Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Mendengar Pembicaraan Rahasia


__ADS_3

Suasana di ruang tunggu cukup tenang. Para mahasiswa yang sedang menunggu jadwal interview mereka, mencoba menenangkan diri dengan cara-cara mereka yang unik.


Ada mahasiswa yang terlihat sangat gugup, sehingga terduduk kaku dengan wajah seperti patung.


Ada juga mahasiswa yang mencoba mengusir rasa gugupnya dengan cara ngobrol ringan dengan teman-teman yang duduk di sampingnya.


Ada lagi mahasiswa yang duduk menyendiri sambil komat-kamit tidak karuan, seperti dukun yang sedang membaca sejumlah mantra dan jampi-jampi. Mahasiswa tersebut sibuk menghafal teks yang sudah dipersiapkannya semalaman. Dia sangat khawatir jika nanti tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari team interviewer.


Ada mahasiswa yang duduk sambil celingak-celinguk ke sana kemari. Wajahnya terlihat waspada. Entah waspada, entah nervous. Yang jelas mahasiswa itu adalah Imelda.


Sejak Teguh masuk ke dalam ruang tes, Imelda terlihat semakin panik. Nomor urut antriannya tidak jauh dari nomor urut antrian Teguh. Itu artinya, jatah panggilan dirinya akan tiba sebentar lagi.


Tiba-tiba Teguh keluar dari ruang wawancara dengan langkah tegao. Wajah Teguh kelihatan cerah sekali. Ia sepertinya merasa cukup puas dan optimis. Dia merasa proses wawancara tadi berjalan lancar. Semua pertanyaan team interviewer dapat dijawab dengan meyakinkan oleh Teguh.


Imelda masih duduk di tempat tadi sebelum Teguh masuk ke dalam ruangan tes. Gadis itu tersenyum ke arah Teguh.


"Gimana? Gimana?" Tanya Imelda penuh semangat.


"Susah-susah ga sih pertanyaannya?" Imelda betul-betul kepo.


"Hemmm... Ga juga. Lebih ke rutinitas kita sehari-hari." Jawab Teguh.


"Owhhh..." Imelda seperti mendesis sendiri.


"OK, Imelda. Aku duluan ya. Sampai jumpa di lain waktu." Ujar Teguh.


Teguh ingin segera meninggalkan tempat itu karena ia telah berjanji dengan Emma akan menghubungi Emma sebentar lagi.


"Ohhh... OK. Semoga lulus ya!" Ucap Imelda.


Teguh mengangguk lagi dan meninggalkan ruang tunggu tersebut. Ia turun dengan elevator menuju ke lantai dasar dan mempercepat langkahnya menuju sebuah eskalator yang akan membawanya ke basement, area parkir khusus kendaraan beroda empat.


Teguh mengemudikan mobilnya menuju sebuah restoran. Entah mengapa, saat ini dia merasa lapar lagi padahal dia sudah sarapan tadi sebelum pergi mengantar Vino ke sekolah.


Teguh memesan makanan dan minuman sesuai seleranya. Dia menunggu Emma membalas chat-nya.


Penantian seperti ini sungguh sangat mendebarkan. Teguh selalu berdebar-debar sendiri jika memikirkan sosok Emma.

__ADS_1


Sepertinya semakin lama, rasa di hatinya untuk gadis itu semakin kuat saja.


"Hemmm... Mungkin dia masih kuliah..." Teguh berkata pada dirinya sendiri agar lebih tenang.


Sebentar-sebentar ia melirik ke arah layar ponselnya agar perhatiannya dari situ tidak terganggu.


Ia sengaja meletakkan smartphone-nya di atas meja agar dia bisa lebih mudah melihat pesan-pesan yang masuk di sana.


Dalam waktu yang singkat, makanan dan minuman yang dipesan oleh Teguh sudah tersaji di atas meja. Aroma makanan itu mulai merayu indera penciuman Teguh.


Teguh menelan liurnya. Dia mulai makan dengan lahap. Sambil makan, sesekali Teguh melirik suasana di sekelilingnya.


Pengunjung restoran cukup ramai juga untuk kategori waktu sepagi ini. Teguh berfikir mungkin hari ini banyak orang yang mendadak kelaparan seperti dirinya meskipun sudah sarapan sebelumnya di rumah mereka.


Teguh menyeruput secangkir coffee latte yang disajikan aesthetic dan dengan penuh perasaan ketika tiga orang pria memakai jas dan berdasi masuk ke dalam restoran dan duduk tidak jauh darinya.


