
Tetesan hujan mulai berjatuhan. Angin dingin yang berhembus membuat udara di sekitar SMA Adhyaksa terasa begitu sejuk.
Sepertinya hujan mulai sering menyapa kota itu.
Amanda bersuka cita melihat cuaca yang adem hari ini. Siang ini dia tidak perlu repot-repot menunggu angkot di halte karena sebentar lagi ayahnya akan menjemputnya di sekolah.
Tiba-tiba bayangan seorang cowok yang biasanya ada di halte terlintas di kepala Amanda. "Dihhh... Ngapain juga aku ingat-ingat dia!?" Gerutu Amanda.
Tadi sewaktu jam istirahat, dia dan Doni berpapasan di kantin. Tapi sikapnya ke Amanda dingin saja. "Dasar cowok aneh! Berbicara kapan dia suka, menatap orang sesukanya aja!" Amanda masih ngomel-ngomel di dalam hati.
Dia bersyukur siang ini tidak perlu bertatap muka dengan Doni. Bayangan wajah Doni kembali hadir di kepala Amanda. Sebenarnya Doni itu keren, tampan juga sih kalau dipikir-pikir. Dia agak beda dengan cowok-cowok lain seusianya. Amanda sudah merasakan hal itu sejak pertama kali mereka bertemu di halte. Tapi entah apa itu yang berbeda, Amanda juga tidak tahu.
"Ya ampun! Ngapain juga aku penasaran! Bodo amat!" Ia lagi-lagi merutuk sendiri.
Amanda masih berdiri di ujung koridor sekolah. Masih bimbang memutuskan, apakah lebih baik menunggu di situ saja atau menunggu di pos satpam yang terletak lebih dekat dengan gerbang sekolah.
Siswa-siswa SMA Adhyaksa mulai berlarian menuju mobil-mobil mewah mereka. Ada supir-supir yang sangat baik hati, keluar dari mobil dengan membawa payung untuk menjemput tuan-tuannya yang cantik.
Gadis-gadis cantik itu dengan anggun satu per satu masuk ke dalam mobil mewah mereka masing-masing. Para driver menutup payung dan ikut masuk ke dalam mobil. Mobil-mobil mewah tersebut kemudian hilang dari pandangan.
Amanda terpana. Seperti biasa. "Wowww... Pelayanan yang luar biasa. Orang kaya mah bebas..." Gumam Amanda penuh rasa kagum.
Memang enak jadi anak orang kaya, full service semuanya. Ia mulai membandingkan dengan kehidupannya sehari-hari di rumah. Semua harus dikerjakannya sendiri. Amanda dan kedua adiknya sudah diajarkan untuk mandiri sejak kecil.
__ADS_1
Smartphone Amanda bergetar di dalam saku roknya. "Halo... Baik ayah. Gapapa... Amanda nanti nunggu di dekat gerbang sekolah. Di sini juga sudah mulai hujan." Ujar Amanda pada ayahnya dan menyudahi obrolan mereka.
Ternyata urusan ayahnya belum selesai sehingga ayahnya belum bisa menjemputnya sekarang. Ayah Amanda memintanya tetap menunggu saja di sekolah. Ia pun mematuhi perintah ayahnya.
Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya Amanda memutuskan menunggu jemputan ayahnya di ujung koridor itu.
"Sepertinya di sini lebih baik, ga akan kebasahan juga." Gumam Amanda sambil melirik kiri-kanan.
"Cieeeee... Yang baru jadian!!!" Teriak seorang cewek diikuti tawa dan cekikikan teman-temannya. "Romantis ni yeee!!!" Seru cewek yang lainnya. Mereka pun tertawa heboh.
Amanda refleks menoleh, dia seperti mengenali suara itu. Ia mencari sumber suara di tengah-tengah bunyi gerimis yang mulai turun dengan deras. Sepasang matanya akhirnya menemukan Kristin dan teman-temannya berada di koridor tidak terlalu jauh dari tempat Amanda berdiri.
Amanda terbelalak kaget melihat kak Edo dan seorang gadis cantik berjalan berdua di koridor yang berbeda. Ia merasa petir menyambar di tengah-tengah gerimis yang mulai lebat itu. Ia meyakinkan matanya tidak salah melihat kak Edo bergandengan tangan dengan gadis berparas cantik itu.
