Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Tiba-tiba Pusing


__ADS_3

Seperti biasa, bel tanda pulang sekolah adalah bunyi yang paling ingin didengar oleh semua siswa. Tidak ada satupun siswa yang bisa menyangkal tentang kebenaran hal ini.


Semua siswa seolah menerima semangat baru setiap kali bel tanda jam pelajaran usai berbunyi. Sehingga bisa disimpulkan jika salah satu motivasi utama kebanyakan siswa adalah pulang sekolah secepat mungkin.


Helena adalah salah satunya. Dia menggerutu kesal seperti menyalahkan waktu yang berjalan begitu lambat siang ini.


"Huhhh... Masih satu jam lagi!" Helena mendesis di samping Amanda.


Amanda tidak menanggapi. Dia tidak mengatakan apapun. Saat ini ia merasa mengantuk dan bosan. Ia sudah beberapa kali menguap lebar.


Pelajaran ilmu sejarah tidak seharusnya berada di jam terakhir. Karena hal itu hanya membuat para siswa menjadi sangat tersiksa.


Guru mapel ilmu sejarah sepertinya sama saja dimana-mana. Entah pola pengajarannya yang sama, atau memang tuntutan kurikulum harus seperti itu. Yang jelas, para siswa tidak peduli akan hal itu. Yang mereka ketahui, jika pelajaran sejarah dimulai, itu artinya saatnya menghayal dan melawan rasa kantuk yang akan datang secara diam-diam.


"Huahhh..." Amanda menguap lebar-lebar.


Helena sontak menoleh ke arah Amanda dan berusaha menahan tawanya.


"Duhhh... Kok jadi ngantuk gini ya..." Bisik Amanda.


Sebenarnya bukan hanya Amanda saja yang sedang berjuang melawan kantuknya. Beberapa siswa di bangku belakang bahkan telah memejamkan matanya dengan posisi duduk tegak.


Guru sejarah itu sama sekali tidak menyadari bahwa para siswa sudah sangat bosan. Bukan hanya bosan, siswa-siswa di bangku belakang malah sudah ada yang tertidur pulas.


Amanda berfikir dia harus keluar kelas sejenak. Mencui wajahnya dengan air dan menghirup udara segar sejenak mungkin bisa menghilangkan rasa kantuknya saat ini.


"Aku ke toilet sebentar ya..." Ucap Amanda pada Helena.


"Hemmm... OK.." Sahut Helena.


Amanda berjalan ke depan kelas dan meminta izin keluar ke toilet Setelah guru memberikan izin, Amanda buru-buru pergi ke toilet khusus untuk siswa perempuan.


Amanda langsung disapa oleh sengatan sinar matahari yang cukup panas siang itu. Suhu di dalam kelas yang begitu sejuk membuat kulit Amanda terkejut ketika perubahan suhu itu terasa mengenai kulitnya.


Setibanya di kamar mandi siswa perempuan, Amanda membuka keran air lalu menampung air dengan kedua tangannya. Ia lalu memercikkan air itu ke wajahnya. Ia langsung saja merasa lebih segar.


Setelah rasa kantuknya menghilang, Amanda bergegas kembali ke kelas. Kini ia sudah merasa lebih segar dibandingkan sebelumnya.


Amanda melanjutkan mencatat materi peajaran yang sedang disampaikan. Ia melirik Helena yang sedang asyik chatting dengan teman-teman di grupnya.


Amanda tidak ingin mengganggu Helena. Sehingga dia kembali fokus pada pelajaran yang sedang dipelajarinya saat itu.


Tiba-tiba Amanda merasa kepalanya agak pusing. Ia juga merasa sedikit mual.


"Aduhhh... Kok aku tiba-tiba jadi pusing...?" Amanda membatin dalam hati.


Semakin Amanda mencoba fokus melihat ke depan, semakin pusing kepalanya. Ia sontak merasa mual. Tidak biasanya ia mengalami hal seperti itu.


"Amanda, si Ryan udah punya pacar belum?" Tanya Helena dengan suara pelan.

__ADS_1


"Errrr... Aku ga tahu... Aku juga baru kenal dia..." Jawab Amanda di sela-sela upayanya menahan rasa pusing yang terus saja menyerang.


"Hemmm... Kalau masih jomblo, temanku ada yang naksir nih. Hihihi..." Helena terkikik pelan.


Amanda mulai tidak bisa fokus mendengar kata-kata Helena. Perutnya terasa sakit, mual, seperti keram. Kepalanya juga semakin pusing.


Helena awalnya tidak memperhatikan keadaan Amanda. Namun beberapa menit kemudian, ia mulai tersadar setelah mendengar Amanda meringis pelan di sampingnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Helena ketika melihat wajah Amanda yang mulai pucat.


"Aduhhh... Ga tau nih, Helen... Aku tiba-tiba pusing..." Rintih Amanda.


Helena menjadi sedikit panik. Dia berfikir bagaimana jika sebaiknya ia mengajak Amanda ke UKS.


