
Doni menatap Amanda lekat-lekat. Dia menunggu jawaban dari Amanda dengan hati berdebar.
Amanda mendongak, terperangah melihat cowok di hadapannya. Dia sepertinya tidak tahu harus berkata apa. Namun dia harus memberikan jawaban. Doni sudah terlihat tidak sabar.
"Errr... Maaf Doni... Aku ga bisa..." Desah Amanda.
Doni shock. Dia tidak mengerti maksud ucapan Amanda. Kata-kata Amanda terdengar seperti sebuah penolakan di kupingnya.
"Aku udah punya pacar..." Ujar Amanda pelan.
"Apa!?" Doni tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ucapan Amanda terdengar mustahil. Doni yakin sekali Amanda belum ada yang punya. Tapi mengapa malah jadi begini? Amanda pasti bercanda. Gadis itu pasti mengada-ngada. Tidak! Dia tidak ingin patah hati!
"Sayang..." Sebuah suara memanggil Doni.
Suara itu terdengar begitu lembut... Namun terasa begitu jauh. Amanda saat ini ada di hadapannya. Namun bibirnya terkatup rapat. Suara panggilan itu bukan keluar dari mulut Amanda.
"Sayang... Ayo bangun!" Nyonya Wishnu membuka pintu kamar Doni.
Doni tersentak kaget. Dia membuka matanya dan sangat terkejut melihat mamanya ada di hadapannya.
Butiran-butiran halus keringat di dahi Doni membuat Nyonya Wishnu khawatir. Suhu di kamar Doni cukup dingin, namun Doni berkeringat seperti sedang kepanasan.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Nyonya Wishnu panik.
"Hemmm..." Doni hanya menggumam pelan. Dia masih berusaha mengembalikan kesadarannya.
Doni mulai menyadari bahwa ternyata dia tadi bermimpi. Mimpi yang buruk sekali.
"Kamu sakit, sayang?" Nyonya Wishnu menyentuh dahi Doni. Suhu tubuhnya sedikit hangat.
"Ga, ma..." Ucap Doni.
Dia bangun dari tempat tidurnya dan mendadak panik mengetahui dirinya nyaris terlambat.
"Kalau kamu ga enak badan, istirahat saja sayang. Mama akan menguruskan surat izin untuk kamu." Kata Nyonya Wishnu.
"Doni ga sakit, ma. Doni siap-siap dulu ya..." Tukas Doni.
Nyonya Wishnu menatap puteranya dengan tatapan cemas.
Tidak sampai setengah jam, Doni sudah selesai berkemas. Dia sudah terlihat segar kembali.
Nyonya Wishnu sedang sarapan bersama Tuan Wishnu ketika Doni turun ke dapur.
"Kamu baik-baik saja, Doni?" Tanya Tuan Wishnu.
__ADS_1
Tuan Wishnu memperhatikan gerak-gerik Doni dengan seksama.
"Iya, pa..." Jawab Doni.
Nyonya Wishnu mendekati Doni dan menyentuh lagi dahi dan tangan Doni. Suhu tubuhnya sudah normal, tidak sehangat tadi. Nyonya Wishnu merasa lebih lega.
"Makan buah-buahannya dulu, sayang..." Nyonya Wishnu menyodorkan potongan buah apel dan buah kiwi kepada Doni.
Doni manut saja. Dia menyantap buah-buahan tersebut sebelum menikmati menu hidangan utama untuk sarapan mereka pagi ini.
"Doni, pagi ini kamu berangkat bareng papa saja ya." Ujar Tuan Wishnu.
"Hemmm... Baik, pa..." Ucap Doni sambil melirik smartwatch di pergelangan tangannya.
Jika dia memilih naik angkot seperti biasanya, dia bisa telat tiba di sekolah pagi ini. Maka Doni lagi-lagi memilih patuh menerima perintah papanya.
"Sayang... Nanti malam kita akan kedatangan tamu penting lagi. Persiapkan segala sesuatu untuk menyambut mereka..." Tuan Wishnu berkata pada Nyonya Wishnu sambil tersenyum.
Doni terhenyak. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa lagi tamu yang akan berkunjung. Semoga saja bukan Om Robby dan keluarganya. Doni merasa malas jika harus beramah-tamah lagi dengan mereka nanti malam.
"Baik, sayang. Semua akan dipersiapkan dengan sempurna, seperti biasa." Nyonya Wishnu mengedipkan matanya pada Tuan Wishnu.
Doni sebenarnya ingin bertanya langsung pada papanya siapakah tamu penting itu. Namun dia mengurungkan niatnya. Toh nanti malam dia juga akan tahu.
Setelah selesai dengan sarapan mereka, Nyonya Wishnu mendampingi Tuan Wishnu berjalan menuju teras rumah.
Seorang pria muda bertubuh tinggi dan tegap sudah stand by dengan posisi siap siaga. Pria itu bernama Dirga.
