
"Hemmm..." Gumam Doni.
Seperti biasa, Amanda jadi makin salah tingkah jika berada sedekat itu dengan Doni.
"Sama siapa kamu ke sini?" Tanya Doni.
"Errrrrr... Aku sama temanku. Teman sebangku..." Jawab Amanda cepat.
Amanda bermaksud meninggalkan Doni tetapi Doni menghalangi jalan Amanda.
"Idihhh... Apaan sih?" Amanda mulai menggerutu tapi terlihat malu-malu.
Amanda mencuri-curi pandang situasi di sekeliling mereka. Syukur keadaan cukup sepi jadi tidak ada yang melihat dirinya dan Doni yang sedang usil.
"Doni... Minggir. Aku mau lewat!" Amanda berseru pelan dan terpaksa mendorong tubuh Doni agar dia bisa melewati Doni yang menghadangnya.
Doni tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Amanda yang panik dan malu-malu. Seperti biasanya, wajah Amanda yang polos seperti itu sangat menarik bagi Doni. Doni akhirnya memberikan jalan bagi Amanda. Amanda berjalan cepat meninggalkan Doni dengan jantung berdebar.
"Pffffttt... Dia selalu saja begitu..." Amanda menggerutu dalam hati.
Amanda menoleh ke belakang dan menghembuskan nafas dengan lega ketika melihat Doni tidak ada di belakangnya. Dia merasa lega Doni tidak mengikutinya lagi. Dia sendiri merasa bingung mengapa Doni suka sekali usil terhadap dirinya.
"Huhhhh... Anak itu selalu aja buat jantungku mau copot rasanya!" Amanda ngomel-ngomel sendiri.
Amanda menyusuri rak demi rak untuk menemukan judul buku yang dibutuhkannya.
"Hemmm... Mungkin bukunya ada di rak sebelah ya..." Batin Amanda.
Amanda bergegas menuju ke deretan rak buku selanjutnya. Dia berusaha lebih konsentrasi agar bisa lebih cepat menemukan buku-buku yang dibutuhkannya.
"Hemmm... Harusnya ada di rak ini deh...Tapi kok ga kelihatan ya bukunya?" Amanda berkata pada dirinya sendiri.
Amanda yakin kini dia sudah berada di rak yang tepat, sesuai dengan pencarian di katalog online perpustakaan . Dia berusaha menengadahkan kepala ke bagian paling atas dari rak buku tersebut.
BINGO!
Amanda berhasil menemukan judul buku yang dicarinya. Buku itu terselip dengan rapi di antara buku-buku sastra lainnya.
"Yesss! Ketemu juga akhirnya..." Ucap Amanda lega.
Amanda berjinjit agar bisa meraih buku tersebut. Posisi buku yang terletak di bagian paling atas sedikit mempersulit Amanda. Kalau sudah begini, Amanda kerap kali merutuki tinggi badanya yang minimalis itu.
"Kyaaaa!!" Amanda menjerit dengan suara tertahan ketika seseorang menyentuh tangannya dengan tiba-tiba.
Doni menutup mulut Amanda dengan sigap.
__ADS_1
"Sssstttt..." Bisik Doni.
Amanda berbalik badan dan refleks menghentakkan tangan Doni yang sedang menutup mulutnya.
"Doni... Kamu itu kayak hantu, tahu!!" Ujar Amanda berang.
"Tiba-tiba muncul. Aku kaget mati..." Sambung Amanda dengan nafas ngos-ngosan.
Doni mengambil buku yang dibutuhkan Amanda dengan mudah.
"Inikah buku yang kamu perlu?" Doni berkata dengan gaya cueknya yang biasa.
"Iya, thanks." Jawab Amanda singkat.
Amanda menerima buku yang disodorkan oleh Doni. Dia berfikir sebaiknya segera kembali ke meja tempat Helena menunggunya. Buku-buku lainnya bisa dicari esok hari.
"Ga kondusif nih..." Batin Amanda.
Amanda meminta Doni untuk minggir dan menjauh agar dia bisa berjalan dengan mudah. Tapi bukan Doni dong namanya jika mengalah begitu saja pada Amanda.
"Eitsss... Jangan dekat-dekat!" Hardik Amanda ketika Doni mulai menyerempet tubuhnya.
Amanda mundur dua langkah hingga punggungnya tanpa sengaja menabrak rak buku di belakangnya. Untung saja rak buku itu sangat besar dan kokoh sehingga tidak bergeming ketika ditabrak oleh Amanda.
