Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Handsome Driver


__ADS_3

Mobil BMW berwarna hitam elegant yang dibawa Alfred bergerak cepat menyelinap dengan gesit di antara berbagai jenis kendaraan yang sedang berseliweran di tengah keramaian pusat kota. Jam mendekati waktu makan siang merupakan jam yang sangat sibuk, meskipun pada hari libur seperti hari ini.


Alfred dengan segenap kemampuannya dapat melewati dan menghindari kemacetan jalan dengan baik. Sesekali ia melirik dari kaca spion depan, memperhatikan kedua penumpang spesialnya yang duduk tenang di jok belakang.


Berdasarkan pembicaraan singkat antara Tuan Muda Anthony dan gadis muda itu, Alfred dapat menilai bahwa gadis muda tersebut cukup jeli dan pintar.


Alfred merasa kagum dengan kejelian Amanda dalam memperhatikan sesuatu yang menarik perhatiannya di tengah keramaian. Gadis muda itu mampu merasakan kehadiran salah satu pengawal khusus yang ditugaskan oleh Alfred untuk mengawal Tuan Muda Anthony. Sepertinya gadis ini cukup pintar!


Sementara itu Amanda masih mencoba menikmati perjalanan dan membiarkan fikirannya berkelana kemana-mana.


Rasa-rasanya aneh... Dia baru saja berkenalan dengan cowok aneh yang sedang duduk di sampingnya saat ini. Mereka berkenalan tanpa sengaja, mendadak dekat begini dalam waktu yang tak terbilang lama.


Dekat?


Apakah kami memang sudah dekat?


Hati Amanda bergejolak dengan sendirinya. Dia menyesali mengapa sekarang ini begitu mudahnya dia merasa baperan sendiri. Doni sepertinya memiliki perasaan khusus untuk dirinya. Cowok aneh itu sudah beberapa kali menyatakan perasaannya.


Amanda mencoba mengulang kembali memori tentang Doni. Dia lagi-lagi tak bisa memungkiri bahwa Doni ternyata tampan sekali. Tatapan matanya sungguh benar-benar mematikan, mampu membuat gadis manapun bertekuk lutut. Bahkan Amanda selalu merasa dirinya tak mampu berkutik jika Doni sudah menatapnya begitu, apalagi mengucapkan kata-kata yang aneh.


Apa benar dia menyukaiku?


Apa benar dia menyayangi aku?


Amanda kini merasa deg-degan sendiri. Dia mencoba mengatur nafas agar terlihat lebih tenang. Fikirannya masih berkecamuk dalam tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya diinginkan Doni dari dirinya. Dia mulai membayangkan apakah Doni ingin memiliki hubungan khusus dengan dirinya. Hubungan yang pada umumnya terjadi di masa-masa remaja. Hubungan kedekatan khusus, katakanlah seperti pacaran.


Ya, pacaran.


Apakah dia ingin pacaran?


"Ya Tuhan... Jangan sampai dia mengajak diriku menjalin hubungan seperti itu..." Amanda membatin dalam hati dengan tingkat kecemasan yang mulai meninggi.


Amanda tidak pernah membayangkan dirinya berada dalam hubungan seperti itu dengan cowok manapun. Bahkan tidak dengan kak Edo, meskipun dia sangat mengagumi kakak kelasnya itu.


Amanda tidak ingin terlibat dalam hubungan khusus dengan cowok pada saat ini. Meskipun dia sangat mengagumi atau menyayangi cowok tersebut, kata pacaran tidak ada dalam kamus hidupnya. Setidaknya tidak untuk saat ini. Dia hanya ingin mejalani kehidupannya dengan tenang sebagai seorang siswa SMA. Dia hanya ingin fokus belajar, mengumpulkan ilmu dan keahlian sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi wanita yang sukses di masa depan.


Amanda ingin menjadi anak yang berbakti bagi kedua orang tuanya. Ia sangat memahami betapa kedua orang tuanya telah begitu banyak berjuang untuk menyekolahkan dirinya di SMA Adhyaksa, sekolah dengan reputasi terbaik di kota ini. Maka dia merasa dirinya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi siswa yang baik di sekolah.


Amanda tidak ingin membuyarkan konsentrasi belajarnya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, salah satunya seperti pacaran.


Menurut Amanda, pacaran akan lebih banyak membawa dampak buruk bagi dirinya. Pacaran akan memecah konsentrasi belajarnya. Dia benar-benar tidak menginginkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Tapi Doni...


Cowok ini sudah mulai meresahkan jiwa remajanya. Belakangan ini, kehadiran Doni sudah banyak mengganggu fikirannya.


"Apa aku mulai suka dia?" Batin Amanda.


Amanda mencuri-curi pandang ke arah Doni yang sedang menatap lurus ke depan. Doni juga sepertinya sedang larut dengan fikirannya sendiri.


"Ya Tuhan... Dia benar-benar tampan!" Amanda menjerit di dalam hati.


