
Vino menyantap makan malam sambil merengut. Papanya memberikan wejangan panjang lebar, membuat Vino merasa bosan mendengarnya.
"Kamu paham, Vino!?" Suara papa Vino terdengar tegas sekali.
"Eummmm... Iya, pa." Vino menjawab dengan gaya ogah-ogahan.
Jelas sekali dari cara Vino menjawab, dia sama sekali tidak serius memperhatikan nasehat-nasehat yang diucapkan okeh papanya. Masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Vino merasa nasehat-nasehat dari papanya sudah jadul, tidak update lagi. Sehingga ia merasa itu semua tidak oenting dalam hidupnya.
Papa Vino geleng-geleng kepala melihat sikap Vino yang masih saja belum berubah. Entah sampai kapan sifat Vino yang buruk itu bisa berubah menjadi lebih baik.
"Vino, kamu harus banyak belajar dari Mas Teguh!" Seru papa Vino.
Vino melirik Teguh yang duduk tenang di sampingnya. Teguh malam ini sudah mulai berkumpul lagi dengan keluarga Vino. Dia telah menyelesaikan urusan administrasi di perusahaan papanya Vino tadi siang. Kini dia hanya perlu menunggu hasil keputusan dari divisi personalia.
"Iya, pa." Sahut Vino tanpa menoleh ke arah papanya.
"Vino, yang sopan kamu kalau bicara sama orang tua!" Bentak mama Vino.
Mama Vino yang mencoba berdiam diri sejak tadi akhirnya tidak bisa lagi bersabar untuk tidak menghardik Vino.
Vino berdecak kesal. Dia berniat menjawab kata-kata mamanya. Teguh berdehem pelan di samping Vino, memberi tanda agar Vino diam saja.
"Teguh, bagaimana dengan proses administrasinya? Sudah sejauh mana?" Tanya papa Vino pada Teguh.
"Hemmm... Iya, om. Aku langsung membereskannya tadi." Sahut Teguh.
"OK. Sudah masuk ke divisi personalia?" Tanya papanya Vino.
"Sudah, om. Mereka upayakan hasilnya akan bisa diumumkan tiga hari mendatang." Jelas Teguh.
"Bagus! Apakah kamu butuh cepat?" Tanya papa Vino.
"Hemmm... Tidak apa, om. Aku ga buru-buru. Aku yakin mereka akan meluluskanku." Ujar Teguh optimis.
"Tentu saja! Kamu mahasiswa yang berprestasi. Tidak ada alasan untuk menolak kandidat mahasiswa sebaik kamu." Puji papa Vino.
"Terima kasih, om." Ucap Teguh sopan.
Papa Vino sudah selesai menyantap makan malam. Semua bubar dari meja makan. Bibi Mirna membereskan ruang makan dengan telaten. Teguh melempar senyum ke arah bibi Mirna yang sedang membersihkan meja makan.
"Hai, bik. Ayo biar aku bantu!" Teguh menawarkan diri untuk membantu bibi Mirna memindahkan piring-priring kotor ke westafel.
__ADS_1
"Wah... Jangan repot-repot, Mas Teguh. Biar bibi saja." Ujar bibi Mirna sungkan.
Teguh tidak memperdulikan kata-kata bibi Mirna. Dia memindahkan semua piring kotor dengan cepat. Bibi Mirna berkali-kali mengucapkan terima kasih atas bantuan Teguh.
Teguh selalu bersikap begitu dengan asisten rumah tangga. Dia ringan tangan. Di rumahnya juga begitu, apa yang bisa dikerjakannya sendiri, Teguh berusaha menyelesaikannya sendiri. Teguh tidak mau membiasakan diri menjadi pemalas dan manja.
Sebagai seorang laki-laki, Teguh membiasakan dirinya mandiri. Berbagai fasilitas kemewahan yang dimilikinya tidak membuat dirinya lupa daratan. Berbeda dengan Vino. Privilege yang diperoleh Vino sejak lahir sudah membuat dirinya menjadi seorang pemalas. Teguh dan Vino benar-benar memiliki sifat yang saling bertolak belakang.
"Mas, malam ini ada pertandingan seru!" Vino mengingatkan Teguh akan jadwal pertandingan sepak bola klub favorit mereka.
"Yes! Malam ini pasti menang, harus menang!" Ujar Teguh bersemangat.
"Iya dong!" Seru Vino sambil menghentakkan tubuhnya sembarang di atas sofa.
