
Helena merapikan buku-buku dan alat tulisnya dengan cepat dan penuh semangat ketika bel tanda istirahat berbunyi. Matanya melirik dengan antusias ke arah guru yang baru saja melangkah keluar meninggalkan ruangan kelas I-2.
"Amanda, kamu mau ikutan ke kelas sebelah?" Tanya Helena sambil melirik sekilas ke arah Amanda.
"Hemmm... Ga ke kantin dulu nih?" Amanda balik bertanya.
"Iya. Maksudku setelah dari kantin, kita maen ke kelas I-3 yuk!" Seru Helena riang.
"Boleh..." Ujar Amanda.
"Ada gossip baru nih, aku jadi kepo!" Desis Helena.
"Gossip!? Tentang apa? Errrr... Tentang siapa? Hehehe..." Amanda bertanya dengan rasa penasaran sambil terkekeh pelan.
"Tentang siapa lagi... Kalau bukan tentang senior kebanggaan kamu!" Tukas Helena sambil tersenyum jahil.
"Apa!?" Amanda tersentak kaget.
Amanda mulai mereka-reka kejadian apa lagi yang terjadi pada kak Edo. Sepertinya kak Edo sering menjadi topik perbincangan para gadis di sekolah ini.
Amanda baru menyadari ternyata sosok kak Edo cukup terkenal di SMA Adhyaksa. Selain itu, ternyata ada begitu banyak gadis yang selalu mengikuti dan memperhatikan kehidupan pribadi kak Edo.
Rasa kesal sekilas muncul di hati Amanda. Namun Amanda tidak ingin dirinya terlarut dalam rasa yang tidak penting itu. Dia sudah berusaha cuek dan membunuh semua rasa kagum untuk kak Edo di dalam hatinya.
Semua rasa yang ada di hati Amanda untuk kak Edo sesungguhnya sudah mulai berangsur-angsur memudar seiring berjalannya waktu. Secara perlahan Amanda sudah berhasil mengelola perasaannya. Akan tetapi, sesekali Amanda masih juga baperan sendiri ketika mendengar nama kak Edo disebut-sebut.
"Senior kamu memang famous, gossip tentang dia kayak ga ada habisnya!" Seru Helena.
"Huffffttt..." Amanda mendesah pelan sembari mencoba menetralisir berbagai rasa aneh yang mulai hadir di dalam hatinya.
Helena melirik Amanda yang terlihat sedikit cemberut. "Kita ke kantin yukkkk!" Ujar Helena sambil menarik tangan Amanda.
Amanda mengikuti Helena dengan lesu. Tiba-tiba saja dia merasa tidak bersemangat. Sebentar saja mereka sudah tiba di kantin utama. Aroma makanan membangkitkan selera makan Amanda. Sejenak dia terlupa dengan perasaannya tadi. Ia pun kemudian mengikuti langkah kaki Helena menuju antrian panjang siswa yang ingin membeli baso aci.
"Kamu doyan baso aci juga kan?" Tebak Helena.
"Hemmm... Iya." Ujar Amanda sambil mengangguk cepat.
"Kalau lihat antrian sepanjang ini, pastinya baso aci ini enak sekali, ya ga sih?" Bisik Helena.
Amanda mengangguk lagi. "Aromanya juga menggiurkan, bukan?" Amanda menimpali.
Helena tertawa dan mengangguk setuju. Aroma baso aci telah membuat dirinya dan Amanda lupa dengan tujuan awal mereka untuk bergegas kembali ke kelas I-3.
Antrian yang cukup panjang tentu saja akan membuat Helena dan Amanda menghabiskan waktu yang lebih lama di dalam kantin utama. Kedua gadis itu seolah telah terhipnotis dengan aroma baso aci yang gurih dan lezat.
"Awww...!!!" Helena berteriak kaget ketika seseorang menggelitik pinggangnya dari belakang.