Amanda merasa heran mengapa kini Doni terlihat semakin tampan saja.


"Apa karena baperan jadinya aku baru nyadar kalau dia seganteng itu?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.


"Kita sampai, Tuan... Emmm..." Ujar Alfred gelagapan.


Hampir saja dia keceplosan lagi. Doni menatapnya tajam.


Padahal Doni sejak tadi sudah bolak-balik mengingatkan Alfred melalui pesan yang dikirimnya diam-diam ke smartphone Alfred agar Alfred tidak memanggilnya dengan sebutan itu di depan Amanda.


"Ayo..." Doni melirik Amanda, memberi tanda bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan.


Amanda mengucapkan terima kasih pada driver dan dengan sedikit tersipu dia turun dari mobil mewah tersebut.


Amanda mengikuti langkah Doni memasuki pintu utama mall. Amanda menoleh ke belakang dan melihat mobil BMW tersebut sudah hilang dari pandangan.


"Hemmm... Lihatin apa sih?" Tanya Doni penasaran.


"Ohh... Itu... Driver tadi ganteng banget ya." Sahut Amanda.


"Apa?!" Sergah Doni dengan nada tidak senang.


"Hemmm... Iya. Apa aku salah lihat? Dia ganteng, bukan? Pake kacamata hitam gitu, keren banget..." Ujar Amanda jujur.


Doni mendengus. Dia menarik tangan Amanda agar mengikutinya menuju restaurant pilihannya.


Doni benar-benar merasa lapar dan sedikit meradang mendengar Amanda memuji Tuan Alfred yang disangkanya adalah seorang driver ojek online.


"Aduh... Pelan-pelan dong! Kamu cepet banget jalannya!" Protes Amanda.


Doni berhenti di depan sebuah lift dan menarik Amanda masuk ke dalam lift tersebut ketika pintu lift terbuka secara otomatis.

__ADS_1


Ada dua orang wanita di dalam lift. Salah seorang di antara mereka membawa seorang bayi. Kedua wanita itu keluar dari lift ketika mereka sudah berada di lantai dua.


Kini tinggal Amanda dan Doni di dalam lift. Doni menatap Amanda lekat-lekat. Amanda mulai merasa bulu kuduknya meremang. Detak jantungnya sudah pasti tidak beraturan.


"Apa maksudmu dia lebih tampan dari aku?" Tanya Doni dengan wajah serius.


"Hahhh... Apa?!" Amanda terperangah. Ia tidak menyangka akan diserang dengan pertanyaan konyol begitu.


Doni mendekati Amanda. Kini mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Doni menatap wajah Amanda tanpa berkedip. Tatapan matanya kini berubah. Dia menatap Amanda dengan lembut sambil tersenyum tipis.


Amanda merasa tubuhnya mendadak panas dingin. Dia mulai terlihat salah tingkah. Bagaimana tidak, dalam jarak sedekat ini dan hanya berdua saja di dalam lift yang terus bergerak.


"Gantengan mana sama aku?" Tanya Doni dengan suara menggoda.


Doni semakin mendekatkan wajahnya. Amanda kini merasakan hangatnya nafas Doni di wajahnya. Amanda merasa seluruh tubuhnya akan meleleh. Wajahnya mulai memerah. Auto panik. Doni semakin tertarik. Dia sangat menyukai rona wajah Amanda yang bersemu seperti itu.


Gadis ini... Manis sekali...


"Awas! Jangan dekat-dekat!" Teriak Amanda panik.


Amanda mendorong tubuh Doni sekuat tenaga agar cowok itu menjauh darinya.


Doni bertahan sambil tersenyum simpul. Dia sungguh merasa gemas melihat ekspresi Amanda yang sedang panik itu.


Jangan terlalu agresif, sayang...


Jangan sampai aku melakukan itu sekarang...


Doni berusaha sekuat tenaga menahan keinginan kuat yang tiba-tiba muncul di dalam benaknya untuk mencium Amanda. Dia berusaha keras mengalihkan tatapannya dari bibir mungil milik gadis manis di hadapannya itu. Nafasnya kini terasa berat.


Sambil menghela nafas dalam-dalam, Doni memilih mundur satu langkah dan memberi sedikit ruang antara dirinya dan Amanda.


Pintu lift terbuka. Doni berbalik badan dan melangkah keluar dari lift sambil menggenggam erat tangan Amanda.


Amanda mengikutinya dengan hati yang deg-degan. Dia tidak berani menarik tangannya atau melepaskan genggaman tangan Doni. Firasatnya mengatakan Doni saat ini sedang berada dalam mood yang tidak baik.


Sepertinya lebih baik tidak melawan... Daripada dia kumat di sini...


Sambil berjalan dengan tangan saling menggenggam, Amanda sekilas memperhatikan suasana di dalam mall. Matanya menangkap tatapan iri dari beberapa gadis yang bersileweran di sekitar mereka.


Amanda hanya bisa melengos...

__ADS_1


__ADS_2