
Semua siswa kelas I-2 nyaris saja memasang wajah yang sama ketika Pak Cahyono akhirnya meninggalkan kelas mereka.
"Bro, gimana sih lo?!" Keluh Ahmad setelah melihat sosok Pak Cahyono menghilang dari balik pintu kelas mereka.
Ahmad yang merupakan teman sebangku Vino akhirnya angkat suara. Dia merasa harus menanyakan mengapa Pak Cahyono masih juga masuk di kelas mereka.
"Woyyy... Budek! Gua sumpahin budek beneran lo baru tahu rasa!" Teriak Ahmad pada akhirnya ketika stock kesabarannya terasa sudah mulai menipis.
"Huhhh... Apaan sih?! Bising amat!" Vino menggerutu kesal melihat Ahmad yang sejak tadi mengganggu konsentrasinya.
Tentu saja Vino sangat berkonsentrasi saat ini. Bukan konsentrasi terhadap pelajaran, tetapi konsentrasi dengan game online di smartphone-nya.
"Ahhh... Tuh kan! Kalah gua ni! Gara-gara lo, Mad! Bising banget!" Umpat Vino kesal.
Vino menoleh ke arah Ahmad yang sedang memandanginya dengan wajah jutek. Vino memasang wajah cuek yang lebih jutek. Ahmad mendengus dan ia rasanya sangat ingin memaki Vino. Tidak seharusnya Vino secuek itu di saat-saat seperti ini.
Sebagai seorang ketua kelas, Vino seharusnya lebih aktif dalam menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh teman-teman sekelasnya. Bukan malah bersikap cuek seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Seolah-olah tidak ada masalah sama sekali!
Ahmad harus mengambil sikap sekarang. Dia harus menyadarkan Vino akan tanggung jawabnya. Tidak memungkinkan lagi menunggu hidayah datang. Ahmad sudah tidak sabar.
Sebenarnya bukan hanya Ahmad, teman-teman yang lain juga sudah sering menyampaikan keluhan mereka tentang sikap Vino yang cuek bebek dan tidak mau ambil pusing dengan persoalan di sekitarnya. Hingga beberapa siswa perempuan mendekati Ahmad dan meminta Ahmad ikut turun tangan diskusi dengan Vino.
"Vino! Kamu gimana sih? Lihat nih efeknya... Kita semua sekelas pada ga ada yang lulus, you know!" Seru Ahmad berang.
Vino mengernyitkan dahinya. Sebuah ekspresi yang luar biasa dari sang ketua kelas yang super cuek bebek.
"Lulus apa?' Tanya Vino santai namun masih dengan ekspresi wajahnya yang jutek.
Sontak saja Ahmad merasa hareudang mendapat perlakuan seperti itu. Meskipun dia sebenarnya sudah cukup paham dengan sifat asli Vino, tetap saja untuk saat ini dia sedang tidak ingin banyak toleransi.
"Lulus jadi mafia, bro!" Ahmad menjawab dengan nada mencemooh.
"Lo jangan pura-pura gila dong, bro!" Sungut Ahmad.
"Siapa yang gila?!" Tukas Vino emosi.
Beberapa siswa yang duduk di sekitar Vino dan Ahmad mulai memperhatikan perdebatan sengit di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Nih... Nih... Nih...!!! Lo lihat nih dengan bijik mata kepala lo!" Teriak Ahmad sambil menyodorkan kertas jawaban ulangan matematikanya.
Vino melihat nilai yang tertera di kertas ulangan tersebut. Dia berusaha menahan tawanya namun akhirnya tergelak sendiri.
"Hahaha... Telur busuk!" Ejek Vino tanpa mempertimbangkan perasaan teman sebangkunya yang sedang emosi itu.
Tadinya Vino mengira nilai ulangan matematikanya adalah nilai yang terparah. Ternyata ada yang lebih hancur lagi. Dia semakin santai.
"Tahu ga, kita sekelas pada kagak lulus KKM!" Ujar Ahmad kesal.
"Iya, ini pasti disengaja!" Celutuk seorang siswa yang duduk di belakang Ahmad.
Beberapa siswa lainnya mengangguk setuju. Vino menatap sinis teman-temannya satu per satu.
"Kita diberikan soal ulangan yang sangat sulit. Soal pengayaan semua. Gila kan?! Gua duga, ini memang ada unsur kesengajaan." Tuding Ahmad.
"Huhhh... Biasa aja, boss! Namanya juga matematika, ya wajar soalnya susah semua!" Bantah Vino.
"Bukan gitu! Masa kita sekelas pada ga ada yang lulus KKM!" Ahmad terlihat semakin berang.
"Hemmm..." Ahmad menggumam sambil terlihat memikirkan sesuatu.
