Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Bau-bau Perjodohan


__ADS_3

Cuaca kota Semarang hari ini cetar sekali. Efek pemanasan global memang sudah mulai terasa di seluruh belahan dunia.


Tuan Robby turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dia sudah cukup banyak terpapar radiasi sinar matahari siang tadi. Jadi sore ini dia berusaha menghindari sinar matahari. Meskipun hari sudah menjelang sore, tetap saja sinar matahari masih sangat terang benderang seperti siang hari.


Nyonya Robby menyambut hangat kepulangan suaminya. Ia membantu Tuan Robby melepaskan jasnya.


"Minum dulu, sayang." Nyonya Robby menyodorkan segelas air putih dengan suhu normal.


"Hari ini panas sekali ya!" Keluh Tuan Robby sambil melonggarkan dasinya.


"Iya, suhu mencapai tiga puluh tiga derajad. Suhu terpanas dalam sepekan terakhir." Ujar Nyonya Robby.


"Huhhh... Begini nih kalau dunia udah mau dekat kiamat..." Cetus Tuan Robby.


"Hahaha... Siapkan amal sebanyak-banyaknya." Canda Nyonya Robby.


"Setidaknya aku adalah suami yang sholeh. Jadi seharusnya aku aman kan?" Tuan Robby mulai menyanjung dirinya sendiri.


"Hahaha... Anda kegeeran sekali, Tuan Robby!" Cibir Nyonya Robby.


Tuan Robby ikut tertawa dan mengambil gelas yang disodorkan tadi oleh istrinya. Setelah menenggak habis minuman tersebut, Tuan Robby merasa kerongkongannya sudah lebih segar.


"Hemmm... Tugasku lagi padat-padatnya, nih. Tapi aku harus nge-cek kantor cabang baru secepatnya. Minggu depan kantor cabang itu harus sudah beroperasi." Ujar Tuan Robby.


"Ummm... Maksudmu, kamu akan keluar kota lagi?" Tanya Nyonya Robby.


Tuan Robby mengangguk. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal terkena debu dan asap kendaraan tadi siang.


"Target perusahaan besar sekali. Aku jadi pesimis..." Tuan Robby menyampaikan keluhannya pada istrinya.


Nyonya Robby menghela nafas sejenak. Wanita itu menggeser tubuhnya agar bisa duduk lebih dekat dengan suaminya.


"Ya... Wajar juga sih. Kamu kan sekarang sudah jadi General Manger perusahaan. Pastilah beban kerja dan tanggung jawab kamu jadi lebih besar." Kata Nyonya Robby.


"Hemmm... Ya, take and give." Ujar Tuan Robby.


"Apakah aku perlu menemanimu ke sana?" Tanya Nyonya Robby.


"Of course, honey. Apa jadinya aku tanpamu di sisiku?" Gombal Tuan Robby.


"Hahaha... Siap, Tuan Robby!" Nyonya Robby tertawa pelan.

__ADS_1


"Mungkin Wishnu bisa membantuku nanti. Aku sangat lega karena dia adalah orang yang sangat berpengaruh di sana." Tuan Robby berkata penuh harap.


Nyonya Robby setuju dengan pendapat suaminya. Ia juga bersyukur perusahaan suaminya membuka kantor cabang baru di kota tempat Wishnu dan keluarganya berdomisili.


"Kalau begitu, kita akan bertemu Wishnu dan Anne lagi ya. Senang sekali bisa bersilaturrahmi dengan mereka." Ujar Nyonya Robby gembira.


"Ehhh... Kamu darimana?" Tanya Nyonya Robby ketika melihat Windy masuk nyelonong begitu saja.


"Ummm... Aku... Aku kan ikut les komputer tadi, ma." Windy mencoba mencari alasan agar tidak diomeli mamanya.


"Ohh... Benarkah? Mengapa sore sekali selesainya?" Tanya Nyonya Robby curiga.


"Iya, ma. Tadi tutor-nya telat datang, jadi waktu belajarnya mundur lagi." Ujar Windy berbohong.


Nyonya Robby tidak begitu percaya dengan penjelasan putri bungsunya itu. Dia sudah cukup tahu sifat Windy. Tapi dia sedang tidak ingin berdebat dengan Windy karena ada suaminya di antara mereka.


"Ya sudah, lekas mandi dan ganti pakaianmu." Perintah Nyonya Robby pada Windy.


"Aku sudah hubungi Wishnu. Akhir pekan nanti kita akan ke sana." Ujar Tuan Robby pada istrinya.


Windy langsung siaga ketika mendengar papanya menyebut nama "Wishnu".