Doni semakin gemas melihat wajah Amanda yang merona dan panik tak menentu. Fikiran aneh terlintas di benaknya.
"Lakukan sekarang, Doni... Ayo, mumpung sepi!" Sebuah suara usil berbisik di dalam kepalanya.
Doni merasa kesadarannya hilang beberapa detik ketika dia mencondongkan wajahnya agar bisa menyentuh bibir Amanda.
Amanda panik sejadi-jadinya. Dia kini bisa merasakan hembusan nafas Doni yang hangat di wajahnya.
PUKKKK!!
Buku yang dipegang Amanda mendarat sempurna di wajah Doni yang tampan dan mulus tanpa cela.
"Arghhhh..." Doni meringis dan menyentuh wajahnya yang terasa nyeri.
"Kamu ini... Jangan macam-macam!" Hardik Amanda.
Melihat Doni yang sedang lengah, Amanda tidak membuang-buang kesempatan. Dia berlari-lari kecil meninggalkan Doni. Dia berusaha tidak menimbulkan suara yang mencolok.
Amanda merasa kini hatinya semakin tidak karuan.
"Dasar bodoh! Apa yang dia lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat? Hiiiiyyy..." Amanda bergidik sendiri membayangkan dirinya dan Doni nyaris saja berciuman tadi.
__ADS_1
Amanda menemui Helena sambil berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Helen, yuk!" Ajak Amanda.
"Hemmm... Sudah ya? Cuma satu buku?" Tanya Helena.
Helena masih ingat betul tadi Amanda berencana pinjam lima buah buku. Tapi ternyata hanya satu buku yang berhasil ditemukannya.
"Iya... Besok-besok aku pinjam buku lain." Sahut Amanda.
"Oh... OK..." Gumam Helena.
Kedua gadis itu segera menuju ke mesin peminjaman. Amanda melakukan scan kartu anggota perpustakaan kemudian mengarahkan bar code buku yang digenggamnya ke arah sebuah scanner khusus. Sebuah struk bukti peminjaman keluar dari mesin tersebut. Amanda mengantongi struk itu dan berniat menyimpannya dengan rapi nanti di dalam dompetnya.
Amanda mengajak Helena berjalan lebih cepat ketika melihat siluet tubuh Doni muncul di kejauhan.
"Aduhhh... Dia itu... Selalu saja begitu!" Amanda ngomel sendiri di dalam hati.
"Kita singgah ke kantin sebentar yuk!" Ajak Helena, dia merasa lapar.
"Masih sempat?" Tanya Amanda sambil melirik jam tangannya.
"Lima menit lagi. Sempat dong. Sebentar aja, beli kue." Sahut Helena.
"Ummmm... Baiklah... Ayo!" Ujar Amanda.
Sambil berjalan, Amanda berusaha keras menenangkan debaran jantungnya. Bukan sekali Doni bersikap begitu. Amanda sudah beberapa kali melihat Doni bersikap bucin seperti itu.
"Aku kegeeran apa gimana ya?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.
"Tapi tadi itu jelas sekali... Dia hampir saja menciumku..." Amanda merasa panas dingin membayangkan cara Doni mendekatinya tadi.
Doni sendiri merasa kesal ditimpuki buku oleh Amanda.
"Gadis itu... Dia sulit sekali didekati!" Gerutu Doni.
Doni selalu merasa tertantang melihat Amanda. Dia menyadari Amanda adalah sosok gadis yang sulit didekati. Tidak ada gadis yang menolak dicium oleh cowok setampan dirinya. Doni yakin itu. Tapi Amanda memang berbeda. Dia selalu saja punya cara yang tak terduga.
Doni tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi. Dia meninggalkan ruangan perpustakaan dengan hati bahagia.
"Lihat saja! Sebentar lagi kau tidak akan bisa menolaknya!" Doni menantang dirinya sendiri untuk menaklukkan Amanda secepatnya.
Sepertinya Doni telah menyusun sebuah rencana spesial untuk Amanda, gadis sederhana yang sudah menguasai hati Tuan Muda.
Semakin lama Doni merasa semakin suka dengan Amanda. Amanda benar-benar sosok gadis yang berbeda di mata Doni. Kesederhanaan hidupnya tidak membuat Amanda menjadi seorang gadis yang minderan dan tidak berani bergaul. Amanda cukup pede dengan dirinya sendiri. Hal itulah yang membuat Amanda memiliki nilai tersendiri di dalam hati Tuan Muda Anthony.
__ADS_1