
Suasana kelas I-2 terlihat cukup riuh. Saat ini adalah jam terakhir dan guru mata pelajaran yang bertugas pada jam tersebut mendadak berhalangan masuk ke kelas karena ada rapat internal dengan kepala sekolah.
Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bagi setiap siswa kelas I-2, termasuk Helena dan Amanda.
"Nah... Gitu dong! Aku paling seneng kalau jam terakhir kosong! Hihihihhh..." Helena cekikikan sendiri di bangkunya.
"Hahaha... Dasar kamu!" Amanda menimpali.
"Loh... Bener kan!? Jadi kita tinggal nunggu bel pulang berbunyi." Sambung Helena.
"Hahaha..." Amanda hanya tertawa.
"Emang kamu ga senang? Kamu masih mau belajar juga?" Tanya Helena sinis.
"Ya, ga sih... Tapi jadinya kita nambah PR!" Bantah Amanda.
"Hemmm... Iya ya..." Helena sepertinya baru menyadari ada beban lain yang mereka hadapi gara-gara sang guru berhalangan masuk ke kelas.
"Huhhh... Kenapa sih guru-guru zamannow suka begitu?" Tanya Helena kesal.
"Maksud kamu?!" Amanda balik bertanya karena tidak mengerti maksud dari kata-kata Helena.
"Ya itu... Para guru suka ngasih tugas tambahan kalau mereka ga bisa masuk ke kelas." Terang Helena.
"Ohhh... Iya... Hemmm... Ya, mungkin tujuannya baik sih." Gumam Amanda.
Helena mengernyitkan dahinya. Wajahnya terlihat sinis.
"Baik gimana?! Siswa malah jadi repot! Huhhh... Para guru memang semena-mena!" Helena merepet panjang.
"Hahaha... Ya sudah, nanti kalau kamu jadi guru, jangan bersikap begitu ya!" Canda Amanda.
"Diiiihhh... Ga banget! Aku ga pernah punya cita-cita jadi guru, biar kamu tahu!" Tukas Helena sewot.
"Terus kamu mau jadi apa?! Masa iya mau jadi murid selamanya!" Tuding Amanda sekenanya.
"Ya ga lah! Masih banyak profesi lain yang lebih keren! Lebih asyik! Dan pastinya ga menyusahkan orang banyak!" Seru Helena.
"Hahaha... OK! OK! Aku dukung deh apapun cita-cita kamu!" Sahut Amanda.
Amanda akhirnya tidak ingin lagi mendebat Helena. Dia sudah bisa membaca ekspresi kesal di wajah teman sebangkunya itu.
Daripada jika perdebatan diteruskan nanti malah terjadi adu mulut, Amanda memilih diam dan sependapat dengan Helena.
"Eh! Aku lupa ngasih tahu kamu!" Tiba-tiba ekspresi wajah Helena berubah menjadi lebih ceria.
"Hemmm... Tentang apa?!" Tanya Amanda.
"Hehehe... Kamu pasti ga akan percaya!" Ujar Helena.
"Oh ya!? Emangnya tentang apaan sih? Aku jadi penasaran nih..." Amanda semakin tertarik.
"Aku udah jadian sama kak Edo!" Bisik Helena.
__ADS_1
"APA!?" Amanda berteriak di dalam hati ketika mendengar bisikan Helena.
Amanda betul-betul tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia terkejut setengah mati.
Helena cekikikan lagi dan mengangguk dengan mantap.
Amanda merasa perutnya mual. Walaupun dia sudah berusaha semaksimal mungkin menetralisir perasaannya untuk Kak Edo, tetap saja dia masih shock jika mendengar kabar kakak kelas yang dikaguminya itu jadian lagi dengan cewek lain.
Terlebih lagi, cewek itu adalah teman sebangkunya. Yaitu Helena. Itu sebuah pukulan telak bagi hati Amanda!
Di mata Amanda, Helena bukanlah cewek yang cantik. Tetapi tetap tidak dapat dipungkiri bahwa Helena lebih cantik dari dirinya.
Apalagi Helena adalah anak orang kaya, berbeda dengan dirinya yang hanya berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang pas-pasan.
"Kami sudah berciuman..." Bisik Helena lagi.
"Ohhh..." Hanya itu kata-kata yang berhasil meluncur dari mulut Amanda.
Dia semakin merasa trenyuh mendengar kata-kata Helena. Rasa-rasanya Helena tidak perlu menceritakan hal itu pada dirinya. Amanda merasa semakin down.
"Hehehe... Walaupun itu bukan first kiss buat aku sih..." Ucap Helena sambil senyam-senyum.
Amanda hanya terdiam. Berusaha terlihat biasa saja di depan Helena.
