
Pagi ini Amanda tidak kelihatan tenang seperti biasanya. Dia terlihat agak gelisah.
Magdalena yang sejak tadi memperhatikan gelagat aneh kakaknya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Kakak belum siap PR ya?" Tanya Magdalena dengan wajah serius.
"Eh... Sembarangan kamu. Udah dong!" Tukas Amanda.
"Hemmm... Jadi kok kakak ga tenang gitu?" Tanya Magdalena lagi. Mutiara ikut memperhatikan kedua kakaknya.
"Kakak takut telat. Ayo buruan gih!" Amanda mencari-cari alasan agar kedua adiknya tidak semakin curiga.
Bagaimana bisa tenang, ia merasa seperti mendapat instruksi presiden. Harus laporan pada komandan sebelum pulang sekolah.
Belum pun Amanda ke sekolah, dia sudah merasa sedikit gelisah. Membayangkan perintah Doni yang aneh itu!
"Hemmm... Semoga aja anak itu ga serius dengan kata-katanya..." Amanda berharap-harap cemas.
Setelah selesai sarapan, ayah Amanda mengantarkan anak-anaknya ke sekolah seperti biasa.
Amanda menyalami ayahnya dan berpamitan seperti biasa. Ia berusaha melangkah dengan tenang memasuki gerbang SMA Adhyaksa sambil berdo'a agar dia tidak bertemu kak Edo dan pacarnya pagi ini. Dia masih belum kuat untuk melihat kemesraan mereka berdua.
Sambil berjalan, Amanda melirik kiri-kanan. Khawatir kalau-kalau Doni ada di sana sedang memperhatikannya. Entah mengapa, feeling-nya mengatakan Doni ada di sekitarnya.
"Huhhh... Kenapa aku malah jadi risih sama dia!?" Amanda menggerutu sendiri.
"Ehemmm..."
Seseorang berdehem pelan di belakang Amanda. Amanda kaget setengah mati. Dia mengenali si pemilik suara itu.
"Ya ampun!!!" Seru Amanda. Ia berbalik dan sudah bersiap-siap dengan omelannya. Dia menatap Doni dengan tatapan tidak senang.
Doni membalas tatapan Amanda dengan dingin membuat Amanda mengurungkan niatnya untuk mengomeli Doni.
"Ngapain kamu di belakang ku!?" Sergah Amanda dengan ekspresi sebal yang sangat natural. Doni tersenyum tipis dan menatap mata Amanda dengan tatapan mautnya.
__ADS_1
Amanda terperangah beberapa detik. Ada desiran halus di hatinya. Namun dengan cepat dia bisa mengembalikan kesadarannya.
Doni benar-benar memiliki sepasang mata yang indah. Ketika dia menatap dengan tajam dan dalam begitu, siapapun bisa terhipnotis dengan keindahan matanya.
"Jangan lupa nanti hubungi aku!" Ucap Doni, masih istiqomah dengan tatapannya yang dalam. la benar-benar tak ingin mengalihkan pandangannya dari wajah Amanda yang mulai merona tanpa disadarinya.
Amanda termangu. Ia diam membisu tak tahu harus menjawab apa. Lagi-lagi Amanda merasa wajahnya panas. Banyak hal yang sebenarnya ingin diutarakan oleh Amanda. Ia ingin protes! Tapi tatapan Doni yang mematikan itu selalu membuatnya tercekat.
Riuh ramai suara beberapa siswa yang lalu lalang di sekitar mereka mulai menyadarkan Doni. Sepertinya bukan hanya Amanda yang terhipnotis dengan keadaan, Doni juga.
Amanda mencoba mengalihkan pandangannya. Doni menghela nafasnya. "Ingat pesanku tadi!" Ujar Doni sambil berlalu meninggalkan Amanda yang kehabisan kata.
"Tuh kan... Pagi-pagi aku udah sial!" Gerutu Amanda. Ia memperhatikan Doni yang baru saja meninggalkan dirinya. Doni melangkah tegap, tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Amanda menghela nafasnya. Rasanya berada di dekat Doni sekarang membuat pernafasannya terganggu.
Dia berjalan cepat menuju ke kelasnya sambil tak henti-hentinya merutuk di dalam hati.
"Lagaknya kayak boss besar aja! Kenapa juga aku harus lapor-lapor ke dia kalau mau pulang!" Gerutu Amanda kesal.
"Hai..." Sapa Amanda sambil tersenyum. Ia meletakkan tasnya di atas meja. Helena membalas senyuman Amanda.
