Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Gangguan dari Windy


__ADS_3

Kertas dan buku-buku bertebaran di atas meja kerja Tuan Muda Anthony. Selembar kertas terjatuh ke lantai. Doni menggeser kursinya dan memungut kertas tersebut.


"Hufffttt... Kenapa sesulit ini sih soalnya?" Doni akhirnya menggerutu juga setelah hampir satu jam berkutit dengan soal ujian yang diberikan oleh Profesor Gilbert secara online.


Sudah banyak buku yang dibaca, artikel di Google yang dipelajari, tapi tetap saja Doni belum juga bisa menyelesaikan semua soal ujian tersebut.


Doni melirik jam di layar smartphone-nya. Sedikit kepanikan mulai merayapi fikirannya.


"Gawat... Hanya tinggal dua puluh menit lagi..." Ucap Doni gelisah.


Dengan penuh kepasrahan, Doni akhirnya mencoba menyelesaikan semua soal tersebut. Dia mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Dia berharap Profesor Gilbert bisa memaklumi kemampuannya yang masih sangat minim berhubung dia baru dua bulan belajar tentang ilmu bisnis.


Sebenarnya Profesor Gilbert tentu akan memaklumi kemampuan Doni. Masalah sesungguhnya adalah Tuan Wishnu. CEO Tanaka Mining, Co. Ltd. itu belum tentu mau mengerti atau memaklumi. Itu adalah hal yang sebenarnya membuat Doni gelisah sejak tadi. Tekanan dari papanya akan lebih mengerikan jika dia gagal dalam ujian ini.


"Semoga aku lulus..." Harap Doni ketika mengirimkan jawabannya ke e-mail Profesor Gilbert.


Doni lalu merapikan meja kerjanya yang berserakan dan mencoba relax sejenak. Dia baru menyadari perutnya lapar sekali. Setelah berfikir keras, rasa lapar meningkat menjadi dua kali lipat.


Doni mengetikkan sesuatu di smartphone-nya dan mengirimkan pesan tersebut kepada sekretaris pribadinya, Tuan Alfred.


Dalam sekejap, Tuan Alfred sudah memberi respon. Sepuluh menit kemudian, hidangan makan siang Doni telah tiba di ruangannya.


Doni menyantap hidangan tersebut dengan tenang. Sambil makan, Doni kembali teringat kejadian di sekolah.


"Amanda... Bagaimana jika suatu saat nanti dia tahu siapa aku? Apakah sikapnya akan berubah?" Doni bertanya pada dirinya sendiri.


Saat itu pasti akan tiba. Jika mereka sudah semakin dekat, Doni khawatir Amanda akan mengetahui identitas Doni yang sebenarnya. Ia mulai ragu akankah sikap Amanda terhadap dirinya berubah.


Doni berharap Amanda tidak akan berubah. Tapi sulit sekali menaklukkan hati gadis itu. Sepertinya dia memang memiliki ketertarikan pada cowok lain. Firasat Doni mengatakan begitu.


"Aku harus cari tahu... Siapa cowok itu. Sepertinya bukan Ryan..." Doni mulai menduga-duga.


Selama ini Doni telah memperhatikan reaksi dan gerak-gerik Amanda ketika berada di dekat Ryan. Semua terlihat biasa-biasa saja. Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Tetapi Amanda sepertinya masih belum betul-betul tertarik dengan dirinya. Sudah beberapa kali Doni menunjukkan perasaannya, namun Amanda masih saja bisa bersikap cuek dengan dirinya. Amanda seolah tidak menanggapi sama sekali perasaan dan perhatian Doni untuk dirinya.


"Pasti ada seseorang..." Batin Doni.


Makan siang telah selesai. Seorang office boy masuk ke ruang kerja Doni dan membereskan peralatan makan di atas meja. Office boy tersebut bekerja dengan cepat.


"Permisi, Tuan Muda. Ada lagi yang anda butuhkan?" Tanya office boy tersebut sopan.


"Hemmm... Tidak. Terima kasih..." Ucap Doni.


"Baik, Tuan Muda." Office boy tersebut lalu keluar dari ruang kerja Doni.

__ADS_1


Doni kembali fokus pada layar smartphone-nya. Dia sedang berkomunikasi dengan Tuan Alfred. Sebuah pesan masuk tiba-tiba. Bukan hanya sebuah, namun pesan beruntun.


Doni refleks membuka chat tersebut.


