Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Sehari Tanpamu


__ADS_3

"Ayo, Amanda! Sini, aku temenin kamu." Helena menggandeng tangan Amanda ketika mereka sudah berada di dekat gerbang keluar.


Suasana di sekolah sedang ramai-ramainya karena bel sebagai pertanda jam pulang sekolah baru saja berbunyi.


Semua siswa berhamburan keluar dari gerbang sekolah menuju ke mobil jemputan mereka. Para driver pribadi sudah standby di depan gerbang dan di sekitar halaman depan gedung SMA Adhiyaksa.


Langkah Amanda terhenti sejenak. Ia menatap Helena. Namun fikirannya tentu saja bukan connect ke kata-kata teman sebangkunya itu tadi.


Dia tiba-tiba teringat Doni. Aneh sekali, Doni tidak menemui dirinya siang ini. Biasanya setiap bel pulang berbunyi, Doni pasti akan menemuinya di luar kelas atau paling tidak, di dekat gerbang sekolah.


"Biasanya dia ada di sini..." Amanda membatin.


Ada sedikit rasa sedih kali ini karena Doni belum kelihatan batang hidungnya. Rasanya seperti ada yang kurang. Seperti ada yang hilang.


"Aneh... Kenapa dia ga kelihatan ya? Apa dia ga masuk sekolah hari ini?" Berbagai pertanyaan yang meresahkan bermunculan begitu saja di dalam hatinya.


Dia menyesali mengapa tadi tidak menghubungi Doni. Menanyakan kabar Doni. Dia juga berfikir mungkin Doni sakit sehingga tidak masuk sekolah.


"Heiiii... Mau aku temenin ga!?" Seru Helena dengan suara lantang sehingga membuat Amanda tersentak sendiri dari lamunannya.


"Errrrrr... Ga papa, Helen. Ga usah ditemenin deh." Sahut Amanda cepat.


"Yakin nih?! Kamu nanti tinggal sendirian. Gimana nanti kalau orang gila yang kamu lihat tadi pagi muncul lagi tiba-tiba?" Tanya Helena cemas.


"Eummm... Ga kok, ini kan suasana masih rame. Anak-anak juga pada baru bubar sekolah." Amanda memberi alasan yang cukup logis.


"Ohhh... Iya juga sih... Ya sudah, kalau gitu aku duluan ya. Kamu hati-hati pulangnya." Ujar Helena.


"Iya, Helen. Terima kasih." Amanda berkata sambil tersenyum lebar.


Setelah Helena pergi ke arah sebuah mobil sedan yang menjemputnya, Amanda tercenung sendiri. Tetapi dia berupaya berjalan dengan cepat menuju halte. Mumpung suasana di jalan masih ramai.


Sebenarnya dia juga agak-agak khawatir jika tiba-tiba orang gila yang dilihatnya tadi pagi tiba-tiba muncul lagi.

__ADS_1


"Tapi, ini masih rame... Setidaknya sementara ini cukup aman." Batin Amanda.


Sambil berjalan, Amanda merasa hatinya sedikit kosong. Mau tidak mau, dia harus mengakui siang ini dia merasa sedikit hampa tanpa kehadiran Doni bersamanya.


Selama ini dia dan Doni selalu pulang bareng sampai ke halte. Doni selalu ada bersamanya di waktu pulang sekolah. Tetapi... Siang ini semuanya serasa jadi berbeda. Doni tidak ada di situ, menemani dirinya seperti dulu.


"Huhhhh... Kok aku jadi merasa seperti ada yang kurang ya?" Amanda bertanya dalam hati.


Amanda berdiri di halte dengan perasaan sedikit nelangsa. Dia sendiri merasa heran mengapa dirinya jadi auto baperan hanya karena siang ini Doni tidak kelihatan.


"Biasanya dia berdiri di sini, di sebelahku. Dengan gaya cueknya yang aneh..." Amanda membatin lagi.


Amanda melihat berkeliling. Suasana di halte cukup padat. Beberapa orang duduk berhimpitan. Banyak siswa sekolah yang berdiri bergerombolan di dekat halte. Ramai sekali. Tapi entah mengapa, Amanda merasa hatinya sepi.


Amanda merasa sepi di tengah keramaian. Meskipun hatinya gelisah, dia tetap berusaha waspada. Dia berusaha sigap jika ada bahaya yang mengintai dirinya.


