Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Integritas!


__ADS_3

“Lho?! Ada apa mas? Buru-buru banget… Tapi katanya mau stay lama di sini.” Vino mulai protes.


Teguh menyetir mobil dengan santai. Siang ini dia kembali menjemput Vino dari sekolah.


“Hahaha… Iya, aku cuma beberapa hari aja di Jakarta. Selesai pengurusan surat-menyurat, langsung balik ke sini lagi.” Ujar Teguh.


Dia tertawa lebar melihat ekspresi kesal di wajah Vino.


Teguh menjelaskan keberangkatannya ke Jakarta besok pagi adalah untuk mengurus beberapa surat dari fakultas di universitasnya.


Hal itu dilakukan untuk melengkapi proses administrasi di perusahaan papa Vino.


Dirinya baru saja dikabari oleh pihak HRD (Human Resource Development) perusahaan bahwa ada surat-surat keterangan tambahan yang harus dilengkapi oleh mahasiswa yang berencana melaksanakan kegiatan magang di perusahaan tersebut.


Oleh sebab itu, Teguh memutuskan untuk secepatnya kembali ke Jakarta guna menyelesaikan itu semua.


“Oh… Gitu… Mereka ga tahu Mas Teguh siapa…” Tukas Vino. Teguh tersenyum simpul.


“Bilang aja sama pegawainya, Mas Teguh adalah ponakan papa. Beres urusan! Ga perlu surat-surat ga penting itu!” Ujar Vino sengit.


Teguh tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha… Aku lebih suka ngikutin prosedur. Lebih baik mereka ga tahu siapa aku.” Ucap Teguh santai.


“Yaelah… Ada yang mudah kok malah milih yang ribet!” Sembur Vino.


“Hahaha… Ini tentang integritas, Vino. Jadi mahasiswa harus punya integritas!” Teguh berkata sambil melirik Vino yang duduk di sebelahnya.


Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang.


“Kalau kita para generasi muda ga melatih integritas, mau jadi apa bangsa ini nanti?” Ujar Teguh bijaksana.


“Halah… Basi, mas! Dimana-mana sekarang yang penting ada orang dalam.” Tukas Vino.


“Lagian Mas Teguh ini mahasiswa teladan toh? Track record udah bagus, bawa nama papa aja langsung beres!” Vino masih bertahan dengan pendapatnya.


“Hemmm… Itu ga boleh dibiasakan, Vino!” Ujar Teguh. Dia melirik Vino lagi.


“Buat aku, integritas itu penting sekali. Nanti juga kalau kamu jadi mahasiswa, kamu bakalan paham sendiri.” Teguh berkata dengan nada penuh percaya diri.


Vino mengedikkan bahunya. Dia adalah tipikal orang yang malas ribet. Tetapi dia juga mengerti bahwa saudara sepupunya ini adalah seseorang yang sangat idealis. Hal itulah yang menjadikannya sosok mahasiswa teladan di kampusnya.


“Kita ngopi dulu atau langsung pulang? Gimana, dude?” Teguh meminta pendapat Vino. Vino berfikir sejenak.


“Mas ga buru-buru nih?” Tanya Vino sambil melirik Teguh.


Teguh menggeleng. Dia langsung putar haluan dan mengemudikan mobil menuju jalur utama ke arah pusat kota.


“OK. Nongkrong dimana kita?” Vino bertanya dengan penuh semangat. Kalau soal nongkrong, Vino rajanya.


Hampir semua pojok tongkrongan keren di kota itu sudah dihafal dengan baik oleh Vino.


Otaknya bekerja cepat dalam hal-hal yang bersifat hedon, namun seringkali melemah dalam hal-hal yang bersifat akademis. Bukannya tidak pintar, Vino hanya malas berfikir.


“Kamu aja yang sebutkan tempatnya, kita langsung gas ke sana!” Ujar Teguh.

__ADS_1


Vino menimbang-nimbang sesaat. Beberapa pilihan tempat tongkrongan muncul di benaknya. Akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada sebuah resto yang mewah dan nyaman di pinggiran kota. Di sana tersedia berbagai menu makan siang yang menggugah selera. Membayangkannya saja sudah membuat dia merasa semakin lapar.


“Ayo, ngebut mas! Terobos aja itu lampu merahnya.” Perintah Vino. Dia betul-betul sudah kelaparan.


“Kamu ini… Jangan biasakan melanggar aturan, Vino!” Ujar Teguh.


“Ini jalan raya! Bisa berbahaya bagi keselamatan kita dan juga keselamatan orang lain. Ingat, Vino. Ada banyak pengguna jalan, bukan hanya kita!” Teguh mulai memberi wejangan.


Vino mendengus tertahan. “Kan semua pake perhitungan, boss!” Tukas Vino tidak mau kalah.


Teguh tersenyum tipis. Dia menjitak kepala Vino dengan gemas.


“Aduhhh!!” Jerit Vino dengan ekspresi wajah juteknya yang biasa.


Suasana jalan raya yang padat dan agak macet membuat perjalanan Teguh dan Vino menjadi semakin lama.


Vino beberapa kali mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah kepada para pengendara sepeda motor yang memotong jalan mereka dengan sembrono.


“Manusia kampret! Maen motong aja, ga mikir dia kalau orang lain celaka bakalan gimana!” Vino terlihat emosi sekali.


Teguh tertawa terbahak-bahak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Vino yang sedang kesal parah.


