
"Errrrr... Ga usah, Doni. Aku bisa pulang sendiri kok..." Ujar Amanda salah tingkah.
"Tidak apa, Amanda. Kami akan senang sekali jika bisa mengantar Amanda pulang." Sela Nyonya Wishnu.
"Waduh... Kacau!" Batin Amanda.
"Kami tentu sudah merepotkan kamu kan... Doni sudah mengajak kamu ke sini."
"Jadi, izinkan kami mengantar lagi Amanda pulang ke rumah."
Nyonya Wishnu berkata dengan sopan dan elegant. Amanda jadi bingung, tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Akhirnya Amanda hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Nyonya Wishnu.
Doni sedikit kesal karena mamanya seolah mengkambing hitamkan dirinya dalam hal ini.
Dia sama sekali tidak berniat mengajak Amanda ke yayasan ini. Sejak awal, mamanya yang ngotot agar Doni mengajak Amanda ikut dengan mereka.
"Hemmm... Mama ini..." Doni membatin kesal.
Pak Heru mengemudikan mobil menuju ke alamat rumah Amanda. Amanda berusaha menenangkan hatinya lagi.
"Doni beruntung sekali, memiliki ibu yang baik dan cantik." Batin Amanda.
"Tapi, kenapa ibunya tidak terlihat seperti orang susah ya?"
"Doni tidak pernah cerita kalau dia punya ibu yang seperti ini? Hemmm... Aneh..."
"Dia memang anak yang aneh!" Amanda terus saja membatin selama perjalanan pulang menuju ke rumahnya.
"Doni... Kapan-kapan ajak Amanda main ke rumah dong!" Ujar Nyonya Wishnu kalem.
DEGGG!!!
Bukan hanya Amanda, Doni juga ikut kaget mendengar kata-kata mamanya.
"Amanda, nanti kapan-kapan main-main ke rumah ya!" Nyonya Wishnu berkata lagi pada Amanda.
"Oh... Ehhh... Iya, bu." Sahut Amanda gelagapan.
Tidak lama kemudian, mereka telah tiba di depan rumah Amanda.
Nyonya Wishnu tidak kaget dengan suasana di sekitar rumah Amanda. Dia sudah lebih dahulu mendapatkan gambaran suasana di situ dari laporan rutin Tuan Alfred.
Doni tidak pernah tahu bahwa sekretaris pribadinya, Tuan Alfred, ternyata selama ini kongkalikong dengan Nyonya Wishnu.
__ADS_1
Mungkin jika Doni tahu tentang hal itu, dia pasti akan mengambil tindakan tegas untuk Tuan Alfred.
Tuan Alfred juga sebenarnya mengalami dilema, karena Doni belum menjadi Tuan Besar. Statusnya masih di bawah kekuasaan Tuan dan Nyonya Wishnu.
Hal itu membuat Tuan Alfred mau tidak mau tetap harus patuh pada perintah Tuan dan Nyonya Wishnu.
Namun semua status akan berubah jika Tuan Muda Anthony memegang tampuk pimpinan menggantikan papanya, Tuan Wishnu.
Secara otomatis, Tuan Alfred hanya akan patuh dan tunduk pada perintah Tuan Muda Anthony.
Dan saat ini, Tuan Alfred tidak mendampingi Doni karena Nyonya Wishnu meminta kelonggaran waktu pada sekretaris pribadi putera kesayangannya itu.
Nyonya Wishnu tidak ingin penampilan Doni mencolok di tengah-tengah pergaulan anak-anak yayasan karena didampingi oleh sosok Tuan Alfred yang tampan dan kharismatik.
"Terima kasih, Amanda... Atas waktunya..."
"Kami senang sekali Amanda mau ikut menemani Doni ke yayasan."
Nyonya Wishnu berkata dengan suara lembut. Amanda mengangguk dan tersenyum manis. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Semua terasa begitu mengejutkan bagi Amanda. Semua kejadian hari ini menimbulkan banyak tanda tanya di dalam benaknya.
Amanda keluar dari mobil mewah itu dan masuk ke dalam rumahnya. Mobil mewah Nyonya Wishnu kembali melaju meninggalkan lokasi rumah Amanda.
DEG!!!