"Tapi aku seneng banget dapat ciuman dari Kak Edo, rasanya gimana gitu. Ahhh..." Lanjut Helena dengan suara pelan agar teman-teman yang lain tidak mendengarkan.
Amanda makin mencelos. Dia mendadak merasa pusing, mual, dan sakit di ulu hati. Dia benci mendengar kata-kata Helena.
"Tidak! Kak Edo dan Helena. Tidak..." Amanda memberontak di dalam hati.
Amanda terdiam lagi. Dia ingin menangis, ingin menjerit. Tapi tidak di sini, tidak di depan Helena yang sedang berbahagia.
"Hehehe... Ayo! Kamu juga pacaran dong! Biar tahu gimana rasanya disentuh dan dicium oleh cowok yang kamu sayang!" Ujar Helena asal.
"Pacaran?! Aku belum kepikiran ke sana!" Sahut Amanda tegas.
Amanda betul-betul berusaha ekstra agar suaranya terdengar tenang. Meskipun sebenarnya nada sinis mulai muncul di ujung kalimatnya.
"Oh... Tapi kamu udah pernah ciuman kan?!" Tanya Helena.
"Ga." Jawab Amanda singkat.
"Hahaha... Masa sih?! Hari gini udah SMA belum pernah ciuman!" Ledek Helena.
Amanda kembali membisu. Dia tidak peduli dengan kata-kata Helena.
"Jangan bilang kamu juga belum pernah berpacaran!" Tuding Helena.
"Hemmm..." Amanda menggumam.
"Oh Tuhan! Lugu sekali temanku ini. Hihihihhh..." Sindir Helena.
"Kamu cobain deh. Sekali dicium, kamu pasti ketagihan." Sambung Helena.
__ADS_1
Amanda tersenyum tipis. Dia mulai hareudang mendengar kata-kata Helena. Topik pembicaraan Helena sudah tidak sesuai lagi bagi seorang Amanda.
Ia lalu membuka buku catatan dan berpura-pura terlihat sibuk agar Helena tidak melanjutkan ocehannya yang tidak penting itu.
"Hehehe... Kamu ga ngasih selamat nih aku udah berhasil jadian sama kakak kelas kamu yang keren itu?" Canda Helena.
"Oh... Ehhh... Selamat, Helena!" Ujar Amanda sambil pura-pura tersenyum.
Amanda merasa hatinya kembali kacau lagi. Brokenheart. Dia kini benar-benar patah hati.
Bagaimana bisa hal ini terjadi? Mengapa akhir ceritanya jadi begini? Mengapa Kak Edo yang begitu dikaguminya akhirnya malah pacaran dengan teman sebangkunya?
Amanda merasa kehidupan kali ini bersikap begitu kejam terhadap dirinya.
Amanda menatap jam di dinding dengan gelisah. Waktu rasanya berjalan begitu lambat. Dia ingin cepat-cepat keluar dari kelas itu. Dia merasa dadanya begitu sesak.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Amanda.
"Hemmm... Sebentar ya, aku ke toilet dulu!" Ujar Amanda pada Helena.
Helena yang sedang sibuk scrolling akun Instagram menoleh ke arah Amanda.
"Oh... Iya..." Sahut Helena sambil menggeser posisi duduknya agar Amanda bisa melewatinya dengan mudah.
Amanda berjalan keluar dari kelas dengan langkah yang dipercepat.
BRUGGG!!!
"Ooppsss..." Ucap Amanda.
Amanda menabrak seorang cowok yang berjalan dari arah yang berlawanan sambil membawa setumpuk buku di tangannya. Untung saja buku itu tidak jatuh berhamburan di lantai.
"Hemmm... Kamu ini!" Ujar Ryan sambil tersenyum usil.
"Ehhh... Maaf... Maaf, Ryan! Aku ga lihat kamu jalan ke arah sini..." Ucap Amanda lesu.
"Hahaha... Dasar! OK! Kali ini aku maafkan dengan satu persyaratan!" Ryan berkata sambil membetulkan letak buku-buku di tangannya.
Amanda melongo. Dia sedang tidak ingin banyak bicara. Hatinya sedang kacau.
"Nanti pulang sekolah, temani aku sebentar ya!" Pinta Ryan.
"Hahhh... Apa? Temani kemana?" Tanya Amanda.
"Ke toko buku! Sebentar saja! OK?!" Seru Ryan.
"Errrrr... Tapi..." Amanda mencoba membantah.
"Ga ada tapi-tapi. Ini ganjaran atas kesalahan kamu! Hahaha..." Canda Ryan.
Amanda mencoba tersenyum, meskipun sulit. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
"Very good! Tunggu aku pulang nanti ya!" Pesan Ryan sambil berlalu meninggalkan Amanda.
__ADS_1
Amanda melengos. Dia berjalan lagi menuju ke toilet.
***