Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Kabar yang Ditunggu Windy


__ADS_3

Windy mulai merasa bosan. Dia menatap siluet senja dari jendela kamar hotel. Jendela itu lebar sekali, menampilkan pemandangan yang sangat indah dan memanjakan mata.


Akan tetapi, pemandangan seindah itu tidak bisa betul-betul dinikmati oleh Windy. Dia sedang merasa gundah gulana, bosan tiada terkira.


Bagaimana tidak? Windy sudah membayangkan akan bertemu lagi dengan Tuan Muda Anthony kali ini. Ia juga membayangkan akan melakukan pendekatan-pendekatan khusus agar bisa mencuri perhatian cowok tajir nan tampan itu.


Tetapi semuanya nihil. Semua rencana yang telah disusun Windy jauh-jauh hari di dalam benaknya malah jadi sia-sia. Tidak ada satu rencana pun yang bisa dilakukannya sekarang.


Sebagus apapun rencana akan menjadi tidak berguna jika tidak dilaksanakan. Sudah banyak orang yang mengalami hal seperti itu. Windy sedang mengalaminya sekarang.


"Huhhh... Bosan banget, gini-gini terus..." Windy bersungut-sungut sendiri.


Sambil berjalan gontai dan ogah-ogahan, Windy keluar dari kamarnya. Papa dan mamanya mengajak Windy untuk makan malam di luar.


Tuan dan Nyonya Robby bisa mengerti rasa kecewa yang sedang dialami Windy. Mereka berdua mencoba memaklumi hal itu.


"Windy pasti kecewa sekali...." Suara Nyonya Robby terdengar lirih.


"Kecewa?" Tanya Tuan Robby pada istrinya.


Nyonya Robby mengangguk lesu. Wanita itu mendengar ketukan suara pintu kamar.


"Ehhh... Windy sudah menunggu kita. Ayo..." Nyonya Windy bergegas membukakan pintu untuk Windy.


"Ma... Kita akan makan malam dimana?" Tanya Windy dengan ekspresi wajah bosannya yang khas.


"Hemmm... Kita makan malam di luar saja ya. Ganti suasana..." Ujar Nyonya Robby sambil tersenyum ke arah suaminya.


Mereka bertiga lalu meninggalkan hotel menuju sebuah restoran dengan nuansa khas Bali. Aneka menu hidangan khas Bali yang nikmat dan lezat ada di restoran tersebut.


Tuan Robby memilih tempat duduk di bagian outdoor agar mereka sekeluarga dapat menikmati nuansa malam yang indah di kota itu.


"Ayo... Pesan saja makanan kesukaanmu..." Ucap Nyonya Robby pada Windy.


"Huhhhh... Tidak ada yang menarik..." Sungut Windy.


"Bebek garing ini enak lho..." Nyonya Robby menunjuk sebuah foto hidangan makanan yang ada di daftar menu restoran itu.


"Ya udah... Terserah mama aja..." Ucap Windy cuek.


Seorang pramusaji datang dan menghampiri mereka dengan membawa buku catatan kecil untuk mencatat orderan.


Tuan Robby menyebutkan beberapa menu andalan di restoran itu. Pramusaji mencatat dengan sabar dan kemudian bergegas mempersiapkan orderan.

__ADS_1


"Hemmm... Ada kabar baik..." Tuan Robby melirik Windy.


"Kabar baik apa?" Tanya Nyonya Robby.


"Tuan dan Nyonya Wishnu malam besok akan bertolak kembali ke Indonesia." Ujar Tuan Robby sambil tersenyum.


"Apa, pa?!" Windy langsung nyambung.


"Ya..." Ucap Tuan Robby.


"Wah... Benar-benar kabar yang bagus!" Seru Nyonya Robby.


Raut wajah Windy mendadak berubah. Dia langsung terlihat ceria.


"Beneran, pa?" Tanya Windy seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut papanya.


"Kita akan ke rumah Tuan Wishnu sebelum kembali ke Semarang." Tutur Tuan Robby yang disambut senyum sumringah di wajah Windy.


"Yesss!!! Akhirnya aku bakalan ketemu juga sama dia..." Windy membatin.


"Nahhh... Ada yang langsung ceria nih wajahnya!" Sindir Nyonya Robby.


"Hehehe..." Windy cengar-cengir sendiri.


Nyonya Robby lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah laku Windy.


"Bagaimana rasa makanannya?" Tanya Nyonya Robby iseng.


"Hemmm... Enak, ma." Jawab Windy.


