Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Cewek Matre


__ADS_3

Suasana di dalam perpustakaan cukup tenang, meskipun ada beberapa orang siswa di dalamnya.


Helena dan Amanda memandangi seantero ruangan perpustakaan tersebut, mencari-cari spot terbaik untuk mereka.


"Ke sana yuk!" Ajak Helena sambil menunjuk ke arah sisi kiri ruangan.


"Ummm... Boleh..." Sahut Amanda.


Kedua gadis itu berjalan menuju sebuah meja besar di dekat rak majalah. Helena menarik kursi dengan pelan agar tidak menimbulkan suara berderit yang dapat mengganggu kenyamanan pengunjung perpustakaan. Amanda mengikuti apa yang dilakukan oleh Helena.


Seorang gadis cantik tiba-tiba muncul di antara lorong sempit rak buku.


"Kak Wulan..." Amanda mendesah dalam hati.


Amanda melihat Helena menoleh terus ke arah Wulan yang berjalan melewati meja mereka. Gadis cantik itu sepertinya berjalan menuju ke jalur pintu exit perpustakaan.


Wulan berjalan dengan anggun seperti biasa. Setiap langkah kakinya seolah sudah begitu terlatih sehingga ia bisa berjalan dengan begitu gemulai. Ia benar-benar berbakat menjadi top model di masa depan.


"Dia benar-benar cantik ya!" Puji Helena.


Amanda hanya mengangguk. Dia mulai membuka buku catatannya, berniat mencari-cari daftar referensi buku yang sudah ditulisnya tadi malam.


"Ga kayak si cewek sok cantik itu!" Tukas Helena.


Sontak Amanda menjadi terpancing. Padahal tadi dia sedang serius mempelajari daftar judul buku-buku yang akan dipinjam hari ini.


"Cewek sok cantik?" Tanya Amanda.


"Iya dong!" Jawab Helena.


"Ummm... Siapa itu? Maksudku, siapa cewek yang kamu katakan sok cantik itu?" Amanda memperjelas maksud pernyataannya.


"Ya, siapa lagi! Si Clara..." Cibir Helena.


"Ohh..." Gumam Amanda.


Dalam hatinya, Amanda sebenarnya merasa Clara memang cantik. Meskipun tidak secantik kak Wulan.


"Tapi dia memang cantik..." Ucap Amanda polos.


"Huhhh... Cantik apaan! Muka cantik, tapi otaknya jelek!" Helena mulai merutuk.


"Hussss... Kamu ga boleh ngomong gitu, Helen." Amanda mengingatkan.


"Loh... Aku ngomong apa adanya. Kamu aja yang ga tahu ceritanya!" Sungut Helena.


Tuingggg!


Amanda mulai mencium bau-bau gossip akan keluar dari mulut Helena. Dia mulai mengalihkan fokusnya sebentar untuk menyimak kata-kata selanjutnya yang akan disampaikan oleh Helena.


Helena ini memang tipe cewek yang selalu banyak tahu tentang persoalan pribadi orang lain. Pergaulannya yang luas membuat Helena dengan mudah mendapatkan informasi apa saja yang sedang hot atau trending.


Sejujurnya Amanda beberapa hari ini mulai tidak respect lagi melihat Clara, teman sekelasnya yang cantik itu. Hal itu bukan tanpa sebab.


Sejak Amanda memperhatikan gerak-gerik dan sorot mata yang berbeda dari Clara ketika melihat Doni, sejak itu juga Amanda tidak menyukai Clara.

__ADS_1


Amanda merasa ada tatapan yang berbeda pada sorot mata Clara dan dia tidak menyukainya. Dia tidak suka cara Clara memandang Doni.


Bagaimana jika nanti Doni tertarik dengan Clara yang cantik itu! Oh... No..


"Semoga itu tidak terjadi." Batin Amanda.


Aneh!


Bukankah itu terdengar seperti sebuah rasa cemburu?


Amanda bingung apakah dia sudah secemburu itu dengan Doni?


"Hehhh... Kok melamun?" Helena menjentikkan jarinya di depan wajah Amanda, membuat Amanda kaget dan mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Hehehe... Aku lagi mikir aja, kenapa kamu bisa ngomong gitu buat Clara? Emangnya dia salah apa sama kamu..." Ujar Amanda mencari-cari alasan.


Helena mendengus sambil membuka binder note-nya. Ia lalu mengeluarkan sebuah pena dan mulai menulis beberapa kata di kertas.


"Dia itu cewek yang sombong! Aku udah beberapa kali lihat dia natap aku sinis! Kayak ada aja dosaku sama dia!" Helena mengomel dengan suara pelan agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain.


"Oh ya!?" Tanya Amanda antusias.


Helena mengangguk cepat dan menghela nafas dalam-dalam.


"Dia juga cewek matre! Mentang-mentang cantik, maunya cuma sama cowok tajir!" Helena menceritakan lagi kabar yang pernah didengarnya dari teman-temannya yang dulu pernah satu sekolah dengan Clara.


"Ah... Yang bener? Masa sih..." Tukas Amanda tidak percaya.


Helena kembali mengangguk dan berkata, "Sumpah! Itu yang aku denger dari temanku."


Amanda mulai semakin tertarik dengan topik gossip yang sedang dibawakan dengan sangat menarik oleh Helena. Gadis itu memang benar-benar lihai dalam mengghibah.


