang paling keren di SMA Adhyaksa ini adalah kak Edo. Sudah ya... Cuma itu saja. Hanya dia... Amanda tidak menerima perdebatan yang tiba-tiba mulai bermunculan di dalam benaknya.
"Itu pasti kakak kelas. Dia dari kelas mana ya?" Yuni masih penasaran. Ia bertanya pada teman sebangkunya yang dari tadi tersenyum sendiri melihat ekspresi Yuni yang merasa sangat terpesona itu.
"Kakak kelas apaan! Dia siswa baru juga, aku tadi lihat simbol di bajunya!" Tukas Helena sambil melirik Amanda meminta persetujuan jawaban. Amanda mengangguk. Dia mulai memesan sepiring nasi goreng.
__ADS_1
"Wahhh... Tumben... Kamu ga sarapan ya tadi pagi?" Tanya Helena. Ia heran melihat Amanda memesan sepiring nasi goreng. Biasanya dia hanya akan membeli beberapa potong kue saja atau jajanan ringan lainnya.
"Iya, aku lapar banget! Hehehe..." Ujar Amanda cengengesan. Dia memang kelaparan sekali karena tadi pagi tidak selera makan sehingga dia hanya sarapan sedikit saja.
Amanda kepikiran terus dengan kencan kak Edo dan Helena. Hal itu betul-betul merusak nafsu makannya tadi pagi. Efeknya, jam segini dia sudah merasa sangat lapar. Aroma nasi goreng di kantin itu akhirnya mampu membuat nafsu makan Amanda kembali normal.
Yuni dan Tania mencari-cari meja yang masih kosong. Mereka langsung duduk di sana setelah menemukan meja yang cocok. Yuni melambaikan tangannya ke arah Helena.
"Aku duluan ke sana ya..." Ujar Helena. Amanda masih berdiri mengantri dan menunggu pesanannya. "Oh... Eh... Iya..." Ucap Amanda. Dia ingin meminta Helena menunggunya. Namun melihat semangkuk mie pangsit yang sedang dibawa Helena, maka ia pun mengurungkan niatnya.
"Kapan Helen pesan mie pangsit ya? Bukannya tadi dia beli kue?" Gumam Amanda. Helena memang selalu sigap dalam hal apapun.
Sambil berdiri mengantri, Amanda kembali mencuri-curi pandang ke sekeliling kantin tersebut. Khawatir kalau-kalau ada siswa lain yang memperhatikan gerak-geriknya.
"DEGGGG!!!" Jantung Amanda berdetak kaget. Lagi-lagi pandangan matanya bertemu dengan tatapan Doni. Doni sedang duduk dengan teman-temannya. Namun sejak tadi dia memang fokus memperhatikan gerak-gerik Amanda. Untung saja Amanda telat menyadari itu semua. Doni jadi bisa memandanginya agak lama.
"Huhhh... Apa sejak tadi dia terus ngeliatin aku ya!?" Gumam Amanda kesal. "Kayak ada aja hutang aku sama dia!" Amanda menggerutu dalam hati dan segera berjalan ke arah Helena setelah menerima nasi goreng pesanannya.
Yuni sudah menyisakan satu bangku buat Amanda. "Wahhh.. Sepertinya nasi gorengnya enak ya?" Tanya Yuni bersemangat. "Cobain, Yun! Ini pasti enak!" Ujar Amanda mempersilahkan Yuni menyendok sesuap nasi goreng itu.
"Hemmm... Mantulll! Ini enak sekali. Besok-besok aku pesan juga deh!" Ujar Yuni dan mengucapkan terima kasih pada Amanda. Amanda tertawa kecil.
"Kamu ga sekalian mau cobain mie pangsit ini!?" Tanya Helena bermaksud menyindir. "Semua yang ada di sini aja sekalian kamu cobain, Yun!" Ujar Tania diikuti gelak tawa Helena dan Amanda. Yuni membalas ledekan mereka dengan cibiran.
"Hah!? Ekskul?!" Tanya Amanda. "Iya... Udah dibuka pendaftaran loh yaa..." Ujar Tania mengingatkan teman-temannya.
"Semua siswa wajib ikut ya?" Yuni bertanya sambil mengunyah cepat gorengan favoritnya. Dia selalu cepat dalam bidang permakanan.
"Ada ekskul apa aja sih?" Tanya Helena. "Banyak, Helen. Kamu tinggal pilih sukanya yang mana." Jawab Yuni.
Tania mengeluarkan selembar kertas berlipat dari saku roknya. Ia membuka lipatan kertas tersebut yang ternyata adalah selembar brosur. Ia kemudian meletakkan brosur itu di tengah-tengah meja agar semua teman-temannya dapat membacanya. Sebuah brosur berjudul "Kegiatan Ekstra Kurikuler". Amanda melirik brosur itu dengan penuh minat.
Helena yang sudah selesai menyantap mie pangsit segera meraih brosur itu mendekat ke arahnya. Ia menatap lekat-lekat brosur tersebut. Membaca setiap kata yang tertulis di sana.
"Kok jadi wajib ikut ya!? Sejak kapan sih siswa wajib ikut ekskul?" Helena berkata dengan nada kesal.
"Iya, sekolah ini emang aneh!" Tukas Yuni. "Mungkin karena itu juga, jadinya dibuat banyak banget kegiatan ekskul untuk dipilih siswa." Tania menjelaskan dugaannya. Amanda manggut-manggut. Ia setuju dengan dugaan Tania.
Amanda mempercepat makannya agar bisa segera membaca tulisan yang ada di brosur tersebut.