“Nah… Paham toh gimana rasanya menghadapi orang yang melanggar aturan di jalan!” Ujar Teguh dengan nada menyindir.


“Iya… Ini mah beda kasus. Ini jalan lagi padat bener, kalau mau nikung kan ada aturannya! Maen serobot aja. Dikira jalan nenek moyangnya buat apa!” Vino ngedumel panjang lebar.


Perutnya yang keroncongan sejak tadi semakin membuat emosi jiwanya meningkat berkali-kali lipat.


Teguh masih tertawa melihat reaksi Vino. Dia tahu Vino pasti sudah sangat kelaparan.


Smartphone Vino berdering dengan nyaring. Mama Vino menelpon.


“Iya, halo ma…” Ucap Vino.


“Iya ma, ini barengan Mas Teguh. Kami makan siang di luar ya ma.” Vino meminta izin pada mamanya. Ia melirik Teguh yang mengemudi dengan santai.


Setelah menutup telpon, Vino tiba-tiba teringat sesuatu.


“Papa hari ini pulang ya?” Vino bertanya dengan nada cemas.


“Hahaha… Iya, siang ini om nyampe. Mungkin lagi dijemput sama driver.” Ujar Teguh.


“Aduh… Kacau kalau papa udah pulang…” Vino mendesah pelan.


“Oh ya? Ada masalah apa?” Tanya Teguh.


Dia memperhatikan wajah Vino sekilas. Bekas luka di wajah Vino sudah sangat samar.


Teguh merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Om Handoko tentu tidak akan curiga dengan kondisi Vino saat ini.


“Kira-kira papa tahu ga ya tentang kasus di sekolah?” Vino bertanya dengan nada gusar.


“Hanya jika tante buka mulut. Hahaha…” Teguh menjawab sekenanya.


Dia senang melihat wajah Vino yang terlihat sedikit tegang.

__ADS_1


“Matilah aku kalau mama buka suara…” Desis Vino. Teguh tersenyum geli. Vino melirik Teguh dengan tatapan sinis.


“Kita sampai!” Ujar Teguh sambil menyetir mobil fortuner mereka dengan hati-hati untuk masuk ke barisan parkiran mobil yang sempit.


Vino menghela nafasnya dengan lega. Dia sudah tidak sabar ingin memesan makanan favoritnya.


Vino dan Teguh masuk ke resto. Suasana di resto cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang.


“Kita duduk di sana aja, mas.” Ucap Vino sambil menunjuk tempat duduk yang diinginkannya.


“OK.” Ujar Teguh. Ia mengikuti langkah kaki Vino sambil memperhatikan suasana di sekeliling resto.


Ketika mereka sudah duduk dengan nyaman, seorang pelayan datang membawakan katalog menu untuk dipilih oleh Vino dan Teguh.


Semua menu terlihat begitu lezat. Vino dan Teguh memilih jenis makanan yang berbeda.


Beberapa menit kemudian para pelayan resto sudah kembali dan menghidangkan hidangan yang telah mereka pesan.


Vino menyantap hidangannya dengan cepat. Sedangkan Teguh terlihat menyantap dan menikmati makanannya dengan tenang.


Dalam hitungan menit, Vino sudah selesai makan siang. Teguh melirik piring di hadapan Vino. Sudah ludes dan bersih. Sambil menahan tawa, Teguh melanjutkan makan siangnya.


Seorang pelayan resto membawakan secangkir hot chocolate untuk Teguh.


“Terima kasih, mas.” Ucap Teguh sopan.


“Ehhh… Aku juga mau itu!” Seru Vino.


Teguh memanggil kembali pelayan yang baru saja meninggalkan meja mereka dan memberi tanda pada pelayan tersebut bahwa mereka bermaksud menambah pesanan.


Sementara menunggu pesanannya tiba, Vino memperhatikan sekeliling mereka.


Beberapa eksekutif muda terlihat saling berbicara dan bercanda. Gelak tawa mereka terdengar begitu renyah.


Namun tiba-tiba mata Vino menangkap sosok seorang pria muda dengan setelan jas hitam yang elegant. Pria yang sangat tampan itu sedang duduk sendirian.


Pria itu menikmati hidangan makan siangnya sambil menatap serius sebuah Mac Book di depannya.


Sepertinya pria itu adalah seseorang yang sibuk sekali. Bahkan sambil makan siang pun pria itu sepertinya masih saja fokus bekerja.


Vino menatap kagum pria muda itu. “Keren bener kalau jadi eksekutif muda!” Batin Vino.


Tetapi sejenak kemudian dia kembali teringat akan papanya yang super sibuk. Dia juga tidak ingin sesibuk papanya. Rasanya itu terlalu melelahkan.


Vino melirik lagi pria tampan tadi. Pria itu sedang berbicara di telpon. Tidak lama kemudian pria itu menutup Mac Book nya dan menghabiskan hidangan di hadapannya dengan cepat.


Pria itu lalu bergegas ke luar dari resto dengan langkahnya yang tegap, gagah dan berwibawa.


“Keren…” Gumam Vino.


“Hot chocolate, mas?” Seorang pelayan bertanya pada Teguh dengan suara yang ramah.


“Iya. Terima kasih…” Ucap Teguh sambil menyodorkan minuman tersebut ke hadapan Vino yang terlihat bengong karena terpesona dengan sosok eksekutif muda yang tampan dan gagah itu.


__ADS_1


__ADS_2