Jantung Doni hampir saja terlontar dari dalam dadanya. Dia heran dengan ucapan mamanya. Ucapan itu terdengar aneh di telinganya. Tidak biasanya mamanya berkata seperti itu.
"Hemmm... Mama kenapa mendadak aneh?" Doni membatin.
Dia hanya menghela nafas saja dan memilih tidak menjawab pertanyaan mamanya.
"Sepertinya Amanda itu anak yang baik, bukan begitu Pak Heru?" Nyonya Wishnu meminta pendapat sopir pribadinya.
"Benar sekali, Nyonya. Sepertinya Amanda adalah anak yang sopan." Pak Heru ikut menimpali.
"Ya. Zaman sekarang, harus pintar-pintar milih teman."
"Harus pintar memilih lingkungan pergaulan."
Nyonya Wishnu lalu memberi wejangan panjang selama perjalanan pulang. Doni menyimak dengan sabar setiap petuah mamanya.
Perjalanan pulang terasa panjang sekali. Sepanjang wejangan Nyonya Wishnu kepada Doni. Pak Heru sesekali hanya tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Doni.
__ADS_1
"Kita udah sampai, ma..." Doni berusaha menyela kata-kata Nyonya Wishnu.
"Oh... Iya." Sahut Nyonya Wishnu.
"Kamu istirahat ya..." Ucap Nyonya Wishnu.
"Iya, ma." Doni mengangguk.
Akhirnya Doni bisa menghela nafas demgan lega. Ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang sangat nyaman.
Pendingin ruangan bekerja dengan sempurna membuat Doni merasa semakin nyaman di kamarnya. Udara di luar panas sekali. Akhir-akhir ini matahari sepertinya bersinar lebih terik dari biasanya.
Doni menyimak berita-berita terkini yang beredar di jagad sosial. Pemanasan global semakin meningkat akhir-akhir ini. Hal itu membuat suhu bumi ikut meningkat drastis.
Bahkan Doni pernah mendengar informasi yang lebih mengerikan. Ternyata tingkat pemanasan global berubah lebih cepat dibandingkan dengan prediksi para ilmuwan selama ini.
Tentu saja hal itu sangat berbahaya bagi semua makhluk hidup yang menempati bumi ini. Bukan tidak mungkin, kepunahan species makhluk hidup tertentu akan terjadi lagi seperti pada zaman purba dulu.
Keberlangsungan makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan ini menjadi terancam. Ini sangat mengerikan jika dibayangkan.
Mau bagaimana lagi? Hidup manusia kini jadi serba salah. Begitu banyak aktivitas manusia yang berdampak negatif untuk alam.
Manusia juga melalui perkembangan teknologi yang semakin pesat terus saja membuat alat-alat untuk memudahkan aktivitas manusia tanpa memperhatikan kesetimbangan alam.
"Huffffttt..." Doni menghela nafas lagi. Dia melirik mesin pendingin udara di kamarnya.
Doni tahu, mesin pendingin juga menjadi salah satu alat yang bisa merusak alam karena mengakibatkan meningkatnya pemanasan global.
Meskipun sehari-hari Doni banyak berkutit dalam dunia bisnis. Hal tersebut tidak membuat dirinya apatis terhadap situasi dan keadaan di lingkungan sekitarnya.
Doni juga sangat tertarik dengan dunia sains. Sehingga dia suka mengikuti perkembangan berita tentang sains di seluruh belahan dunia.
Lagipula, Tuan Wishnu juga menuntut putera semata wayangnya itu untuk memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Tidak terbatas hanya dalam dunia bisnis saja.
Karena untuk bertahan di era milenial ini, setiap pebisnis dituntut untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan dirinya. Multidisiplin ilmu perlu dikuasai, minimal diketahui perkembangannya.
Professor Gilbert juga kerap kali mengarahkan Doni untuk berfikir secara kritis dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Menurut Professor Gilbert, critical thinking sangat penting untuk bisa survive di masa-masa yang sangat dinamis ini.
Doni juga tidak pernah membantah atau mengabaikan perintah dari Professor Gilbert. Dia mengerti semua hal yang diinstruksikan oleh Professor tersebut adalah modal penting untuk masa depannya nanti. Oleh sebab itu, dia mengikuti semua pelajaran dengan serius.
***
__ADS_1