"Ah... Malessss!" Ujar Helena sambil menyerahkan brosur itu kepada Amanda. Baginya nongkrong dan jalan-jalan sore jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktunya untuk mengikuti aneka program kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.
__ADS_1
Helena pernah mengikuti kegiatan ekstra kurikuler Pramuka semasa SMP dulu. Dia awalnya membayangkan bisa sering nongkrong dengan teman-temannya dan berkemah santai di tepi sungai.
Namun ternyata agenda kegiatan latihan Pramuka sangat padat. Kegiatan perkemahan juga tak seindah bayangan Helena. Akhirnya Helena mengundurkan diri dari kegiatan tersebut di saat kenaikan semester berikutnya.
"Wahhh... Banyak ya! Hemmm... Yuni, kamu ikut yang mana?" Amanda bertanya pada Yuni.
"PASKIBRA dong! Gini-gini dari dulu aku anggota PASKIBRA sekolah loh yaaa!" Ujar Yuni bangga.
"PASKIBRA SMA Adhyaksa ini terkenal banget loh, Yun! Beberapa siswa sini malah ada yang lolos seleksi team PASKIBRAKA ke istana!" Tania menimpali ucapan Yuni, membuat Yuni semakin bersemangat untuk segera mendaftarkan diri.
"Kamu milih apa?" Amanda bertanya lagi pada Tania. "Aku kan pecinta alam." Ucap Tania sambil tersipu.
"Halahhhh... Gaya lo! Alibi aja pecinta alam. Padahal karena ada gebetan di situ!" Yuni berkata sekonyong-konyong membuat Tania kesal dan menjambak rambutnya. "Aduhhh! Kan bener itu faktanya! Hahaha..." Ujar Yuni lagi sambil tertawa lebar. Dia berusaha melepaskan rambutnya dari tangan Tania.
Amanda ikut tertawa melihat Yuni dan Tania berperang dengan rambut mereka. "Helen... Kamu ikut..." Belum selesai dengan kalimat pertanyaannya, Helena sudah menyela. "Entahlah... Aku ga minat!" Tukas Helena cepat. "Oh... OK! OK! Hahaha... " Ujar Amanda sambil tertawa.
"Kamu sendiri ikut yang mana? Lama banget milihnya, kayak milih jodoh!" Ujar Yuni ceplas-ceplos. Amanda cuma nyengir kuda.
"Hehehe... Aku bingung nih. Banyak yang menarik." Ucap Amanda mempertimbangkan beberapa pilihan kegiatan ekstra kurikuler yang tertera di brosur tersebut.
"Boleh double kok... Triple juga boleh, selama kamunya sanggup ngikutin dan ngatur jadwalnya sendiri." Tania menjelaskan pada Amanda tentang informasi kegiatan ekskul yang diketahuinya dari kakak kelas.
"Oh gitu... Iya iya... Aku paham..." Amanda menggumam sambil manggut-manggut. "Kayaknya aku mau coba kelas jurnalistik..." Ujar Amanda sambil menyerahkan kembali brosur kegiatan ekskul itu pada Tania. "Nice!!" Seru Tania. Amanda membalas dengan senyuman.
Amanda suka sekali menulis, dia juga hobi melukis, dia juga ingin mengikuti beberapa kegiatan ekskul keagamaan, Palang Merah Remaja (PMR) juga menarik... Wahhh... Amanda rasanya ingin mengikuti semuanya. Semuanya terlihat menarik dan pasti bermanfaat.
SMA Adhyaksa ini benar-benar keren! Ada segudang kegiatan ekskul yang super duper keren! Amanda kembali memanjatkan syukur di dalam hatinya karena diberi kesempatan bersekolah di sini. Dia berjanji akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin di sekolah ini untuk menimba ilmu pengetahuan dan berbagai keahlian yang berguna untuk masa depannya nanti.
"Balik yuk!" Ajak Helena. "OK!" Ujar Yuni. Keempat gadis itu meninggalkan kantin yang masih ramai dan riuh dengan berbagai topik obrolan dari masing-masing siswa yang ada di sana.
Sambil berjalan, Amanda sempat mendengar sekelompok gadis yang sedang membicarakan Vino.
"Entah apa bagusnya si gendeng itu! Bisa-bisanya cewek-cewek bodoh itu mengagumi dia!" Tukas Helena pelan sambil berpura-pura muntah di depan Amanda. Amanda hanya terkikik saja melihat ekspresi Helena.
Selang beberapa deret dari meja yang ditinggalkan oleh keempat gadis itu, seorang cowok menikmati makanan yang baru saja dipesannya dengan lahap.
"Lo doyan apa lapar, Ton!?" Tanya seorang cowok pada Doni yang sedang melahap nasi goreng dengan antusias.
"Hemmm... Ini enak juga!" Jawab Doni ga nyambung.
Teman-teman Doni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Mereka semua heran melihat Doni makan selahap itu. Bukan tak beralasan keheranan mereka... Sebelumnya Doni sudah menghabiskan semangkuk baso aci. Tidak biasanya Doni makan porsi double begitu. Daripada ambil pusing dengan tingkah laku Doni yang tak biasa itu, mereka pun memilih melanjutkan obrolan.
__ADS_1
Doni tetap fokus dengan sepiring nasi gorengnya. Dia hanya penasaran dengan makanan yang tadi dipesan oleh Amanda. Melihat Amanda makan dengan lahap, Doni jadi penasaran seperti apa rasa nasi goreng itu. Dan Doni menyukainya.
Entah nasi gorengnya, entah Amanda. Yang jelas Doni suka. Dia suka semuanya.