Teguh dapat mendengar dengan cukup jelas percakapan di antara ketiga pria tersebut. Sepertinya ketiga pria itu sedang membicarakan urusan bisnis mereka.


Teguh sama sekali tidak berniat mencuri dengar pembicaraan ketiga pria yang tidak dikenalinya itu. Namun karena posisi duduk mereka cukup dekat, sayup-sayup Teguh bisa mendengar suara mereka.


"Saat ini CEO sedang tidak ada, kita harus bergerak cepat." Ujar seorang pria yang bertubuh paling pendek di antara mereka.


"Hemmm... Apakah rencana bisa dijalankan? Maksudku, apakah keadaan cukup aman?" Pria yang duduk di samping pria tadi, berbicara sambil memantik api untuk rokoknya.


"Aku rasa aman. Kunjungan ini akan makan waktu beberapa hari. Aku rasa waktunya cukup." Kata pria bertubuh pendek.


"Tapi tetap hati-hati, Tuan Muda ada di sana." Pria berkumis tipis yang sejak tadi diam saja akhirnya ikut angkat suara.


"Ahhhh... Dia cuma anak ingusan yang sedang belajar bisnis. Mengapa kau begitu khawatir?!" Tukas pria bertubuh pendek sinis.


"Ya, tapi jangan remehkan pengawal pribadinya. Aku fikir dia bukan orang biasa. Sorot matanya cukup berbahaya." Ujar pria tersebut dengan wajah serius.


"Nyonya tua bangka itu juga bisa mengacaukan rencana. Kita harus selalu koordinasi." Usul pria yang duduk di samping pria bertubuh pendek.


Mereka langsung mengalihkan topik obrolan ketika pramusaji tiba. Teguh memiliki firasat bahwa ketiga pria itu sedang menyusun rencana makar dengan pimpinan mereka.


Meskipun dia tidak bisa mendengar keseluruhan isi pembicaraan mereka, namun dia menebak pembicaraan itu mengarah ke sana.

__ADS_1


"Hemmm... Dunia kerja memang penuh tipuan dan pengkhianatan..." Batin Teguh.


Teguh sudah sering mendengar tentang hal ini. Bahkan terkadang beberapa skandal besar justru dilakukan oleh orang-orang kepercayaan perusahaan.


Pada umumnya, kelompok-kelompok seperti itu adalah golongan orang-orang yang merasa tidak puas dengan kebijakan perusahaan.


Oleh sebab itu, menjadi pimpinan perusahaan sungguh bukanlah hal yang mudah. Teguh percaya hanya orang-orang terpilih yang mampu mengemban amanah seberat itu.


Teguh sudah selesai menyantap hidangan yang ada di depannya tepat ketika sebuah pesan dari Emma masuk di ruang obrolan WA.


"Mas Teguh, bisa Emma telpon sebentar lagi?" Tanya Emma melalui chat WA.


Teguh langsung membalas pesan tersebut begitu dia selesai membacanya.


"OK..."


"Halo, Mas Teguh..." Sebuah suara yang lembut menyapa dari udara.


"Halo, Emma..." Balas Teguh.


"Mas Teguh lagi apa? Emma mengganggu waktunya ga sih?" Tanya Emma dengan suaranya yang mendayu-dayu.


"Lagi nyantai aja nih. Ada apa, Emma?" Teguh balas bertanya dan berusaha berbicara dengan intonasi suara yang tenang walau sebenarnya hatinya berdebar-debar.


"Ohhh... Baiklah. Emma takut mengganggu Mas Teguh. Hehehe..." Emma terkekeh pelan.


"Kamu ga pernah jadi gangguan buat aku, Emma..." Batin Teguh.


"Gini, mas... Emma mau nanya-nanya nih. Tentang organisasi." Ujar Emma dan kemudian ia terdiam sejenak.


"Hemmm... Iya. Terus gimana?" Tanya Teguh.


"Ummmm... Menurut Mas Teguh, seberapa penting kita ikut kegiatan organisasi selama duduk di banhku kuliah?" Emma meminta pendapat Mas Teguh.


Emma berfikir Mas Teguh adalah orang yang tepat untuk menjawab pertanyaannya itu. Latar belakang pengalaman organisasi Mas Teguh sangat bisa diandalkan.


Dia pasti bisa mendapat pencerahan dari Mas Teguh terkait kegalauannya dalam perihal kegiatan organisasi di kampus.

__ADS_1


__ADS_2