Kristin dan teman-temannya mempercepat langkah mereka menuju gerbang sekolah. Mereka masih tertawa lepas. Edo melepaskan tas ranselnya dan berusaha memayungi gadis cantik itu agar tidak kebasahan dengan hujan. Gadis itu memeluk Edo dan mereka berjalan cepat menerobos hujan yang turun semakin deras.
Amanda masih terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dia diam mematung tak bergerak. Tubuhnya mendadak kaku, darah seolah berhenti mengalir di dalam tubuhnya. Untung saja dia berdiri di koridor sekolah. Jika tidak, dia pasti sudah basah kuyup karena berdiri lama di tengah hujan.
"Jadian...? Itu tadi kak Edo..." Gumam Amanda sendu. Bayangan gadis cantik itu memeluk kak Edo di tengah hujan terus berputar-putar di kepalanya. Ia merasa lemas, kedua kakinya gemetaran... Rasanya ia tak mampu lagi berdiri.
Amanda berpegangan pada sebuah tiang. Ia tidak ingin terlihat terlalu mencolok. Masih ada beberapa siswa yang lalu lalang di sekitar Amanda. Mereka masih mempertimbangkan akan menerobos hujan atau tetap menunggu di koridor.
Jantung Amanda masih berdegup kencang. Namun hatinya yang terasa perih. Apa yang tadi dilihatnya begitu nyata. Mereka berjalan bersama sambil berpelukan di tengah hujan. Itu pemandangan yang sungguh menyakitkan bagi Amanda.
__ADS_1
"Mereka pacaran...? Ya Tuhan... Ini tidak mungkin..." Amanda meratap pilu. Ia benar-benar ingin menangis kali ini. Hatinya hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Mengapa semua terjadi begitu jelas di depannya? Mengapa harus di hadapannya? Mengapa gadis itu memeluk kak Edo di depan matanya? Mengapa...? Mengapa...?
Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak menyenangkan itu terus bergelayutan di dalam benak Amanda.
Tidak... Ini menyakitkan... Amanda menyeka air matanya yang mulai menitik sedikit demi sedikit. Tenggorokannya terasa tercekat. Rasa sesak memenuhi dada. Ia merasa begitu nelangsa.
Smartphone Amanda bergetar lagi, menyadarkan Amanda dari lamunan sedihnya. "Oh... Iya, ayah. Amanda segera ke gerbang." Ucap Amanda cepat. Ia berusaha mengatur nada suaranya tetap terdengar normal.
Amanda menarik nafas panjang, bernafas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia menyeka air matanya, berusaha tersenyum agar wajahnya tidak terlihat aneh. Ayahnya tidak boleh melihatnya menangis. Apalagi menangis karena patah hati. Tidak, itu konyol sekali.
Amanda berusaha berlari menerobos hujan dengan sisa-sisa tenaganya. Ia melihat mobil tua ayahnya di depan gerbang sekolah. Air mata masih mengalir meskipun tidak sederas rintik hujan siang ini. Ia menyeka lagi air matanya.
Amanda masuk ke dalam mobil, pakaiannya sudah sedikit basah. "Tidak bawa payung?" Tanya ayah Amanda. "Ga, ayah." Jawab Amanda singkat. Ia berusaha terlihat normal.
"Mulai besok bawa payung ya. Sepertinya ini udah masuk musim penghujan." Ujar ayah Amanda mengingatkan puterinya. Amanda mengangguk. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah. Rasanya lelah sekali.
Sementara itu, seorang cowok terlihat berdiri dengan gelisah di halte. "Kemana dia? Kenapa dia belum ke sini?" Doni bertanya dalam hati.
"Apa dia sudah punya pacar? Apa siang ini dia pulang dengan pacarnya?" Doni semakin khawatir. Sambil menatap hujan yang turun, dia mulai berfikiran macam-macam.
Doni mulai merasa sebal. Dia sengaja ke halte agar bisa bertemu Amanda. Dia ingin melihat Amanda sebentar sebelum pulang ke rumah. Hari ini bukan jadwalnya ke perusahaan. Jadi sebenarnya siang ini dia tidak perlu menunggu angkot di halte.
Sambil mendengus, dia mulai memesan ojek online. Hujan sudah turun semakin deras. Doni menatap rintik hujan, hatinya sedikit gelisah. Bayang wajah Amanda yang polos dan sederhana terus menghantui benaknya.
__ADS_1