Tuan Wishnu mencium pipi istrinya dengan penuh rasa sayang. Doni melirik sekilas. Ia kagum melihat keharmonisan papa dan mamanya. Papa dan mamanya betul-betul saling mencintai.
"Hati-hati, sayang..." Ucapan Nyonya Wishnu membuyarkan lamunan Doni.
Nyonya Wishnu mengelus lembut pundak Doni. Sambil tersenyum tipis, Doni lalu berpamitan pada mamanya.
"Hemmm... Ini kedua kalinya papa nganterin kamu ke sekolah ya..." Ujar Tuan Wishnu.
"Iya, pa..." Jawab Doni.
"Gimana, kamu suka sekolah di sana?" Tanya Tuan Wishnu.
Doni mengangguk cepat. Tuan Wishnu tersenyum-senyum.
Dalam hatinya, Tuan Wishnu berharap putera bungsunya ini tidak akan protes ketika mengetahui dirinya tidak boleh naik angkot lagi ke sekolah.
Tentu saja Tuan Wishnu sudah mengetahui bahwa Doni senang naik angkot bersama temannya. Remaja seusia Doni butuh bersosialisasi. Selama Doni berada dalam pergaulan yang baik, Tuan Wishnu akan mendukung Doni sepenuhnya.
Tuan Wishnu sama sekali tidak bermaksud mencuri kebahagiaan Doni. Namun ada hal-hal penting yang harus dilaksanakan demi keselamatan Doni. Sehingga Tuan Wishnu memutuskan mengubah peraturannya sendiri secepat ini.
__ADS_1
Tuan Wishnu yakin putera bungsunya ini akan bisa memahami maksud dan tujuannya.
Mobil Alphard hitam tersebut berhenti dengan elegant di depan gerbang SMA Adhyaksa. Mas Dirga berhasil mengemudikan mobil dengan cepat agar Doni tidak terlambat ke sekolah.
Doni berpamitan dan menyalami papanya. Dia juga berpamitan pada Mas Dirga.
Doni turun dari mobil dan berjalan dengan cepat, untung saja dia tiba tepat waktu.
Doni meletakkan tas ranselnya di atas meja tepat ketika bel tanda masuk berbunyi dengan nyaring.
"Ehh... Tumben lo telat datang!" Seru Hendi.
"Hemmm..." Doni hanya menggumam.
"Lo pasti telat bangun!" Ujar Hendi sok tahu.
Doni melirik Hendi namun tidak berkata apa-apa.
"Tuh, bener kan dugaan gue! Hahaha... Jangan-jangan lo molor karena mimpi lagi!" Hendi tergelak.
Doni heran bagaimana Hendi bisa tahu dirinya tadi malam bermimpi. Dia jadi khawatir apakah wajahnya menyiratkan tanda khusus bahwa tadi malam dirinya bermimpi buruk.
"Lo mimpi basah apa mimpi gimana?" Hendi berbisik di telinga Doni. Wajahnya memasang senyum usil.
"Apaan sih!" Tukas Doni. Dia menatap Hendi dengan sinis.
Hendi semakin ngaco. Dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah berang Doni.
"Santuy, Ton! Gue becanda!" Ujar Hendi.
Doni mendengus. Hendi memang kadang-kadang usil dan menyebalkan. Seandainya saja ada bangku kosong lainnya, Doni pasti lebih memilih duduk sendirian daripada harus duduk berpasangan dengan Hendi.
Guru sudah masuk ke dalam kelas. Pembelajaran jam pertama berjalan dengan lancar.
Sesekali Doni teringat lagi akan mimpinya tadi malam. Lebih tepatnya tadi pagi. Mimpi itu mendatangi Doni tadi pagi, membuatnya terlena dan akhirnya telat bangun.
"Pacar? Benarkah Amanda sudah punya pacar?" Pertanyaan itu terlintas lagi di benak Doni.
Doni tidak sabar menunggu bel waktu istirahat berbunyi. Dia ingin segera menemui Amanda.
Akhirnya jam istirahat yang ditunggu-tunggu Doni tiba. Doni meninggalkan Hendi yang masih ngobrol dengan siswa-siswa lain. Dia bergegas menuju ke kelas Amanda.
Doni melihat suasana di dalam kelas Amanda. Amanda tidak terlihat di sana.
"Kamu dimana?" Tanya Doni. Ada nada cemas dalam suaranya. Dia menghubungi Amanda menggunakan smartwatch-nya.
"Iya, Doni. Aku di perpustakaan nih." Ucap Amanda setengah berbisik.
__ADS_1
Amanda menjaga volume suaranya agar tidak mengganggu siswa-siswa lain yang ada di perpustakaan.
"OK. Aku ke situ." Ujar Doni. Dia memutuskan panggilan dan segera menuju ke perpustakaan.