Amanda ikut kaget dan melihat sosok seorang gadis cantik dengan rambutnya yang lurus menawan, berdiri di belakang dirinya sambil cengar-cengir.
"Kamu rupanya! Bikin kaget aja!" Sergah Helena.
Rosalia tertawa riang dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Amanda. Amanda membalas dengan senyuman.
"Oh my God! Tadinya aku mau ke kelas kamu loh!!" Helena menepuk jidatnya sendiri.
"Ngapain? Pasti mau ngajak aku mengghibah nih!" Vonis Rosalia.
"Iya dong! Kamu kan ratu bigos di kelas I-3! Hahaha..." Ujar Helena asal.
"Kamu ratu halu di kelas I-2!" Balas Rosalia sengit.
Helena tertawa lebar. Amanda hanya tersenyum. Antrian bergerak cepat. Helena memesan tiga porsi baso aci dan bertanya pada Rosalia, "Ros, kamu mau baso aci juga kan?".
"Yup, kalau kamu yang traktir!" Jawab Rosalia tanpa rasa bersalah.
"Gampang!" Ucap Helena mantap.
Tiga mangkok baso aci disajikan di atas sebuah nampan besar oleh penjual baso aci dengan sigap. Setelah membayar dengan sejumlah uang, Helena mengangkat dan membawa nampan tersebut dengan hati-hati melewati siswa-siswa yang lalu lalang di dalam kantin utama.
"Wahhh... Terima kasih, Helen. Tapi aku bisa bayar sendiri..." Ucap Amanda sungkan.
"Santai aja, non!" Balas Helena cuek.
"Mau aku bantuin, Helen?" Amanda menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Gapapa, Amanda. Aku bisa kok. Santai aja, kamu ga usah sungkan gitu." Ucap Helena.
"Hemmm... OK..." Desah Amanda.
Terlihat Rosalia melambaikan tangan dan menunjuk dua bangku kosong di sampingnya. Helena berjalan mantap ke arah tempat duduk Rosalia. Ketiga gadis itu duduk di meja yang terletak di sudut kiri ruangan kantin utama.
"Eva mana?" Tanya Helena ketika menyuguhkan satu mangkuk baso aci tuk Rosalia.
Amanda dengan sigap mengambil satu mangkuk baso aci di nampan besar itu untuk dirinya. Dia hanya tidak ingin merepotkan Helena. Helena tersenyum simpul.
"Ya gitu deh... Nempel terus sama pacar barunya!" Ujar Rosalia dengan nada sedikit kesal.
"Whattt?!!!" Helena terlihat shock.
"Pacar baru?! Sumpah aku ga ngerti kamu bicara apa!" Seru Helena lagi.
Rosalia menyeruput kuah baso aci dengan santai. Setelah itu dia tersenyum penuh makna pada Helena.
Amanda menikmati baso aci dengan tenang. Dia tentu saja tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Helena dan Rosalia. Lagipula dia sepertinya juga tidak tertarik dengan topik pembahasan mereka saat ini.
Namun Amanda berusaha bersikap wajar. Walaupun sesungguhnya dia ingin segera mendengar kabar terbaru tentang kak Edo.
"Ros! Kamu cerita jangan setengah-setengah dong!" Helena mulai berang.
"Loh... Emangnya Eva ga ngomong ke kamu kalau dia baru aja jadian?" Tanya Rosalia.
"Enggak..." Jawab Helena cepat.
"Hemmm... Mungkin dia lupa, saking bahagianya. Hahaha..." Rosalia tergelak sendiri.
Helena mendengus sambil mengaduk-aduk kuah baso aci di hadapannya.
"Buruan makan gih... Ntar keburu dingin loh!" Ujar Rosalia.
"Jadi cowoknya siswa sini juga?" Tanya Helena penasaran.
"Iya." Jawab Rosalia singkat.
"Kelas mana?" Tanya Helena tidak sabar.