"Wowww..." Ucap Amanda takjub.


Helena melihat sekeliling. Setelah dia yakin kondisi cukup aman untuk melanjutkan cerita, Helena menyambung kalimatnya.


"Ssstttt... Tapi ini rahasia kita aja ya!" Helena mulai membuat perjanjian dengan Amanda.


Amanda mengangguk cepat. Entah mengapa dia semakin tertarik saja dengan gossip ini.


"Jadi sekarang dia jomblo?" Selidik Amanda.


Helena mengedikkan bahunya. "Entah, ga jelas tuh cewek!" Ucap Helena.


Amanda berharap apa yang didengarnya dari Helena ini adalah berita yang benar dan terjamin keabsahannya. Ini penting, mengingat Clara yang sepertinya punya ketertarikan dengan Doni.


"Doni kan bukan anak yang tajir... Syukurlah..." Batin Amanda lega.


Amanda yakin jika Clara mengetahui sosok Doni yang sesungguhnya, gadis cantik itu tentu tidak akan tertarik lagi dengan Doni. Kini Amanda bisa merasa sedikit lega.


"Doni bukanlah tipe cowoknya Clara!" Seru Amanda di dalam hati.


"Errrr... Amanda, kamu mau kan bantuin aku?" Ujar Helena dengan nada memelas.


"Hah... Bantu? Bantuin apa?" Tanya Amanda.

__ADS_1


Amanda mulai curiga. Feeling-nya mengatakan pastilah ini permintaan bantuan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan dari ruang konseling.


"Huhhh... Mulai deh..." Amanda menggerutu di dalam hati.


"Iya nih... Aku kan tadi dapat tugas tambahan dari Pak Suwanto." Ujar Helena dengan nada putus asa.


"Ohhh..." Gumam Amanda.


"Kok Pak Suwanto? Bukan Pak Cahyono yang ngasih tugas?" Tanya Amanda heran.


Helena menggeleng lemah. Wajahnya terlihat kesal.


"Bukan. Pak Cahyono nyuruh Pak Suwanto ngasih tugas tambahan ke aku sebagai hukuman tadi." Gerutu Helena.


"Ohhh..." Amanda menggumam lagi.


"Gila! Tugasnya banyak banget! Lebih banyak dari isi gudang di rumahku!" Seru Helena berang.


"Ssssttt..." Amanda meletakkan jari telunjuk di bibirnya, memberi tanda agar Helena mengecilkan volume suaranya.


"Hehehe... Sorry, aku lupa! Terbawa suasana nih..." Ujar Helena asal.


"Husss... Itu sih namanya bukan terbawa suasana. Tapi terbawa emosi, bu!" Ralat Amanda.


"Hehehe... Iya ya... Maklum lah, aku udah mumet nih sama tugas tambahan sialan itu!" Helena terkikik pelan.


Helena lalu mulai menjelaskan tugas tambahan yang didapatnya tadi. Amanda menyimak dengan seksama. Sebenarnya bukan tugas yang sulit sih, namun yang jadi masalah adalah tugas tersebut sangat amat banyak dan harus selesai dalam waktu satu minggu!


"Menyelesaikan lima puluh buah soal matematika tentang logaritma dan eksponensial. Belum lagi membuat sebuah makalah tentang hubungan antara logaritma dan eksponensial. Makalah tidak boleh kurang dari lima puluh halaman dengan referensi minimal dua puluh buku dan jurnal internasional." Jelas Helena panjang lebar.


"Wuihhhh... Banyak amat, Helen..." Amanda merasa sesak nafas sendiri menyimak penjelasan Helena.


"Dia memang pembunuh berdarah dingin..." Keluh Helena.


Amanda nyaris saja tidak bisa menahan gelak tawanya ketika mendengar kata-kata Helena tersebut.


"Ya deh... Nanti aku coba bantu sebisaku ya..." Ujar Amanda berusaha menenangkan Helena.


"Wah... Makasih banget, Amanda. Huhuhu... Kamu memang bestie terbaik!" Helena mulai gombal.


"Sebentar ya... Aku mau ke sana dulu. Mau nyari buku." Ujar Amanda.


"Ohhh... OK... Aku duduk di sini aja ya nungguin kamu. Masih ada waktu lima belas menit lagi nih." Helena melirik iWatch di pergelangan tangannya.


"Sipppp... Aku ga bakalan lama..." Ujar Amanda sambil bangkit berdiri.


Amanda berjalan cepat menuju rak yang dimaksudnya. Ada dua buah buku yang harus ditemukannya di sana.


Brugggg!!


"Aduhhh..." Rintih Amanda setelah kepalanya menubruk sesuatu. Seseorang lebih tepatnya.


Amanda mendongak, ia berusaha melihat siapa yang baru saja menabrak dirinya.


"Ehh... Kamu..." Desis Amanda.

__ADS_1


Amanda merasa wajahnya bersemu tiba-tiba ketika tanpa sengaja menatap sepasang mata yang sangat indah dan menatapnya begitu dalam. Ada rasa yang sulit digambarkan dengan kata-kata.


Amanda selalu saja kehilangan kata-katanya jika ditatap seperti itu. Wajahnya terasa panas, walaupun suhu udara di ruang perpustakaan cukup dingin dan sejuk.


__ADS_2