"Pa, ma... Aku ikut dong..." Rengek Windy manja.


"Ikut kemana?" Tanya Nyonya Robby.


"Ikut papa dan mama. Nanti ketemu Tuan Wishnu kan?" Tanya Windy.


"Aku udah lama ga ketemu kak Doni... Aku boleh ikut yaa..." Windy masih berusaha membujuk kedua orang tuanya.


"Papa akan lama di sana. Senin pagi papa harus meresmikan kantor cabang di sana. Kamu tidak boleh libur sekolah!" Ujar Tuan Robby tegas.


"Ahhh... Ma, boleh ya? Libur sehari saja tidak masalah kok. Lagipula Senin nanti pelajarannya tidak sulit. Jadi aku tidak akan ketinggalan materi pembelajaran." Windy masih terus berusaha membujuk mamanya.


"Lagipula aku udah janji mau belajar sama kak Doni loh..." Windy mengeluarkan lagi tipu muslihatnya.


Nyonya Robby menatap suaminya penuh arti.


"Tidak! Kalau papa bilang tidak, ya tetap tidak!" Bentak Tuan Robby.


Windy merungut kesal dan meninggalkan kedua orang tuanya sambil ngomel-ngomel. Dia kesal sekali dengan papanya.

__ADS_1


"Huhhh... Padahal ini kesempatan besar! Apapun ceritanya aku harus ikut papa dan mama. Aku harus ketemu kak Doni!" Windy sudah bertekad di dalam hati.


Windy melemparkan tasnya dengan kasar ke atas tempat tidurnya yang empuk. Ia lalu mandi sambil memikirkan cara membujuk mamanya. Ya, mamanya biasanya selalu berhasil dibujuk. Windy sangat mengetahui kelemahan mamanya.


"Mama pasti ngikut kata-kataku. Aku kan anak kesayangan mama. Hihihihhh..." Windy terkikik sendiri.


Windy mulai membayangkan betapa menyenangkan bisa bertemu kembali dengan Tuan Muda Anthony yang tajir dan tampan itu.


Windy juga sudah bertekad akan terus melakukan PDKT dengan Doni. Dia akan berupaya mencuri perhatian Doni untuknya jika nanti mereka bertemu lagi.


"Bayangkan... Betapa kerennya aku kalau bisa jadi pacar Tuan Muda itu!" Windy bersorak girang.


"Ummmm... Tapi... Apa dia sudah punya pacar? Rasanya ga mungkin cowok sekeren dia masih jomblo! Hemmm... Aku harus cari tahu nih!" Batin Windy.


Sementara itu, Nyonya Robby berusaha membujuk suaminya agar mengizinkan Windy ikut bersama mereka akhir pekan nanti.


"Ntar aku buatkan surat khusus untuk wali kelasnya..." Ujar Nyonya Robby.


"Kamu ini! Jangan terlalu manjakan dia. Dia bukan anak kecil lagi." Tuan Robby berkata dengan nada gusar.


"Iya, tapi apa salahnya dia ikut kita? Libur sehari aku rasa bukan suatu masalah besar. Dia ingin bertemu Doni..." Ucap Nyonya Robby.


Tuan Robby seperti mulai bisa menebak arah pembicaraan istrinya.


"Bukankah akan lebih bagus jika Windy dan Tuan Muda Anthony bisa berhubungan baik?" Nyonya Robby mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum usil.


"Hemmm... Tentu saja. Tapi bukan begini caranya! Windy bisa ke sana kapan saja, ketika dia libur sekolah pastinya!" Kata Tuan Robby.


"Tapi ketika Windy libur sekolah nanti, belum tentu kamu ada waktu loh..." Bantah Nyonya Robby.


Tuan Robby mendengus pelan.


"Ya sudah... Terserah kamu, Venna! Urus semua perizinan di sekolahnya." Tuan Robby akhirnya memilih mengalah dengan istrinya.


"Yang jelas aku tidak mau prestasi dia menurun semester ini. Ingat itu baik-baik!" Ancam Tuan Robby.


"Tentu saja, sayang! Windy anak yang pintar. Dia pasti tahu konsekuensinya." Ujar Nyonya Robby berusaha meyakinkan suaminya.


"Huhhh... Anak-anak zaman sekarang! Ada-ada saja kemauannya!" Tuan Robby berkata dengan nada suara kesal.


Nyonya Robby hanya tersenyum simpul melihat ekspresi suaminya. Namun dia sudah merasa lega akhirnya suaminya bersedia membawa Windy bersama mereka pekan depan.

__ADS_1


__ADS_2