Amanda ikut tersenyum melihat ekspresi kedua temannya itu. Khususnya wajah Helena yang terlihat kesal.
"OK... OK... Sabar, Helen. Izinkan aku menghabiskan baso aci ini dulu ya. Hahaha..." Ujar Rosalia sambil tertawa lebar.
Helena mendengus lagi. Dia melirik Amanda yang sedang menyantap baso aci dengan ekspresi santuy.
Suasana di kantin utama masih riuh dan ramai. Waktu istirahat tersisa lima belas menit lagi. Amanda dan Rosalia sudah selesai menyantap baso aci mereka.
"Nah... Lanjut!" Helena memberi instruksi pada Rosalia.
"Sebenarnya aku juga ga tahu sih kapan persisnya mereka jadian. Yang jelas, beberapa hari kemarin dia makin deket sama cowok itu..." Rosalia mulai bercerita.
"Siapa cowok itu!?" Helena menyela cerita Rosalia dengan tidak sabar.
"Itu lohhh... Cowok ganteng yang heboh kemarin!" Ucap Rosalia.
Helena menatap serius Rosalia. Wajahnya terlihat bingung.
"Cowok mana sih!? Diiihhh... Kamu bertele-tele banget. Muter sana, muter sini. To the point aja, Ros! Siapa namanya?" Helena mulai emosi jiwa.
"Nah itu dia... Aku lupa siapa namanya!" Rosalia berusaha mengingat-ingat nama cowok yang dia maksud tersebut.
Amanda melirik Helena. Helena balas menatap Amanda.
"Cowok yang kemarin dipukuli senior itu loh! Hemmm... Siapa ya namanya. Aku kok jadi lupa beneran ya..." Desis Rosalia.
"Hahhh!? Maksud kamu, si gila itu? Bagaimana bisa Eva jatuh cinta sama bedebah brengsek itu?" Tukas Helena.
"Si gila mana lagi ini?" Rosalia bertanya balik.
"Vino kan maksudmu? Ketua kelas kami." Helena mencoba memastikan lagi dugaannya sambil melirik Amanda.
"Oh... Bukan dia. Yang satunya lagi. Hemmm... Aku lupa kelas berapa. I-6 kali ya..." Gumam Rosalia.
"Hendi... Namanya Hendi, bukan?" Tiba-tiba Amanda menimpali.
__ADS_1
Sontak Rosalia dan Helena menatap Amanda. Amanda terkekeh pelan. Dia hanya mencoba nimbrung dalam pembicaraan mereka, tapi sepertinya jadi mengejutkan kedua gadis cantik di hadapannya.
"Iya, benar! Yang jadi trending topic kemarin kan ya?" Rosalia bertanya dengan antusias.
Amanda mengangguk sambil tersenyum. Helena mengernyitkan dahinya.
"Syukurlah kalau bukan si gila itu! Buat kaget aja..." Ucap Helena.
"Sssttttt..." Rosalia mengingatkan Helena untuk mengecilkan volume suaranya.
"Awas... Ntar ada yang denger lohhh..." Ujar Rosalia.
"Pfttttt... Bodo amat." Tukas Helena.
"Balik ke kelas yuk!" Ajak Rosalia ketika melihat Helena sudah selesai mengosongkan isi mangkuknya.
"Ehhh... Buru-buru amat, Non." Sergah Helena.
"Iya, aku duluan ya." Ucap Rosalia.
"Heiiii... Tunggu dulu. Kamu belum cerita tentang kak Edo." Helena berusaha berbicara dengan suara pelan agar tidak menarik perhatian siswa-siswa lain di sekitar mereka.
"Oh... Itu... Aku juga kurang tahu sih. Tanya ke Eva aja. Dia mah lambe turah. Dia tahu semua gossip terbaru di sekolah ini." Ujar Rosalia sekenanya.
"Yaelah... Aku kira kamu tahu. Hufffftttt..." Keluh Helena putus asa.