"Kita ke UKS?" Helena meminta pendapat Amanda.


Amanda menggeleng lemah. Dia mulai oleng dan mencoba bersandar di bangkunya.


"Nanggung, Helen... Sebentar lagi juga udah jam pulang..." Sahut Amanda lirih.


"Hemmm... Iya juga ya..." Ujar Helena.


"Tapi kamu sanggup pulang? Atau pulang bareng aku aja. Nanti aku anterin kamu sampai ke rumah." Helena menawarkan tumpangan.


"Gapapa, Helen. Terima kasih. Aku bisa pulang sendiri..." Ucap Amanda.


"Ohhh... OK deh..." Helena berkata sambil melirik Apple Watch di pergelangan tangannya.


"Syukurlahhh..." Desis Amanda.


Amanda lebih lega mengetahui sebentar lagi sekolah usai. Dia sudah tidak tahan lagi berada di kelas. Dia khawatir pusingnya nanti semakin menjadi-jadi dan jadi tidak sanggup pulang ke rumah.


Helena membantu Amanda berjalan ketika melihat Amanda tertatih-tatih keluar dari kelas.


"Kamu yakin ga mau dianterin?" Tanya Helena dengan nada khawatir.


"Iya, Helen. Ini cuma mules-mules biasa. Nanti juga baikan sendiri." Tukas Amanda.


"Hemmm... Mungkin kamu masuk angin tuh!" Tuding Helena.


"Iya... Mungkin..." Sahut Amanda.


Amanda berjalan dengan susah payah meskipun sudah dibantu oleh Helena. Helena bingung harus bersikap bagaimana.


Doni melihat Amanda dipapah oleh Helena. Dia segera menghampiri kedua gadis itu.


"Kenapa ini?" Tanya Doni namun tidak jelas ia berbicara pada siapa.


"Aku pusing, Doni..." Jawab Amanda lirih.

__ADS_1


"Dia tiba-tiba pusing dan mual." Imbuh Helena.


"Apa?" Doni terlihat sedikit terkejut mendengar kata-kata Helena.


"Dia ga mau aku anterin. Kamu pulang sama dia ya?" Tanya Helena.


"Iya." Sahut Doni cepat.


"Ya udah, kalau gitu aku titip Amanda ya." Helena lalu berpamitan pada Doni.


"Aduhhh..." Amanda meringis dan meremas perutnya.


Doni semakin panik melihat Amanda yang pucat dan meringis menahan rasa sakit.


"Ayo kita ke UKS!" Ajak Doni.


"Ga, Doni. Aku mau cepat-cepat pulang." Ujar Amanda.


"Tapi kamu sanggup nunggu angkot?" Tanya Doni ragu.


Amanda terdiam. Dia bersandar di sebuah pohon besar di tepi jalan. Halte sudah terlihat.


"Ga jauh lagi... Ayo, sedikit lagi..." Batin Amanda.


Doni segera menghubungi Tuan Alfred.


"Ayo!" Ajak Doni sambil membantu Amanda masuk ke dalam mobil Tuan Alfred.


Amanda mengikuti Doni. Dia sudah terlalu pusing. Amanda bahkan tidak sanggup duduk tegak di jok mobil. Ia mulai terkulai lemas. Pusingnya semakin menjadi-jadi, matanya mulai berkunang-kunang. Dinginnya AC di dalam mobil membuat tubuhnya menggigil. Amanda merasa kesadarannya hampir hilang.


"Amanda..." Doni mendesis pelan. Wajahnya terlihat tegang.


Sayup-sayup Amanda masih bisa mendengar suara Doni menyebut namanya. Namun suara itu terdengar begitu jauh. Jauh sekali. Padahal tadi Doni berada di sampingnya.


"Tuan Alfred, bagaimana ini?" Suara Doni terdengar panik.


Tuan Alfred melirik ke belakang. Amanda sepertinya pingsan di dalam pelukan Tuan Muda Anthony.


"Apakah kita ke rumah sakit, Tuan Muda?" Tanya Tuan Alfred.


"Tuan Muda... Tuan Muda..." Amanda mendengar sebutan itu.


Sebuah panggilan yang aneh. Amanda masih mendengar ucapan seseorang. Amanda kehilangan separuh kesadarannya namun ia berusaha tetap kuat.


"Rumah... Tolong antar aku... Ke rumah..." Suara Amanda terdengar lemah.


Doni memerintahkan Tuan Alfred mempercepat laju mobilnya menuju ke rumah Amanda. Ia memeluk Amanda kuat-kuat. Rasa panik dan khawatir menghinggapi dirinya.


"Ada apa ini? Ya Tuhan... Dia kenapa?" Doni membatin cemas di dalam hati.

__ADS_1


Amanda merasakan pelukan Doni begitu hangat. Namun dia masih merasa nafasnya sedikit sesak. Rasa pusing itu betul-betul menyiksa dirinya.


"Aduhh... Pusing..." Rintih Amanda.


__ADS_2