Sejenak siswa-siswa itu terdiam. Mereka juga baru menyadari hal itu. Seperti yang dikatakan oleh siswa perempuan itu. Tidak ada ujian ulang sama sekali. Apa maksud Pak Cahyono?
Agung mendatangi Vino dengan wajah serius.
"Aku sebenarnya tidak ingin berprasangka buruk sama bapak itu. Tapi kalau gini ceritanya, mau ga mau aku jadi curiga juga!" Ujar Agung.
"Apa dia dendam sama kita? Jadinya dia sengaja ga lulusin kita sekelas?" Tuding seorang siswa laki-laki yang bertubuh gemuk.
"Bisa jadi..." Gumam Agung setuju dengan pendapat temannya yang gemuk itu.
Semua siswa menghela nafas mereka dengan berat. Beberapa siswa terdengar mencaci maki Pak Cahyono dengan sembrono.
"Makanya, Vino. Maksud gua, elo sebagai ketua kelas di sini, perlu mengambil tindakan! Ya ga, teman-teman!?" Ujar Ahmad meminta persetujuan teman-temannya yang lain.
Beberapa siswa yang duduk di bangku depan mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Vino.
__ADS_1
Vino menyadari semua mata sedang tertuju padanya akhirnya memutuskan menunda sementara kesibukannya yang tidak penting itu. Dia meletakkan smartphone-nya di atas meja.
"Menurut gua, elo harus ngomong lagi sama wali kelas!" Saran Ahmad.
Semua teman-teman Vino setuju. Ini tidak bisa dibiarkan. Nilai matematika mereka jeblok semua. Jika hal ini dibiarkan berkelanjutan, otomatis nilai mereka akan buruk hingga ujian akhir nanti.
"Mungkin Pak Cahyono dendam dengan kelas kita karena kelas kita adalah kelas yang pertama kali protes dan minta beliau digantikan." Tutur Agung.
Ahmad manggut-manggut. Dia setuju dengan opini Agung.
"Terus kalian maunya apa?" Tanya Vino.
"Ya, kamu coba ngomong sama Bu Suhartini dulu. Mungkin ada solusi." Saran seorang siswa perempuan yang duduk tidak jauh dari bangku Helena dan Amanda.
Helena dan Amanda sendiri saling pandang. Amanda masih shock berat melihat kertas ulangannya. Nilai 20 itu membuat perutnya terasa mual. Dia hanya mampu menjawab dua buah soal dengan benar di antara sepuluh soal secara keseluruhan. Dia belum pernah segagal itu menghadapi ulangan matematika. Tidak bagi seorang siswa berprestasi seperti Amanda. Ini mustahil. Konyol sekali!
Jika Amanda shock berat, lain halnya dengan Helena. Dia bingung bagaimana dengan nasibnya nanti. Dia tidak mengikuti ulangan sama sekali dan diberikan hukuman mengerjakan seabreg tugas sebagai pengganti nilai ulangannya.
"Yang ikut ulangan aja nilai pada jeblok semua. Mampus aku... Gimana lagi dengan nasibku?" Isak Helena.
Amanda melengos. Dia tidak tahu harus berkata apa. Ini kejam sekali. Dia merasa nasibnya tidak jauh lebih baik dari nasib Helena.
"Memang Vino harus lapor nih ke wali kelas. Aku setuju sama Ahmad." Ujar Amanda.
Amanda dan Helena sejak tadi memang sudah memperhatikan perdebatan antara Ahmad dan Vino. Mereka menunggu reaksi Vino selanjutnya seperti apa.
"Iya sih... Tapi you know lah itu si geblek... Otaknya kan ga jalan. Lihat aja, mukanya masih songong gitu! Bukannya ikuti solusi kawan-kawan, malah jutek sendiri!" Helena meracau kesal ketika melirik ekspresi wajah Vino.
"Aduhhh... Bisa ga sih bapak itu diganti aja... Aku bisa depresi kalau gini terus..." Ratap Amanda.
"Mudah-mudahan aja bapak itu disambar angkot, disambar petir, atau digilas mobil molen sekalian, biar langsung mati di tempat. Jadi ga bakal ngajar lagi di sekolah ini!" Celutuk seorang siswa perempuan tanpa perasaan.
Sontak semua siswa yang mendengar ucapan siswa perempuan itu tertawa terpingkal-pingkal. Banyak juga siswa yang mengaminkan ucapannya.
"Hahaha... Sadis banget do'anya!" Ujar Amanda sambil berusaha menahan tawa.
Resiko menjadi guru yang dibenci ya begitu. Do'a-doa yang buruk selalu dilontarkan oleh para siswa.
__ADS_1