Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Sendu


__ADS_3

Sore ini masih kelabu. Hujan memang sudah reda sejak lama. Namun mendung yang menghiasi langit masih sangat tebal menyelimuti, begitu pula suasana hati Amanda. Masih kelabu. Masih sendu.


Amanda duduk di dekat jendela kamarnya. Menatap dedaunan yang masih basah oleh air hujan. Semilir angin dingin menerpa wajahnya. Membuat hatinya semakin dingin.


Dia mulai merasa sedikit kelaparan. Tapi tak tahu apa yang ingin dimakan. ***** makannya sudah lenyap dari tadi siang.


Membayangkan kak Edo yang dipeluk gadis itu di bawah tetesan hujan, membuat lambung Amanda semakin terasa perih.


"Baru jadian!? Mereka baru jadian!?" Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Amanda. "Masa iya sih!? Tapi kak Edo pernah kirim salam untuk Clara. Kemarin juga berkencan dengan Helena. Tapi siapa ya gadis itu? Sepertinya dia kakak kelas juga..." Amanda bertanya-tanya dalam hatinya.


Berbagai pertanyaan dan dugaan-dugaan buruk bermunculan di benak Amanda. Otaknya sedang tidak mampu merunut kejadian itu satu per satu. Perutnya sudah keroncongan.


Ia beranjak ke dapur. Mengambil sesendok nasi dan meletakkannya di atas piring. Ia menatap lama piring di tangannya. Bayangan romantisme dengan background hujan itu seolah-olah terlukis jelas di piringnya.


Dia benar-benar tidak rela melihat adegan romantis itu. Tapi dia bisa apa? Emangnya dia siapa? Dirinya bukan siapa-siapa bagi kak Edo.


Kak Edo tidak pernah peduli dengannya. Bahkan setelah mengetahui mereka dulunya berasal dari sekolah yang sama, kak Edo tetap saja tidak pernah bertegur sapa dengan dirinya. Tidak peduli dengan keberadaan Amanda di SMA Adhyaksa.


Amanda mendesah pilu. Dia harus tetap makan, dia harus bertahan hidup. Banyak PR yang harus dikerjakannya malam ini. Itu semua butuh energi.


"Amanda, ada Nunik di depan tuh!" Seru ibu Amanda. Wanita itu kaget melihat puteri sulungnya sedang terduduk lesu di depan meja makan.


"Kamu lagi sakit?" Tanya ibu Amanda dengan nada khawatir. Amanda menggeleng pelan. "Ya sudah... Temui Nunik dulu gih!" Ibu Amanda berkata sambil memotong sayuran untuk menu makan malam mereka.


"Amanda makan di depan ya bu..." Ujar Amanda. Ibu membalas dengan anggukan. Amanda membawa piringnya ke ruang tamu. Nunik sedang duduk manis di sana, bercengkerama dengan Mutiara.


"Eh... Makan nasi kok jam segini? Itu makan siang apa makan malam!" Celutuk Nunik. Mutiara tertawa terbahak-bahak. "Kakak lagi diet katanya!" Mutiara berkata sekenanya. Dia segera berlari ke kamarnya sebelum Amanda menghujaninya dengan kata-kata yang pedas.

__ADS_1


"Ga nyambung tuh anak!" Amanda mendesis pelan. Bahkan untuk marah pun sepertinya dia tidak bertenaga.


"Kamu kenapa, beppp? Lemes amat! Lagi sakit ya?" Nunik memperhatikan gerak-gerik Amanda yang tidak seperti biasanya. Dia terlihat lesu sekali.


"Ga juga... Cuma lagi ga ***** makan aja." Ucap Amanda. Dengan susah payah, ia mencoba menikmati makan siangnya yang sudah kesorean.


"Ehh... Hari Minggu nanti aku sama anak-anak mau jenguk Tiwi. Kamu ikutan ya..." Nunik menceritakan rencana mengunjungi Tiwi bersama teman-teman SMP mereka dulu.


"Oh... Iya... Aku ikut dong! Gimana keadaan Tiwi sekarang?" Amanda baru ingat bahwa sahabatnya itu masih terbaring di rumah sakit. Kesedihannya akibat patah hati nyaris membuat dia lupa akan musibah yang baru saja menimpa sahabatnya itu.


"Udah lebih mendingan. Udah bisa duduk dan bicara seperti biasa. Tapi masih belum boleh pulang dari rumah sakit." Nunik menjelaskan kondisi terakhir Tiwi berdasarkan penjelasan Andri.