"Ya Tuhan... Jangan sampai orang gila itu muncul lagi..." Amanda berdo'a lirih dalam hatinya.


Satu per satu angkot lewat di hadapannya. Angkot yang ditunggu-tunggu oleh Amanda belum juga tiba.


Lagi-lagi bayangan Doni muncul di benaknya. Seorang siswa SMP bertubuh tinggi berdiri tidak jauh dari tempat Amanda berdiri. Melihat siswa itu, membuat Amanda teringat akan Doni.


"Doni... Kamu dimana?" Amanda membatin lirih.


Amanda lalu memutuskan menghubungi Doni. Dia akan menanyakan dimana Doni saat ini. Dia harus tahu dimana cowok itu sekarang. Mengapa bisa-bisanya dia menghilang tanpa kabar begitu.


Amanda mengetikkan pesan dengan cepat dan mengirimkannya ke WA Doni. Sesekali Amanda memperhatikan angkot-angkot yang lewat di depannya. Dia berdo'a di dalam hati, semoga angkot yang dia tunggu segera tiba.


"Doni, kamu di mana? Ga sekolah ya?" Tanya Amanda via chat di WA.


Dia melihat pesan yang dia kirimkan sudah terkirim dan langsung centang dua. Dia tinggal menunggu pesan balasan dari Doni. Dia berharap Doni bisa segera membalas pesannya.


Amanda celingak-celinguk melihat angkot yang berseliweran di jalan. Dia mulai resah karena dia tidak mau berlama-lama di halte tanpa Doni. Ternyata rasanya sangat tidak nyaman jika tidak ada sosok Doni di halte.

__ADS_1


"Aku ada kegiatan mendadak, Amanda. Jadi aku tadi langsung pulang duluan." Pesan balasan dari Doni masuk di smartphone Amanda.


"Sorry ya..." Ketik Doni.


Amanda dengan cepat melirik ke layar smartphone-nya. Pesan dari Doni adalah pesan yang paling ditunggunya saat ini.


Dia merasa hatinya tersiram air yang begitu menyejukkan ketika membaca rentetan pesan dari Doni.


"Ohhh... Syukurlahhh... Dia baik-baik saja." Gumam Amanda lega.


"Ohhh... Iya, Doni. Ga papa kok." Amanda mengetikkan balasan dan mengirimkannya langsung ke Doni.


Kini Amanda sudah merasa lebih tenang setelah mendapat kabar dan balasan pesan dari Doni.


"Hemmm... Tapi kenapa tetap aja seperti ada yang kurang..." Batin Amanda.


"Kenapa aku seperti rindu... Rindu dengan sikap dan gaya cuek dia yang aneh..." Amanda menyentuh kedua pipinya yang terasa hangat.


Dia tidak bisa membedakan apakah pipinya terasa hangat karena sengatan sinar matahari siang itu, ataukah karena rasa hangat di dalam hatinya yang menjalar sampai ke wajahnya. Entahlah...


Lima belas menit kemudian angkot yang ditunggu Amanda pun tiba. Amanda buru-buru melambaikan tangannya agar angkot tersebut berhenti.


Dia lalu masuk ke dalam angkot yang terlihat penuh. Beruntung bagi Amanda, masih ada satu tempat duduk tersisa untuknya. Ia terpaksa duduk terhimpit di antara dua orang ibu-ibu bertubuh gemuk.


Amanda menggeser-geserkan tubuhnya, berharap ibu-ibu itu mengerti kode yang dia berikan.


Namun sayang sungguh sayang, kedua ibu-ibu tersebut cuek saja. Mereka seolah tidak peduli dengan kondisi Amanda yang duduk kesempitan karena terhimpit oleh mereka.


"Huffffttt... Dasar emak-emak!" Amanda menggerutu dalam hati.


Angkot melaju kencang, membuat para penumpang terkadang kehilangan keseimbangan. Amanda merutuk di dalam hati. Dia nyaris saja terjungkal dari tempat duduknya yang sempit ketika angkot yang ditumpanginya itu tiba-tiba berhenti.


Setelah dua orang penumpang turun, Amanda merasa lega dan segera pindah posisi. Kini ia bisa duduk dengan lebih lapang.

__ADS_1


Amanda sama sekali tidak menyadari sebuah mobil mewah mengikuti angkot yang ditumpanginya sejak tadi. Pengemudi mobil mewah tersebut berusaha menjaga jarak agar tidak mencurigakan sopir angkot tersebut.


__ADS_2