"Hemmm... Gimana di sekolah?" Tanya Teguh.
"Ya, seperti biasa." Jawab Vino datar.
Teguh menyimak jawaban Vino sambil mengamati berita yang muncul di televisi. Mereka berdua duduk selonjoran di atas sofa di ruang keluarga. Papa dan mama Vino sudah sejak tadi kembali ke kamar.
"Apakah kakak kelas kamu masih membuat ulah?" Selidik Teguh.
"Katakan padaku jika mereka mengganggu lagi" Tukas Teguh dengan wajah serius.
"Siap, komandan!" Ujar Vino dengan wajah usil.
Teguh menjitak kepala Vino karena gemas. Vino mengelak dengan sigap. Teguh kalah cepat.
"Huhhh... Masih lama ya... Satu jam lagi." Vino mulai menggerutu bosan ketika melihat aneka pariwara yang muncul bergantian di televisi.
"Gimana, sudah berapa banyak gebetan yang terjerat?" Tanya Teguh dengan nada menyindir.
Vino diam saja, tidak menggubris pertanyaan Teguh. Dia memilih fokus pada smartphone-nya, melanjutkan bermain game online.
"Ehemmm!" Teguh berdehem pelan.
Vino melirik Teguh sekilas. Sebenarnya dia mendengar ucapan Teguh tetapi dia memilih mengabaikannya. Teguh menjadi berang karena diabaikan.
"Hemmm... Mas Teguh udah ngabarin kak Emma?" Vino berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Teguh selalu saja shock jika Vino menyebut-nyebut nama Emma, sebuah nama yang sangat berkesan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Hemmm..." Gumam Teguh.
"Kenapa aku harus menghubunginya?" Ujar Teguh sok gengsi.
"Ya, biar kak Emma tahu Mas Teguh sudah balik ke sini." Meskipun Vino berkata dengan intonasi suara yang datar, tetap saja kedengaran seperti sebuah sindiran di telinga Teguh.
Bergantian kini Teguh yang pura-pura tidak mendengar kata-kata dari Vino. Teguh seringkali kehabisan kata jika membicarakan tentang Emma.
Tapi bukan Vino dong namanya jika dia tidak bisa menarik perhatian Teguh.
"Sepertinya kak Emma sedang dekat dengan seseorang di sana." Ucap Vino dengan suara pelan.
Vino sengaja memelankan suaranya hanya untuk melihat seperti apa reaksi Teguh ketika mendengar ucapannya.
"Maksudmu?" Teguh merespon dengan cepat.
Vino tersenyum di dalam hati. "Kena kau, mas!" Vino berteriak senang dalam hati.
"Hemmm... Ya itu, ada yang dekat. Tapi aku ga tahu sih apakah mereka pacaran atau masih sekedar teman?" Tutur Vino jujur.
Ekspresi wajah Teguh berubah dalam beberapa detik. Namun dengan cepat dia dapat mengendalikan ekspresinya. Wajahnya kini terlihat lebih serius.
"Bule itu?" Tanya Teguh penasaran.
"Bukan, mas. Bukan bule. Sepertinya teman satu sekolahnya dulu. Kebetulan dia juga kuliah di Queensland." Terang Vino.
"Tetapi mereka beda universitas." Lanjut Vino.
"Kamu tahu dari mana?" Tanya Teguh lagi.
Vino tersenyum sinis melihat ekspresi panik di wajah Teguh. Vino sudah sangat hafal ekspresi saudara sepupunya itu. Teguh benar-benar terlihat panik mendapat berita seperti itu.
"Ini pertanda buruk." Batin Teguh.
Teguh sebenarnya sudah lama mengkhawatirkan hal-hal seperti ini bisa terjadi kapan saja. Sejak Emma berencana melanjutkan studi di luar negeri, kekhawatiran mulai muncul di benak Teguh.
Walaupun Teguh berusaha positive thinking, dia tetap saja tidak bisa tenang ketika mendengar Emma dekat dengan seseorang. Apalagi ini adalah teman sekolahnya dulu. Ini benar-benar berita yang merisaukan hati Teguh.
"Makanya, coba Mas Teguh sekali-sekali hubungi kak Emma. Mungkin dia mau cerita." Vino berkata sambil meraih remote TV yang dipegang oleh Teguh.
Teguh menyerahkan remote TV tersebut pada Vino. Dia merebahkan tubuhnya lagi, berusaha santai dan menyimak siaran TV. Namun fikirannya telah berkelana sampai ke Australia.
__ADS_1