Amanda tidak ingin mood-nya hari ini rusak karena Doni dan perintahnya yang konyol itu. Ia mencoba terlihat ceria.
Amanda sedang berjuang menerima kenyataan dan mengobati patah hati yang saat ini sedang dirasakannya. Bayangan kak Edo dan pacar barunya terus menghantui Amanda. Begitu menyiksa. Tapi itu semua terlihat begitu bodoh.
"Buat apa menangisi orang yang tidak pernah menganggap dirimu ada di dunia?" Pertanyaan itu selalu berkecamuk di dalam fikiran Amanda. Seolah menyalahkan perasaan cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu.
"Udah selesai PR?!" Tanya Helena membuyarkan lamunan Amanda. Sepertinya dia berniat untuk meminta contekan lagi.
"Udah..." Amanda menjawab dengan berat hati.
"Aku nyontek ya... Dua nomor aja! Yang lainnya aku udah ngerjain kok..." Bujuk Helena.
Amanda menghela nafasnya lagi. Dia mengeluarkan buku PR dan meletakkan di depan Helena. Dia selalu merasa keberatan memberi contekan, tetapi dia juga segan menolak permintaan Helena.
__ADS_1
"Makasih, Amanda. Kamu memang terbaik!" Ucap Helena. Amanda hanya tersenyum kecut.
Helena menyalin jawaban dengan cepat di buku tulisnya. Mungkin dia juga khawatir jika tiba-tiba Amanda berubah fikiran dan tidak mengizinkan dia menyontek jawabannya.
Amanda menatap lagi layar smartphone-nya. Chat yang dikirim oleh Doni kembali menjadi pusat perhatian Amanda.
Amanda masih belum memahami maksud dan tujuan Doni. Ditambah lagi dengan sikap Doni yang misterius dan hemat kata-kata, semakin membuat Amanda bingung.
"Ah... Sudahlah... Terserah dia maunya apa! Kenapa aku jadi mikirin dia terus!?" Amanda merasa sebal dengan dirinya sendiri.
Bel tanda masuk sudah berbunyi nyaring seperti biasanya. Helena buru-buru mengembalikan buku PR Amanda.
Semua siswa di kelas sudah bersiap-siap menerima pelajaran jam pertama untuk pagi ini. Amanda mencoba menenangkan fikirannya yang terus berkecamuk sejak tadi pagi. Dia harus fokus dan konsentrasi.
"Aku mau fokus belajar! Bukan mikirin cowok!" Gumam Amanda pada dirinya sendiri.
-- Kelas I-6 --
Jika Amanda merasa gelisah, lain halnya dengan Tuan Muda Anthony. Doni merasa senang sekali. Bertemu Amanda selalu membuatnya bersemangat.
Dua hari saja dirinya tidak melihat Amanda, rasanya seperti ada yang hilang. Dia benar-benar puas menatap wajah Amanda pagi ini.
Wajah polos yang merona itu terlihat menarik sekali di mata Doni. Ekspresi bingung sekaligus malu-malu yang terlihat di raut wajah Amanda jika menatapnya seperti tadi pagi sudah menjadi candu bagi dirinya.
"Kamu hanya boleh menatapku seperti itu!" Gumam Doni gemas. Dia tidak akan membiarkan Amanda menatap orang lain seperti itu.
"Mulai sekarang, kamu milikku!" Doni berkata pada dirinya sendiri. Dia telah meyakinkan dirinya bahwa Amanda hanyalah miliknya. Amanda sepenuhnya berada di bawah kekuasaannya.
Doni tidak menyadari sifatnya yang sudah dibentuk sebagai calon penguasa tunggal kini sudah benar-benar lengket pada karakter dirinya. Ketika dia menginginkan sesuatu, dia bertekad harus mendapatkannya. Kini dia menginginkan Amanda, maka dia harus mendapatkannya.
Seorang guru masuk ke ruangan, membuyarkan lamunan Doni tentang Amanda. Hendi yang duduk di sebelahnya mulai ngomel-ngomel. Anak itu selalu saja mengeluh jika guru sudah masuk ke dalam kelas.
Tiba-tiba Doni teringat dengan seseorang. Seorang siswa yang bermasalah kemarin. Siswa yang sedang menjadi trending topic di sekolah. Siswa itu sekelas dengan Amanda.
"Apakah Amanda juga menyukai siswa itu?" Pertanyaan itu lagi-lagi muncul. Tiba-tiba rasa cemburu membakar hatinya. Doni bertekad akan mencari tahu.
__ADS_1