"Syukurlah... Kasihan Tiwi ya... Semoga dia lekas pulih seperti dulu..." Ujar Amanda. Nunik mengangguk.


"Ya udah... Ntar hari Minggu pagi kita barengan Vera ya. Kamu tunggu di rumah aja, nanti kami jemput ke sini." Ucap Nunik.


"Hahaha... Kamu kayak orang lagi patah hati deh!" Nunik meledek sambil tertawa terbahak-bahak. "Ehh... Gimana-gimana? Udah dapat pacar belum?" Nunik bertanya penuh semangat.


"Apaan sih!? Aku sekolah bukan buat nyari pacar!" Tukas Amanda sinis.


"Iya... Iya... Aku tahu! Kan sambilan..." Ujar Nunik asal. "Masa-masa SMA adalah masa-masa hati berbunga!" Nunik menimpali lagi membuat hati Amanda menjadi tidak karuan.


"Entah ya! PR ku banyak. Bodo amat sama cinta-cintaan..." Amanda mulai pasang gaya cuek. Ia tak ingin terlihat sedang terpuruk karena cintanya yang kandas.


"Lah kamu sendiri gimana? Udah dapat gebetan berapa?" Amanda balik bertanya pada Nunik agar dirinya tidak terus diberondong pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan.


"Hemmm... Entahlah... Mungkin aku bakal balikan sama Indra." Nunik berkata dengan intonasi pasrah.

__ADS_1


"Whatttt!?" Amanda tertawa terpingkal-pingkal. "Lho? Bukannya kemarin-kemarin kamu bersumpah ga bakal balikan sama dia?!" Amanda bertanya sambil berusaha menahan tawanya. Ia ingat sekali bagaimana sumpah serapah Nunik ketika dia ribut-ribut dengan Indra, pacarnya. Sampai akhirnya mereka putus dan bermusuhan hampir satu semester.


Lalu kini...? Bagaimana bisa Nunik memiliki ide untuk balikan lagi dengan mantan kekasihnya itu? Huffftttt... Cinta memang aneh! Ada-ada saja!


"Ah... Udahlah! Males aku ngebahas itu! Ya udah, aku pulang ya! Sampai ketemu hari Minggu!" Ujar Nunik dan buru-buru berpamitan pada ibu Amanda. Ia tidak ingin berlama-lama di situ menjadi bahan lelucon bagi Amanda.


Amanda hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Nunik. Suasana hatinya sudah sedikit lebih baik.


"Pacar... Apakah anak SMA wajib pacaran!?" Gumam Amanda. "Terus kalau ga pacaran apa salahnya?" Amanda mulai merenungi hari-harinya di sekolah selama ini.


Sambil mencuci piring, Amanda kembali teringat bayang wajah kak Edo dan gadis itu. Hatinya kembali terasa teriris pedih.


"Aku memang ga layak buat dia... Tapi setidaknya jangan bermesraan seperti itu di depanku. Itu menyakitkan sekali." Amanda meratap sedih. Ia masuk ke kamarnya dan duduk di depan meja belajar.


"Ya, aku bukan siapa-siapa. Tidak cantik, apalagi kaya... Aku ga punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Tidak akan ada yang tertarik padaku di sekolah itu..." Desah Amanda. Ia memperhatikan wajahnya di dalam sebuah cermin mungil di atas meja belajar.


Ia menyadari segala keterbatasan yang dimilikinya. Apalagi di sekolah elite itu, semua siswa terlihat mulus, glowing dan good looking. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sehari-hari bersahabat akrab dengan debu dan sinar mentari.


Amanda merasa sedih sekali. Kini dia juga merasa begitu down. Merasa begitu under estimate dengan dirinya sendiri. Ia merasa tidak bersemangat ke sekolah besok pagi. Hatinya merasa sepi, merasa sendu.


Smartphone Amanda berdering nyaring mengagetkan Amanda dari lamunan sedihnya. Ia mencari-cari dimana smartphone-nya.


"Duuhhh... Dimana ya? Tadi di sini deh!" Amanda mengacak-ngacak tempat tidurnya dengan panik.


"Oalahhh... Di sini rupanya!" Ujar Amanda lega. Dia berhasil menemukan smartphone-nya yang bersembunyi di bawah selimut.


"Iya... Halo... Ehh... Iya... Ada apa ini!? Kenapa Helen?" Amanda bertanya dengan terbata-bata. Tumben Helena menelpon dirinya. Helena menangis sejadi-jadinya. Amanda bingung sendiri. Ada apa dengan Helena?

__ADS_1


__ADS_2