"Next time kita akan mengundang Tuan Wishnu dan keluarganya makan malam bareng." Ujar Tuan Robby.


"Serius, papa?" Tanya Windy dengan sorot mata berbinar-binar.


"Tentu saja papa serius! Papa akan mengatur agenda acara makan malam itu secepatnya." Kata Tuan Robby.


Windy bersorak dalam hati. Itu adalah kabar terbaik hari ini. Dia senang sekali mendengar rencana papanya untuk mempertemukan mereka kembali. Mempertemukan dirinya dengan Tuan Muda Anthony Rafsanjani.


Makan malam berlangsung dengan menyenangkan. Mood Windy telah kembali ceria sebagaimana biasanya.


Nyonya Robby melirik lagi suaminya. Diam-diam wanita itu mengedipkan matanya. Tuan Robby tersenyum dikulum.


Setelah selesai makan malam, Tuan Robby mengajak istri dan anaknya kembali ke hotel. Setibanya di hotel, Tuan Robby mendiskusikan beberapa hal dengan istrinya terkait progress pembukaan kantor cabang baru.

__ADS_1


Windy tidak tertarik dengan pembahasan papanya. Dia memilih masuk ke kamarnya.


"Pa, ma... Windy ke kamar yaa..." Kata Windy.


"Oh... Iya, istirahat lah. Kamu sudah lebih relax kan sekarang?" Tanya Nyonya Robby.


Windy mengangguk sambil tersenyum. Gadis kecil itu lalu masuk ke kamar. Dia sudah rindu untuk bercengkerama dengan teman-temannya. Sekaligus dia ingin mengetahui perkembangan di sekolah.


Windy rebahan di tempat tidur sambil ngobrol ceria dengan teman-temannya melalui telpon. Teman-teman Windy tidak lupa mengingatkan dia agar membawa oleh-oleh untuk mereka.


Sementara itu, di kediaman Tuan Wishnu, Tuan Muda Anthony terlihat sangat sibuk. Segudang PR dari sekolah harus diselesaikan malam itu juga. Belum lagi dia harus mempelajari salinan berkas yang baru saja dikirim oleh Nyonya Martha.


Doni cepat-cepat menyelesaikan PR matematikanya agar bisa fokus pada pekerjaannya. Laporan Nyonya Martha harus segera dipelajarinya.


Menurut Nyonya Martha, ada sejumlah kejanggalan yang ditemukan dalam beberapa laporan. Sekretaris Tuan Wishnu tersebut membuat perincian khusus agar Doni bisa lebih mudah menelaah.


Doni juga sudah meneruskan salinan laporan yang dikirim oleh Nyonya Martha itu kepada Tuan Alfred.


Di tempat yang berbeda, Tuan Alfred juga sedang serius mempelajari salinan berkas tersebut. Nalurinya membisikkan bahwa ada beberapa kejanggalan di sana. Dia setuju dengan pendapat Nyonya Martha.


Namun kejanggalan tersebut agak sulit dideteksi sehingga dibutuhkan fakta-fakta dan bukti-bukti pendukung lainnya.


Sepertinya ada oknum yang bermain sangat rapi dan terstruktur. Tetapi dugaan itu harus dibuktikan dan segera diselidiki untuk menemukan simpul permasalahan yang sesungguhnya.


Jelas bagi Doni, ini bukanlah hal sepele. Sekecil apapun permasalahan, harus segera diselesaikan agar tidak menimbulkan kerugian dalam jumlah besar.


Sesuai arahan Nyonya Martha, Doni tidak akan memberitahukan hal ini pada papanya. Mereka akan menunggu Tuan Wishnu kembali ke Indonesia. Jadi untuk sementara waktu, mereka yang akan menyelidiki kejanggalan ini.


"Ini memang tidak lazim, Tuan Muda." Sebuah pesan masuk dari Tuan Alfred.


"Saya setuju dengan pendapat Nyonya Martha. Kita bisa mulai memperhatikan divisi HRD dengan lebih cermat."


Doni menimbang-nimbang isi pesan dari Tuan Alfred tersebut.


"Hemmm... Divisi HRD?" Doni menggumam pelan.


Ia lalu menutup buku pelajarannya. PR matematika sudah selesai dikerjakannya. Doni menunda untuk mengerjakan PR biologi. Berkas yang baru saja dikirim oleh Nyonya Martha mulai menggelitik rasa penasarannya.


"Ada apa sebenarnya di divisi HRD?" Doni bertanya-tanya dalam hatinya.


----------


 

__ADS_1


__ADS_2