"Gimana? Mau pada balik? Atau aku duluan nih..." Kata Rosalia.
Helena mengangguk malas. Ia pun kemudian ikut berdiri disusul Amanda di belakangnya. Ketiga gadis itu akhirnya meninggalkan kantin utama.
Helena merasa sedikit kecewa karena siang ini dia belum berhasil mendapatkan informasi yang ingin diketahuinya. Dia memutuskan untuk membahas tentang itu di grup WA mereka nanti. Mungkin teman-temannya yang lain bisa menceritakan lebih detail tentang kabar terbaru mengenai kak Edo dan mantan kekasihnya itu.
"Hai Amanda... Wah... Senang sekali ketemu kamu lagi!" Ryan menyapa dengan ceria ketika mereka berpapasan di depan kelas I-3.
"Ohh... Ehh... Hehehe... Terima kasih." Ucap Amanda kikuk.
Rosalia merasa sedikit heran melihat sikap ramah Ryan terhadap Amanda. Dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah Ryan dan Amanda sudah lama saling kenal atau apakah ada sesuatu di antara mereka.
"Hemmm... Aneh..." Rosalia menggumam dalam hati dan berpamitan pada Helena untuk masuk ke kelas lebih dahulu.
Helena mengangguk. Dia menatap Ryan yang sedang berbicara santai dengan Amanda.
"Hemmm... Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu baik banget, Amanda." Ucap Ryan tulus.
Amanda tiba-tiba teringat sesuatu. Pesan aneh yang dikirim oleh Ryan tadi pagi.
"Errrrr... Berterima kasih untuk apa nih? Aku ga lakuin apa-apa." Ujar Amanda dengan wajah tersenyum namun terlihat bingung.
"Hahaha... Kamu bisa aja ya! Yahhh... Hanya hal sepele sih, but I really appreciate it..." Ucap Ryan masih dengan ekspresi wajahnya yang ceria.
Amanda semakin bingung. Dia melirik Helena yang masih berdiri di sebelahnya. Helena menatap Amanda dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa dirinya tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan.
"Hehehe... Aku ga ngerti nih. Hemmm... Maksudnya apa ya?" Tanya Amanda polos.
Amanda berfikir lebih baik ia bertanya langsung pada Ryan daripada menduga-duga sesuatu yang tidak dia pahami.
"Oh Gosh... OK... Terima kasih sudah membayarkan uang pendaftaran lomba menulis essay itu." Ujar Ryan.
"Aku ga nyangka aja kamu langsung bayarin semuanya. Aku jadi ga enakan juga sih sebenarnya, ditraktir cewek. Hehehe..." Sambung Ryan.
"Hahhh? Apa?!" Amanda menjadi semakin bingung.
Amanda melongo. Dia sedang mencerna kata-kata Ryan tepat ketika bel tanda masuk berbunyi dan mengejutkan dirinya akan fikirannya sendiri.
"Amanda, ayo kita masuk!" Helena menarik tangan Amanda menuju ke kelas mereka.
"OK. See you..." Ujar Ryan sambil tersenyum ramah seperti biasa.
Amanda dan Helena berjalan cepat memasuki kelas mereka. Sambil berjalan di samping Helena, Amanda terus memikirkan kata-kata Ryan.
"Bayar? Siapa yang bayar? Aku bahkan belum tahu berapa biayanya." Batin Amanda.
"Huhhh... Kesel banget aku! Sumpah, aku kepo bener dah sama perempuan genit itu. Dasar cewek ga tahu malu. Masih aja berani deketin kak Edo!" Helena nyerocos panjang lebar di bangkunya.
Amanda menghela nafasnya. Dia mencoba memahami kicauan Helena yang panjang lebar dan mendadak terhenti ketika semua siswa di dalam kelas menjadi tenang saat ibu Suhartini masuk ke dalam kelas mereka.
__ADS_1