Sore, kak Doni.


Ini Windy, anaknya Om Robby.


Kak Doni lagi apa?


Sibuk ga?


Aku ganggu kak Doni ga nih?


Hehehe...


Rentetan pesan yang masuk itu membuat Doni berfikir sejenak. Akhirnya dia mengingat kembali sosok Windy. Putri teman papanya.


"Ohh... Gadis yang kurang sopan itu..." Gumam Doni.


Doni memilih mengabaikan pesan dari Windy dan melanjutkan obrolan dengan Tuan Alfred. Setengah jam lagi Tuan Alfred akan mengantarnya pulang ke rumah.


Bayangan tempat tidurnya yang nyaman sudah memenuhi fikirannya.


Doni melakukan stretching sederhana untuk merenggangkan otot-ototnya. Pundaknya terasa kaku karena kelamaan menatap layar PC.


Doni sangat tidak suka jika ada yang mengganggu dirinya bekerja. Windy telah membuat dirinya kesal sore itu.


"Tuan Muda, mobil sudah siap." Balasan chat dari Tuan Alfred masuk di WA Doni.


"OK." Balas Doni singkat.


Doni mengambil ranselnya dan bergegas menuju lobby. Di lobby, Doni bertemu Nyonya Martha.


"Selamat sore, Tuan Muda." Sapa Nyonya Martha.


"Selamat sore, Nyonya Martha." Doni balas menyapa sekretaris pribadi papanya.


"Saya berharap ujian pertama anda dengan Profesor Gilbert berjalan lancar." Ucap Nyonya Martha.


"Terima kasih, Nyonya Martha." Doni mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.


"Jika ada kendala, mohon Tuan Muda tidak segan-segan untuk menghubungi Tuan Alfred." Nyonya Martha kembali mengingatkan Doni tentang posisi Tuan Alfred sebagai sekretaris pribadinya.


"Iya, tentu saja, Nyonya Martha." Sahut Doni.

__ADS_1


"Baik. Silahkan, Tuan Muda. Anda sudah ditunggu oleh Tuan Alfred di depan." Ujar Nyonya Martha.


Doni mengangguk dan tersenyum lagi.


"Mohon titip salam saya untuk Nyonya Wishnu. Semoga hari anda menyenangkan." Nyonya Martha berkata sambil tersenyum tipis.


"Baik, Nyonya Martha." Sahut Doni sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Smartphone Doni bergetar lagi. Entah sudah yang keberapa kali sejak tadi dia berdiri di lobby dan bertegur sapa dengan Nyonya Martha. Doni melihat ada sepuluh panggilan dari Windy.


"Apa sih maunya anak ini?" Batin Doni kesal.


Akhirnya Doni memilih menerima panggilan itu karena dia sudah mulai merasa terganggu.


"Halo, kak Doni..." Sebuah suara yang nyaring terdengar di seberang sana.


"Hemmm... Iya..." Jawab Doni.


"Apa kabar, kak Doni?" Tanya Windy berbasa-basi.


"Baik." Jawab Doni.


"Hehehe... Maaf, kak Doni. Lagi sibuk ya? Kok telpon aku dari tadi ga diangkat?" Windy terdengar melembut-lembutkan suaranya.


"Hemmm... Iya. Aku sedang ada kegiatan." Jawab Doni datar.


"Ohhh... Kalau gitu, aku ternyata jadi mengganggu nih..." Kata Windy.


"Hemmm..." Gumam Doni.


"Ya udah deh kalau gitu... Aku cuma mau nanya kabar kak Doni aja. Hehehe..." Ujar Windy.


"Udah dulu ya, kak Doni." Windy merasa sudah waktunya mengakhiri telpon.


Doni menutup telpon dan melirik ke arah Tuan Alfred di sampingnya.


"Tuan Alfred, bisakah anda mengatur panggilan masuk ke smartphone saya?" Tanya Doni sekonyong-konyong.


"Siap. Tentu saja bisa, Tuan Muda." Tuan Alfred menjawab dengan sigap.


"Bagus." Ujar Doni.


"Saya akan secepatnya mengaktifkan pengelolaan panggilan yang masuk ke nomor anda." Tutur Tuan Alfred.


"Terima kasih, Tuan Alfred." Ucap Doni.

__ADS_1


Doni merasa dirinya sudah membutuhkan asisten untuk mengelola hal ini. Tuan Alfred pasti bisa diandalkan.


__ADS_2